Kepala Bidang Pendidikan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Jawa Timur, Nanang Noerpatria, saat mengisi acara pelatihan administrasi dan kehumasan yang diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan Hidayatullah se-Jawa Timur. / HIDSBY
Hidayatullah.or.id — Sistem aplikasi administrasi profesional dan intensifikasi komunikasi bidang kehumasan harus mulai diterapkan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Hidayatullah yang ada di lingkungan ormas dan Pondok Pesantren Hidayatullah. Jika selama ini hal itu sudah berjalan, maka upaya tersebut perlu terus divitalisasi, dievaluasi, dan direkonstruksi agar tercapai hasil yang memuaskan.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Jawa Timur, Nanang Noerpatria, dalam sebuah acara pelatihan administrasi dan kehumasan yang diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan Hidayatullah se-Jawa Timur.
Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta mulai SD, SMP, dan SMA khusus bagian administrasi dan bagian humas sekolah yang mendapat amanah di lembaga-lembaga pendidikan Hidayatullah yang tersebar di Jawa Timur.
“Sekolah Hidayatullah, khususnya di Jawa Timur harus memiliki SDM administrasi dan humas yang profesional. Ini sebagai jawaban tuntutan kebutuhan sekolah yang semakin tinggi,” kata Nanang di hadapan peserta pelatihan yang berlangsung di Villa Hidayatullah Batu Malang, Sabtu (01/03/2014) lalu.
Lebih lanjut kata Nanang, selain guru, petugas administrasi dan humas memiliki peran yang sangat sentral dalam sebuah institusi formal seperti lembaga pendidikan. Itulah sebabnya bagian administrasi dan humas merupakan jantungnya sekolah.
“Itu yang mendorong peningkatan kualitas pada dua bidang ini (admin dan humas) harus selalu di upgrade,” tegas Nanang.
Yohan Winarna, salah peserta pelatihan mengatakan tertarik dengan pelatihan ini karena tuntutan profesi di sekolahnya. Selama ini, kata dia, autodidak dalam melakukan proses kehumasan.
“Yang kami kerjakan selama ini kehumasan adalah bagaimana pola banding sekolah, tapi pada pelatihan ini dikupas tuntas tentang target Market, positioning Market, serta menentukan besaran biaya sesuai dengan analisa SWOT,” kata ia.
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut diisi oleh praktisi yang mumpuni pada bidangnya.
Muchtar Mahmudi selaku Ketua Panitia mengatakan pada bidang Humas pada pelatihan dibimbing oleh Andi Farouq, praktisi humas dan public speaking dari Surabaya.
“Peserta diajarkan konsep marketing dalam pemasaran sekolah. Membaca celah pasar serta cara etika komunikasi di media,” terangnya.
Selain itu, bidang administrasi di isi oleh Adi Purwanto, Head Office Hidayatullah Surabaya. Purwanto menyampaikan penataan administrasi di sekolah sesuai standar baku.
Kata Muchtar, harapannya paska pelatihan ini, seluruh bidang administrasi dan humas sekolah Hidayatullah di Jawa Timur lebih meningkat dari sisi kualitas dan profesionalitas. (hsj/hio)
Silaturahim Murabbi Halaqah yang diadakan di Aula Pertemuan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kaltim / MASYKUR
Hidayatullah.or.id — Ibarat dua sisi koin, tarbiyah dan taklim adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Setiap Muslim wajib menjalaninya secara bersamaan, tanpa ada salah satu yang dilalaikan atau tidak acuh terhadapnya.
Demikian yang tersimpul dalam pemaparan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Silaturahim Murabbi Halaqah yang diadakan di Aula Pertemuan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kaltim, pekan lalu (03/03/2014).
Menurut Nashirul, proses taklim dalam halaqah berfungsi membangun pemahaman seorang Muslim, sedang program tarbiyah itu lebih fokus untuk membangun kepribadian.
“Ada korelasi yang kuat antara taklim dan tarbiyah. Sebab nilai-nilai kepribadian itu terbangun dari pondasi pemahaman yang kokoh sebelumnya.” Lanjut Nashirul menambahkan.
Sebagai pemuncak peradaban terbaik, agama Islam menorehkan banyak warisan peradaban kepada manusia. Salah satunya adalah halaqah. Tinta emas sejarah mencatat, para sahabat menjadikan halaqah sebagai media utama di dalam peningkatan kualitas ilmu dan iman mereka. Bahkan sejak awal turunnya wahyu, Nabi sudah membuat halaqah yang bermarkas di rumah sahabat al-Arqam bin Abi al-Arqam ketika itu.
Masih menurut Nashirul, tidak ada seorang kader Hidayatullah yang punya alasan untuk tidak berhalaqah. Sebab rupanya kemenangan dakwah itu salah satunya ditopang oleh keberhasilan halaqah dalam memproduksi da’i-da’i yang tangguh.
“Di sinilah peran penting seorang murabbi dalam sebuah halaqah. Ia dituntut memberi pencerahan kepada setiap anggota halaqah. Jangan sampai ada mutarabbi (peserta halaqah) yang kurang aktif. Tugas murabbi untuk mengetahui apa persoalan dan kebutuhan anggota halaqahnya. Jangan sampai ada seorang murabbi yang stress duluan melihat kelakuan anggotanya,” ungkap Nashirul yang membuat para peserta silaturahim jadi tersenyum-senyum.
Dalam pertemuan yang diinisiasi oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ar-Riyadh tersebut, Nashirul juga mengurai beberapa peran penting seorang murabbi. Di antaranya adalah, sebagai pelopor dan qudwah. Hal ini bisa ditampakkan dalam bentuk ibadah, moral, sosial, dan lain sebagainya.
Menurut Nashirul, sepantasnya warga Hidayatullah Gunung Tembak bersyukur dengan lingkungan kampus yang begitu kondusif dalam memperagakan nilai-nilai syariat Islam.
“Termasuk dalam program kerja bakti Ahad misalnya. Ada nilai dan spirit yang berbeda ketika para pembimbing (Ustadz Dewan Pembina) kita juga ikut bekerja di lapangan bersama warga dan santri,” terang ustadz jebolan Universitas Islam Madinah ini.
Tugas berat seorang murabbi berikutnya adalah mentransfer ideologi atau manhaj. Sebab jika ia sebatas kultur tanpa pemahaman, niscaya perbuatan itu kehilangan spirit. Jika hal itu terus berlanjut, bisa jadi suatu saat ada warga Hidayatullah yang tidak paham dengan pola gerakan dakwah Hidayatullah itu sendiri.
“Lebih ekstrimnya, (jangan sampai) seorang Muslim menjalankan ibadah tanpa ia sendiri tahu apa tujuan ia beribadah,” Ujar Nashirul mengingatkan.
Dengan pemahaman dan sikap yang benar, imbuhnya, akan menghindarkan seseorang dari pengkultusan secara individu. Sebab dakwah dan ideologi yang diperjuangkan bersifat kekal. Sedang suatu saat seorang murabbi bisa berpisah dengan komunitas halaqah yang ia bina selama ini.
Terakhir, terang beliau, halaqah adalah sebagai wahana kebaikan dan ketaatan di jalan Allah. Aktif mengikuti kegiatan halaqah tentu saja punya tantangan dan godaan tersendiri. Alih-alih bicara hasil maksimal, setidaknya seorang kader Hidayatullah punya komitmen untuk senantiasa aktif mengikuti seluruh program dan kegiatan dalam halaqah.
Tak ada kebaikan yang tak punya tantangan. Tak ada kebenaran yang tidak beroleh halangan. “Tapi dakwah dan halaqah must go on,” pungkas Nashirul semangat.*
_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan
Dimulai pagi-pagi, tuntas sebelum masuk shalat Zuhur / MASYKURDua mahasiswa STIS Hidayatullah berjibaku dengan gilingan molen yang tak berhenti berputar / MASYKUR“Pasukan” nampak memusatkan pekerjaan di bagian belakang masjid / MASYKURKerja bakti mengecor lantai 2 masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan / MASYKUR
Hidayatullah.or.id — Meski bulan Ramadhan masih bersisa beberapa bulan lagi, warga dan santri Hidayatullah Balikpapan sudah bersiap menyambutnya kembali. Setidaknya hal itu nampak dalam suasana kerja bakti massal yang melibatkan seluruh warga dan santri kampus Gunung Tembak, belum lama ini (02/03/2014).
Berbeda dengan kerja bakti yang biasa digelar rutin pekanan, kali ini para warga fokus pada pengecoran beranda belakang Masjid Agung ar-Riyadh.
“Saat ini kita sedang berpacu dengan proyek renovasi pembangunan masjid. Sedianya, masjid ini akan kita maksimalkan sebagai pusat sarana ibadah di tengah kampus Hidayatullah. Khususnya pada bulan Ramadhan, sebab jamaah kian membludak saat itu,” ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (MKD) Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan, Muhammad Arfan Abdau.
Laiknya proyek pengecoran sebelumnya, kali ini lantai atas bangunan masjid dicor dengan mengerahkan seluruh warga dan santri Hidayatullah. Tepat pukul 07.15 Wita sebanyak empat buah mesin molen mulai menyalak. Sebelumnya warga dan santri sudah berbagi formasi. Sebanyak 16 halaqah warga yang ada lalu disebar, masing-masing mesin molen menjadi tanggung jawab 4 halaqah tersebut.
Sedang santri dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) turut melebur dalam halaqah tadi.
“Inilah salah satu wujud kebersamaan warga Hidayatullah. Tak ada yang tidak hadir, semua lebur dalam suasana ukhuwah sekaligus membantu menyelesaikan proyek pekerjaan yang ada,” imbuh sang koordinator, H. Sugiono seraya tersenyum.
Menurut pria yang diamanahi sebagai Kepala Pembangunan dan Penataan Kampus ini, proyek pengecoran tersebut sengaja dimulai sejak pagi. Bahkan para santri dan mahasiswa dihimbau agar langsung berkemas usai Shalat Subuh dengan ‘seragam pakaian kerja’. Sebab “Pesta Akbar Santri” kali ini diperkirakan menghabiskan semen sebanyak 200 sak (karung semen).
“Selain menghindari cuaca panas, proyek ini juga terhitung lumayan besar. Lantai yang dicor seluas 18 x 6,5 persegi. Semua itu kira-kira butuh campuran hingga 4 ret/ mobil batu koral dan pasir,” terang Sugiono lebih mendetail.
Bukan rahasia lagi, jika hampir seluruh bangunan di kampus Gunung Tembak dan di berbagai daerah lainnya adalah hasil karya tangan para santri Hidayatullah sendiri. Sejak dini mereka diajari mengasah skill dalam berbagai aspek.
Tentunya skill yang dimaksud di sini tak sebatas sisi akademik saja sebagaimana umumnya pemahaman itu. Utamanya bagi mahasiswa STIS. Turut membantu proyek di lapangan adalah bagian dari ilmu yang wajib diserap selama perkuliahan. Sejak awal, mereka telah dikenalkan dengan berbagai proyek fisik di kampus Gunung Tembak.
Sudah menjadi karakter di lingkup Hidayatullah, khususnya di Gunung Tembak, bahwa pembelajaran itu tak melulu diraih lewat bangku kuliah formal. Namun mahasiswa STIS juga ditempa dengan penguatan spritual di masjid, sebagaimana mental dan skill mereka mereka digodok dengan kerasnya tantangan kerja di lapangan.
Seperti yang sudah diduga, matahari yang kian meninggi juga mulai menampakkan sengatannya. Sebagian warga terlihat mulai melengkapi seragam asesorisnya. Mulai dari mengenakan safety helm (topi pelindung), kacamata berlensa rayban, kaos tangan, hingga ikat kepala serta tak lupa sepatu boot berwana kuning.
Bahkan seorang warga menjadi hiburan tersendiri dengan tampilan topi ala American Coboy di tengah kerumunan orang bekerja. Semua itu tentunya menjadi nutrisi penyemangat di tengah suara mesin molen yang kian menderu. Sedang di ujung sana, ibarat kawanan semut, santri dan mahasiswa STIS hilir mudik mengangkat karung dan ember berisikan koral dan pasir.
Memasuki pukul 09.00, atas arahan dari Zainuddin Musaddad, Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan, proyek pengecoran dihentikan sementara. Seluruh warga dan santri dipersilakan istirahat sejenak sembari menikmati sarapan pagi.
“Pengumuman. Disampaikan kepada seluruh peserta amal shaleh pengecoran masjid untuk break dahulu. Saatnya menikmati sarapan pagi,” terang Zanuddin melalui pengeras suara Masjid ar-Riyadh. Iya, inilah sepenggal daya tarik, mengapa kerja bakti itu selalu menarik di mata santri dan mahasiswa. Sebab mereka menikmati sajian berbeda yang disediakan khusus oleh ibu-ibu warga.
“Lauknya beda dan biasanya lebih banyak dari yang Dapur Umum,” polos Doddy (20), seorang santri mewakili suara hati teman-temannya.
Alhasil, usai menghabiskan ratusan sak semen, tepat pukul 11.30 proyek pengecoran lantai beranda belakang masjid ar-Riyadh Balikpapan dinyatakan selesai. Para warga dan mahasiswa hanya bisa bersyukur, mereka telah menyelesaikan sebuah proyek dunia yang berbuah akhirat. Setidaknya itu yang dirasakan oleh warga Hidayatullah Balikpapan dan mahasiswa STIS Hidayatullah.
“Rasanya rugi jika tak sempat ambil bagian dalam proyek akhirat ini,” ujar Doddy yang mengaku baru pertama kali ikut mengecor massal seperti ini.
Meski lelah, namun mahasiswa baru (maba) STIS Hidayatullah Balikpapan kelahiran Cilacap tersebut merasa beruntung bisa turut serta dalam proyek tersebut. Insya Allah, untung dunia akhirat!.
_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan
Hidayatullah.or.id — Wali Kota Bontang Adi Darma menghadiri penutupan Rapat Kerja (Raker) Pimpinan Hidayatullah wilayah Kalimantan Timur tahun 2014 di Masjid Ar Riyadh, Kampus Hidayatullah, Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, Minggu (2/3) lalu.
Dalam sambutannya Adi Darma memberikan apresiasi kepada Hidayatullah yang selama ini telah banyak membantu pemerintah, khususnya dalam mewujudkan masyarakat Kota Bontang yang berbudi luhur, maju, adil, dan sejahtera.
“Hidayatullah merupakan salah satu organisasi di bidang keagamaan yang turut serta membantu pemerintah dalam membangun Kota Taman khususnya dalam membentuk akhlak masyarakat menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan selalu beriman kepada Allah serta tetap menghormati pemeluk agama lain,” terang Adi Darma.
Lebih lanjut Adi Darma mengajak seluruh pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah untuk bersama-sama membina para pemuda di Kota Bontang agar menjadi pemuda yang Islami sebagai perwujudan Kota Bontang sebagai kota yang agamais.
“Semoga kerja sama dan sinergitas antara Pemerintah Kota Bontang dan Pondok Pesantren Hidayatullah bisa terus terjalin dengan baik dan semua yang telah dilaksanakan bersama dalam membangun Kota Bontang mendapat berkah dan rida Allah,” ungkap Adi Darma.
Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Hidyatullah Wilayah Kaltim Ustaz Hamzah Akbar, mengatakan dipilihnya Kota Bontang sebagai tempat untuk menyelenggarakan raker ini karena Kota Bontang merupakan kota yang agamais serta kota yang memiliki perkembangan pembangunan di bidang keagamaan yang sangat pesat khususnya dalam syiar agama Islam.
“Kami berharap agar seluruh pengurus Hidayatullah di Kaltim melihat langsung perkembangan pembangunan di Kota Bontang dengan harapan Kota Bontang dijadikan spirit dalam melanjutkan syiar agama Islam,” kata Hamzah.
Hamzah menilai semua capaian-capaian kemajuan Kota Taman ini karena kontribusi yang baik bersama-sama Pemerintah Kota Bontang dan masyarakat yang sangat peduli dengan perkembangan dan keharmonisan umat beragama di Kota Taman ini.
Ustaz Hamzah Akbar lebih lanjut menyatakan, Hidayatullah akan terus bermitra dengan pemerintah serta siap mendukung program pemerintah khususnya dalam bidang keagamaan serta membentuk karakter masyarakat yang berbudi luhur, maju adil, dan sejahtera. (bp/hio/k7)
Walikota Makassar, Ilham A. Sirajuddin, didampingi Ketua PP Hidayatullah, Tasyrif Amin, menandatangani prasasti peresmian perpustakaan Ponpes Hidayatullah Makassar / TRT
Hidayatullah.or.id -— Para santri Pesantren Hidayatullah Makassar akhirnya bisa tersenyum. Setelah lama mendambakan perpustakaan yang representatif, kini akhirnya terwujud.
Perpustakaan senilai Rp.30 juta dengan beraneka buku, seperti kitab kuning, buku bacaan dan sebagainya telah tersedia. Kemarin, perpustakaan yang terletak di Masjid Umar Alfarouq itu diresmikan langsung oleh Wali Kota Makassar, Dr. Ilham Arief Sirajuddin dengan menandatangani langsung plakat perpustakaan.
Wali Kota dari Partai Demokrat itu mengapresiasi keberadaan perpustakaan pesantren. Dia berharap, perpustakaan mini tersebut dapat dimanfaatkan oleh santri untuk menambah khazanah keilmuan.
Tidak hanya itu, masyarakat juga bisa ikut merasakan manfaat perpustakaan. Ilham mengatakan, ruang baca masyarakat di Kota Angin Mamiri terbilang sempit. Karena itu, sejak 2005, pemerintah menggulirkan program Gerakan Masyarakat Membaca.
Tasyrif Amin, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Hidayatullah dalam sambutannya mengatakan, perpustakaan merupakan salah satu syarat untuk menegakkan peradaban Islam. Sebab, perpustakaan simbol dan sumber ilmu. Seperti saat kejayaan masa Islam, umat Islam telah memiliki perpustakaan yang megah dengan ribuan kitab. Kita-kitab itu ditulis oleh para ulama dan jadi warisan berharga. Perpustakaan, lambing tradisi ilmu.
“Kalau tidak ada perpustakaan sama saja dengan membangun peradaban Islam dengan cara mengarang-ngarang,” ujarnya.
Perpustakaan itu diberi nama Ibnu Khaldun, sosiolog Muslim yang terkenal. Penamaan itu untuk mengambil spirit penulis produktif itu. Perpustakaan itu juga diharapakan dapat menstimulasi semangat membaca para santri.
Menurut Tasyrif, membaca adalah perintah Allah dalam al Quran, seperti yang tertuang dalam surat al Alaq: Iqra—bacalah. Tradisi membaca dan menulis itu, katanya awal dari membangun sebuah peradaban.* (mks/hio)
Mantan Wapres RI dalam salah satu acara digelar Hidayatullah / DYAH RIZKY
Hidayatullah.or.id — Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) M Jusuf Kalla mengatakan bahwa pesantren juga harus menanamkan jiwa entrepreneur pada santri-santrinya.
Hal ini disampaikan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah yang bertema “Penguatan Manajemen, Ekonomi dan UMKM Pondok Pesantren Muhammadiyah” di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta, belum lama ini.
“Pesantren baiknya menanamkan jiwa entrepreneur pada santrinya,” ujar JK dihadapan sekitar 700 peserta yang merupakan perwakilan Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Indonesia.
JK, sapaan akrab Jusuf Kalla, mengatakan bahwa pesantren bukan hanya mengadakan pengajian sifatnya ukhrowi tapi juga mampu menghadirkan pengajian “masa depan”. Pengajian masa depan menurut JK salah satunya adalah mengkaji ilmu bisnis. Sehingga pesantren atau lembaga pendidikan Islam harus seimbang antara ilmu agama dan juga ilmu “dunia”.
“Pengajian masa depan harusnya hadir, mengkaji bisnis, teknologi, bukan hanya mengaji (yang ukhrowi) saja,” ujar JK.
JK mengusulkan pesantren untuk mengundang dan menggandeng pengusaha-pengusaha sukses untuk berbagi pengalaman dan ilmunya kepada santri. Selain itu, pesantren juga ikut menfasilitasi santri untuk mempraktikan ilmu-ilmu bisnis yang sudah dipelajari.
“Undang pengusaha, minta mereka berbagi pengalaman dan motivasi. Kasih ruang santri untuk mempraktikannya,” ujar JK.
Menurut JK upaya hadirnya “pengajian masa depan” di pesantren adalah untuk menciptakan generasi Islam yang tangguh dan mampu bersaing sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap bangsanya.
“Ini untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing sehingga ikut memajukan bangsa,” ungkap JK.
Dalam acara tersebut, JK juga menceritakan kegelisahannya setiap menghadiri acara pernikahan. Menurutnya, setiap ustad yang berceramah selalu mengatakan pernikahan adalah sunah Rasul. Tetapi sedikit sekali ada ustad yang mengatakan bahwa berbisnis juga merupakan sunah Rasul. Padahal sebelum Rasululllah menikah, lebih dahulu menjalankan bisnis.
“Kalau di acara pernikahan, ustad bicara pernikahan itu sunah Rasul. Tapi jarang saya temukan ustad bicara bisnis itu sunah Rasul. Padahal Rasul lebih dulu berbisnis daripada menikah,” ujar JK.
Para santri, terang JK, hendaknya tidak sekadar belajar mengaji tetapi harus belajar ilmu-ilmu lain seperti teknologi.
“Pengajian masa depan harusnya hadir, mengkaji bisnis, teknologi, bukan hanya mengaji saja,” ujar JK.
Pesantren kata JK juga harus menanamkan jiwa entrepreneur pada santri-santrinya. Menurutnya, pesantren sebaiknya tidak hanya mengadakan pengajian sifatnya ukhrowi tapi juga mampu menghadirkan pengajian masa depan. Pengajian masa depan menurut JK salah satunya adalah mengkaji ilmu bisnis. Sehingga pesantren atau lembaga pendidikan Islam harus seimbang antara ilmu agama dan juga ilmu dunia.
Bahkan JK mengusulkan pesantren untuk mengundang dan menggandeng pengusaha-pengusaha sukses untuk berbagi pengalaman dan ilmunya kepada santri. Selain itu, pesantren juga ikut memfasilitasi santri untuk mempraktikkan ilmu-ilmu bisnis yang sudah dipelajari.
“Undang pengusaha, minta mereka berbagi pengalaman dan motivasi. Kasih ruang santri untuk mempraktikkannya,” ujar JK.
Menurut JK, upaya hadirnya ‘pengajian masa depan’ di pesantren adalah untuk menciptakan generasi Islam yang tangguh dan mampu bersaing sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap bangsanya. “Ini untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing sehingga ikut memajukan bangsa,” ungkapnya. (timlo/hio)
Hidayatullah.or.id — Hidayatullah terus bertumbuh sebagai organisasi dakwah karena pendirinya meneladani model kepemimpinan Rasulullah yang terpusat tanpa melupakan aspek-aspek mendasar lainnya. Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Naspi Arsyad, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Barat, belum lama ini.
Naspi menjelaskan, tema Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat yaitu “Revitalisasi Organisasi Menuju Standarisasi dan Sentralisasi”, sesungguhnya mengandung makna upaya revitalisasi untuk mengembalikan semangat Hidayatullah sebagai Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah.
“Sejak awal Hidayatullah memiliki gerakan konsep kepemimpinan imamah dan jama’ah, berdasarkan metodologi manhaj gerakan dakwah dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) yaitu suatu manhaj yang mengikuti dan meneladani kesuksesan dakwah Rasulullah sebagai utusan Allah yang berhasil membangun peradaban Islam di Madinah,” kata Ustadz Naspi yang beberapa saat lalu terpilih menjadi ketua umum Syabab Hidayatullah.
Agenda tahunan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Barat berlangsung penuh khidmat diadakan pada hari Sabtu – Ahad, 22-23 Februari 2014, diikuti oleh 36 orang perwakilan dari PD, PW, MPW, dan Syabab Hidayatullah. Kegiatan ini difasilitasi oleh Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat yang bertempat di Gedung Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) di Jl. Burangrang no. 17-19 Kota Bandung.
Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Hidayatullah Jawa Barat, Nanang Hanani, MA, yang hadir saat acara sedang berlangsung menyatakan rasa syukurnya bisa tetap istiqomah dan berjuang di Hidayatullah yang telah banyak memberikan manfaat dan kenikmatan dalam berIslam.
Nanang mengaku, sebelum ia memutuskan bergabung dengan kegiatan Hidayatullah, hidupnya tidak terarah bahkan dikatakan sebagai anak nakal yang hobinya berkelahi saja.
Mengomentari tema kegiatan Rakerwil menuju standarisasi dan sentralisasi, kata Nanang inilah sejatinya konsep gerakan yang tepat untuk ditempuh sehingga akan tumbuh semangat baru yang saling memotivasi di mana satu pihak tidak merasa superior dan pihak lainnya merasa inferior dalam berlembaga karena semua potensi diakomodir.
Dipenghujung acara, inisiatif datang dari sekretaris PW Hidayatullah Jabar yang mengimbau peserta Raker untuk melakukan penggalangan dana untuk pengobatan salah seorang dai yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut.
Ia menyampaikan kepedulian harus terus diasah dimanapun dan kapanpun, terlebih lagi saat kita mendengar dan menyaksikan saudara Muslim kita seperjuangan terbaring tidak berdaya dengan ujian sakit yang menimpanya.
Orang yang dimaksud adalah Ustadz Nur Khotib yang juga seorang da’i yang ditugaskan merintis Hidayatullah Tasikmalaya telah lama mendapat ujian sakit. Sekarang ini ia sedang membutuhkan motivasi dan perhatian dari terlebih beliau sebagai kepala keluarga dan masih memiliki beban serta tanggung jawab dalam mengurusi amanah di lembaga sebagai pengurus Yayasan Al Alaq-Hidayatullah Tasikmalaya dan anggota Majelis Pertimbanngan Wilayah (MPW) Hidayatullah Jawa Barat.
Alhamdulillah lelang amal untuk bantuan pengobatan Ustadz Noer Khotib dari peserta Rakerwil terkumpul dan langsung diserahkan melalui ketua PD Hidayatullah Tasikmalaya. (ybh/hio)
Rakerwil dan Upgrading Dai oleh PW Hidayatullah Sumsel / QAA
Hidayatullah.or.id — Seorang juru dakwah (dai) atau muballig dituntut harus memampu melakukan diagnosa terhadap banyak problematika yang dihadapi umat dewasa ini.
Zaman makin berkembang, sehingga dinamika masalah keummatan pun bisa semakin kompleks. Dari kemampuan “diagnosa” yang dilakukan, diharapkan dai dapat memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengabdi umat.
Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, saat memberikan materi pada acara Upgrading Dai dalam rangkaian acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel), beberapa waktu lalu, (03/03/2014).
Acara Rakerwil Hidayatullah Sumsel ini dirangkai dengan pembekalan para Dai Hidayatullah yang dikemas dalam acara “Up Grading Da’i Hidayatullah” yang dipandu oleh Ustadz Shohibul Anwar. Materi yang disampaikan berkaitan dengan fiqh dakwah dan dinamikanya diikuti oleh para peserta Rakerwil dengan penuh antusias.
Diharapkan dengan adanya “Up Grading Dai” ini, para dai Hidayatullah dapat menempatkan dirinya secara bijak di tengah kemajemukan ummat Islam, mampu “mendiagnosis” problematika ummat sekaligus menjadi “problem solver”nya.
“Dan mampu mentranformasikan kondisi ummat menjadi lebih baik dalam hal ibadah, tata perilaku, dan keilmuan,” kata Ustadz Shohibul Anwar dalam pemaparannya.
Sementara itu, Kepala Departemen Informasi dan Humas PW Hidayatullah Sumsel, Qosim Abu Azyz, menyampaikan bahwa Keberhasilan sebuah organisasi dapat dilihat dari indikator sejauh mana program kerja yang telah disusun pada tahun tertentu dapat berhasil dilaksanakan.
Oleh karenanya, kata Qosim, perlu diadakan evaluasi program-program kerja yang telah disusun guna mengukur tingkat keberhasilan. Untuk itulah, PW Hidayatullah Sumatera Selatan menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil), sebagai sebuah forum tahunan untuk mengevaluasi programm kerja tahun sebelumnya sekaligus menyusun program kerja untuk setahun yang akan datang.
Acara Pembukaan Rakerwil berlangsung secara sederhana dan penuh hikmah, bertempat di Aula Pesantren Hidayatullah Sumsel, Rambutan, Kabupaten Banyuasin, tanggal 3 Maret 2014. Dibuka secara resmi oleh Ustadz Shohibul Anwar, Ketua Departemen Dakwah Pimpinan Pusat Hidayatullah dan Ketua Pos Dai Hidayatullah.
Rakerwil ini dihadiri oleh utusan dari 4 pengurus daerah di kabupaten kota di Sumsel yakni Kota Palembang, Banyuasin, Lahat, dan Musi Rawas, di samping unsur dari Pengurus Wilayah sendiri dan Pengurus Pusat Hidayatullah.
Sebelumya, sebagai rangkaian acara Rakerwil juga dilaksanakan traning Super Life Revolution yang diadakan oleh PW Hidayatullah Sumsel bekerjasama dengan Badan Dakwah Islam (BDI) Refinery Unit III Pertamina Plaju bagi para karyawan Pertamina dan masyarakat umum bertempat di Gedung Ogan Kompleks Pertamina RU III Plaju, Kota Palembang pada tanggal 2 Maret 2014.
Acara training untuk karyawan tersebut berlangsung menarik dengan antusiasme peserta. Bertindak sebagai pemateri Ustadz Shohibul Anwar, traning yang berlangsung secara selama 2 (dua) jam tersebut mampu mengajak para peserta untuk mendefinisikan tujuan hidup manusia guna menggapai bahagia tanpa batas. Traning Super Life Revolution juga diadakan bagi para ibu-ibu Muslimat Hidayatullah Sumsel pada hari yang sama. (hio/ybh)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad / NHM
Hidayatullah.or.id — Musyawarah Nasional (Munas) V Syabab Hidayatullah yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, selama 3 hari (28 Februari – 2 Maret) sukses digelar. Munas ini memutuskan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Syabab Hidayatullah diamanahkan kepada Naspi Arsyad, Lc.
Munas Syabab Hidayatullah yang digelar di Gedung HITC, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, mengusung tema “Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Indonesia Bermartabat”, ini berlangsung alot. Kendati suasana “panas” acapkali menyeruak di arena sidang, suasana tetap berlangsung tertib penuh keakraban.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad dalam pidato pelantikannya menuturkan bahwa ia sangat berat menerima amanah ini. Jika bisa menolak, ia mengatakan pasti akan menolak.
Namun bagaimana pun, kata alumni Universitas Islam Madinah (UIM) ini, sebagai kader ia mengaku harus mengikuti garis komando yang telah menjadi kultur lembaga ini.
“Mohon doa dan dukungan dari kita semua. Kalau saya dilihat keliru atau salah mohon diingatkan. Mari bersama-sama kita memikul amanah ini,” katanya seraya menyebutkan amanah ini sebagai wadah berproses untuk menjadi lebih baik.
Sementara itu, di sela-sela kesibukannya, Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad hadir dan bersilaturrahim dengan peserta musyawarah. Pada kesempatan tersebut, beliau sempat memberi tauhsiah setelah beberapa waktu sebelumnya baru tiba dari Kota Bontang, Kalimantan Timur.
“Saya bersemangat untuk hadir, bukan hanya karena wujud apresiasi orangtua kepada anak, tapi ini wujud syukur pada Allah. Sebab Hidayatullah ke depan ada di tangan anak-anak muda hari ini,” kata pimpinan membuka ceramahnya.
Beliau mendorong kader muda Hidayatullah senantiasa membangun tradisi ibadah dan berfikir. Tradisi berfikir, terangnya, adalah membangun budaya beriqra’ dan haus akan ilmu pengetahuan yang ditopang dengan ibadah intensif. Perintah beriqra’, jelas beliau, merupakan doktrin yang dimiliki generasi Hidayatullah.
“Saya rindu ingin melihat wajah wajah generasi muda Hidayatullah yang akan bergerak lebih baik, penuh semangat, lebih profesional. Memang itu harus dilakukan. Karena karakter zaman ini secara aksiomatik harus seperti itu,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM, mengingatkan Syabab Hidayatullah untuk tidak terjebak pada pragmatisme dan praktik-praktik gelap demokrasi. Abdul menegaskan bahwa Hidayatullah harus menjaga kultur sentralisasi komando (Sam’an Wa Tho’atan) sebagaimana dipraktikkan oleh pendahulu yang terbukti telah mengantar organisasi ini terus bertumbuh dan berwibawa.
Rekrutmen kader tidak akan efektif kalau syabab tidak efektif dan efesien. Abdul mengimbau, semua potensi harus diakomodir dan dimaksimalkan. Nasib 5 sampai 10 tahun Hidayatullah ke depan ditentukan oleh pemuda Hidayatullah.
“Hidayatullah butuh kader pelopor sekaligus penggerak sebagai kekuatan inti organisasi dan umat. Semua adalah perjalanan untuk mendapatkan bentuk yang terbaik dengan melibatkan segala potensi syabab menuju gerbang keridhaan Allah Ta’ala,” tandasnya.
Ketua Panitia Munas V Syabab Hidayatullah, Rahmat Ilahi Hadits, mengatakan helatan musyawarah dan silaturrahim nasional ini adalah sekaligus sebagai momentum rekonstruksi dan revitalisasi gerakan Syabab Hidayatullah. Momentum Munas kali ini diharapkan menjadi ruang resolusi dan identifikasi dari berbagai problem yang dihadapi gerakan kepemudaan yang telah memasuki usia satu dekade lebih ini.
“Pemuda tidak berfokus pada alasan karena sudah pasti alasan itu selalu benar. Tapi pemuda selalu fokus pada solusi, walaupun solusi tidak selalu benar,” tandas Rahmat.
Musyawarah Nasional Syabab Hidayatullah ini terselenggara atas dukungan banyak pihak diantaranya PP Hidayatullah, Laznas BMH, HiTC, Mushida, Yayasan Marhamah Hidayatullah Depok, PT Totalindo Rekayasa Telematika, dan lain-lain.* (ybh/hio)
Pendahulu Hidayatullah, Ustadz Usman Palese, saat bersilaturrahim dengan kader di Kampus Hidayatullah Sorong / MIFTAHPimpinan Daerah Hidayatullah Provinsi Papua berfoto bersama usai Rakerwil / MUSLIM
Hidayatullah.or.id — Provinsi Papua memiliki letak geografis yang relatif sangat luas. Untuk itu, Hidayatullah terus turut serta mendukung program pembangunan yang digalakkan pemerintah di wilayah ini.
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Provinsi Papua, Fatahuddin Amin, mengatakan Hidayatullah yang konsen di bidang dakwah, sosial, dan pendidikan, aktif mengembangkan sayapnya di daerah lainnya agar masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan bimbingan agama dan layanan pendidikan dan sosial.
“Kami membutuhkan banyak tenaga kader yang siap mengabdi di wilayah ini guna memberikan pelayanan dakwah dan pembinaan umat melalui pendidikan dan sosial,” kata Fatahuddin disela acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Papua berlangsung di Kabupaten Mimika, belum lama ini.
Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua menggelar Rapat Kerja Wilayah di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Kabupaten Mimika, Papua (21-23/02/2014) lalu.
Dalam kegiatan Rakerwil ini PW Hidayatullah Papua menyampaikan laporan dan program kerja yang disampaikan Nur Fatahuddin Amin selaku ketua.
Dalam laporan itu Ustadz Nur Fatahuddin menyampaikan keinginannya kepada Pimpinan Pusat Hidayatullah agar dapat mengirimkan tenaga kadernya mengingat Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas di wilayah kerja Hidayatullah Papua dan akan dibukanya cabang-cabang Hidayatullah baru yang sudah siap lahannya.
“Lahan sudah siap, tapi kami belum memiliki SDM yang dapat ditugaskan di sana seperti di Kabupaten Puncak Wamena, Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Keppi,” kata Fatahuddin.
Rakerwil yang mengusung tema “Revitalisasi Organisasi Menuju Standarisasi dan Sentralisasi” ini dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Pusat (PP) yakni Drs H. Wahyu Rahman, juga unsur Pengurus Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua, dan perwakilan Pimpinan Daerah (PD) se-Provinsi Papua yang terdiri dari Pimpinan Daerah Hidayatullah Timika sebagai tuan rumah, PD Hidayatullah Sentani, PD Hidayatullah Kerom, PD Hidayatullah Serui, PD Hidayatullah Nabire, PD Hidayatullah Biak, PD Hidayatullah Merauke, dan PD Hidayatullah Buvendigul.
Acara tahunan ini mengagendakan sosialisasi hasil-hasil Rapat Kordinasi Nasional Hidayatullah yang digelar di pertengahan bulan Januari lalu. Acara ini juga dihadiri oleh salah satu pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Ustadz Usman Palese.
Dalam ceramahnya Ustadz Usman sangat terharu karena setelah 41 tahun Pesantren Hidayatullah berkembang atau lebih tepatnya berdiri pada tahun 1973 di seluruh penjuru Indonesia, baru kali pertama ini beliau menginjakan kaki di bumi Papua dan melihat secara langsung perkembangan Hidayatullah yang berada di Bumi Cendarawsih ini.
Tanpa melewatkan kesempatan yang ada, Ustadz Usman Palese juga bersilaturrahim mengunjungi beberapa Cabang Hidayatullah di Papua seperti Hidayatullah Timika di mana acara Rakerwil berlangsung, Hidayatullah Jayapura, Hidayatullah Manokwari, dan Hidayatullah Sorong.
Sementara itu, dalam acara pembukaan, Wahyu Rahman mewakili Pimpinan Pusat menyampaikan, bahwa revitalisasi dan sentralisasi merupakan penguatan manhaj, konsep dan ibadah. Sedangkan standarisasi dalam konsep Hidayatullah adalah menstandarkan aspek pendidikan, ibadah dan konsep pemahaman dalam Hidayatullah yang lebih kita kenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
“Sistem standarisasi ini kita gunakan karena kita menggunakan konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu yang ditujukan pada garis komando Imamah Jama’ah. Jadi, standarisasi dan sentralisasi dalam konsep Hidayatullah adalah Konsep Imamah Jama’ah,” papar Drs. Wahyu Rahman.
Ustadz Wahyu Rahman yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PW Hidayatullah Papua yang telah melebarkan sayap dakwahnya dan membuka beberapa cabang di Wilayah Papua. (Akhmad Muslimin, Hidayatulah Jayapura)