Beranda blog Halaman 680

Harian Detik: Berdakwah Hingga ke Pelosok Negeri

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah telah 40 tahun berkiprah mengirimkan para dai ke berbagai pelosok Nusantara. Hidayatullah yang didirikan oleh KH Abdullah Said pada 1973 ini bermarkas di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurut Shohibul Anwar, Ketua Pos Dai Hidayatullah, setiap dai biasanya cuma diberi bekal untuk enam bulan. Juga diberi sejumlah nama tokoh yang dapat mereka hubungi sesampainya di lokasi dakwah. “Setelah itu, mereka cari sendiri,” ucapnya seperti dikutip Harian Detik edisi pagi, Ahad (14/07/2013) kemarin.

Bahkan, pada awal-awal berdiri Hidayatullah, para dai tak mendapatkan fasilitas apa-apa selain ongkos pengiriman mereka ke daerah itu. Tapi, dalam rentang waktu 5 tahun terakhir, kata Anwar, Hidayatullah mencoba membekali sejumlah dai dengan sepeda motor atau perahu bermotor bekas sumbangan dari para dermawan.

Namun persoalan muncul ketika sepeda-sepeda motor itu akan dikirimkan ke daerah yang jauh, seperti pulau di Nusa Tenggara Timur, Papua, Mentawai, Nias, dan wilayah pedalaman Kalimantan.

“Ongkos pengiriman dan biaya pengurusan administrasi sepeda motor itu juga semahal sepeda motor tersebut,” ucapnya diiringi tawa.

Akhirnya 15 sepeda motor yang pernah disiapkan diuangkan terlebih dulu biar si dai yang membeli sendiri sesuai dengan kebutuhannya. “Di Mentawai seorang dai mendapat fasilitas perahu motor,” ucap Anwar, yang menyebut setiap tahun Hidayatullah mengirimkan sekitar 150 dai.

Namun, ia menegaskan, soal fasilitas selama ini tidak menjadi kendala bagi para kader. Justru masalah muncul ketika para dai sudah eksis di suatu daerah. Ada saja godaan yang mengganggu kegiatan dakwah mereka. Anwar mencontohkan, di sejumlah pulau di Maluku Utara atau di pelosok Kalimantan dan Sulawesi, sejumlah dai ditawari untuk mengelola kebun kelapa oleh masyarakat setempat. “Bahkan ada yang ditawari jadi PNS di berbagai kabupaten tempat mereka ditugaskan,” ujarnya.

Tak ada batasan waktu bagi para dai untuk mengabdi di satu wilayah. Sebab, rotasi antar dai biasanya disesuaikan dengan kondisi lapangan dan demi penyegaran.

Ramadhan Ceria di Hidayatullah Palu

Bertempat di kampus Pesantren Hidayatullah Palu, Sulawesei Tengah, di bilangan Tondo, ratusan murid SD Integral Hidayatullah Palu antusias mengikuti penutupan Ramadhan ceria.

“Kegiatan ini sengaja kami kemas menarik dengan pembelajaran yang menyenagkan agar anak-anak betah dengan amalan agamanya, khususnya pada bulan Ramadhan kalli ini,” ketua panitia Dedy Kurniawan, S.Sos.I.

Sesuai dengan temanya, kegiatan Ramadhan dikemas sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan tidak membosankan sesuai dengan dunia anak- anak.

Penanggung jawab kegiatan Dedy kurniawan mengatakan, pihaknya ingin membangun image kepada siswa bahwa mempelajari dan belajar agama Islam  itu tidak susah dan tidak perlu sampai membuat kening berkerut.

“Kita bisa mempelajari agama Islam dengan santai dan menyenangkan tanpa mengurangi bahkan menghilangkan inti ajaran Islam,” imbuhnya.

Lebih jauh Dedy menjelaskan bahwa pihaknya sudah melaksanakan acara serupa sejak berdirinya sekolah tersebut, tepatnya pada awal tahun ajaran 2005/2006 lalu.

Salah seorang peserta asal Kota Raya Muhammad Agus yang kini duduk di bangku kelas IV mengatakan dengan lancar, “Saya tidak tahu apakah nanti di SMP ada kegiatan yang kayak gini, menyenangkan sekali apalagi banyak ilmu-ilmu agamanya yang saya dapatkan dan langsung diamalkan”.

Kegiatan ekstra kurikuler sekolah yang berdurasi empat hari sejak memasuki hari puasa pertama tercatat tanggal 10 Juli. Untuk pemateri sekolah belum mengundang pemateri dari luar sekolah dengan pertimbangan efisiensi waktu dan anggaran.

Tercatat dalam agenda panitia, materi yang disampaikan adalah Aqidah dan Tauhid, Ulumul Qur’an, sejarah para Nabi, Fiqih Ramadhan, Akhlakul Karimah dan game yang semuanya dikemas apik dalam penyampaiannya.

Seluruh peserta menyambut antusias bukan hanya dari siswa saja bahkan juga wali murid. Selain mempelajari agama Islam seperti, mengaji, menghafal, memterjemah Al- Qur’an siswa juga diberikan game-game yang menyenangkan serta dongeng yang bisa memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam mempelajari serta mengamalkan ajaran Islam.

Ada yang lain dari penutupan acara ini, seluruh peserta membagi-bagikan sembako dan buka puasa bersama dengan  masyarakat di sekitar sekolah yang sebelumnya mereka kerjabakti membersihkan lingkungan.

Dikatakan Dedy, “Kami tidak hanya mengajarkan ajaran Islam ini hanya sebatas teori tapi perlu langsung dipraktekkan di lapangan dengan membagikan sembako dan  kerja bakti di maasyarakat”.

Hal senada juga disampaikan oleh kepala sekolah SD Integral Hidayatullah Palu, Muhammad, SE. “Kegiatan serupa memang sudah menjadi kultur sekolah kami, di setiap detil acara sangat kami kondisikan dengan nilai-nilai agama yang syarat dengan aplikasi di lapangan,” demikian Muhammad. (Laporan wartawan Hidayatullah.or.id di Palu, Muhammad Bashori)

Pesantren Hidayatullah Kendari Gelar Nikah Massal

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah menggelar nikah massal dikalangan para santri yang selama ini menjadi binaan Pesantren Hidayatullah. Nikah massal atau Pernikahan Mubarak tersebut diikuti oleh 11 pasang laki-laki dan perempuan yang telah menyelesaikan pendidikannya.

Pernikahan Mubarak tersebut dilakukan di Pondok Pesantren Kota Kendari, Kamis (4/7/2013) lalu. Abu Bakar Muis, Pengurus Wilayah Pesantren Hidayatullah Sultra, mengatakan bahwa dari tahun ke tahun nikah berkah tersebut memang sering dilakukan dikalangan penghuni pondok pesantren.

“Tiap tahun kami melihat, santri kami yang sudah siap menikah dan menjadi imam bagi calon keluarganya, jika sudah siap maka kami segera langsungkan pernikahannya,” terangnya.

Jumlah nikah massal yang diikuti tahun ini kata Abu Bakar merupakan jumlah terbanyak dari pengalaman sebelumnya. Dimana tahun sebelumnya jumlah santri yang mengikuti nikah massal tidak mencapai 10 pasang.

“Untuk pelaksanaan nikah massal kami gilir di setiap daerah, tahun lalu kami adakan di Bau-bau dengan jumlah delapan pasang, tahun sebelumnya juga di Unaha sebanyak tujuh pasang, tahun ini memang paling banyak,” ujarnya.

Sementara itu, usia para santri yang melangsungkan pernikahan juga bervariasi mulai dari usia 22 tahun untuk perempuan, sementara bagi laki-laki ada yang berusia 20 tahun ke bawah.

Ia juga menuturkan bahwa pernikahan yang dilangsungkan hari itu merupakan pernikahan berkah karena sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain.

“Perkenalannya dilakukan setelah menikah, jadi tidak ada istilah pacaran, alhamdulillah sejauh ini pernikahan seperti ini berhasil dan tidak ada yang gagal, saya sendiri juga menikah dengan cara dijodohkan seperti ini pada tahun 1994 lalu,” kenangnya.

Suhartin, salah seorang mempelai wanita mengatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan melakukan pernikahan seperti itu, meskipun ia juga tidak memiliki bayangan tentang suaminya.

“Belum pernah kenal, saya hanya tahu bahwa beliau juga binaan Hidayatullah dari Kolaka, saya percaya dengan pilihan ustad di pesantren karena tidak mungkin kami dipilihkan orang yang salah,” ujarnya. (lina)

Bupati Safari Ramadhan ke Hidayatullah Sanggau

Dalam menyambut bulan Suci Ramadhan 1434 H, sama seperti tahun sebelumnya Pemerintah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, melaksanakan Safari Ramadhan.

Bupati Sanggau Ir H Setiman beserta rombongan melaksanakan Safari Ramadhan bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sanggau yang juga sekaligus meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Aqshol Madinah, Rabu (10/07/2013) lalu.

Ketua  Pelaksana Pembangunan Masjid, Abdus Syukur mengatakan bahwa bangunan Masjid yang dibangun dengan ukuran 15 m  x 23 akan digunakan selain untuk anak-anak Pondok Pesantren juga untuk masyarakat sekitarnya.

Selain itu, Bupati juga berkesempatan meresmikan Asrama Pusat Pendidikan Anak Sholeh (PPAS) yang  terletak juga dikomplek Pondok Pesantren Hidayatullah yang dibangun bersumber dari donatur tetap maupun tidak tetap.

Bupati berharap agar asrama ini dapat memberikan manfaat. Yang juga penting, menurut Bupati Setiman, agar jika diberikan pendidikan kepada anak didik dengan penalaran eksakta berupa pemasangan berbagai gambar terutama para pemuka agama, ilmuwan Islam sebagai dasar sejarah kepada mereka.

Bupati kemudian menambahkan pula untuk membuat gambar-gambar dengan nama 3 bahasa yaitu bahasa Arab, Indonesia maupun bahasa lainnya, seperti nama-nama bulan dan lain sebagainya. Hadir mendampingi rombongan Safari Ramadhan Bupati Sanggau, diantaranya Dra. Hj. Jamilah, MM selaku Koordinator Safari Ramadhan yang juga Asisten II Setda Sanggau, Ketua MUI Sanggau Drs. Amsyar Ghazali, Plt Kepala Kantor Kamenag Sanggau Drs. H. Hermanto Yanen, Kepala KUA Kecamatan Kapuas Nasri, S.Ag, para Ustadz dan Danramil Kapuas Asep Trismen.(dln/pkp)

Pesantren Berpotensi Dorong Percepatan Ekonomi Kerakyatan

Founder Bosowa Corp Aksa Mahmud mengatakan potensi pesantren cukup efektif mendorong percepatan ekonomi kerakyatan.

“Bisnis dan perekonomian yang dilakoni para santri dan dai harus terus didorong untuk mendukung kemandirian dan bermartabatnya aktivitas berdakwah,” katanya melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Jumat (21/6/2013).

Aksa berceramah dalam sesi dialog “Pencerahan Ekonomi Keumatan, Pemberdayaan Ekonomi Nasional Berbasis Pesantren” di Gunung Tembak, Balikpapan. Ini merupakan rangkaian Silaturahmi Nasional Jamaah Pondok Pesantren Hidayatullah.

Pada kesempatan itu ia mengatakan, pengusaha yang lahir dari pesantren akan sangat luar biasa keberkahannya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.

Dia prihatin, pengusaha yang menguasai perekonomian Indonesia saat ini tidak memilki basis dan pemahaman keagamaan yang baik sehingga realitas perekonomian Indonesia rapuh.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad, mantan Ketua MK Mahfud M.D dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan hadir dalam silaturahmi nasional di Gunung Tembak yang resminya dimulai Sabtu (22/6/2013) hingga Minggu (23/6/2013).

Silatnas dihadiri 6.000 jamaah, kader, simpatisan dan pengurus Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan ulang tahun atau milad Hidayatullah ke-40.

Rombongan jamaah Hidayatullah Sulawesi Selatan sebanyak 600 orang, merupakan yang terbesar kedua selain rombongan dari Jawa Timur. Akan digelar pula pengibaran bendera merah putih raksasa ukuran 1.000 meter persegi oleh SAR Hidayatullah dan pernikahan Mubarak sebanyak 50 pasang pengantin.

Sementara itu, Grup Bosowa baru saja menyelesaikan pembelian 14% saham Bank Bukopin senilai Rp1,17 triliun untuk melengkapi lembaga keuangan dan perbankan yakni Bank Kesawan dan BPR Syariah.

Masuknya Bosowa akan memperkuat permodalan bank tersebut dan mendorong percepatan dan pengembangan bisnis Bukopin, khususnya di sektor usaha kecil dan menengah (UKM) secara berkelanjutan.

Aksa sendiri telah menyatakan komitmen dan dukungan untuk mengembangan jaringan minimarket Hidayatullah dengan mengggandeng Bank Bukopin. Dia menyebut dalam 2 tahun, Hidayatullah harus mendirikan 300 minimarket di 300 pondok pesantrennya.

“Perputaran uang akan sangat luar biasa untuk mendukung kegiatan dakwah Hidayatullah. Saatnya lembaga dakwah untuk tidak meminta-minta lagi,” tegasnya.

Hidayatullah saat ini baru memiliki lima jaringan usaha minimarket. Namun, pendiri Bosowa itu optimistis 300 minimarket Hidayatullah bisa terbentuk mulai tahun ini atau pada 2014.

“Pada 2015, kami bisa go public seperti yang dilakukan Alfamart,” katanya. (bi)

Di Jatim Ada Ponpes Gontor, Kaltim Punya Hidayatullah

Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak menyebut pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah, mendiang Abdullah Said, sebagai tokoh besar Kaltim yang harus dilanjutkan pekerjaannya.

“Abdullah Said adalah salah satu tokoh besar yang tercatat dalam sejarah Kalimantan Timur. Beliau adalah tokoh yang harus kita hormati, tokoh yang sangat cerdas, dan kita wajib melanjutkan apa yang telah beliau rintis,” kata Awang Faroek Ishak saat membuka acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Emberkasi Asrama Haji, Batakan, Balikpapan, seperti dikutip portal nasional Merdeka.com, Kamis (20/6).

Dengan kiprah dan kerja keras Abdullah Said, Hidayatullah kini menjadi salah satu ikon Kalimantan Timur. Sebab biasanya, pesantren pesantren besar lahir di pulau Jawa baru menyebar ke seluruh nusantara.

“Kalau di Jawa Timur ada Gontor, maka di Kalimantan Timur ada Hidayatullah yang telah menyebar ke pelosok nusantara. Hidayatullah merupakan organisasi keagamaan yang telah eksis di Indonesia,” kata Awang di hadapan lebih 700 pengurus PW dan PD Hidayatullah.

Pada kesempatan itu Awang juga bercerita menyaksikan sendiri bagaimana Abdullah Said mulai merintis pembangunan pesantren ini. Bahkan dia tahu persis sejarah proses administrasi berdirinya termasuk dukungan Gubernur Kaltim kala itu, Abdul Wahab Sjahranie

“Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri perjuangan beliau,” ungkapnya.

Visi dan misi Hidayatullah adalah sebagai salah satu lembaga pengembangan keagamaan yang menyelenggarakan kegiatan dakwah, pendidikan, dan sosial. Selama ini, Hidayatullah telah membuktikan diri dengan kerja keras untuk mengembangkan pemikirannya dalam rangka pembangunan dan pembinaan umat.

“Yang penting Hidayatullah tidak berpolitik, tapi saya tahu Hidayatullah tidak buta politik,” selorohnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, Abdul Mannan, di kesempatan yang sama mengatakan Hidayatullah lahir dari ide sederhana dari seorang anak muda yang bernama Abdullah Said yang masih berusia 20-an.

“Hidayatullah benar-benar murni lahir dari sebuah ide, dengan modal semangat heroik, yang digembleng dengan banyak organisasi yang melatari pendirinya. Seorang ideolog sejati yang membuat kita mengerti Islam yang sebenarnya,” kata Abdul Mannan.

Abdul menyebutkan, Hidayatullah saat ini telah menjadi organisasi massa dengan 33 pimpinan wilayah, 296 pimpinan daerah tingkat kabupaten atau kota, dengan ratusan amal usaha berupa pesantren, sekolah, dan panti asuhan.

Hidayatullah secara reguler meluluskan mahasiswa di bidang pendidikan dan dakwah, hukum Islam, dan ekonomi. Setiap tahunnya, kata Abdul, Hidayatullah sukses meluluskan sedikitnya 320 mahasiswa sarjana kader dai.

“Mereka kita sebar ke seluruh Indonesia. Sebagian kemarin sebelum dilepas ke daerah-daerah, mereka kita nikahkan,” terang Abdul.

Bosowa dan Bukopin Berkomitmen Bantu Minimarket Hidayatullah

Pendiri Bosowa Corp Aksa Mahmud menyatakan komitmen dan dukungan untuk mengembangan jaringan minimarket Hidayatullah dengan mengggandeng Bank Bukopin.

“Melalui lembaga keuangan yang Bosowa miliki akan mendukungpermodalannya dan Bosowa yang bayar konsultan bisnisnya,” jelas Aksa dalam rilis yang Bisnis Indonesia terima, Jumat (21/6/2013).

Seperti diketahui, baru-baru ini Bosowa membeli 14% saham Bank Bukopin pada harga Rp 1.050 per saham, atau dengan nilai total Rp1,17 triliun.

Aksa menyampaikan itu dalam acara Silaturahmi Nasional Jamaah Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan. Dia menyebut dalam 2 tahun Hidayatullah harus mendirikan 300 minimarket di 300 pondok pesantrennya.

“Perputaran uang akan sangat luar biasa untuk mendukung kegiatan dakwah Hidayatullah.Saatnya lembaga dakwah untuk tidak meminta-minta lagi,” tegasnya.

Selain Bank Bukopin, Bosowa memiliki lembaga keuangan dan perbankan yakni Bank Kesawan dan BPR syariah. Ditambahkannya bahwa tiap ponpes Hidayatullah akan ada kantor pelayanan dari bank syariah.

Hidayatullah saat ini baru memiliki lima jaringan usaha minimarket. Namun, pendiri Bosowa itu optimis 300 minimarket Hidayatullah bisa terbentuk mulai tahun ini dan 2014. “Pada 2015, kita bisa go public seperti yang dilakukan Alfamart,” katanya.

Bosowa memiliki lembaga keuangan PT Bosowa Multifinance dan Sadira Finance serta perbankan melalui QNB Bank Kesawan, BPR Syariah Dana Moneter, dan terakhir Bank Bukopin (setelah PT Bosowa Corporindo membeli 14 persen saham Bank Bukopin dengan nilai total Rp 1,17 Triliun).

Siaran pers Bosowa menyebutkan, Hidayatullah saat ini baru memiliki lima jaringan usaha minimarket. Aksa optimistis 300 minimarket Hidayatullah bisa terbentuk mulai tahun ini dan 2014. “Pada 2015, kita bisa go public seperti yang dilakukan Alfamart. Sekaligus tiap Pondok Pesantren Hidayatullah ada kantor pelayanan dari bank syariah,” kata Aksa.(*)

“Sangat Terasa Semangat Pengorbanan dan Ukhuwah”

Ormas Islam Hidayatullah baru saja menutup secara resmi helat Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Milad ke-40 tahunnya di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan.

Hadir pada Silatnas yang dibuka mantan Mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (22/6) itu lebih dari lima ribu peserta yang terdiri dari para kader Hidayatullah dari 33 provinsi di Indonesia.

Jusuf Kalla mengapresiasi peran Hidayatullah dalam kiprah dakwah dan pembangunan ummat. Bahkan Ketua Dewan Masjid Indonesia itu menilai, meskipun ormas tersebut dari sisi usia termasuk yang termuda di banding ormas Islam lainnya, namun dari sisi kiprah dan perkembangannya merupakan  ormas tiga terbesar setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Cepatnya perkembangan dan peran Hidayatullah tidak terlepas dari pola pengkaderannya diantaranya menempatkan kader di berbagai pelosok tanah air dengan bekal keyakinan Allah pasti membantu tugas dakwah mereka.

Ormas ini juga membuka diri untuk bagi siapapun yang ingin berpartisipasi, asal memiliki niat ikhlas dan tekad memberi sumbangsih bagi dakwah Islam.

Dai Nasional Hidayatullah Ustadz Anwari Hambali kepada Riau Pos Senin (24/6) mengemukakan potensi apapun bisa diterima di Hidayatullah. Ia menunjukkan seorang warga yang memiliki kemampuan bela diri yang ingin bergabung dengan Hidayatullah. Karena kemampuannya itu ditempatkan sebagai tenaga keamanan di Kampus Hidayatullah.

“Siapapun dengan potensi apapun bisa bergabung dengan Hidayatullah. Syaratnya mau melaksanakan salat jamaah lima waktu,” ujarnya.

Selain itu, Hidayatullah menjadikan Salat Tahajjud sebagai “penolong” dalam dakwah. Riau Pos merasakan sendiri, setiap malam ribuan peserta silatnas memenuhi masjid melaksanakan Salat Tahujjud mulai pukul tiga dinihari hingga menjelang subuh.

Satu lagi, mayoritas kegiatan silatnas dipusatkan di masjid dan setiap kegiatan dimulai dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Suasana silaturrahmi, sangat terasa dalam Silatnas tersebut, bukan sekadar reuni, tapi mereka saling mencerita pengalaman dakwah masing-masing dari seluruh pelosok di negeri. Tidak sedikit  kader sengaja mengumpulkan bekal sejak bertahun-tahun untuk hadir dalam Silatnas tersebut.

Pembina Tafaqquh Study Club Riau Ustad Dr Musthafa Umar yang juga turut hadir dalam Silatnas tersebut  mengemukakan berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan peserta Silatnas, ia mendapat   beberapa pelajaran dan kesan dari helat tersebut, pertama, para dai Hidayatullah hadir dari seluruh Indonesia dengan nilai pengorbanan.

Kedua, suasana silaturrahim sangat terasa karena masing-masing memiliki kerohanian yang kuat dalam ukhuwah. ”Ini mesti dicemburui,” ujarnya.

Ketiga, dari tema Silatnas ”Transformasi Peradaban Menuju Indonesia Maju Bermartabat”, organisasi yang didirikan almarhum Ustad Abdullah Said itu sudah berorientasi kepada cita-cita besar yakni peradaban.

”Dari pengamatan saya selama Silatnas ini, cita-cita itu tidak jauh dari kenyataan, ini sangat realistis. Kader Hidayatullah sudah membuat ”titik-titik” di seluruh Indonesia, nanti tinggal menyambungkan ”titik-titik” tersebut ,” ujarnya.

Terakhir, pakar tafsir Riau itu mengemukakan, ajang Silatnas tersebut terbukti  menambah kekuatan spiritual bagi kader untuk meningkatkan kualitas pengabdian ketika kembali ke daerah masing-masing. (Idris/RP)

Mahasiswa STISID Terobos Wilayah Pedalaman

Menyongsong bulan suci Ramadhan, puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISID), Balikpapan, Kaltim, angkatan ke-VIII 2013 dikirim keluar kota untuk dakwah dan pembinaan keumatan di masyarakat.

Pelepasan mahasiswa itu merupakan rangkaian tugas kerja kuliah nyata mahasiswa yang dalam lingkup civitas akademika STISID Balikpapan disebut PKD atau Praktek Kerja Dakwah.

Di antaranya puluhan mahasiswa STISID yang seluruhnya perempuan, ditugaskan ke pulau Sulawesi. Di sana mereka kemudian disebar lagi ke berbagai wilayah yang ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Ketua STISID Balikpapan Abdul Ghofar Hadi, mengatakan, istilah PKD  atau Praktek Kerja Dakwah adalah istilah khusus yang dipakai STIS Hidayatullah Balikpapan untuk menerjunkan para mahasiswa/wi-nya dalam mengemban kuliah praktek di masyarakat.

Adapun perguruan tinggi lain memakai istilah KKN atau Kuliah kerja Nyata untuk mahasiswa di tingkat akhir.

Kata Ghofar, ada beberapa perbedaan PKD dengan KKN. Secara istilah PKD memberikan spirit ruhiyah dari perjalanan para Nabi, sahabat, dan ulama yang telah berjasa melakukan kerja dakwah sehingga Islam bisa kita dinikmati hingga saat ini.

“Sebagaimana saat kuliah, tempat PKD juga tidak dicampur antar mahasiswa dan mahasiswi,” kata Ghofar kepada Hidayatullah.com, Ahad (07/07/2013).

Selain itu, lanjut dia, tempat PKD untuk mahasiswi ditempatkan di pesantren-pesantren Hidayatullah berbagai wilayah yang ada kampus putrinya sebagai basecamp. Ini terkait dengan penjagaan syariat dan hijab yang menjadi prioritas utama.

Lebih dari itu, Ghofar membeberkan, kegiatan PKD ini lebih kongkrit pada kegiatan dakwah dan tarbiyah, tidak simbolis atau seremonial saja.

“Mahasiswi diwajibkan PKD ketika memasuki semester 7 dan ditugaskan tidak secara ramai-ramai, tapi dua-dua. Bahkan ada yang satu orang untuk mengoptimalkan potensinya di PKD,” terang Ghofar.

Putri ke Pedalaman

Abdul Ghofar Hadi menuturkan, sejarah pelaksanaan PKD STIS Hidayatullah, khususnya mahasiswa putri, sempat mengalami pasang surut.

Pada angkatan-angkatan awal, PKD dilaksanakan di Pesantren Hidayatullah Bontang. Jumlahnya kala itu belum banyak, dan jaraknya dengan kampus STISID di Balikpapan relatif dekat, selain masih dalam satu provinsi.

“Tapi waktu itu tidak bisa dilanjutkan karena jumlah mahasiswi semakin banyak dan cenderung monoton atau tidak menantang,” tukas beliau.

Setelah beberapa tahun mengalami kevakuman, dua tahun lalu dimulai lagi dirintis PKD di beberapa Pesantren Hidayatullah daerah Sulawesi Selatan.

Tahun lalu, dilakukan ekspansi PKD dengan jumlah 30-an mahasiswi di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Perjuangan kerja nyata menapaktilasi dakwah itu berlangsung selama dua bulan.

Tahun 2013 ini, STIS Hidayatullah telah memberangkatkan PKD mahasiswi pada akhir bulan Juni lalu ke tiga provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, dengan lebih dari 20 titik.

Di antaranya mereka ada yang bertugas di Sulawesi Selatan, meliputi Makasar, Bone, Palopo, Belopa, Masamba, Lambara, Engrekang, Pare-Pare, dan Wowundula.

Lainnya ada di Sulawesi Barat di daerah Mamuju, Polman, dan Baras. Kemudian ada juga mahasiswa PKD di Sulawesi Tenggara, meliputi Kendari, Bau-Bau, Konawe Selatan, Kolaka, Kolaka Utara, Bombana, dan Raha.

Ghofar menjelaskan, tujuan dari PKD STIS Hidayatullah untuk memberi kesadaran kepada mahasiswi terhadap kebutuhan tenaga dakwah dan tarbiyah di daerah.

Juga untuk menumbuhkan kepekaan kepada mahasiswi terhadap problematika dakwah dan tarbiyah di daerah.

“PKD juga bertujuan memberikan motivasi untuk lebih giat belajar dalam menghadapi medan perjuangan yang nyata di masa depan,” terangnya.

Dengan PKD yang rutin berjalan ini diharapkan mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang berharga melalui keterlibatan di daerah secara langsung dengan menemukan, merumuskan, memecahkan, dan menanggulangi permasalahan di daerah secara nyata.

“Mahasiswa juga diharapkan memperoleh dan menularkan seperangkat pengetahuan, sikap dan keterampilan dari dan kepada santri di daerah dalam program PKD ini,” ujar Ghofar.

Dalam pada itu, jelasnya, program reguler PKD ini merupakan modal awal setiap mahasiswa menjadi kader dai/daiyah ideologis.*

Hidayatullah Imbau Umat Islam Jangan Malas Waktu Puasa

Setiap umat Islam hendaknya tidak bermalas-malasan selama menjalani ibadah puasa Ramadhan. Hal itu lantaran esensi puasa mendorong seorang Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih produktif daripada hari biasanya.

Sekretaris Jenderal Hidayatullah Abu A’la Abdullah mengatakan, selama sebulan penuh, jangan sampai aktivitas Umat Islam mengendur gara-gara puasa. Malahan, lebih baik jika setiap umat untuk bisa meningkatkan ibadahnya agar bulan suci ini tidak terlewatkan begitu saja.

Pasalnya, ibadah di bulan Syawal memiliki derajat keistimewaan yang sangat disayangkan jika dilalui dengan tanpa peningkatan.

“Puasa itu termasuk amalan ubudiyah, sehingga segala amalan yang bersifat vertikal jangan disia-siakan selama melewati bulan Ramadhan,” katanya kepada Republika, Senin (8/7).

Dia menegaskan, bulan Ramadhan harus disemarakkan dengan kegiatan ibadah sosial. Hal itu untuk melengkapi ibadah seseorang terkait hubungannya dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Khusus di Hidayatullah, setiap santri digiatkan untuk meningkatkan zakat, infak, maupun membantu anak yatim piatu, serta janda tua yang membutuhkan pertolongan. “Ini agar ibadah kita lengkap.”

Menurut Abu, sangat tidak tepat jika kehadiran Ramadhan malah membuat seorang Muslim bermalas-malasan. Diakuinya, pola tidur memang berubah karena harus menjalani sahur dan ibadah tarawih.

Namun jangan karena disediakannya peluang untuk menambah pahala itu malah bersifat kontraproduktif bagi umat Islam.

Ia menyarankan, setiap orang harus bisa menyesuaikan diri untuk mengurangi aktivitas yang tidak perlu, seperti nongkrong hingga larut malam.

Jika hal itu masih dilakukan terus, ia yakin dampaknya tubuh merasa lelah dan bakal menguap sepanjang keesokan hari. Karena merasa kurang tidur, berimbas pada semangat untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang mengendur.

“Paradigma ini yang harus diubah. Manfaatkan semaksimal mungkin waktu untuk ibadah dan istirahat, bukan begadang di malam hari.”