Beranda blog Halaman 73

Belajar dari Khaulah dan Khansa, Mushida Dorong Ibu Jadi Sahabat Anak di Era Digital

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar kegiatan Temu Walimurid TK/SD sekaligus Halaqah Kubro bertajuk “Memperkuat Komitmen Kader, Meningkatkan Spiritual, dan Mempererat Ukhuwah” di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pontianak, Kalbar, Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Kegiatan ini dihadiri ibu-ibu yang merupakan orang tua santri TK dan SD, serta kader Mushida dari berbagai wilayah di Pontianak.

Hadir sebagai narasumber utama, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Mushida, Siti Sarah Zakiyah, yang menyampaikan materi bertemakan peran perempuan muslim dalam mendidik generasi di era digital.

Dalam pemaparannya, Sarah mengangkat nilai-nilai keteladanan dari sosok-sosok perempuan salehah dalam sejarah Islam.

Ia menyoroti karakter kepemimpinan dan keteguhan spiritual Khaulah binti Azwar, seorang pejuang perempuan dalam sejarah Islam yang dikenal karena keberaniannya.

Tak kalah penting, ia juga mengangkat kisah Khansa binti Amru, penyair muslimah yang kehilangan empat putranya dalam jihad, namun tetap tegar karena kesadaran spiritual dan kecintaan pada akhirat.

“Perempuan hari ini perlu belajar dari sahabiyah. Khaulah menunjukkan bahwa perempuan juga mampu menjadi sosok kuat dan cerdas dalam menjaga keluarga dan agama. Sedangkan Khansa mengajarkan kita pentingnya keteguhan hati dalam mendidik anak-anak dengan visi akhirat,” ungkap Sarah.

Sarah juga menekankan pentingnya peran doa dalam proses pengasuhan. Ia menyampaikan bahwa doa orang tua, khususnya ibu, memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter dan keberhasilan anak.

“Jangan lupa doakan anak-anak kita setiap menjelang tidur dan minta doa juga kepada anak-anak supaya kita jadi ibu dan bapak yang baik. Jadikan anak-anak sebagai sahabat, terutama anak laki-laki,” ujar Sarah dalam sesi motivasi yang membuat sebagian besar peserta terharu hingga menitikkan air mata.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta dengan suara bergetar menyampaikan keluh kesah mengenai anaknya yang belum memiliki kesadaran diri untuk melaksanakan shalat meski telah berusia sepuluh tahun.

Sarah merespons dengan pendekatan psikologis dan spiritual. Ia menyarankan agar orang tua membangun komunikasi dari hati ke hati, menjadikan anak sebagai teman, dan menghindari membandingkan dengan saudara kandung.

“Kalau memarahi, beri tahu dengan pelan-pelan, tidak di depan saudaranya yang lain. Kita perlu lebih sabar dan bijak, bukan hanya keras, tetapi juga dekat dan menyentuh,” tutur Sarah.

Ketua PW Mushida Kalbar, Muthiah A. Mahmud, mengatakan kegiatan ini menjadi momen penguatan ukhuwah antar sesama ibu dan kader khususnya di Pontianak dalam rangka bina ketahanan keluarga muslim, yang menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.

“Dalam situasi dunia digital yang tidak terbendung seperti sekarang, peran ibu dan keluarga menjadi bagian penting dalam membentengi generasi dari pengaruh negatif budaya luar,” katanya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan saling bersalaman antar peserta serta foto bersama.

Para ibu menyatakan harapannya agar agenda semacam ini bisa rutin diselenggarakan sebagai wadah pembinaan dan penguatan spiritual bagi orang tua dan anak-anak di lingkungan Hidayatullah.

Kunjungan ke Kalbar, Sekjend Mushida Tegaskan Pentingnya Kaderisasi dalam Dakwah Islamiyah

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida), Siti Sarah Zakiyah, melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari ke Provinsi Kalimantan Barat, 1–2 Shafar 1447 H (26–27 Juli 2025), dengan tema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah.”

Kunjungan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan semangat kaderisasi dalam dakwah dan pendidikan keluarga Muslimah di wilayah tersebut.

Dalam kunjungan yang turut didampingi Kepala Kantor PP Mushida, Fiqhi Ulyana, Sarah menyapa para pengurus dan kader Muslimat Hidayatullah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pontianak.

Kegiatan utama digelar dalam bentuk brainstorming dan rapat koordinasi yang berlangsung Sabtu pagi (26/7) dan diikuti oleh perwakilan Mushida di Pontianak dan kota terdekat sekitarnya.

Dalam arahannya, Sarah menekankan pentingnya kaderisasi sebagai ruh gerakan dakwah yang tak boleh terputus di tengah zaman yang terus berubah.

Ia mengingatkan bahwa kerja-kerja dakwah bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari amanah ilahiyah yang membutuhkan kesinambungan melalui generasi yang dipersiapkan secara sungguh-sungguh.

“Kita memang memerlukan harta materi untuk visi perjuangan islami, tapi yang paling penting yang kita perlukan dari itu semua adalah generasi penerus perjuangan. Kita butuh kader yang akan terus melanjutkan dakwah dan sujud-sujud kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Sarah.

Langkah kaderisasi serupa juga telah dilakukan Nabi dan para sahabat menekankan pentingnya kaderisasi umat yang memiliki integritas, visi tauhid, dan semangat juang tinggi.

Bagi Mushida, terang Sarah, kaderisasi bukan hanya dalam aspek struktural organisasi, tetapi juga mencakup pembinaan ruhani, ketahanan keluarga, dan kontribusi terhadap kehidupan kebangsaan.

Ketahanan Keluarga untuk Kejayaan Bangsa

Sarah juga menyoroti pentingnya menjadikan Mushida sebagai poros sinergi dalam pembinaan keluarga Muslimah yang tangguh secara spiritual, sosial, dan kebangsaan.

Ia menyebut bahwa ketahanan keluarga merupakan basis dari ketahanan nasional, dan Mushida memiliki peran strategis untuk memperkuatnya melalui program-program edukasi berbasis nilai Islam.

“Ukhuwah Islamiyah tidak hanya kita jaga dalam ruang organisasi, tetapi harus hidup dalam keluarga-keluarga kader. Di situlah peran nyata Mushida membangun generasi mukminah yang tangguh dan produktif,” jelas Sarah.

Kunjungan ini juga menjadi ajang evaluasi kinerja program Mushida di Kalimantan Barat, termasuk progres pembinaan anggota, pelatihan keterampilan keluarga, dan advokasi sosial berbasis nilai keislaman. Apalagi Kalbar memiliki potensi pengembangan dakwah perempuan yang signifikan, dan perlu didorong dengan penguatan kelembagaan.

“Tantangan dakwah saat ini tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam keluarga kita sendiri. Karena itu, program Mushida harus adaptif, mendalam, dan berbasis pada kebutuhan real di masyarakat,” ujar Sarah.

Sarah menegaskan kembali pentingnya merawat ukhuwah dalam seluruh lini gerakan Muslimat Hidayatullah, baik melalui komunikasi aktif antarpengurus, kolaborasi lintas daerah, maupun penguatan spiritual melalui forum-forum keislaman rutin.

Kegiatan hari pertama ini ditutup dengan sesi foto bersama dan perumusan rekomendasi strategis daerah untuk program Mushida tahun 2025–2026. Agenda kunjungan kerja ini dijadwalkan berlanjut ke sejumlah titik di Kalimantan Barat.

Dari Kapten Kapal ke Pelayan Dakwah, Mengenang Sosok Pak Sentot Pranggodo

Almarhum Sentot Pranggodo bersama sang istri (Foto: Dok. Hidayatullah)

AWAN duka menggelantung di atas langit Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur. Ustadz Sentot Pranggodo bin T. H Sutojo (67 tahun), salah satu warga sekaligus kader senior Hidayatullah meninggal dunia pada hari Ahad, 25 Muharam 1447 (20/7/2025).

Meninggalkan istri dan lima orang anak, Pak Sentot demikian sapaan akrabnya, dikenal sebagai pribadi istimewa. Semasa hidupnya, suami dari ustadzah Siti Mukhlisoh ini memilih lebih banyak diam dan sedikit bicara.

Di balik itu, kemurahan hati membantu orang lain dan kesigapan tangan melayani tamu senantiasa menjadi buah bibir bagi yang pernah bersilaturahim ke Hidayatullah Samarinda.

Tak kenal status atau jabatan, setiap tamu yang berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jl. Perjuangan Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara ini akan dilayani penuh ikhlas di guest house pesantren. Bahkan termasuk kepada tamu-tamu dari kalangan santri sekalipun.

“Zaman nyantri di Gutem (Gunung Tembak), pernah sowan ke beberapa kampus Kaltim. Di Samarinda, tanpa ada akses ke orang dalam, tapi bisa dilayani dan dijamu dengan baik oleh seorang ustadz. Padahal bukan siapa-siapa, hanya santri biasa, dan gak kenal siapa-siapa. Bakda shalat jamak, belum selesai zikir, sudah dipanggil makan. Belakangan tahu, nama beliau pak Sentot,” ucap Ustadz Abdul Aziz Basyir, lulusan STIS Hidayatullah Balikpapan tahun 2012, mengenang pengalamannya dijamu oleh almarhum.

Kesaksian senada, datang dari Ustadz Sudirman, Ketua DPD Hidayatullah Wajo, Sulawesi Selatan. “Husnul Khatimah, Ustadz yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik setiap tamu yang datang di kampus Hidayatullah Sempaja Samarinda,” tulisnya di salah satu grup obrolan.

“Saya kenal, almarhum orang baik. Selalu mendapatkan pelayanan terbaik, saat mampir di Kampus Sempaja. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima segala amal kebaikannya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin,” kali ini Ustadz Musafir, Pengurus DPP Hidayatullah sekaligus turut mendoakan almarhum.

Almarhum (berdiri pojok kanan) bersama sanak family (Foto: Dok. Masykur Suyuthi)

Kapten Kapal

Pak Sentot juga pernah berprofesi sebagai kapten kapal hingga akhirnya pensiun dan memilih berkhidmat di pesantren sebagai pelayan tamu.

Bersama istrinya yang aktif di Muslimat Hidayatullah, mereka menempati sepetak rumah dinas yang bersebelahan dengan ruang tamu (guest house) tempatnya melayani tamu.

Almarhum juga dikenang sebagai sosok disiplin soal waktu dan aturan yang disepakati. Diamnya pria kelahiran tahun 1958 tersebut justru sebagai cermin ketegasan sikapnya.

“Iye kodong orang hebat warga andalan. Ingat sama beliau, masa-masa santri di Samarinda dulu. Rahimahullah rahmatan wasi’ah,” ucap Ustadz Habibie Nur Salam, santri Hidayatullah yang kini diamanahi di Sekolah Dai Hidayatullah, di Pare-Pare Sulawesi Selatan.

Ihwandi Saharuddin pun demikian. Personil tim pencarian dan pertolongan atau SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan ini mengungkap.

“Masih saya ingat dibangunkan shalat lail pake air sama beliau waktu tugas mujahid Ramadhan di Hidayatullah Sempaja pada saat itu”.

Soal pekerjaan almarhum sebagai kapten kapal, rupanya Ustadz Imran Jufri juga punya cerita sendiri. Ustadz Imran yang pernah tugas di Samarinda dan merintis dakwah Hidayatullah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini mengisahkan.

Waktu itu, almarhum Pak Sentot baru saja pulang dari kegiatan Diklat Kapten di Jakarta. Di saat bersamaan, pondok pesantren Hidayatullah dapat kabar baik, menerima bantuan kayu lebih 30 kubik dari salah satu perusahaan kayu di Samarinda Seberang. Sehingga untuk pengangkutan kayu sebanyak itu membutuhkan transportasi kapal.

Singkat kisah, Ustadz Imron lalu ngobrol ringan selepas shalat Shubuh di masjid. “Pak, kita butuh kapal untuk angkut kayu dari Samtraco (nama Perusahaan) di Seberang,”

Almarhum spontan menjawab, “Oh iya, kita pake kapal navigasi saja,”

Merasa masih belum “nyambung” akhirnya Ustadz Imron bertanya kembali,” Trus, yang bawa siapa, Pak?”

Kan, saya kapten kapal,” ucap almarhum ringan, seperti diceritakan.

Kini, almarhum mungkin masih dengan senyum yang sama ketika menyapa para santri dan tamu-tamu yang dilayaninya. Menikmati buah amal shalehnya sebagai pelayan para pejuang dakwah di dunia.

“Jazakumullah khairan untuk semua catatan sejarah kebaikan beliau. Menambah yakin kami almarhum bapak sedang memanen apa yang selama ini beliau yakini untuk diperjuangkan,” ungkap Ustadz Bunyanun Marsus.

Putra almarhum tersebut kini diamanahi sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara.

“Semoga kami anak-anaknya Allah mampukan untuk mengikuti beliau dengan segala tantangan terkininya. Diistiqamahkan sebagaimana assabiqunal awwalun Allah istiqamahkan dalam perjuangan Islam melalui lembaga ini,” tutupnya sambil menitip doa.

Seminar IIBF Tekankan Pentingnya Tax Survival Strategy bagi Pengusaha Muslim

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seminar nasional bertajuk “Strategi Tax Survival untuk Pengusaha Muslim” digelar di Aula Orny Loebis, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Kegiatan ini diinisiasi sebagai bentuk ikhtiar edukatif untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pajak di kalangan pelaku usaha Muslim, sekaligus membekali mereka dengan strategi aman dalam pengelolaan pajak.

Seminar ini diselenggarakan dalam format hybrid, dihadiri langsung oleh peserta dari kalangan pengusaha, aktivis dakwah ekonomi, serta masyarakat umum, dan diikuti secara daring melalui Zoom dan media sosial. Acara menghadirkan narasumber tunggal Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Heppy Trenggono.

Menurut penyelenggara, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai sistem perpajakan nasional, mencegah terjadinya penipuan atau kesalahan administrasi perpajakan, serta menumbuhkan kepatuhan pajak sebagai bagian dari tanggung jawab syar’i dan kenegaraan.

“Pajak aman, usaha pun jadi aman. Jangan sampai usaha tersendat karena salah langkah,” ujar Heppy Trenggono dalam pemaparannya.

Dalam seminar tersebut, Heppy menyampaikan urgensi kesadaran pajak bagi pelaku usaha Muslim di tengah semakin kompleksnya regulasi dan peningkatan pengawasan fiskal negara. Ia menekankan bahwa tidak sedikit pelaku usaha yang terjebak dalam persoalan hukum perpajakan akibat minimnya pemahaman dan kurangnya pendampingan yang benar.

“Banyak pelaku usaha Muslim yang niatnya baik, tapi mereka belum memiliki sistem pencatatan yang akuntabel. Akhirnya, saat diperiksa, mereka kesulitan menjelaskan aliran keuangan. Ini bukan soal tidak mau patuh, tetapi karena tidak paham caranya,” jelas Heppy.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun mindset kewirausahaan yang selaras dengan tanggung jawab syar’i, termasuk dalam urusan pajak. Dalam pandangannya, pajak tidak bisa dilepaskan dari peran strategis pengusaha Muslim sebagai bagian dari elemen negara yang ikut menjaga keberlangsungan pembangunan.

“Kesadaran pajak itu bukan hanya administratif, tapi juga spiritual. Ketika kita tertib pajak, itu bagian dari amanah sebagai warga negara dan sebagai Muslim,” ungkap Heppy.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengusaha Muslim memiliki tax survival strategy atau strategi bertahan dalam mengelola pajak secara legal, terencana, dan berkelanjutan. Ia menyarankan agar setiap pengusaha memiliki tim keuangan yang memahami regulasi perpajakan, mencatat setiap transaksi dengan sistematis, serta berkonsultasi secara rutin dengan ahli pajak.

“Kita tidak bisa lagi bersikap reaktif. Harus proaktif dalam hal tata kelola pajak. Karena dalam dunia usaha, yang tidak dipersiapkan dengan benar akan menjadi sumber kerugian di kemudian hari,” imbuh Heppy.

Seminar ini juga menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi antar pengusaha Muslim dari berbagai sektor. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan dari peserta seputar kasus perpajakan, tips audit pajak, serta cara menghadapi pemeriksaan fiskus.

Panitia mencatat bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program edukasi dan pembinaan rutin yang akan dilanjutkan dengan pelatihan teknis lanjutan.

“Kami berharap setelah seminar ini, para pengusaha memiliki pemahaman dasar yang kuat tentang pajak dan mampu menyusun sistem perpajakan yang rapi dan aman,” kata Ihul, salah satu panitia penyelenggara.

Dengan adanya seminar ini, diharapkan semakin banyak pengusaha Muslim yang menyadari pentingnya ketaatan pajak bukan hanya sebagai kewajiban legal, tetapi juga bagian dari kontribusi terhadap keadilan sosial dan pembangunan nasional.

Peran Amil Sebagai Pemimpin Amanah, Empat Pilar Etos Kerja Transformatif

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam pembinaan nasional Badan Amil Zakat Nasional (BMH) yang digelar secara hybrid pada Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025), Ust. H. Naspi Arysad memaparkan kerangka etis dan spiritual seorang amil dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin yang mengemban amanah besar.

Menurutnya, peran amil bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi mengandung makna mendalam sebagai refleksi dari kesadaran spiritual dan sosial.

“Tanggung jawab seorang amil tidak hanya sekadar kewajiban formal, melainkan juga cerminan dari kesadaran mendalam,” ungkap Ust. Naspi.

Anggoat Dewan Murabbi Pusat ini merinci empat faktor utama yang harus diinternalisasi oleh setiap amil agar dapat menjalankan amanahnya secara utuh dan berkelanjutan.

Pertama, kesadaran iman. Ini menjadi pilar utama yang menopang seluruh tindakan. “Ketika setiap gerak langkah amil dilandasi keyakinan akan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, integritas dan dedikasi akan terpancar secara alami,” jelasnya.

Kedua, ketekunan membaca. Menurut Ust. Naspi, amil yang terus belajar akan mampu menjawab tantangan zaman dengan solusi inovatif. “Ilmu adalah cahaya yang menuntun pada kebijaksanaan,” katanya.

Pembelajaran berkelanjutan memungkinkan amil merumuskan strategi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang lebih efektif demi kemaslahatan umat.

Ketiga, moral dan etika. Ini berfungsi sebagai kompas pengambilan keputusan yang adil dan manusiawi. “Nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan harus menjadi prioritas,” tegasnya. Komitmen terhadap prinsip etika akan membangun kepercayaan publik dan menciptakan lingkungan yang harmonis.

Keempat, kesadaran pragmatis. Walau ini dianggap sebagai tingkatan motivasi terendah, tetap memiliki peran dalam memicu tanggung jawab dasar. “Namun, tujuan kita adalah mengangkat motivasi amil ke tingkat yang lebih tinggi,” paparnya.

Kepala Departemen Operasional BMH Pusat, Nur Hadiansyah, menegaskan pentingnya mendukung transformasi peran amil sebagai agen perubahan.

“Mari bersama-sama mendukung peran amil yang berlandaskan iman, agar setiap tetes keringat dan upaya mereka menjadi berkah yang meluas, merangkul semua, tanpa terkecuali,” ujarnya.

Hidayatullah Luncurkan “HijauRun” Gaungkan Kampanye Berlari dan Hijaukan Bumi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Marwam Mujahidin, secara resmi meluncurkan gerakan HijauRun dengan tagline “Berlari dan Hijaukan Bumi” dalam rangkaian Hidayatullah Festival Spesial (Hi-Fess) yang digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Peluncuran ini menjadi salah satu tonggak penting dalam menyambut agenda puncak Munas VI Hidayatullah dan sekaligus menegaskan komitmen ormas Hidayatullah dalam menanggapi isu-isu strategis terkait lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Menurut Marwan, gerakan HijauRun dirancang sebagai inisiatif ekologis sekaligus kampanye publik yang menyatukan dua aktivitas kebaikan yakni berlari untuk kesehatan dan menanam pohon untuk kelestarian bumi.

Acara puncak HijauRun sendiri akan digelar pada 24 Agustus 2025 secara serentak dari Balikpapan bekerjasama dengan Pemuda Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia, dengan melibatkan partisipasi anggota, simpatisan, hingga masyarakat umum.

“HijauRun adalah simbol dari semangat untuk merawat diri dan bumi sekaligus. Melalui aktivitas berlari dan menanam pohon, kami ingin membangun budaya sehat dan cinta lingkungan dalam satu gerakan kolektif,” kata Marwam Mujahidin dalam keterangannya.

Lebih jauh Marwan menjelaskan, peluncuran HijauRun menjadi respon konkret terhadap dua tantangan global yang saling berkelindan yaitu krisis lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan setiap dekade akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Sementara itu, WHO menyebut polusi udara sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti asma, jantung, dan stroke.

Di sisi lain, gaya hidup modern turut memperparah ketimpangan kesehatan masyarakat. Kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan instan, dan polusi perkotaan menjadikan masyarakat rentan terhadap obesitas, tekanan darah tinggi, dan gangguan metabolik.

“Dalam hal ini HijauRun menawarkan pendekatan integratif dengan mengajak masyarakat untuk aktif bergerak melalui olahraga lari dan berjalan kaki, serta menanam pohon sebagai tindakan nyata memperbaiki kualitas udara dan ekosistem,” katanya.

Pendekatan Strategis Hidayatullah

Ormas Hidayatullah menilai bahwa solusi atas krisis ekologis dan degradasi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi negara. Diperlukan gerakan sosial berbasis nilai, spiritualitas, dan kesadaran kolektif.

Karena itu, jelas Marwan, HijauRun bukan sekadar event lari, melainkan bagian dari gerakan peradaban yang mengakar pada ajaran Islam tentang menjaga amanah bumi (khalifah fil ardh) dan merawat tubuh sebagai karunia Allah.

“Melalui HijauRun, kita tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga menggerakkan kesadaran umat akan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari ibadah,” ujar Marwam Mujahidin.

Sebagai langkah awal penguatan gerakan, panitia Munas VI juga secara resmi membuka open order (PO) untuk berbagai produk kampanye HijauRun seperti jersey, topi, gelang, dan botol minum ramah lingkungan. Produk-produk ini dapat dipesan melalui panitia Munas VI Hidayatullah baik di pusat maupun perwakilan daerah atau lewat laman munashidayatullah.id.

Produk tersebut tak hanya berfungsi sebagai perlengkapan olahraga, tetapi juga menjadi sarana dakwah visual untuk menyuarakan pesan cinta lingkungan dan hidup sehat di tengah masyarakat.

Selain peluncuran produk dan kegiatan olahraga, HijauRun juga akan diikuti dengan kegiatan penanaman pohon serentak, edukasi lingkungan berbasis masjid dan pesantren, serta pembinaan komunitas lari Islami di berbagai kota. Ini menjadi bentuk kontribusi jangka panjang Hidayatullah dalam membangun green community di tengah umat.

“Gerakan HijauRun menjadi langkah awal menuju transformasi kultural yang menjadikan berlari atau berjalan dan menanam pohon sebagai budaya umat Islam yang peduli akan masa depan bumi dan generasi mendatang,” katanya.

Sejalan dengan misi Munas VI Hidayatullah, katanya menambahkan, gerakan ini diharapkan memperkuat sinergi dakwah, pendidikan, dan aksi nyata dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Menyambut Munas VI, Hidayatullah Gelar Festival Nasional Hi-Fess

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Semarak menyongsong Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah semakin terasa dengan diluncurkannya Hidayatullah Festival Spesial (Hi-Fess) secara hybrid dari Media Center Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Kegiatan ini menjadi tonggak penguatan peran Hidayatullah sebagai elemen strategis bangsa dalam membangun peradaban menuju Indonesia Emas 2045.

Ketua Panitia Munas VI Hidayatullah, Marwan Mujahidin, menyampaikan bahwa Hi-Fess merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan Munas yang akan digelar pada Oktober mendatang.

Dalam sambutannya, Marwan menekankan bahwa Hi-Fess bukan sekadar festival, tetapi ruang kolaboratif untuk menebar nilai-nilai kebaikan melalui kreativitas, kompetisi, dan kontribusi seluruh jaringan Hidayatullah di tanah air.

“Hi-Fess adalah satu kegiatan yang bertujuan untuk menyemarakkan Munas VI Hidayatullah yang akan digelar pada bulan Oktober mendatang di Jakarta,” ungkap Marwan dengan antusias.

Marwan menjelaskan bahwa Hi-Fess hadir sebagai sarana bagi institusi-institusi di bawah jaringan Hidayatullah untuk mengekspresikan pesan-pesan kebaikan dalam bentuk perlombaan yang bermakna dan berdampak. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan semangat khidmat dan partisipasi kolektif dari semua elemen untuk bangsa.

“Kami mengajak seluruh elemen terutama institusi yang ada di bawah jaringan Hidayatullah untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan berbagai macam jenis perlombaan yang tentu hadir,” jelasnya.

Hi-Fess menjadi wadah strategis untuk menunjukkan kontribusi nyata Hidayatullah sebagai bagian dari anak bangsa yang aktif dalam pembangunan karakter masyarakat dan peradaban. Marwan menegaskan, melalui festival ini, Hidayatullah ingin memperluas jangkauan dakwah dan kiprah ke tengah masyarakat.

“Bertujuan untuk menyemarakkan Munas dan sekaligus upaya menguatkan khidmat serta kontribusi Hidayatullah sebagai anak bangsa untuk bangsa kita, untuk menyongsong Indonesia Emas 2024,” tegas Marwan.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengenalkan Hidayatullah, kiprah dan program-programnya,” tambahnya.

Semarak Beragam Perlombaan

Peluncuran Hi-Fess turut diwarnai dengan presentasi bidang-bidang perlombaan yang akan digelar. Lima institusi dari berbagai unit kelembagaan tampil memperkenalkan agenda kompetisi yang disiapkan secara khusus dalam Hi-Fess 2025.

Iwan Abdullah selaku Direktur Korps Muballigh Hidayatullah yang diwakili Achmad Maghfur, menjelaskan ragam lomba dakwah dan penguatan kapasitas muballigh yang akan menjadi salah satu poros penting festival ini salah satunya lomba menulis naskah khutbah Jum’at.

Sementara itu, Abdul Muin, Direktur Persaudaraan Dai Indonesia, memaparkan program penguatan jaringan dai dan kaderisasi kepemimpinan dakwah berbasis komunitas dengan membuat lomba video “Apa itu Hidayatullah?”.

Dari sisi penguatan sistem jaminan halal dan gaya hidup thayyib, Muhammad Faisal, Direktur Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah yang diwakili Ubaidillah Navis (Kadiv Komunikasi & Pengembangan), memperkenalkan lomba yang memadukan edukasi halal dan inovasi praktis bertajuk “Halalin Gaya Hidupmu!”.

Sementara itu, Toriq, Lc., MA., Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, turut memperkenalkan lomba jurnalistik, esai dakwah, dan penulisan kreatif dengan fokus topik dakwah ekologi sebagai sarana ekspresi literasi dakwah.

Di ranah digital, Bayu Rian dari Digital Impact Nusantara (DIN) membawakan rangkaian lomba produksi konten dakwah digital untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menumbuhkan kreator muda produktif dan berakhlak yang menyasar anak anak dengan lomba design thinking.

Kelimanya menyampaikan bahwa seluruh program kompetisi akan digelar secara nasional dan melibatkan peserta dari berbagai kalangan dalam jaringan Hidayatullah, baik secara daring maupun luring.

Hi-Fess pun diproyeksikan menjadi ajang sinergi nasional untuk menunjukkan semangat kolaborasi, keberagaman peran, dan penguatan nilai-nilai dakwah yang rahmatan lil ‘alamin.

Menutup sambutannya, Marwan Mujahidin mengajak seluruh komponen bangsa untuk mendoakan dan mendukung pelaksanaan Hi-Fess sebagai bagian dari gerakan kebaikan yang lebih besar.

Dengan diluncurkannya Hi-Fess, terang dia, Hidayatullah kembali menegaskan posisinya sebagai organisasi yang tidak hanya fokus pada internalisasi nilai, tetapi juga konsisten menghadirkan kontribusi strategis untuk bangsa.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi hajat kita bersama dan bangsa ini, Allah SWT menguatkan dalam gerakan kebaikan ini,” pungkasnya penuh harap.

Hidayatullah Serukan Revitalisasi Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak

0
Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Musliadi Raja (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Musliadi Raja mengatakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2025 menjadi momentum strategis untuk meninjau kembali komitmen nasional dalam memenuhi hak-hak anak sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan budaya, nasib anak-anak Indonesia masih diwarnai dengan persoalan yang kompleks, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2024 tercatat lebih dari 2.057 laporan pelanggaran hak anak, termasuk kekerasan seksual, kekerasan fisik, penelantaran, dan perundungan di lingkungan sekolah. KPAI juga menyoroti meningkatnya jumlah anak yang terlibat dalam pekerja anak, terutama di wilayah urban dan pinggiran kota besar.

Menurut Musliadi, kondisi ini diperburuk oleh pesatnya penetrasi teknologi digital tanpa pengawasan yang memadai. Laporan terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa anak-anak usia 10–17 tahun merupakan kelompok pengguna aktif internet terbesar kedua di Indonesia, dengan kerentanan tinggi terhadap paparan konten pornografi, kekerasan, dan penipuan daring.

“Dalam konteks ini, Hidayatullah memandang bahwa peringatan HAN harus dijadikan sebagai pengingat kolektif untuk menegaskan kembali tanggung jawab semua pihak, khususnya umat Islam, dalam mendidik dan melindungi generasi penerus bangsa,” kata Musliadi dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Musliadi menjelaskan bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari amanah agama yang tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai Islam.

“Dalam Islam, anak bukan sekadar objek kasih sayang, tetapi subjek tanggung jawab pendidikan akhlak dan penjagaan iman,” ujar Musliadi yang juga Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI) ini.

Hidayatullah melalui berbagai lembaga sayapnya seperti Sekolah Integral Hidayatullah dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Hidayatullah telah mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis tauhid yang menekankan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembentukan karakter anak. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab kegagalan sistem sekuler dalam membangun ketahanan moral dan spiritual anak di era globalisasi.

“Masalah anak harus dilihat sebagai bagian dari krisis keluarga dan lemahnya kontrol sosial berbasis nilai. Kita tidak bisa menyelesaikan krisis anak hanya dengan pendekatan kebijakan negara yang teknokratis, tetapi harus ada revitalisasi peran keluarga sebagai madrasah utama,” tambah Musliadi.

Selain itu, Hidayatullah juga menyerukan pentingnya negara untuk lebih progresif dalam melindungi hak-hak anak dengan melibatkan ormas Islam dan lembaga keagamaan dalam penyusunan kebijakan pendidikan dan pengasuhan.

Dalam pandangannya, Musliadi melihat program-program perlindungan anak harus selaras dengan prinsip maqashid syariah yang menjamin keselamatan agama, akal, jiwa, dan keturunan anak-anak.

Sebagai langkah strategis, Hidayatullah mendorong lahirnya gerakan nasional perlindungan anak berbasis nilai Islam yang mencakup pembinaan keluarga muda, pelatihan guru dan dai ramah anak, serta kampanye media literasi untuk mencegah dampak buruk digitalisasi terhadap anak-anak.

Disamping itu, program ini juga diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat.

Menurut Musliadi, peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi panggilan moral bagi umat Islam untuk kembali menegaskan posisi strategis anak dalam peradaban Islam.

“Anak-anak bukan hanya penerima manfaat kebijakan, tetapi juga calon pemimpin yang harus dipersiapkan dengan nilai iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. Seperti ditegaskan dalam QS At-Tahrim ayat 6, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”, maka perlindungan anak bukan hanya urusan negara, tetapi juga ibadah kolektif umat,” pungkasnya.

Makna Nasehat kepada Allah, Rasul, dan Sesama dalam Islam

0
ist – agama-nasehat

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim)

IMAM Nawawi (676 H) berkata: Nasehat untuk Allah artinya mengajak masyarakat manusia ke jalan Allah. Makna nasehat kepada Allah adalah beriman kepada-Nya, menafikan semua sekutu bagi-Nya, menetapkan sifat-sifat yang mulia bagi-Nya, melaksanakan ketaatan kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai maksiat kepada-Nya, berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya, dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Nasehat kepada Allah mencakup dua hal: ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan memenuhi persaksian tauhid kepada-Nya secara rububiyyah, uluhiyyah, serta asma’ wa sifat.

Syaikh Muhammad As-Sindi (1163 H) berkata: Nasehat kepada Allah maksudnya agar seorang hamba berusaha menjadikan dirinya ikhlas kepada-Nya. Seorang muslim wajib mengagungkan-Nya dengan sebesar-besar pengagungan, mengamalkan ketaatan secara lahir maupun batin, serta menjauhi segala yang dibenci-Nya. Hatinya penuh cinta dan rindu kepada-Nya, mensyukuri seluruh nikmat-Nya, sabar atas bencana yang menimpanya, serta ridha kepada takdir-Nya.

Nasehat kepada Allah berarti menyeru manusia agar memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, seperti melaksanakan rukun iman dan Islam, berdoa, berharap, memohon perlindungan dan ampunan, bertobat, tawakal, takut, bernazar, ta’dzim, berserah diri dan taslim secara total hanya kepada Allah Ta’ala, dan bukan kepada selain-Nya.

Nasehat kepada Kitab-Nya

Nasehat kepada kitab mencakup: mengagungkannya, membenarkan isi beritanya, tidak meragukannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, berhukum dengan hukumnya, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang terjaga hingga hari kiamat.

Syaikh Muhammad As-Sindi berkata: Nasehat kepada Kitab maksudnya meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, mengimani isinya, membacanya, memuliakannya, mengutamakannya dibanding selainnya, mempelajarinya untuk mendapatkan ilmu, serta mengamalkannya untuk memperoleh keselamatan.

Nasehat kepada Kitab juga berarti menyerukan Al-Qur’an ke seluruh penjuru dunia: desa, kota, kantor, instansi, hingga ke pelosok daratan dan lautan. Masyarakat harus diberi akses kepada Al-Qur’an, dan Al-Qur’an harus dimasyarakatkan. Inilah pekerjaan paling mulia, sebab akan melahirkan jaringan sosial yang bertauhid.

Seruan Al-Qur’an adalah keutamaan, anugerah, kasih sayang, cinta, keadilan, keuntungan, dan harapan bagi seluruh umat manusia. Sebab kandungannya mengajak kepada tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan menjauhi kesyirikan.

Al-Qur’an adalah pelita zaman, wasilah perjalanan menuju Allah, penyejuk hati orang berilmu, pelipur lara bagi yang teruji. Tanpanya, manusia akan tersesat dalam perjalanan menuju keselamatan.

Nasehat kepada Rasul-Nya

Nasehat kepada Rasulullah mencakup: ittiba’ kepadanya, beriman bahwa beliau adalah manusia pilihan yang benar, membenarkan seluruh sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, dan mengamalkan sunnahnya yang mulai banyak diremehkan.

Nasehat ini juga berarti meyakini bahwa Rasulullah adalah makhluk paling utama dan kekasih Allah. Beliau diutus untuk memberi kabar gembira kepada yang mengikutinya dan peringatan kepada yang mengingkarinya: kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang taat, dan kesengsaraan dunia dan neraka bagi yang membangkang.

Orang yang sukses adalah yang mencintai dan menaati sunnahnya, sedangkan yang gagal adalah yang meremehkan hadits-haditsnya. Mengikuti Rasul berarti mengikuti Allah; menentangnya berarti membangkang kepada Allah secara nyata.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa: 69)

Nasehat kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Sebagian ulama menyebut pemimpin kaum muslimin sebagai ulama (dalam urusan agama) dan umara (dalam urusan dunia). Nasehat kepada ulama berarti mencintai mereka sebagai pewaris nabi, membantu mereka, bergaul baik, dan menasihati mereka dengan adab jika salah. Demikian pula kepada pemerintah.

Nasehat kepada penguasa mencakup: mendengar dan taat dalam perkara makruf, tidak memerangi mereka selama tidak kafir, memperbaiki mereka, tidak memberontak, tidak menebar fitnah dan kebencian, serta selalu mendoakan mereka agar mendapatkan kebaikan. Kebaikan pemimpin akan diikuti rakyat, kerusakan mereka mencerminkan kehancuran umat.

Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Jika aku punya doa yang baik, maka aku peruntukkan untuk pemimpinku. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: Karena jika pemimpin menjadi baik, maka semua orang akan merasakan manfaatnya.

Menjelekkan penguasa di media, mengkudeta, mengangkat senjata, menebar kebencian adalah metode khawarij yang jauh dari petunjuk Nabi. Nabi sendiri tidak mencontohkan demikian. Ini termasuk dosa besar yang mendatangkan kerusakan lebih besar.

Nasehat kepada Kaum Muslimin Secara Umum

Nasehat kepada kaum muslimin berarti: menolong mereka dalam kebaikan dan takwa, melarang mereka dari keburukan, membimbing kepada petunjuk, mencegah kesesatan, mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana untuk diri sendiri. Semua muslim harus dipandang dengan kaca mata kebenaran, bukan kebencian.

Nasehat juga berarti memperbaiki keadaan umat, menjaga keutuhan, menunaikan hak dan kewajiban, serta mempererat kasih sayang. Hak-hak muslim antara lain: menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, menjawab salam, memenuhi undangan, menutup aib, menolong kebutuhan, menjaga darah dan kehormatan, serta menghindarkan dari bahaya.

Kesimpulan Faidah Hadits Ini

  1. Pentingnya nasehat agama untuk umat manusia.
  2. Bagusnya metodologi Nabi yang memulai dengan penjelasan umum, kemudian rinci.
  3. Semangat sahabat dalam mencari ilmu.
  4. Sistematika Nabi dalam memulai dari perkara terpenting: Allah, kitab, rasul, pemimpin, dan kaum muslimin.
  5. Wajibnya nasehat kepada pemimpin.
  6. Pentingnya hidup berjamaah di bawah kepemimpinan.
  7. Wajibnya menjaga ukhuwah antar sesama.

Sungguh nasehat Nabi ini pendek dan singkat, namun betapa agung isinya. Alangkah baiknya jika diamalkan, betapa mulianya pelakunya. Semoga kita termasuk golongan tersebut.[]

*) Ust. Mardiansyah, Sos.I, penulis pengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur.

Ketua Umum Hidayatullah Tekankan Peran Strategis Instruktur Grand MBA

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) pada tanggal 21–25 Juli 2025.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., hadir sebagai pemateri utama dalam sesi yang membahas Grand MBA dalam perspektif manhaj dakwah Hidayatullah.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa menjadi instrukur atau pengajar Al Qur’an adalah bagian dari warisan kenabian.

“Mu’allim dan da’i adalah profesi para nabi dan rasul, khususnya Rasulullah saw. Karenanya ini merupakan amanah yang sangat agung dan mulia,” ungkapnya, sembari mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 2.

Nashirul juga menekankan peran strategis peserta ToT sebagai calon instruktur nasional.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan akan guru-guru Al Qur’an di berbagai wilayah sangat mendesak, sehingga peran instruktur dalam mencetak mu’allim yang standar menjadi sangat penting.

Dalam sesi lainnya, Nashirul menyinggung konsep pribadi rabbani sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 79. “Salah satu indikator utama sosok Rabbani, yaitu mengajarkan dan mempelajari Al Qur’an,” tegasnya.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dalam program Grand MBA, Nashirul menekankan pentingnya metodologi pengajaran. Menurutnya, guru Al Qur’an tidak hanya dituntut ikhlas dan berilmu, tetapi juga menguasai teknik mengajar.

“Metode mengajar sangat penting karena dapat memudahkan dan mempercepat pemahaman serta mencegah kejenuhan,” tegasnya.

Kegiatan ToT yang berlangsung selama 5 hari ini ini bertujuan memperkuat kapasitas instruktur Grand MBA dalam rangka mencetak guru-guru Al Qur’an yang kompeten secara nasional.

Sebanyak 25 peserta terpilih dari utusan Dewan Pengurus Wilayah dan Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia mengikuti pelatihan intensif ini.

Mereka telah melalui tahapan seleksi dan dianggap memenuhi kualifikasi untuk mengikuti pelatihan sebagai calon instruktur tingkat wilayah.

Program ini diharapkan memperkuat ekosistem dakwah Al Qur’an secara berjenjang dan terstandar, sejalan dengan visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan Qur’ani.*/