Beranda blog Halaman 685

Revitalisasi Visi Membangun Peradaban Islam

0

TIDAK ada kata terlambat, sekarang kita bangun tekad untuk bangkit. Meski sadar, kita sedang tercabut dari akar peradaban, namun tetap yakin bahwa solusi krisis global adalah peradaban Islam satu-satunya.

Kalimat dari Al-Qur’an, liyuzhirahu ‘allad diini kulli, bahwa Islam adalah agama yang unggul di atas semua agama, adalah spirit yang seharunya menjadikan kita kompetitor sejati dalam perjuangan mewujudkan Peradaban Islam.

Sejarah juga membuktikan hal itu, di awal turunnya wahyu, Rasulullah saw sudah mengirim surat pencerahan kepada para penguasa Persia dan Romawi, dua negara adidaya saat itu. Ketika Islam sudah memiliki defacto di Medinah sebagai lokomotif Peradaban Islam, Rasulullah selanjutnya mengirim delegasi untuk membangun Peradaban Islam wilayah sekitarnya.

Sebagian diantaranya melalui penaklukan perang ketika wilayah yang dimasukinya mencoba bertahan dengan kekafirannya. Demikianlah sampai 7 abad lamanya, Islam pernah me-leading dunia ini dan unggul di atas semua agama dan ideologi di zamannya.

Kita sekarang berada di dunia yang lain. Zaman keemasan Islam di atas tinggal menjadi kebanggaan sejarah. Saat ini kita dilanda krisis jati diri yang berkepanjangan, berada dalam masa perabaan tanpa kepastian, yang akhirnya kita menjadi kelas minor dalam kompetisi zaman.

Secara realitas, apa yang dikatakan Samuel P Huntington dalam bukunya The Class of Civilization, bahwa peradaban Islam termasuk peradaban minor, sedangkan peradaban Barat dan Eropa dianggap sebagai peradaban mayor, untuk sementara kita harus mengakuinya.

Posisi umat kita hari ini berada dalam stigma imperiority culture dari proses akulturasi secara global. Faktanya, apapun yang datang dari barat dengan cepat ditiru dan pelan menjadi sebuah model. Ironisnya, umat kita bangga dengan gaya impor tersebut.

Dalam kaidah Ushul, “Kalau tidak bisa semuanya, maka jangan meninggalkan keseluruhannya”. Islam syumul dan menyeluruh, butuh perjalanan panjang untuk mewujudkannya, namun kita harus ada tekad untuk memulainya.

Rasulullah memulai dari diri dan keluarganya, kemudian membentuk sebuah entitas, selanjutnya membangun kawasan. Pelan tapi pasti, berjalan sesuai tuntunan wahyu yang turun bertahap dan sistematis. Alhamdulillah akhirnya Rasulullah berhasil mewujudkan peradaban yang paling unggul sepanjang zaman.

Pilar Kebangkitan

Hidayatullah sebagai bagian dari Jama’atun min Jamaatil Muslimin berkiprah dengan satu tekad, Membangun Peradaban Islam. Pilar-pilar utama Peradaban Islam sebagaimana contoh dari Rasulullah dapat dilihat dari paparan berikut:

Pertama; Manhaj sebagai pola transformasi nilai. Yaitu pola trasformasi murni mengikuti urutan wahyu atau lebih familiar dengan istilah Sistematika Nuzulnya Wahyu. Apa yang datang dari Allah SWT, diterima sebagai proses penyadaran dan pembentukan karakter kenabian. Selanjutnya dengan pola wahyu tersebut, Rasulullah membina sahabatnya tanpa mencampurkannya dengan pemikiran yang lain.

Hasilnya juga spektakuler, yaitu sahabat-sahabat nabi yang tadinya jahiliyah tiba-tiba menjadi manusia unggul dan akhirnya menjadi umat yang terbaik.

Lima surah yang turun pertama di Mekah, adalah pola transformasi Islam yang paling dijamin keshahihannya. Sehingga dalam membangun manusia unggul harus merujuk kepada muatan-muatan ayat dari rangkaian wahyu tersebut. Lima ayat pada surah al-Alaq sebagai wahyu yang pertama turun, harusnya menjadi dasar teologi Islam, yang melahirkan aqidah tauhid.

Tujuh ayat pada surah al-Qalam yang turun pada urutan kedua bermuatan tentang kemuliaan hidup ber-Qur’an, sepuluh ayat pada surah al-Muzammil yang turun selanjutnya adalah panduan membangun SDM yang berkarakter Qur’ani, urutan selanjutnya 7 ayat dalam surah al-Mudatsir bermuatan strategi pemenangan dakwah dan terakhir 7 ayat di surah al-Faatihah adalah gambaran umum tentang peradaban Islam.

Kedua; Kepemimpinan penuh keteladanan. Tidak ada urusan tanpa kepemimpinan. Nabi menyampaikan bahwa “jika kalian bepergian 2 orang, seorang di antaranya menjadi imam”. Tanpa menyebutkan urusan apa di antara keduanya. Apalagi ketika urusan ini menyangkut kemaslahatan orang banyak dan berkonsekuensi surga dan neraka, maka mustilah ada pemimpinnya.

Pemimpin adalah murabbi yang mencerahkan umatnya, peduli serta bersama mereka dalam suka dan duka, menjadi teladan dalam ibadah dan mu’amalah. Bahkan seharusnya hirarki kepemimpinan sekaligus menggambarkan hirarki keteladanan. Kepemimpinan seperti ini harus diproses dari bawah dan harus tumbuh bersama dengan pertumbuhan umatnya. Kepemimpinan seperti inilah yang melahirkan cinta dan ketaatan, bukan ketaatan karena dogma dan pemaksaan.

Ketiga; Bi’ah sebagai Basis Peradaban. Nabi diutus untuk segenap alam dan seluruh umat manusia. Namun secara realitas, yang bisa diselamatkan barulah teritorial Mekah dan Medinah. Meski hanya menyelesaikan dua kawasan tersebut, namun Rasulullah tetap dianggap telah sukses membawa misi Islam karena keutuhan ajaran agama sudah berhasil diwujudkan.

Masa Rasulullah adalah masa khairul kurun sekaligus khairu ummah. Artinya Rasulullah berhasil membangun lokomotif peradaban, sehingga umat sesudahnya tinggal mengikut di belakangnya.

Allah SWT telah mengabadikan perlunya kawasan peragaan Islam (Q.S. Al – A’raf : 96), yaitu berkumpulnya orang-orang beriman dan bertakwa dalam sebuah kawasan sebagai syarat terbukanya berkah dari langit dan bumi.

Memang akan menjadi pemandangan yang indah, ketika ada sebuah masyarakat yang semua laki-lakinya salat jamaah di masjid, semua wanitanya menutup aurat, semua tercerahkan dengan pembinaan majelis taklim, ketika dikomando semuanya taat. Di kawasan itu tidak ada asap rokok, tidak ada pornoaksi dan pornografi apalagi obat-obat terlarang.

Alhamdulillah, meski dengan skala kecil, para da’i Hidayatullah telah berkarya menuju lahirnya peradaban tersebut. Kini sedikitnya 286 kabupaten/kota se-Indonesia telah berdiri kampus Hidayatullah sekaligus sebagai basis peradaban untuk membangun etos kemandirian umat dan bangsa yang sama-sama kita cintai ini.

Mudah-mudahan usaha-usaha ini menjadi berkah bagi masyarakat sekitarnya dan menjadi starting point dalam perjuangan mewujudkan peradaban bangsa Indonesia mulia yang lebih besar. **

 

***Ditulis oleh Tasyrif Amin, M.Pd.I (Kabid Pelayanan Umat PP Hidayatullah)

Harapan Besar dan Harapan Kecil

ADA seorang teman alumni mahasiswi sedang curhat dengan penulis, “Ustadz, setiap saya mengingat harapan besar dari tempat tugas saya, maka saya koq merasa terbebani dan rasanya ingin berhenti saja.” Ini sudah kesekian kalinya dia rasakan.

Sebenarnya harapan besar orang lain kepada kita adalah wajar dan harus. Wajar karena mereka menginginkan perubahan dan kemajuan yang lebih baik. Apalagi dengan hadirnya tenaga baru maka harapan itu semakin meluap. Harapan besar sebagai keharusan karena itulah ruh yang memompa kesemangatan menuju masa depan yang lebih baik.

Bisa dibandingkan dan dirasakan, ketika pimpinan atau atasan kita berharap begini,” Iya, sudahlah Dik, ndak usah sungguh-sungguh, biasa-biasa saja dan jalani apa adanya!” Mungkin yang kita rasakan santai, nyaman dan tenang. Tapi yakinlah, kita tidak akan pernah bisa meraih kesuksesan besar.

Harapan besar bisa menjadi sugesti untuk meraihya. Ada cerita presiden pertama replubik ini, bahwa ibunya sering berkata kepadanya,” Hei Sukarno, belajar yang sungguh-sungguh. Engkau nanti akan menjadi pemimpin besar!” kemudian Sukarno kecil bertanya, “kenapa saya harus bisa menjadi pemimpin besar?”. “Karena engkau lahir di pagi hari dan itu tanda-tanda calon pemimpin besar” Kata ibunya menjelaskan.

Ini bukan klenik dan mitos doank. Tapi ini berdasarkan referensi pengalaman-pengalaman masa lalu yang selanjutnya menjadi rumus kehidupan, bahwa bayi yang lahir di pagi hari akan menjadi pemimpin besar. Pengalaman-pengalaman orang lain di masa lalu menjadi sugesti yang selanjutnya menjadi motivasi dan keyakinan untuk meraih harapan tersebut.

Namun, ini sangat terkait dengan mentalitas orang yang bersangkutan. Jika Sukarno saat itu, merasa terbebani, tidak percaya dan tidak juga mau bergerak untuk bersungguh-sungguh untuk belajar dan berlatih. Maka mungkin, tidak ada yang kenal Sukarno selain tetangga dan saudaranya di kampung sebagai pemuda biasa-biasa saja.

Jadi harapan besar harus diiringi dengan usaha yang besar untuk meraihnya sebagai kesuksesan besar nantinya. Hanya orang yang bermental kerdil saja yang merasa ciut terhadap harapan besar orang lain kepadanya. Semestinya menjadi motivasi tapi malah menjadi beban berat dan seolah mau gantung diri. Bukan memberikan kekuatan atau energi tapi menjadi mimpi buruk baginya.

Orang-orang kecil karena harapan kecil di pundaknya. Besar dan kecilnya seseorang digantungkan dengan harapannya. Atau harapannya yang membentuk dia menjadi orang besar atau orang kecil.

Harapan adalah musik irama yang menentukan gerak langka kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Jika musik irama itu kecil dan suaranya yang lirih maka geraknya juga tidak heboh dan ramai. Tapi orang bisa menari dengan dengan aktratif jika musik yang mengiringinya heboh dan besar.

Hidup tanpa harapan ibarat orang berjalan tanpa tujuan, orang menari tanpa musik. Gimana jadinya? Tentu tidak jelas, hambar dan aneh kelihatannya. Harapan harus dibangun setinggi mungkin untuk menjadi kompas penentu arah langkah kehidupan di masa depan. Wallahu a’lam bish bishawwab.

***Ditulis oleh Abdul Ghofar Hadi (Ketua STIS Hidayatullah)

Cara Mensyukuri Uang 100 Ribu (Edisi Oktober)

0

Salah satu tulisan saya di situs PengusahaMuslim.com yang cukup populer adalah tentang “Cara Mensyukuri Uang 100 Ribu edisi ….”. Di Bulan Oktober ini, meskipun agak bingung sedikit, saya mencoba memaksakan diri untuk menumpahkan beberapa hal-hal baik yang bisa membuat kita tambah bersyukur. Tentunya dengan uang 100 ribu. Apa lagi hal-hal baik yang saya maksud di sini?

1. Traktir teman

Bagaimana mungkin saya melupakan yang satu ini? Mentraktir teman sepertinya perkara remeh bukan? Kalau Anda adalah seorang yang sering melakukan hal ini, mentraktir teman mungkin bukanlah termasuk “amal soleh” di mata Anda.

Tapi tahukah Anda, ada beberapa tipe orang di luar sana yang boleh jadi sangat menantikan “uluran” traktiran Anda. Kalau tidak percaya, datanglah ke beberapa teman Anda yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa atau pelajar – Yogyakarta gudangnya manusia tipe ini – pada tanggal-tanggal tua, antara 25 – 31, lalu ajaklah ia makan bersama.

Tempat Anda mentraktir nantinya tidaklah perlu sekelas Pizza Hut, Starbucks, atau McDonald yang bisa memaksa Anda untuk mengeluarkan 50 ribu rupiah lebih per kepala untuk sekali makan. No … no .. no .. jangan di situ.

Dengan uang 100 ribu, saya sarankan Anda untuk mengajaknya ke warung sederhana yang menyediakan paket nasi telur + es teh manis dengan harga 5 ribu rupiah per porsi. Apa? Hanya 5 ribu/porsi. Yoa, tepat sekali. Tapi untuk membedakannya dengan traktiran biasa, usahakan Anda ulangi praktik jenaka ini sebanyak 20 kali.

Kenapa 20 kali? Karena seratus ribu dibagi lima ribu sama dengan dua puluh (100 : 5 = 20). Oleh karena itulah, kalau Anda mampu menemukan tempat makan seperti itu, Anda bisa membahagiakan seorang teman yang mungkin sekali sedang kejang-kejang menunggu uang kiriman dari orang tuanya selama enam hari (3 x 6 hari = 18 kali traktir) berturut-turut.

Tentu, dengan asumsi bahwa setiap harinya teman Anda tadi membutuhkan tiga piring nasi beserta lauk pauknya. Oh ya, kalau masih ada kelebihan 10 ribu, Anda bisa memanfaatkannya untuk mentraktir teman Anda di hari ketujuh sebanyak dua kali traktiran. Gampang bukan?

Nah lho, asyik bukan? Anda sudah menolong dengan uang yang terbilang kecil. Tapi dengan gaya tentunya. Coba deh …

2. Sodaqoh Dapat Majalah

Selain mentraktir teman, InsyaAllah uang 100 ribu Anda juga bisa jadi berkah dengan cara berikut; datangilah Pondok Pesantren Hidayatullah di kota Anda, lalu belilah Majalah Suara Hidayatullah di dalamnya. Tapi alih-alih membayar dengan uang 25 ribuan (banderol harga majalah), saya sarankan Anda langsung saja menebus satu eksemplar majalah tersebut dengan uang 100 ribu tadi.

Jangan lupa berpesan kepada si penerima uang tadi bahwa kelebihan uang yang masih ada di dalam transaksi pembelian akan Anda niatkan untuk membantu operasional pondok yang biasanya dipenuhi oleh hamba-hamba Allah yang berstatus yatim, piatu, atau yatim piatu. Anda dapat majalah, dapat ilmunya, sekalian sedekahnya. Pokoknya borong amal soleh deh! Asyik bukan?!

Lalu kenapa bersedekah untuk Pondok Pesantren ini? Karena mereka memang membutuhkannya. Pernah suatu waktu saya berdiskusi secara empat mata dengan salah seorang pengurus Ponpes Hidayatullah yang ada di Gorontalo. Dalam percapakapan tersebut, si pengurus bercerita bahwa Ponpes Hidayatullah memang masih mengandalkan sumbangan donatur untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya yang di dalamnya mencakup pemenuhan salah satu kebutuhan mendasar para penghuni ponpes tersebut, yakni konsumsi untuk para santri yang umumnya berstatus anak-anak tidak mampu.

Dari situ kita boleh berprasangka baik bahwa kalaulah ada kelebihan uang dari hasil transaksi majalah, maka ada kemungkinan kelebihan tersebut akan diserahkan kembali kepada anak-anak yang sangat dijunjung tinggi oleh Allah dalam firmannya. Tidak percaya? Pencarian menggunakan kata “yatim” akan mengeluarkan 22 ayat yang berkaitan. Kalau Allah sudah menyinggung sesuatu di kitab sucinya sampai 22 kali, kemungkinan besar sesuatu itu memang spesial.

 3. Beli …..

Beli apa hayo? Tahukah Anda, sudah beberapa bulan ini saya selalu menganjurkan Anda untuk sedekah dan sedekah di dalam tulisan saya yang berjudul “Cara Mensyukuri Uang 100 Ribu ….”.

Di beberapa bulan mendatang, saya akan mencoba untuk membuat beberapa tipe “sedekah” yang berbeda dari biasanya. Dan saya harap Anda pun akan semangat dan tertarik dengannya. Semoga saja Anda tetap penasaran. Amin.

[[Wim Permana, S. Kom, Penulis adalah Sarjana Ilmu Komputer dari Universitas Gadjah Mada. Salah satu cita-citanya adalah ingin masuk surga dengan bantuan teknologi informasi. Tulisan ini telah dimuat di portal www.PengusahaMuslim.com]]

Menyiapkan Generasi Digital

0

Surat kabar kini tidak bisa lagi menempatkan diri sebagai sumber berita utama, tercepat dan akurat dalam pengertian media cetak semata karena lahirnya era digital. Media cetak harus menempatkan berita-beritanya di dunia online jika ingin tetap eksis.

Buku-buku tidak lagi harus membeli hardcover karena sudah banyak yang berbentuk e-book. Sehingga tidak memerlukan ruang perpustakaan yang luas dan rak-rak buku yang banyak, cukup pengadaan beberapa laptop atau netbook.

Ada kekhawatiran usaha penerbitan dan percetakan di era digital ini. Masyarakat terutama generasi muda membutuhkan efesiensi, kecepatan dan kenyamanan dalam memburu berita, informasi dan ilmu pengetahuan. Digital menawarkan kecepatan luar biasa dibandingkan media cetak sebelumnya.

“Untuk menurunkan berita, kita tidak bisa menunggunya sampai besok. Karena media online lainnya sudah menurunkan beritanya detik demi detik. Sedangkan yang disiarkan pada versi cetak, bisa berita-berita terakhir,” kata GM Kompas Multimedia Eddy Taslim.

Dunia maya dengan internet dan digitalnya adalah medium baru di era baru. Sehingga memberikan dampak baru juga karena ada kegamangan atau kekagetan terutama bagi mereka yang tidak siap dengan temuan tersebut.

Ada kekhawatiran orang tua tentang keamanan dan keselamatan anak-anak mereka yang menghabiskan waktunya begitu banyak untuk online. Ini sangat sesuai dengan penelitian bahwa generasi muda di seluruh dunia menghabiskan peningkatan jumlah waktu luang mereka yang terhubung ke dunia maya yaitu Internet.

Kekhawatiran tersebut wajar tentang anak-anak ketika mereka sendirian online. Sebab dunia maya yang mereka masuki sangat luas dan misterius. Ada bahaya yang mengintai mereka dengan risiko keamanan, baik di dunia maya atau ruang nyata.

Secara psikologis yang bisa datang dari ekspos pada gambar berbahaya atau dari memiliki pengalaman merusak secara online. Menjadikan sikap pragmatisme dan individualisme. Belum lagi terhantui oleh kejahatan cyber crime di internet, walaupun ini jarang terjadi.

Ada kesenjangan teknologi yang tidak perlu tapi itu yang terjadi antara kaum muda dan banyak orangtua dan guru mereka. Hasil kongkritnya dari kesenjangan ini adalah bahwa kita anak-anak terlalu sering dalam bahaya di lingkungan di mana beberapa dari mereka yang rawan menjadi korban teknologi, seperti bercakap-cakap dengan orang asing mereka tidak pernah berbicara dalam “ruang nyata” kesenjangan ini.

Tidak ada lagi sekat dinding yang membatasi dunia Barat dan Timur, semua orang dipermudah untuk menjalin komunikasi dan relasi dengan semua orang di penjuru dunia dengan tanpa visa dan pasport.

Kemudian melahirkan dan memperkuat rasa takut teknologi baru, bukannya mendorong langkah positif untuk mengetahui bagaimana untuk hidup kita bersama-sama di era digital. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi keamanan online.

Daripada otomatis mencari untuk melarang teknologi, kita harus berfokus pada akar penyebab masalah dengan mempertajam pada sumber efek kerawanan online dan memerangi bentuk-bentuk paling ekstrim dari secara langsung dengan memberikan pencerahan dan pengawalan ketat.

Kita perlu membantu generasi muda memahami garis antara kegiatan yang merupakan bagian dari eksperimen sehat dan kegiatan yang merupakan perilaku berisiko, seperti orang tua telah dilakukan untuk anak-anak mereka sejak dini. Kita perlu memahami bagaimana menafsirkan isyarat sosial online untuk menjaga satu sama lain aman.

Generasi muda di negara berkembang dengan tingkat intelektualitas dan kreatifitas rendah memang menjadi pangsa pasar utama perkembangan tehnologi. Secara ideologis, kita selalu curiga dan waspada bahwa ini adalah bagian dari konspirasi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi muda Islam.

Kalau kecurigaan itu benar maka harus ada keharusan untuk menguasai teknologi digital. Sebab strategi perang yang paling canggih adalah menguasai senjata musuh. Sehingga mempelajari untuk menguasai kelebihan dan kekurangan senjata musuh adalah keharusan untuk selalu tidak menjadi korban.

Kalau kecurigaan tersebut tidak benar maka tuntutan untuk menguasai teknologi digital juga menjadi keharusan. Karena bisa menjadi sarana dakwah dan tarbiyah yang mempermudah masyarakat memahami Islam ini dengan baik dan benar.

Era digital harus melahirkan generasi digital yang kuat mental, intelektual dan spritualnya. Sebab jika tidak mampu berperan dan menguasai digital maka akan terpental dari kancah percaturan dunia dengan hanya bisa meratapi nasib, menjadi penonton dan selanjutkan menunggu menjadi korban berikutnya. Wallahu a’lam bish shawwab

[Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur]

Memaknai Hidup dalam Bernegara

0

abdul mannanKetika kita bisa membaca dan belajar dari setiap peristiwa hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai peristiwa yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar. Semoga kita menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi sesama.

Bagi orang yang memahami tentang hidup dan kehidupan pasti selalu membiasakan introspeksi diri, dan merefleksikan keyakinan untuk kemaslahatan bersama. Tetapi, bagi orang yang belum memahami tentang hidup dan kehidupan secara benar niscaya alam pikirannya diliputi oleh butir–butir pemikiran teror dan horor. Apakah mereka itu orang terpelajar atau tidak. Sebab, belum tentu orang terpelajar dapat memaknai hidupnya. Karena memaknai hidup berkaitan dengan nilai dan kualitas kemanusiaan.

Wilayah kemanusiaan dalam kehidupan sangat luas. Mulai dari sisi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Semua aktivitas hidup dan kehidupan yang terekspresikan dalam ranah kemasyarakatan tidaklah terlepas dari ikatan norma-norma. Norma kehidupan yang lahir dari adat istiadat atau agama adalah nilai luhur suatu masyarakat atau bangsa. Pancasila dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah satu wujud dalamnya pemikiran para pendiri negara Indonesia yang kita cintai ini. Sila pertama ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia diikat oleh ikatan religi sebagai dasar moral.

Sila pertama Pancasila inilah dasar pemerintah bersama rakyat Indonesia yang tidak menghendaki tumbuhnya ideologi komunis, yang menafikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Peristiwa Madiun tahun 1948, peristiwa Gestapu 1965, adalah  bukti bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia komitmen terhadap sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, zaman regim orde baru, Pancasila dijadikan doktrin dengan nama “Hari Kesaktian Pancasila”, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Bagi kita yang berpikir wawas diri, penuh kekhawatiran, jika ikatan nasional yang kita beri nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jadi berkeping atau disintegrasi. Tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita boleh menyusun strategi antisipatif sebagai upaya manusia untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Musibah yang selalu ditakuti oleh orang yang wawas diri terhadap kebangsaan adalah jika terjadi disintegrasi bangsa dan negara. Wawas kebangsaan ini tentu memiliki berbagai alasan. Sebagai contoh terpisahnya Timor Timur menjadi negara Timor Leste. Pemerintah Indonesia telah menumpahkan anggaran tahunan untuk membangun sarana dan prasarana di Timor Timur, namun akhirnya investasi pembangunan itu lepas dan merdeka.

Boleh jadi kesatuan NKRI masih utuh, namun nasionalisme generasi muda anak bangsa sudah tergerus oleh liberalisasi ideologi. Bagaimana tidak. Anak para pejabat dan orang kaya di negeri ini banyak mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka tidak banyak mengenal ajaran Pancasila sebagai asas berbangsa. Mungkin saja  mereka mendapatkan materi ajar tentang Pancasila secara teori. Tapi penghayatan Pancasila sebagai asas hidup dan kehidupan berbangsa tidaklah mendalam. Sebagai pengalaman, pendidikan P4 pada zaman regim Orde Baru yang telah menelan biaya besar dan bersifat intstruktif, hasilnya adalah masih banyak pejabat yang korupsi.

Pertanyaannya adalah apa jaminannya NKRI akan tetap utuh jika generasi pelanjut kepemimpinan bangsa ini tidak paham dan menghayati ajaran Pancasila? Strategi apa yang digunakan oleh Pemerintah dalam mengantisipasi terjadinya degradasi ideologi Pancasila? Pertanyaan–pertanyaan tersebut sengaja kita sampaikan pada hari Kesaktian Pancasia ini agar kita dapat berintrospeksi yang lebih dalam lagi tentang nasib NKRI kedepan.*

Kader Biologis, Akademis dan Ideologis

Ditulis oleh Abdul Ghofar Hadi, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)   

“Berapa kadernya sekarang?” Itulah pertanyaan yang sering kali muncul ketika bertemu dengan teman lama atau teman baru kenalan. Tentu yang dimaksud kader di sini adalah kader biologis yaitu anak keturunan yang lahir dari hasil pernikahan.

Saat ini untuk bicara kader biologis masih sekedar kuantitas atau jumlah. Bisa dikatakan hebat ketika menyebutkan kader yang sudah lahir lebih dari 5 dan dikatakan lambat ketika baru satu atau dua saja. Mungkin mau mengamalkan hadist Rasulullah bahwa beliau akan bangga dengan jumlah umatnya yang banyak.

Namun, lahirnya kader biologis tidak cukup kuantitas tapi harus berkualitas. Alangkah indahnya ketika pertanyaannya ditingkatkan, “Berapa kadernya yang sudah hafal al-Qur’an?” Tentu ini pertanyaan memotivasi untuk menjadikan kader biologis yang berkualitas.

Adapun jumlah kader biologis itu karunia dari Allah, karena tidak sedikit pasangan suami istri yang tidak dikarunia anak padahal sudah bertahun-tahun menikah dan sudah terapi kesuburan ke mana-mana.

Proses untuk mencetak dan mendapatkan kader biologis relatif mudah dan nikmat artinya pada umumnya orang menikmatinya. Proses kelahiran dari perut ibu yang menjadi taruhan hidup mati dari seorang ibu. Adapun hasil dari proses, Allah tetap Maha Kuasa untuk menentukannya.

Kemudian jenis kader kedua adalah kader akademis. Inilah produk dari sekolah-sekolah formal dan non formal. Mereka sebatas alumni dari almamater tempatnya belajar beberapa tahun. Ikatan alumninya yang terjalin juga bersifat semu yaitu keilmuan dan sedikit ikatan emosional.

Proses untuk melahirkan kader akademis sedikit rumit dan penuh suka duka dibandingkan proses mencetak kader biologis. Kerumitan yang sering terjadi adalah dalam aturan, sistem dan kurikulum yang terlalu kaku dan formalitas yang tidak menyentuh pendidikan seutuhnya. Keberadaan sekolah-sekolah dari tingkat PAUD (Pendidikan Usia Dini), Play Group, TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi adalah wadah-wadah yang melahirkan kader akademis berkompeten dalam keilmuan tertentu.

Inilah salah satu yang menjadi ironis dari lembaga pendidikan Islam yang seharusnya alumni atau lulusannya bisa turut andil memperjuangkan Islam. Tapi terkadang yang terjadi justru menghasilkan alumni yang balik memusuhi atau cuek dengan almamaternya.

Mereka tidak mewarisi nilai-nilai subtansial yang ada di lembaga Islam tapi hanya berhasil mendapatkan ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga tersebut. Artinya secara dakwah, tidak berhasil merekrut mereka untuk menjadi kader ideologis yang dipersiapkan untuk mengemban amanah Islam ke depan.

Selanjutnya adalah kader ideologis sebagai kader yang ideal dan paling tinggi tingkatannya. Proses mencetak kader ideologis sangat rumit dan ketat karena bukan sekedar transfer pengetahuan, wawasan yang bersifat kognetif saja tapi nilai-nilai dasar, mentalitas dan keyakinan yang harus bisa terinternalisasikan kepada kader ideologis.

Proses pembentukan mental dan menumbuhkan keyakinan dari ideologi ini yang tidak mudah dan tidak bisa instan atau bin salabin seperti sulapan pinggir jalan.

Negara ini sangat ketat dalam seleksi awal untuk penerimaan calon-calon kader ideologis. Banyak kreteria dan ujian yang harus dilewati. Kemudian masa pendidikan atau pendadaran untuk menjadi kader ideologis juga rumit berbelit, penuh dengan aturan dan sarat dengan komitmen yang mengikat. Tempaan mental, penugasan, rekayasa tugas dan berlatih peran adalah bagian kecil dari penanaman mental dan ideologi.

Kader ideologis sangat berat prosesnya dan hasilnya sangat mahal. Mereka harus teruji dengan segala tempaan alam, ujian dan cobaan kesulitan, tidak tergoda dengan kesenangan yang akan menjerumuskannya.

Lembaga pengkaderan inilah yang seharusnya melahirkan kader-kader ideologis yang memiliki kompetensi intelektualitas, mentalitas, moralitas dan spritualitas yang di atas rata-rata orang pada umumnya. Wallahu a’lam bish shawwab.

Wisuda dan Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah 2012

0

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”ZSHV5VxmAGA”][/youtube]

Dakwah Hidayatullah

0

Pimpinan“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkan-Nya dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong.” (An-Nahl 37).

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dituju ayat di atas adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam (SAW). Beliau, menurut ayat di atas menyimpan keinginan keras dan hasrat yang kuat agar umatnya hidup dalam naungan hidayah Allah Shubhanahu Wa Ta’ala (SWT). Beliau sangat merindukan kehidupan yang damai, semua yang ada di muka bumi tunduk patuh dan taat pada aturan dan kehendak Ilahi.

Sama halnya dengan Nabi SAW, para dai, dan mujahid Islam juga memendam keinginan yang sama. Mereka berkeinginan agar kaum Muslimin saat ini dapat menjalankan syariat agamanya dengan baik, tanpa gangguan dan rintangan. Mereka juga berhasrat kuat agar kekuasaan yang ada di muka bumi menjadi instrumen ilahiyah untuk menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Inilah kerja para dai, muballigh, dan guru agama. Mereka bahagia jika manusia menjalankan perintah agama dengan baik. Sebaliknya, bersedih jika melihat manusia menentang agama, melanggar syariah-Nya. Siang malam mereka bekerja dan berdoa agar Islam dapat menyebar sebagai rahmat kepada seluruh alam.

Para dai yang bekerja keras menyebarkan ajaran Islam tanpa digaji pemerintah ini pantang menyerah menghadapi medan yang sangat berat. Hanya dengan bekal keikhlasan dalam beramal, mereka menelusuri jalan dakwah dengan semangat berapi-api. Dalam jiwanya ada gumpalan kehendak untuk menyebarkan hidayah Islam kepada segenap  manusia. Tidak ada yang bisa mengerem, apalagi menyetop sama sekali.

Sesekali para dai dan mujahid dakwah itu boleh marah bercampur kecewa setelah melihat ada persekongkolan jahat untuk menggagalkan gerakan dakwah. Sesekali mereka boleh hampir putus asa ketika mengetahui para penguasa, para pengambil kebijakan, dan para tokoh yang dipercayainya justru menjalin kerja sama jahat untuk mencundangi Islam.

Perasaan yang sama sesungguhnya telah dialami oleh para nabi dan rasul. Bahkan, dalam al-Qur`an banyak didapati keterangan tentang kesedihan dan kemarahan Rasulullah SAW. “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.”(Asy-Syu’araa 3).

Tentu saja, ledakan kemarahan dan kesedihan itu tidak boleh ditumpahkan dalam bentuk aksi yang merusak dan perbuatan yang mengancam keselamatan orang banyak. Kita boleh marah dan bersedih hati, bahkan hampir putus asa, tapi kita wajib tetap bisa mengendalikan diri.

Bahkan kalau bisa, hilangkan perasaan marah, sedih hati, atau kecewa. Tanamkan dalam diri sendiri bahwa pemilik agama Islam itu adalah Allah SWT. Dia berkuasa untuk menjaganya, bahkan tanpa bantuan siapa pun juga. Tugas kita hanya berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada manusia selebihnya, hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Jangan bersedih atas ulah dan perbuatan mereka. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu bersedih terhadap orang-orang kafir itu.” (Al-Maaidah :68).

Sebagai dai dan mujahid kita tidak boleh larut dan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kepatus asaan. Kita harus sadar bahwa langkah perjuangan kita bukan hanya hari ini dan untuk hari ini. Dakwah itu untuk Jangka panjang. Jika hari ini belum berhasil, biarlah anak cucu kita yang melanjutkan. Itulah ladang dakwah dan perjuangan mereka.

Hidayatullah sebagai wadah bergabungnya para dai menyadari sepenuhnya hal tersebut. Untuk itu, sejak awal Hidayatullah menegaskan dakwahnya dengan mengikuti manhaj nabawi, suatu metode berdakwah yang mengikuti cara-cara nabi, yang sistematis, berjenjang, bertahap, dan berkelanjutan. Wallahu a’lam bish-shawab..

(Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad )

Sabar Lima Menit

Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi (Ketua STIS Hidayatullah)
Rabu, 12 September 2012 10:00

ADA seorang wanita yang sudah memiliki anak 3 berkeluh kesah atau curhat masalah biduk rumah tangganya. Dia merasa menjadi wanita yang paling menderita di dunia karena beratnya penderitaan yang dialami.

Memilki suami tapi seperti hidup sendiri karena tidak pernah disentuh, ekonomi juga mencari sendiri, mengurus anak dari keseharian sampai biaya sekolah juga sendiri. Minta cerai, suami tidak mau, mau gugat cerai tapi tidak memiliki uang cukup. Tiga kali sudah mencoba untuk bunuh diri tapi tidak berhasil.

Setelah panjang lebar dia bercerita dan penulis sudah mencoba memberikan beberapa solusi. Tapi nasehat tersebut sepertinya belum sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Akhirnya penulis memberikan nasehat sabar.

Spontan dia marah, “Memangnya selama ini saya belum sabar, bertahun-tahun saya sudah bersabar dengan hidup ini dan sabar itu ada batasnya. Iya ustadz enak bilang sabar dan sabar, coba ustadz sendiri yang mengalami, pasti juga mau bunuh diri.”

Sabar adalah kata yang mudah dinasehatkan kepada orang yang lagi berkeluh kesah dengan masalahnya. Namun belum tentu mereka yang bermasalah bisa menerima dengan nasehat sabar. Karena mereka selama ini sudah merasa bersabar dan selalu bersabar.

Sabar memang hanya terdiri lima huruf, tapi sabar tidak hanya berakhir di huruf “r”. Sabar itu tidak ada batasnya. Sebab jika sabar ada batasnya maka bukan kesabaran namanya.

Uji kesabaran bukan hanya di awal saat musibah datang tapi di akhir ketika menyikapi musibah tersebut. Pertolongan Allah biasanya juga menunggu detik-detik akhir kesabaran seseorang.

Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah tentang perintah dan keutamaan dari sabar. Ini tentu bukan basa-basi tapi sebagai indikasi dari pentingnya sabar dalam kehidupan orang-orang beriman karena dunia ini ada yang cocok dan tidak cocok dengan keinginan manusia.

Kehidupan di dunia ini sebagai kehidupan yang penuh ujian memerlukan dua hal yaitu syukur dan sabar. Kesyukuran relatif lebih mudah dilakukan meskipun terkadang tidak tepat cara bersyukurnya dan banyak juga manusia yang lalai untuk bersyukur saat mendapatkan nikmat dari Allah.

Contoh yang paling nyata adalah kehidupan para Nabi dan pejuang-pejuang kebenaran. Tidak ada satupun nabi yang pernah diutus oelh Allah di muka bumi ini yang mulus dalam menjalankan amanah kenabiannya. Kesulitan, rintangan, godaan dan halangan bertubi-tubi sehingga selalu Allah menyerukan untuk bersabar menghadapinya. Tanpa ada kesabaran maka mereka mungkin sudah lari dan inginnya pensiun saja menjadi nabi.

Beratnya risalah Allah ini jika tidak ditunjang dengan kesabaran maka mustahil risalah bisa sampai kepada umat dan tersebar keseluruh pelosok dunia. secara pribadi saja memerlukan sabar apalagi dalam mengurus umat dan masyarakat yang bermacam-macam karakter tentu permasalahan semakin komplek dan pelik.

Sabar lima menit sering kali disampaikan oleh ustadz di pesantren ini kepada santri yang guncang ingin pulang kampung. Lima menit bukan dalam arti 60 menit kali 5 tapi sebagai kiasan untuk bersabar sebentar.

Sebab, kepanikan dan ketidaktenangan jiwa membuat pikiran kalut sehingga berbuat nekat seolah sudah tidak ada jalan keluar selain pulang kampung. Sabar lima menit adalah bentuk usaha untuk menetralisisr perasaan yang terguncang untuk bisa lebih tenang dan lapang. Wallahu a’alam bish shawwab.

BERITA FOTO: Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe

0

Inilah potret beberapa kegiatan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritib, Balikpapan, Kalimantan Timur, tempo dulu. Saat itu sarana dan prasarana masih cukup terbatas.

Kegiatan sehari-hari santri pun tampak bersahaja; mengaji, sholat berjamaah, berkebun, kerja bakti, dan belajar secara formal meskipun tak maksimal karena keterbatasan tenaga dan guru-gurunya yang tak digaji. Berikut ini wajah-wajah mereka, diantaranya sudah ada yang telah meninggal.

 

Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 1 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 2 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 3 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 4