Beranda blog Halaman 648

Hidayatullah Bangun Fasilitas Air Bersih di Gunungkidul

BMH-Jogja-bangun-fasilitas-air-bersih-di-Gunungkidul-400x300Hidayatullah.or.id — Untuk mempersiapkan dan mengantisipasi datangnya musim kemarau, beberapa waktu lalu Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan pimpinan daerah Hidayatullah Yogyakarta mengadakan pembuatan sarana air bersih di Dusun Kembang, Botodayaan, Rongkop, Gunungkidul.

“Daerah Botodayaan menjadi sasaran pertama penerima bantuan sarana air bersih ini karena di wilayah tersebut menjadi langganan kekeringan ketika kemarau tiba,” kata pengurus PD Hidayatullah Yogyakarta, Iyal Harist Munandar, dalam perbincangan dengan media ini, Rabu (03/09/2014)

Bantuan sarana air bersih yang dilakukan mulai Sabtu (23/08) lalu tersebut berupa pembuatan bak penampungan air, sanitasi, dan pengecatan masjid yang berada di Desa Botodayaan. Pembangunan tersebut dikerjakan secara gotong royong oleh warga sekitar.

Harist menjelaskan, daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembuat geplak (berupa olahan khas Gunungkidul yang berbahan dasar singkong) tersebut memang tandus.

“Banyak batu-batu cadas yang berada di sekeliling rumah warga,” kata Harist.

Sementara itu, Syaiful Prihatin, salah satu warga dusun Kembang mengatakan bahwa di daerahnya tersebut pernah dilakukan pengeboran secara manual oleh warga sedalam delapan puluh meter, akan tetapi belum terlihat tanda-tanda adanya air.

“Dulu pernah kita coba gali lubang sedalam delapan puluh meter lebih, tetapi hasilnya nihil,” katanya.

“Kami sangat berterima kasih pada BMH Yogyakarta yang telah membangunkan bak penampungan air bersih ini, semoga kami bisa memanfaatkan amanah ini dengan baik,” pungkasnya.

Sementara itu Firman Zainal Abidin selaku kepala cabang BMH Yogyakarta ikut bergabung langsung bersama warga dalam proses pembuatan penampungan sarana air bersih tersebut.

Firman, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pembuatan sarana air bersih ini adalah lanjutan dari program-program sebelumnya yang sudah berjalan di dareah tersebut.

“Ke depan InsyaAllah kita masih berlanjut untuk membantu warga Gunungkidul yang kesulitan sarana air bersih. Mohon doanya semoga berbarengan dengan gelaran qurban besok, kita bisa bangunkan sarana air bersih lagi,” harapnya. (fath/hio)

Hidayatullah Medan Terapkan Ospek Santri Berperadaban

Dalam ospek ini, santri baru diajak untuk melakukan tadabbur alam / CHA
Dalam ospek ini, santri baru diajak untuk melakukan tadabbur alam / CHA

Hidayatullah.or.id — Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek Pondok Pesantren Hidayatullah Medan merupakan momentum bersejarah bagi setiap santri yang memasuki pintu gerbang pendidikan di kampus ini. Sehingga kegiatan ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan wahana awal pembentukan watak bagi para santri baru.

Hidayatullah Medan yang saat ini membina ratusan santri mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA putra putri ini telah menerapkan metode orientasi pengenalan kampus yang terintegrasi.

“Metode ini bertujuan untuk mengenalkan dan memahami lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan sebagai suatu lingkungan akademis yang Islami serta memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya,” jelas Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam, dalam keterangan tertulisnya diterima

Peserta ospek santriwati di tengah lapangan sebelum mengikuti kegiatan educative game / CHA
Peserta ospek santriwati di tengah lapangan sebelum mengikuti kegiatan educative game / CHA

Hidayatullah.or.id, Rabu (03/09/2014).

Choirul menjelaskan, kegiatan ospek merupakan kegiatan untuk memperkenalkan kampus kepada santri baru. Kegiatan ini merupakan kegiatan institusional yang menjadi tanggung jawab lembaga untuk mensosialisasikan kehidupan di Pondok Pesantren ini dan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan unsur pimpinan, pengelola dan pengurus, serta ewan guru.

Choirul menuturkan, tujuan dari ospek yang mengusung tema “Ospek Santri Berperadaban” ini dalam rangka untuk menambah wawasan para santri baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah secara maksimal. Memberikan pemahaman awal tentang wacana ke Islaman serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai AL-Qur’an dan Assunnah.

Selain itu, ospek ini digelar untuk mempersiapkan mental para santri agar mampu belajar di Pesantren ini serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku di kampus, khususnya yang terkait dengan Kode Etik dan Tata Tertib Santri.

Tujuannya juga adalah untuk menumbuhkan rasa Ukhuwwah Islamiyah sesama santri dan seluruh masyarakat Pondok yang penuh rasa ukhuwah kemanusiaan menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis ( Islamiyah, Ilmiyah dan Alamiyah ). Serta agar Menumbuhkan kesadaran para santri baru akan tanggungjawab akademik dan sosialnya sebagai santri sebagaimana di inginkan oleh Allah dan RasulNya.

Adapun fungsi orientasi ini agar para santri baru paham untuk memasuki dunia Pondok Pesantren yang berbeda dengan belajar di tempat-tempat lain.

“Secara normatif, diharapkan para calon santri akan memahami, menghayati, dan mengamalkan aturan-aturan yang berlaku di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dimana tujuan hadirnya adalah membangun Miniatur Peradaaban Islam. Dari aspek akademis, ini akan mendorong pengembangan budaya intelektual, memngembangkan bakat, minat dan kepemimpinan bagi para santri,” imbuh dia.

Ospek Beradab

Jika kita sering mendengar bahwa ada kegiatan Ospek di Indonesia sering kali diisi oleh kekerasan dalam bentuk verbal dan bahkan tidak jarang terjadi kekerasan fisik. Dengan konsep junior harus patuh kepada senior, apapun perintahnya.

Sehingga, sering kali para peserta Ospek mengenakan pakaian dan ornamen yang tidak wajar bahkan harus mau menerima hukuman fisik dari senior bahkan sampai berujung pada kematian. Ini kemudian memunculkan karakter balas dendam

Maka, Ospek yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah ini dirancang serekreatif mungkin dan seedukatif mungkin sehingga nuansanya betul-betul menyenangkan dan akan susah dilupakan bagi santri.

“Santri diantar untuk menjadi kader yang kreatif, innovative dan leadership. Semua merasa gembira, semua merasa mendapat pengalaman baru, semua jadi saling mengenal, semua jadi merasa mendapat saudara baru, keluarga baru dan mengenal dunia baru Islam yang sungguh mereka rindukan selama ini, dan baru sekarang mereka menemukannya,” kata salah Fachri, salah seorang staf pengasuh dan panitia penyelenggara ospek ini.

Selain kegiatan rekreatif yang dilaksanakan secara outdoor, kegiatan ospek dengan sistem indoor yang berkaitan dengan membuka wawasan keislaman tidak boleh ditinggalkan. (ybh/hio/)

Hidayatullah Sebar Dai Mengajar ke Pelosok Nusantara

stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014 2 stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014 3 stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014Hidayatullah.or.id –- Sebagai komitmen membantu kinerja pemerintah dalam program pendidikan, Hidayatullah sebar 40 dai mengajar ke seluruh pelosok nusantara, Sabtu (30/08 /2014) di Pesantren Hidayatullah Surabaya. Mereka adalah wisudawan sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al Hakim (STAI) Hidayatullah Surabaya.

Setidaknya titik pelosok nusantara yang dikirim dai mengajar antara lain Kabupaten Masohi di Maluku Tengah, Kabupaten Biak di Papua, Halmahera Timur, Tual di Maluku serta di Kepulauan Mentawai Sumatra. Beberapa diantaranya ditugaskan di Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Menurut Abdul Kholik, Ketua STAI Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya, penugasan dai mengajar ini sebagai wujud kepedulian Hidayatullah dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia.

“Misi yang diambil adalah menciptakan sekolah-sekolah berkualitas bagi anak-anak pelosok agar memiliki karakter yang baik,” jelasnya.

Lebih lanjut Kholik menjelaskan para dai selama empat tahun diberikan pembekalan secara formal cara mengajar serta menghadapi masyarakat di lapangan. Sehingga para dai memiliki bekal cukup menjadi pendidik sekaligus dai yang profesional.

Ada yang menarik menurut lelaki kelahiran Pacitan ini, seluruh penugasan dai mengajar ini tidak satu pun yang tahu tempat penugasan sebelumnya. Mereka baru mengetahui ketika prosesi penugasan.

“Kita buat surprise untuk mengukur seberapa siap para dai mengajar ditugaskan dimanapun,” katanya.

Seperti Sugiyono misalnya. Dai mengajar satu ini ditugaskan ke kepulauan Mentawai. Selama empat tahun menimba ilmu di STAI Luqman al Hakim tidak terbesit sedikit pun bakal mendapat tugas di kepulauan yang konon memiliki tingkat intensitas gempa cukup tinggi. “Dimanapun kami harus siap,” tegasnya.

Lain lagi dengan Idham Khalid, dai mengajar ini ditugaskan ke Halmahera Timur. Ia sempat kaget karena daerah ini sangat pelosok dan merupakan pengembangan daerah baru di Halmahera. Tapi ia berusaha tegar karena ia yakin dimanapun ditugaskan akan memberikan kemampuan maksimal. (hidcom)

Pendidikan Hidayatullah Didorong Maksimalkan Teknologi

teknologi-sistem-informasi-1Hidayatullah.or.id — Praktisi pendidikan yang juga dikenal sebagai bankir profesional, Romeo Rissal Panjialam, mengajak kepada pelaku dan lembaga pendidikan milik Hidayatullah untuk memanfaatkan teknologi untuk kepentingan dakwah dan pendidikan berbasis teknologi informasi (TI). Kita jangan memusuhi internet karena perkembangannya adalah keniscayaan, tegasnya.

Meski internet dinilai banyak “nerakanya” tapi teknologi ini, sambung dia, juga banyak kebaikannya yang jika dimanfaatkan dengan baik bisa mengantarkan ke syurga.

“Orang yang tidak menggunakan teknologi menurut saya tertinggal 20 tahun,” kata Romei Rissal di hadapan ratusan santri, guru, dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (27/08/2014).

Pendiri lembaga pendidikan Wisata Nagari Sekolah Alam Global Village Bukik Batabuah ini mendorong umat Islam untuk memikirkan bagaimana membuat program berbasis teknologi internet yang dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah dan mobilisasi konten.

Dia bahkan mendorong lembaga-lembaga pendidikan khususnya pendidikan Islam untuk manfaatkan teknologi seperti teknologi internet. Jangan memusuhi teknologi. Mari kita memanfaatkan teknologi untuk kepentingan islami, imbuhnya.

Romeo mengatakan, rendahnya pendidikan di negeri ini memang masih menjadi keprihatinan bersama. Untuk itu ia mengaku pihaknya pun terus berkomitmen melakukan pola pengembangan pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dengan tentu selalu melakukan penyesuaian-penyesuaian seiring dengan dinamisnya perkembangan zaman dan teknologi. Dalam upaya tersebut dia mendirikan sekolah alam yang telah meluluskan ratusan alumni.

“Saya berniat membagun sumber daya manusia di bidang pendidikan yang lebih spesifik pada kemampuan bahasa Inggris,” ujarnya.

Memang memprihatinkan, sebab kata dia, kemampuan berbahasa Inggris rata-rata masyarakat Indonesia masih rendah bahkan di tingkat ASEAN saja sudah kalah. “Padahal bahasa Inggris adalah bahasa global hari ini,” tegas dia.* (hio/ybh)

 

Workshop Pendidikan Tauhid di Hidayatullah Makassar

al-bayan hidayatullah makassarHidayatullah.or.id — Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar menggelar pelatihan guru di Aula Bima, Kantor Departemen Kesehatan Sulsel, Makassar, Minggu (31/8/2014) lalu.

Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Irfan Yahya dalam rilisnya kepada media, mengatakan, tema pelatihan guru Al Bayan tersebut, Implementasi Nilai-nilai Islam dalam pendidikan Modern.

Pakar dan konsultan Pendidikan Ar Rahmah Malang Ustaz Alimin Mukhtar hadir sebagai pemateri. Hadir pula Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulsel Abdul Majid.

“Semoga pelatihan ini bisa menghasilkan pendidikan yang berkualitas di Yayasan Al Bayan di masa akan datang,”katanya.

Seratusan guru hadir sebagai peserta. Mereka tergabung dari guru SD, SMP, dan SMA yayasan Al Bayan.

Dalam kesempatan tersebut, praktisi pendidikan Ar Rahmah Malang Alimin Mukhtar, mengatakan tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat.

Maka, berlandas pada kesepakatan ulama tersebut seperti tertuang dalam Al Qaul Al Mufid, maka pendidikan yang hendaknya dalam rangka mengantar peserta didik bertauhid kepada Allah Ta’ala.

Beliau menegaskan, bertauhid adalah kebetuhan manusia. Maka jikalau ada insan yang tidak bertauhid barang sekejap saja maka ketika dia meninggal ketika itu maka dalam keadaan musyrik.

“Dalam teologi Islam seperti dikutip dalam Surah ar Ruum ayat 30 jelas bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci atau fitrah. Inilah yang kemudian mendorong manusia memiliki potensi untuk bertauhid,” jelasnya.

Lebih jauh ia menerangkan bahwa banyak sekali firman Allah Ta’ala yang dengan terang telah mengisyaratkan manusia tercipta dari sifat dasar yang baik dan kuat, yang memiliki kehendak untuk tunduk kepada Allah dan hidup dalam keaguangan moralitas.

“Untuk itu, konsep pendidikan bertauhid yang digagas Hidayatullah adalah dalam rangka mengantar peserta didik menjadi orang yang bertakwa dan bermanfaat di sekitarnya,” pungkasnya. (ybh/hio).

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

0
This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA
This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA

Hidayatullah.or.id — Madrasah sama dengan sekolah, hanya penyebutannya yang berbeda. Namun bila digali lebih lanjut tenyata keduannya sangat beda. Sekolah tempat mencari atau menuntut ilmu pengetahuan dengan bersumber dari guru sedangkan madrasah berasal dari Allah Ta’ala.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada pembukaan KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di Makassar, Senin lalu.

Dalam menjawab makna dibalik motto “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah” tersebut, guru besar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kembali menegaskan bahwa `murid` yang padan katanya adalah madrasah, dalam ilmu tasawuf bisa diartikan sebagai orang mencari ilmu yang berasal dari Allah.

“Murid setara bukan dengan muallim (guru) akan tetapi identik dengan mursyid (guru spiritual), oleh karena itu `murid` disebut murid spiritual”, tegas Pak Nasar.

Madrasah kembali dimaknai sampai level ketiga perintah `iqra` dalam al Qur`an yaitu bagaimana menghayati, meresapi dan menjiwai apa yang dibaca dan dipelajari. Berbeda dengan sekolah yang hanya pada level dua saja, mendalami apa yang ia baca.

“Perintah `iqra` dalam al Qur`an terdiri atas tiga level; membaca, mendalami (istiqra`), dan menghayati. Bahkan bisa level empat pemaknaannya yaitu konteks iqra` bismillahi rabbik, sebagaimana Imam Al Ghazali, ia adalah murid Rasulullah SAW secara langsung padahal jarak hidupnya sekitar 600 abad”, tegas Nasar yang akan menerbitkan karya tafsirnya dalam waktu dekat ini.

Oleh karena itu Nasaruddin kembali menyemangati para murid, guru serta pejabat yang hadir, untuk tidak puas terus mencari inti dari madrasah yang sekarang ini terus berproses.

“Jangan pernah puas seperti Bawang Merah ketika dikupas, ternyata masih ada lagi, di dalam kulit masih ada kulit, sampai menemukan inti yang terdalam darinya, demikian madrasah dalam mencari jati dirinya”, lanjut Nasar.

Menyinggung kenapa madrasah menyelenggarakan kompetisi sains bukan ilmu yang lain, ia mengatakan bahwa sebenarnya ilmu sains tidak hanya ada di dalam al Qur`an akan tetapi para ilmuwan Islam abad pertengahan telah menemukan terlebih dahulu dibandingkan orang-orang Eropa/Amerika.

“Ilmu kimia ditemukan oleh santri tulen, Abu Musa Jabir bin Hayyan (720 M), the father of chemistry. Ilmu optik oleh Ibnu Hayyan, mematahkan buku The Optic karya orang Eropa yang ternyata buku itu jiplakan dari Kitabul Manadzir,” jelas dia.

Demikian juga teori Algoritma, Al Jabar dalam ilmu matematika, Ilmu Kedokteran oleh Ibnu Sina dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan orang asli Makassar yang hidup abad 17 (1620-an M) yang bernama Karaeng Patingallong adalah seorang saintis yang terkenal sampai benua Eropa, papar Nasaruddin penuh semangat.

Pengajar Institut Ilmu Al Qur`an (IIQ) ini juga berpesan agar madrasah bisa mencetak generasi kuat, tahan uji dan amanah.

“Innal khoira manista`jarta qowiyyul amin, sesungguhnya generasi yang paling handal yang akan melanjutkan tongkat estafet negeri adalah yang kokoh/kuat serta penuh integrasi”, ungkap Nasaruddin mengakhiri sambutannya. (kem/hio)

Semarak Agustusan Hidayatullah Kebumen

Semarak kegiatan Agustusan di yang diikuti murid SD Hidayatullah Kebumen
Semarak kegiatan Agustusan di yang diikuti murid SD Hidayatullah Kebumen
KH. Zainuddin Musaddad, saat menghadiri acara silaturrahim syawal Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah.
KH. Zainuddin Musaddad, saat menghadiri acara silaturrahim syawal Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah.

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69, SDIT Al Madinah Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah, mengadakan lomba-lomba yang diikuti oleh seluruh murid SDIT Al Madinah.

Lomba-lomba yang diselenggarakan yaitu diantaranya cerdas cermat, futsal, tarik tambang, estafet air, tebak kata, balap gapyak, dan menghias roti. Kegiatan ini dilaksanakan belum lama ini dimulai pada pukul 07.30 dan selesai pada pukul 11.00

Sebelum perlombaan dimulai, seluruh murid terlebih dahulu melakukan pemanasan atau peregangan otot untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti keseleo dan lain sebagainya.

Perlombaan ini berlangsung sangat meriah dengan pemberian hadiah bagi pemenang. Tetapi pada hakikatnya seluruh murid telah menjadi pemenang, karena mereka sudah dapat menunjukkan semangatnya seperti para pejuang kita dalam meraih kemerdekaan Indonesia.
Pengasuh dan pendidik SDIT Al Madinah Hidayatullah Kebumen, Agus Mualif SPdI, menjelaskan kegiatan peringatan 17 Agustus tersebut dalam rangka memberikan pembelajaran kepada anak-anak didik bahwa persatuan adalah kekuatan yang akan melahirkan semangat juang. Inilah yang dulu dimiliki dan dijaga oleh para pahlawan Indonesia sehingga mereka tidak kenal kompromi dengan penjajah.

“Juga dijabarkan kepada mereka bahwa pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta ini dipelopori oleh kaum santri dan umat Islam,” jelas Agus Mualif.

Selain syukuran Agustusan, Hidayatullah Kebumen juga menggelar acara Halal bihalal yang digelar pada hari Minggu, 24 Agustus 2014 lalu sebagai sarana untuk memperetat ukhuwah silaturrahim bagi semua warga Hidayatullah dan kaum muslimin di sekitarnya.

Halal Bihalal yang mengusung tema “Bersihkan Hati, Perkuat Iman Menuju Peradaban Islam” tersebut dihadiri oleh seluruh warga Hidayatullah Kebumen mulai dari walim urid SDIT Al Madinah, TK Yaa Bunayya, TPA Shabrun Jamil, serta warga sekitar yang turut berpartisipasi untuk silaturahmi dan halal bihalal bersama seluruh warga Hidayatullah.

Halal Bihala yang berlangsung semarak ini menghadirkan pengisi materi dari Kota Balikpapan yakni Ustadz Zainudin Musaddad, M.A yang juga merupakan ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur.

Konsultan parenting ini dalam penyampaiannya mengajak kepada hadirin untuk mengajarkan anak dengan kasih sayang. Karena, jelasnya, mengajar dengan kasih sayang pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan anak dalam semua aspek belajar.
“Disinilah pentingnya keteladanan. Teladan yang baik dari orangtua akan menelurkan buah yang baik pula, Insya Allah,” pungas dia humoris ini. (ybh/hio)

“Santri Hidayatullah Harus Mampu Genggam Dunia”

Acara Launching English Communiti Pendidikan Ingtegral Hidayatullah Depok / ADIEN
Acara Launching English Communiti Pendidikan Ingtegral Hidayatullah Depok / ADIEN

Hidayatullah.or.id — Ekonom Indonesia, Romeo Rissal Panjialam, mendorong santri Hidayatullah untuk menggenggamdunia dengan cara menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris dan Arab yang saat ini telah menjadi bahasa internasional.

“Santri Hidayatullah harus hebat. Bisa menguasai bahasa Inggris, dengan ini Anda bisa menggenggam dunia,” kata Romeo Rissal saat meresmikan peluncuran English Community Pesantren Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (28/08/2014).

Romeo mengungkapkan, dengan diluncurkannya program komunitas bahasa Inggris tersebut, maka proyek pengasaan bahasa di Kampus Pesantren Hidayatullah Depok harus dijalani dengan penuh kedisiplinan dan komitmen yang kuat.

“Walaupunn kita orang Indonesia, kita ingin menjadikan rahang kita rahang Inggris. Pokoknya dengan adanya komunitas ini maka kita dipaksa bahasa Inggris,” ujar bankir dan profesional Indonesia ini.

Pensiunan pejabat tinggi di Bank Indonesia (BI) yang juga concern pada pengembangan ekonomi syariah ini ingin menularkan konsep pendidikan bahasa yang telah berhasil diterapkannya di komplek terpadu Wisata Nagari Sekolah Alam Global Village Bukik Batabuah, Kecamatan Candung, Agam.

Romeo Rissal Panjialam sendiri dikenal sebagai pelanglanglang buana ke berbagai negara lewat karirnya yang cemerlang. Kini Wisata Nagari Global Village yang digagasnya telah telah meluluskan ratusan anak yang mahir berbahasa asing.

Pola pembelajaran di Wisata Nagari Global Village sendiri terbilang uni sebab belajar tidak melulu dilakukan di dalam kelas, bahkan nyaris seluruhnya kegiatan belajar dilakukan secara outdoor. Sehingga pengajar pun tidak sibuka menulis di papan tulis, ruang kelas tanpa meja atau bangku pasalnya anak-anak belajar di alam terbuka.

“Beruntung saya bertemu Hidayatullah yang saya harapkan bisa membawa gagasan penguasaan bahasa asing ini untuk kepentingan umat,” ujarnya.

Sebelum peluncuran program komunitas bahasa Inggris di Hidayatullah Depok, sebelumnya telah dilakukan berbagai persiapan dan pematangan sejak kurang lebih 4 bulan sebelumnya dengan kegiatan sarasehan dan praktek secara intensif.

Metode pengajaran yang diterapkan di Hidayatullah Depok sama dengan yang ada di Global village milik Romeo Rissal, di mana peserta diajak atau disajikan dengan konsep fun learning. Dengan demikian setiap anak akan dengan sendirinya akan aktif berbahasa Inggris.

“Dengan demikian metode ini jika diterapkan dengan sungguh-sungguh, insya Allah, anak anak kita akan bisa berbahasa Ingrris dalam tempo yang tidak terlalu lama,” jelas mantan komisaris di sejumlah perusahaan besar ini.

“Semoga program ini sukses dijalankan di Hidayatullah Depok, selanjutnya nanti kita terapkan juga di kampus-kampus Hiadyatullah yang lain di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (hio/ybh)

Menjaga Ukhuwah Silaturrahim untuk Kelangsungan Dakwah Islam

Ustadz Naspi Arsyad Muhammad, Lc
Ustadz Naspi Arsyad Muhammad, Lc

Hidayatullah.or.id -– Silaturahim merupakan hal yang penting dilakukan, baik itu secara individu maupun kelembagaan. Karena silaturahim merupakan perintah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Selain itu, silaturahim ini penting untuk membangun sebuah kekuatan ruh baik secara individu maupun jamaah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Ustadz Wahyu Rahman, pada acara Silaturrahim Syawal Hidayatullah se-Jabodetabek berlangsung di Kampus Hidayatullah Cilodong, Depok, Jawa Barat saat memberikan sambutannya belum lama ini.

Acara yang bertema “Merajut Ukhuwah, Sinergi Dakwah, Membangun Peradaban Islam” ini dihadiri sekitar 400 jamaah, yang terdiri dari beberapa pengurus pusat, wilayah, daerah, dan warga Hidayatullah Depok.

Menurut Wahyu, yang juga menjabat Direktur Baitul Maal Hidayatullah (BMH), jika pribadi-pribadi maupun unit-unit yang ada di lembaga Hidayatullah itu bersinergi, dan tidak jalan masing-masing maka Hidayatullah akan mampu mencapai cita-citanya.

Jika tidak bersinergi dalam dekapan ukhuwah, kata Wahyu, “Maka ini merupakan pekerjaan rumah bersama bagaimana yang harus dibenahi agar kader mampu memahami dan menguatkan visi-misi lembaga ini dengan baik.”

Sementara itu, dalam tausiyahnya, dai lintas nasional Naspi Arsyad menyampaikan bahwa berbicara tentang merajut ukhuwah mustahil kalau tidak berbicara soal akhlak.

“Ini masalah asasi. Ibaratnya mau membangun sebuah bangunan tapi pondasinya (akhlaknya) tidak ahsan. Jadi ini penting,” ujar Ustadz Naspi.

Menurut Ketua Umum Syabab Hidayatullah ini, kadang umat Muslim banyak waktunya berbicara tentang aqidah, ibadah, dan syariah tetapi tidak berbicara masalah akhlak.

Ketika akhlak sudah bagus, maka akan melahirkan ukhuwah yang bagus pula. Sebab, untuk membangun peradaban Islam, tidaklah gampang. Salah satu faktor penting yang harus terlaksana di dalamnya adalah ukhuwah Islamiyah.

“Ini harus dituntaskan dulu,” katanya. Kenapa masalah ukhuwah belum tuntas? Naspi mencontohkan, ketika ada lembaga dakwah yang sedang dalam masalah bukannya ditolong tapi justru dicaci, didiskusikan, dan tidak ada nada kesedihan.

“Ini realistasnya, umat Islam kini terpecah belah, dan larut dalam pecah belah itu.”

Lebih lanjut Naspi mengatakan, jika kita berbicara masalah ukhuwah maka harus berbicara tentang apresiasi. Jika ada lembaga dakwah lain yang lebih bagus, dan banyak kiprahnya di masyarakat, maka harus diakui oleh yang lain.

“Apresiasi ini diberikan tak lain dalam rangka sinergi dakwah,” ujarnya.

“Dan, jika kita berbicara tentang apresiasi maka harus pula berbicara tentang silaturahim,” pungkasnya. (hidcom)

Masyarakat Berbondong Hadiri Nikah Mubarak Hidayatullah Mentawai

Jelang prosesi ijab kabul pernikahan mubarak Hidayatullah Mentawai / PEC
Jelang prosesi ijab kabul pernikahan mubarak Hidayatullah Mentawai / PEC

Hidayatullah.or.id — Ratusan warga muslim berbondong-bondong menyaksikan pernikahan mubarak 3 pasang santri yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah di kilometer 8 Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, Kepulauan Mentawai, Sabtu, (23/8) malam lalu.

Pernikahan tiga pasangan calon mempelai yang juga merupakan murid sekaligus dai dan daiyah dari Pesantren Hidayatullah Mentawai itu difasilitasi oleh pihak pesantren mulai dari biaya administrasi nikah hingga mahar mempelai pria. Uniknya, masing-masing pasangan tidak pernah saling kenal apalagi melalui proses berpacaran.

Pembina Pesantren Hidayatullah Mentawai, Ustadz Bakhtiar, dalam wejangan taushiah pernikahan yang ia sampaikan menyampaikan kepada para calon mempelai dan para hadirin yang hadir untuk mendidik generasi umat mulai dari proses orangtuanya sebelum menikah hingga anaknya lahir hingga kemudian tumbuh dewasa.

Ustadz Bachtiar menjelaskan, salah satu tujuan menikah adalah untuk memenuhi kebutuhan fitriah manusia. Dan, lanjutnya, Islam pun memudahkan urusan bagi siapa yang sudah siap dan mampu untuk menikah. Dia juga menyebutkan, dai dan daiyah yang sudah saling memahami agama, diharapkan nantinya akan mampu membina keluarga dengan baik menuju keluarga sakinah, mawadah dan penuh rahmat.

“Inilah hikmahnya menikahkan orang-orang yang sudah paham dengan agama satu sama lain. Jadi pihak KUA (Kantor Urusan Agama) tidak perlu repot-repot memberikan pengetahuan mengenai kaidah-kaidah berumah tangga,” ucapnya.

Berdasarkan pengamatan, pada saat proses pengucapan ijab kabul hanya dihadiri oleh mempelai pria dan wali dari pihak perempuan. Sementara itu, calon pengantin perempuan sengaja tidak dihadirkan.

“Ini juga salah satu ajaran islam, untuk memberikan kebahagiaan tersendiri bagi calon pengantinnya,” ucapnya.

Usai pelaksanaan ijab Kabul, dilanjutkan dengan pembacaan sighat taklik atau janji nikah yang dibacakan masing-masing pengantin pria.

Mulyadi, selaku pengasuh dan sekaligus panitia penyelenggara pernikahan masal tersebut mengatakan, pelaksanaan nikah masal mubarakah itu sudah dilakukan untuk keenam kalinya di kepualauan tersebut oleh Pesantren Hidayatullah.

“Dimana, awal pelaksanaan nikah mubarak di Pesantren Hidayatullah ini dilakukan pada tahun 1996,” imbuh Mulyadi.

Dikatakan Mulyadi, dai dan daiyah yang sudah siap untuk menikah, maka kita pun akan memfasilitasinya secara gratis. Baik itu biaya administrasi maupun maharnya. Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan, menikah merupakan salah satu keberhasilan dalam berdakwah.

Dia memaparkan, seorang yang mampu secara materi belum tentu siap secara mental. Di dalam agama islam, kata dia, memberikan kemudahan dalam urusan menikah.

Dalam pernikahan mubarak tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat di daerah tersebut seperti Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah, Ustadz Mustakim Dalang yang sekaligus juga sebagai salah seorang wali nikah dari putrinya.

Kemudian, hadir pula Ustad Salim Paranginangin, Ustad Ngena Ibara, dan kepala KUA Sipora Selatan, Bapak Mujamaul Khair, serta sejumlah pemuka masyarakat dan pemerintah lainnya. (pdc/hio)