Beranda blog Halaman 74

Pemerintah Apresiasi Peran Hidayatullah di Muswil Perdana Papua Selatan

0

MERAUKE (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-1 Hidayatullah Papua Selatan menjadi tonggak penting bagi konsolidasi kelembagaan dan arah dakwah pasca-pemekaran wilayah. Diselenggarakan pada 1-2 Jumadil Akhir 1447 (22–23/11/2025) di Auditorium Kantor Bupati Merauke, forum ini menandai penguatan struktur organisasi serta perumusan rencana strategis pembangunan sumber daya manusia di kawasan paling timur Indonesia.

Pada momentum pembukaan, Wakil Bupati Merauke, Dr. Fauzun Nihayah, S.H.I., M.H., menegaskan apresiasinya terhadap kontribusi Hidayatullah. Ia menilai bahwa kehadiran Hidayatullah merupakan mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia berakhlak mulia di Papua Selatan.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan ungkapan simbolik berupa pantun sebagai pesan penguatan moral bagi para peserta musyawarah.

“Burung cenderawasih terbang menari, indah warnanya tak terperikan. Selamat bermusyawarah dengan hati nurani untuk dakwah Hidayatullah makin menguatkan persatuan,” katanya.

Sebagai ajang Muswil perdana, kegiatan ini melibatkan seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Papua Selatan. Ketua Panitia Muswil, Abdul Chaliq, Lc., menjelaskan bahwa peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk pejabat pemerintah, anggota DPR, ketua MUI Merauke, ketua organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, NU, dan Wahdah Islamiyah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), majelis taklim, ketua DKM, serta wali santri Hidayatullah Merauke.

Pihaknya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh sponsor yang mendukung terselenggaranya Muswil perdana tersebut.

Agenda utama forum ini mencakup laporan pertanggungjawaban kepengurusan transisi serta penetapan Ketua DPW Hidayatullah Papua Selatan periode 2025–2030.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Saiful Anwar, memaparkan pesan Muswil DPP Hidayatullah yang menekankan bahwa jalan dakwah menuntut kesungguhan spiritual, komitmen sosial, dan ketahanan mental. Ia menjelaskan bahwa tantangan dalam dakwah justru menjadi pendorong spiritual para dai untuk menetapkan diri dalam barisan ad-daa’i ilallaah.

Saiful menguraikan dua dimensi penting yang harus dikawal para pemimpin dakwah, yakni kemampuan bersikap superior dalam menghadapi tantangan serta keharusan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Tanpa keduanya, tegasnya, dakwah tidak akan melampaui retorika dan gagal mengikuti keteladanan dakwah Rasulullah SAW.

Ia turut mengingatkan kembali perjuangan generasi awal Hidayatullah yang berbekal kesederhanaan, keikhlasan, serta kekuatan ibadah, terutama shalat Tahajjud, yang menjadi fondasi kekokohan mental dan keluasan pengaruh dakwah.

Menurutnya, spirit kesederhanaan tersebut memungkinkan para dai memberi perubahan berarti meski dengan fasilitas terbatas dan tanpa pendidikan akademik tinggi. Semangat itu pula yang membuat dakwah Hidayatullah tetap kuat, rendah hati, dan terhindar dari sikap thagha’.

Saiful kemudian menegaskan bahwa Hidayatullah kini memasuki 50 tahun kedua pergerakan dakwahnya dengan 38 DPW aktif di seluruh Indonesia, sebagai bukti kontribusi organisasi dalam memperjuangkan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Ia menyebutkan bahwa komitmen dakwah Hidayatullah sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat harmoni sosial, lingkungan, dan keagamaan.

Muswil resmi ditutup dengan pembacaan SK Kepengurusan DPW yang menetapkan Zainal Abidin sebagai Ketua Hidayatullah Papua Selatan periode 2025-2030. Forum tersebut menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat sektor pendidikan dan dakwah serta peneguhan komitmen menjaga keutuhan NKRI di wilayah Papua Selatan.

Munas VI Mushida Teguhkan Peran Perempuan sebagai Penyangga Ketahanan Keluarga

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI Muslimat Hidayatullah (Mushida), berbagai agenda persiapan terus dimaksimalkan untuk memastikan kelancaran perhelatan lima tahunan tersebut.

Ketua Panitia Munas 6 Muslimat Hidayatullah, Ina Sriwahyuni, mengatakan, sebagai forum strategis, Munas menjadi ruang konsolidasi organisasi dalam merumuskan arah kebijakan, memperkuat kapasitas kelembagaan, dan meneguhkan kontribusi muslimah bagi pembangunan bangsa.

Dalam kerangka tersebut, jelas Ina, tema besar yang diusung Munas 6 memuat pesan penting mengenai posisi perempuan dalam struktur sosial dan keluarga serta mengarahkan perhatian pada peran perempuan sebagai aktor kunci pembentukan karakter, penguatan moral, serta motor penggerak ketahanan keluarga.

“Tahun ini, Munas 6 mengusung tema ‘Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas,’ sebuah gagasan yang relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya dalam keterangannya, Senin, 3 Jumadil Akhir 1447 (24/11/2025).

Ina menekankan bahwa tema tersebut menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai pusat pembentukan karakter, pondasi moral, dan motor penggerak ketahanan keluarga dalam mewujudkan masyarakat yang lebih kuat.

Sejumlah pra-kegiatan telah digelar sejak Juli sebagai bagian dari Gebyar Musyawarah Nasional. Kegiatan ini melibatkan anggota Muslimat Hidayatullah dari seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi bentuk penyambutan menuju puncak Munas.

Di antara rangkaian yang telah berlangsung ialah Seribu Berkah untuk Indonesia, Gerak Jalan Sehat & Operasi Bersih Lingkungan, Webinar Parenting, Pemberdayaan Remaja Putri Menuju Kemandirian, Lomba Video Interaktif Pembelajaran PAUD Tingkat Nasional, Lomba Menulis untuk Remaja Putri Tingkat Nasional, serta kegiatan bertema kemanusiaan Palestina Memanggil.

Seluruh rangkaian tersebut dirancang sebagai bagian dari pembekalan nilai, penguatan solidaritas, dan penyegaran semangat kader sebelum memasuki forum permusyawaratan nasional.

Munas 6 yang akan diselenggarakan pada 27–29 November 2025 di Jakarta ini dijadwalkan diikuti oleh 250 peserta. Mereka terdiri dari Majelis Penasihat, Majelis Murabbiyah Pusat, Pengurus Pusat, serta delegasi Pengurus Wilayah dari 38 provinsi.

Peserta akan terlibat dalam sidang-sidang strategis yang berfungsi menjadi landasan arah gerak Muslimat Hidayatullah untuk lima tahun mendatang. Agenda persidangan akan menguatkan perumusan program, evaluasi capaian, serta penyelarasan langkah organisasi terhadap dinamika nasional dan kebutuhan umat.

Ina Sriwahyuni juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang telah diberikan berbagai pihak selama proses persiapan. “Atas nama panitia, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan moril, materil, tenaga, waktu, dan pikiran yang diberikan untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan menjelang Munas,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Ina mengajak seluruh keluarga besar Hidayatullah serta masyarakat luas untuk turut mendoakan kelancaran kegiatan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar Munas 6 dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang bermanfaat.

“Semoga Munas Muslimat Hidayatullah dapat berjalan dengan lancar, sukses, dan penuh keberkahan, serta menjadi sumber energi yang mampu menggugah kembali semangat para mujahidah dalam mewujudkan keluarga Qur’ani menuju terbangunnya peradaban Islam yang mulia,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Masjid sebagai Pusat Peradaban

0

MASJID sering direduksi hanya sebagai ruang ibadah ritual seperti shalat, dzikir, dan kajian rutin. Padahal jika menengok ke masa Rasulullah ﷺ, fungsi masjid jauh lebih luas dan fundamental.

Masjid bukan sekadar tempat rukuk dan sujud, melainkan pusat peradaban yang menggerakkan seluruh denyut kehidupan umat. Untuk memahami hal tersebut, diperlukan kejelasan mengenai makna peradaban itu sendiri.

Peradaban, sebagaimana dijelaskan KH Suharsono Darbi dalam bukunya “Membangun Peradaban Islam: Menata Indonesia Masa Depan dengan Al-Qur’an”, adalah manifestasi keyakinan dalam kehidupan manusia. Definisi ini dapat diperluas, bahwa, peradaban adalah perwujudan konkret dari landasan akidah pada seluruh sektor kehidupan.

Dengan demikian, peradaban Islam lahir ketika nilai tauhid teraktualisasi dalam pendidikan, sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pertahanan, dan seluruh dimensi kehidupan seorang muslim.

Dari kerangka ini dapat dipahami bahwa peradaban bukan semata infrastruktur atau capaian teknologi. Ia adalah arah hidup, orientasi nilai, dan tata kelola masyarakat yang bersumber dari keyakinan.

Pada masa Rasulullah ﷺ, pusat dari seluruh arah peradaban itu berada di Masjid Nabawi. Masjid menjadi fondasi tempat kehidupan umat diikat, diatur, dan diarahkan berdasarkan manhaj nabawi dan syariat Islam.

Dalam bidang tarbiyah, Masjid Nabawi berfungsi sebagai ruang pembinaan iman dan ilmu. Para sahabat menghadiri halaqah, belajar langsung dari Rasulullah ﷺ, menerima nasihat, dan menyerap ajaran Islam melalui interaksi harian.

Masjid pada masa itu bukan ruang singgah untuk belajar lalu pulang, melainkan institusi pembentuk karakter, tempat tumbuhnya generasi yang matang secara intelektual dan spiritual.

Dari aspek kesehatan, masjid berperan sebagai pusat penanganan darurat. Ketika terjadi peperangan, para pejuang yang terluka dirawat di Masjid Nabawi, dan para muslimah berperan sebagai perawat. Fakta ini menunjukkan bahwa masjid memberi ruang kontribusi kepada perempuan dalam kerja peradaban dan tidak membatasi fungsinya hanya pada satu ranah.

Dalam bidang militer, masjid menjadi pusat konsolidasi dan perencanaan strategi. Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat sebelum berangkat berperang, menyusun taktik, dan menguatkan mental umat dari dalam masjid. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan tidak dilepaskan dari nilai spiritual, tetapi justru bertumpu pada tauhid sebagai sumber kekuatan.

Pada aspek pemerintahan dan sosial, masjid berfungsi sebagai balai musyawarah, forum diplomasi, ruang penyelesaian masalah publik, hingga kantor pelayanan masyarakat. Delegasi dari berbagai kabilah menemui Rasulullah ﷺ di masjid. Masalah sosial ditangani di sana, dan kebijakan dibicarakan bersama para sahabat. Secara fungsional, masjid pada masa Rasulullah ﷺ merupakan balai kota, pusat komunikasi, sekaligus kantor pemerintahan umat.

Di era teknologi seperti sekarang, peluang untuk menghidupkan kembali fungsi peradaban masjid justru semakin besar. Digitalisasi manajemen, transparansi keuangan, aplikasi zakat-infak-wakaf, serta penguatan tata kelola takmir dapat mempercepat pelayanan jika dirancang secara profesional dan berkelanjutan.

Salah satu contoh konkret adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikenal karena pengelolaannya yang tidak menumpuk dana di kas, melainkan mengembalikannya kepada masyarakat. Program sosial berjalan aktif, fasilitas ibadah terawat, dan jamaah merasakan pelayanan yang hadir dalam keseharian. Masjid menjadi mitra masyarakat, bukan sekadar bangunan ritual.

Di berbagai wilayah lain, pelatihan takmir mulai menekankan pengelolaan digital, pemetaan kebutuhan jamaah, hingga penyusunan program sosial yang berkelanjutan. Semua ini bertujuan mengembalikan masjid pada fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan, pelayanan, dan pemberdayaan umat.

Apabila masjid kembali dihidupkan sebagaimana pada masa Rasulullah ﷺ, umat akan terbiasa berkumpul, bersinergi, memperkuat ukhuwah, dan bekerja dalam arah yang sama. Pada titik itu, masjid bukan lagi struktur fisik, melainkan pusat kekuatan kolektif umat.

Principle tersebut selaras dengan firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (Q.S. As-Shaff: 4)

Ayat ini menegaskan pentingnya kerapian barisan dan kesatuan langkah. Islam tidak bangkit hanya oleh semangat individu yang terpisah-pisah, tetapi oleh jamaah yang bersatu dalam satu visi dan saf yang kokoh. Semua itu sangat mungkin dimulai dari satu bangunan yang selama ini sering dipahami secara sempit sebagai tempat ibadah belaka: masjid.[]

*) Mercyvano Ihsan, penulis santri Kelas X peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok

Muswil VI Jabar Ditekankan sebagai Momentum Penguatan Dakwah Menuju Indonesia Emas 2045

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-6 Hidayatullah Jawa Barat telah usai yang berjalan dengan lancar selama 2 hari di Hotel Bumi Kitri Pramuka, Bandung, dengan mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045″ dan ditutup pada Ahad, 2 Jumadil Akhir 1447 (23/11/2025).

Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H., yang mendampingi sekaligus menutup forum ini mengatakan Muswil ini menjadi forum penting konsolidasi kader, penguatan manhaj perjuangan, serta penyusunan arah dakwah wilayah di tengah dinamika sosial Indonesia yang terus berkembang.

Dalam sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., yang dibacakan Dr. Dudung, ditegaskan bahwa memilih jalan dakwah bukanlah perkara ringan. Jalan ini menuntut kesungguhan spiritual, komitmen sosial, dan ketahanan mental.

“Namun justru konsekuensi-konsekuensi itulah yang menarik minat kita, memancing adrenalin spiritual, dan meruntuhkan obsesi duniawi sehingga kita dengan penuh kesadaran menetapkan diri dalam barisan ad-daa’i ilallaah,” ujar Dr. Dudung membacakan sambutan tersebut .

Dalam penjelasannya, Dr. Dudung menekankan dua dimensi utama dakwah yang harus dikawal para pemimpin yakni kemampuan bersikap superior menghadapi tantangan dan keharusan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Tanpa kedua dimensi ini, tegasnya, dakwah hanya menjadi retorika, tidak memberi perubahan sebagaimana diteladankan dakwah Rasulullah SAW.

Ia kemudian mengingatkan kembali ruh perjuangan para dai generasi awal Hidayatullah yang penuh keikhlasan dan kesederhanaan. Menurutnya, kekuatan utama mereka terletak pada komitmen ibadah—khususnya shalat Tahajjud—yang melahirkan kekokohan jiwa dan kerendahan hati.

“Berbekal ilmu yang tidak tinggi, tanpa gelar akademik yang mentereng, dengan fasilitas dakwah yang sangat terbatas, bahkan kadang hanya dengan bahasa yang sederhana, para dai mampu memberi pengaruh besar dan menarik banyak orang untuk bergabung,” ujarnya.

Dudung menambahkan, dengan spirit seperti itu, dakwah Hidayatullah mampu beresonansi luas meski di tengah berbagai keterbatasan. “Kesadaran inilah yang membuat para dai mampu tampil kuat menghadapi tantangan, namun tetap rendah hati dan jauh dari sikap thagha’,” tegasnya.

Ia turut menyampaikan bahwa Hidayatullah kini memasuki 50 tahun keduanya, dengan 38 Dewan Pengurus Wilayah aktif di Indonesia. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti kuat kontribusi organisasi dalam memperjuangkan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Dalam konteks ini, ia menegaskan kesediaan Hidayatullah untuk terus bersinergi dengan pemerintah setempat demi memperkuat pembangunan bangsa.

“Komitmen ini selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dalam memperkuat keselarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur,” katanya.

Muswil ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan struktur baru kepengurusan tingkat wilayah. Untuk periode 2025–2030, Dewan Murabbi Wilayah diketuai Dadang Abu Hamzah, Lc., dengan empat anggota lainnya.

Sementara Dewan Pengurus Wilayah diketuai Ahmad Maghfur, S.H.I., M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan tekad memperkuat sinergi internal maupun eksternal. Ia menekankan pentingnya amanah yang dijalankan dengan ketataan dan totalitas demi kemajuan organisasi.

Selain sidang-sidang pleno, Muswil turut menghadirkan sesi motivasi bersama coach Harri Firmansyah, serta dihadiri tokoh undangan seperti H. Rahmat Aji Jauhari, Dr. Hadi Hariyanto, Ir. Usman Hanafi, H. Zuhri Abdullah, dan H. Sabroni.

Muswil VI Hidayatullah Jawa Barat diharapkan menjadi pijakan strategis memperkuat dakwah, pendidikan, dan pengabdian sosial menuju Indonesia yang berperadaban maju pada 2045.

Susunan DMW dan DPW

Adapun susunan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat periode 2025-2030 adalah sebagai berikut:

Ketua : Dadang Abu Hamzah, Lc
Anggota : Anton Diyanto Al-Jundi, S.Pd.I
Anggota : Endang Abdulrohman, S.Ag
Anggota : Ruhyadi, S.Sos.I
Anggota : Syarif Al-Ghifari

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat periode 2025-2030 sebagai berikut:
Ketua : Ahmad Maghfur, S.H.I, M.Pd
Sekretaris : Andi Ahmad Suhendar, S.Pd.I
Bendahara : Hasbi Al-Faruqi
Dept. Organisasi : Abdul Wahid, S.Pd.I
Dept. Perkaderan : Khairul Hadi, S.Pd.I
Dept. Pendidikan : Ahmad Mistari Ralimudin, M.Pd
Dept . Dakwah : Asep Juhana, S.Pd
Dept. Hubungan Antar Lembaga : Dadang Kusmayadi S.Sos
Dept. Sosial & Kesehatan: M. Solahuddin Suprapto, S.Pd
Dept. Ekonomi : Naufal Abdullah S.Ag., C.LQ

Muswil Hidayatullah DIY Teguhkan Peran dalam Pembangunan Daerah

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah ke-6 Daerah Istimewa Yogyakarta digelar pada momentum penting ketika konsolidasi keumatan dan pembangunan nasional menjadi tuntutan bersama.

Pada sesi pembukaan pada Sabtu, 1 Jumadil Akhir 1447 (22/11/2025) di Gedung Asrama Haji Mlati, Sleman, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY, Abdullah Munir, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus berperan aktif dalam mendukung agenda pembangunan negara.

Di tengah dinamika kebangsaan dan arah Indonesia menuju 2045, jelas Munir, forum Muswil menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran organisasi masyarakat dalam merawat kontribusi keislaman dan keindonesiaan.

“Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam yang kini memasuki usia setengah abad akan terus berpartisipasi aktif untuk membantu program-program pemerintah,” ujarnya.

Munir menjelaskan bahwa selain sebagai forum evaluasi, Muswil juga mekanisme penting untuk menyiapkan arah gerakan dakwah lima tahun ke depan. Ia menyebutkan bahwa partisipasi seluruh unsur dalam organisasi menjadi fondasi bagi penyusunan kebijakan yang lebih terarah dan responsif.

“Untuk itu, partisipasi dari semua komponen yang ada tetap kita harapkan dalam rangka menyiapkan arah langkah gerakan dakwah lima tahun ke depan,” tegasnya.

Munir menyoroti pentingnya kolaborasi antarorganisasi Islam sebagai bagian dari ikhtiar bersama menghadapi tantangan kebangsaan. Ia menilai pertemuan berbagai elemen umat dalam acara pembukaan Muswil menjadi ruang untuk berbagi keresahan dan memperkuat sinergi menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Berkumpulnya antar ormas Islam di acara seremunial pembukaan Muswil ini, semoga bisa menghimpun keresahan antar anak bangsa dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Muswil yang berlangsung pada 22–23 November 2025 di Gedung Asrama Haji, Ring Road Utara, Sleman, ini mengangkat tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Acara pembukaan dihadiri oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, unsur Kementerian Agama, MUI DIY, MUI Sleman, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama, Pimpinan Wilayah Dewan Dakwah Indonesia, Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah, serta perwakilan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi Hidayatullah di wilayahnya. Ia mengakui bahwa keberadaan organisasi keagamaan seperti Hidayatullah membantu pemerintah daerah dalam memperkuat program-program sosial dan keumatan.

“Saya sangat bersyukur hari ini bisa bertemu dengan para pengurus Hidayatullah. Terima kasih dengan Hidayatullah, saya sebagai bupati bisa terbantu untuk mengurus Sleman,” ungkapnya.

Harda menuturkan bahwa pertemuan lintas golongan menjadi modal penting untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun dan tertib. Ia berharap ikhtiar kolektif tersebut dapat menguatkan harmoni sosial di Sleman.

“Saya ingin kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Sleman terus dipupuk dan dipelihara, sehingga masyarakat Sleman makin rukun, damai, dan sejahtera,” ujarnya.

Muswil ke-6 ini menandai upaya Hidayatullah DIY mempertegas perannya sebagai bagian dari jaringan organisasi Islam yang aktif dalam pembangunan daerah dan nasional.

Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, forum ini dinilai menjadi wadah untuk menyatukan langkah dan merumuskan strategi gerakan yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan dan tantangan bangsa ke depan.

Iqra’ sebagai Mandat Keilmuan dan Penjernihan Epistemik

0

RAIS ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengajukan pertanyaan dalam taujih yang disampaikannya pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 26 Jumadil Awal 1447(17/11/2025):

“Mengapa Allah memerintahkan iqra’ atau membaca kepada Muhammad yang ummy atau tidak bisa membaca dan menulis?”

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijawab langsung oleh peserta, melainkan untuk membuka ruang tadabbur tentang relasi wahyu, pengetahuan, dan proses pembentukan peradaban. Penulis penasaran untuk menggali jawaban dari pertanyaan tersebut.

Diskursus mengenai wahyu pertama dalam Islam merupakan salah satu tema sentral dalam kajian Qur’anic Studies, sejarah kenabian, dan epistemologi Islam. Hidayatullah dalam pergerakan dakwahnya mengikuti manhaj Sistematika Wahyu, sehingga memiliki konsentrasi kuat untuk menggali tadabbur, hikmah, dan nilai dari pertanyaan tersebut.

Sistematika Wahyu berdasarkan lima surat pertama—Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, dan Al-Fatihah—menunjukkan bahwa wahyu tidak hadir secara acak, tetapi mengikuti kurikulum dakwah yang sangat sistematis. Al-‘Alaq meletakkan fondasi pengetahuan dan kesadaran ketuhanan melalui seruan iqra.

Sebelum Islam, masyarakat Arab pra-Islam hidup dalam tradisi lisan yang sangat kuat. Tingkat literasi rendah, kegiatan pencatatan minim, dan tradisi penulisan ilmiah hampir tidak dikenal. Bahkan bangsa Arab saat itu dikenal dengan istilah jahiliyah karena masih diselimuti kebodohan peradaban.

Dalam lanskap sosial seperti itu, perintah iqra’ atau “bacalah” hadir sebagai pesan linguistik, spiritual, dan peradaban yang sangat revolusioner. Lebih mengejutkan lagi, perintah tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad yang secara historis dikenal sebagai ummy, yakni seseorang yang tidak membaca dan tidak menulis.

Paradoks inilah yang memunculkan diskursus akademik yang luas, baik dalam literatur klasik maupun kajian modern. Dalam perspektif teologi Islam, kondisi ummiyyah Nabi saat menerima wahyu pertama justru menjadi penegas otentisitas wahyu: Al-Qur’an tidak lahir dari konstruksi intelektual manusia, tetapi merupakan firman Allah yang otentik.

Dengan demikian, kemampuan Nabi menyampaikan Al-Qur’an tanpa proses literasi formal menjadi salah satu bentuk penjagaan terhadap kemurnian dan kredibilitas wahyu.

Perintah iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq merupakan konstruksi epistemologis yang menjadi dasar bangunan keilmuan Islam. Meskipun Nabi Muhammad secara historis dikenal sebagai ummy, perintah “bacalah” tidak dimaksudkan sebagai tindakan membaca teks tertulis secara literal, tetapi sebagai aktivasi perangkat epistemik yang bersumber dari wahyu.

Ulama seperti Al-Tabari, Al-Razi, dan Ibn Katsir menekankan bahwa iqra‘ dalam konteks ini adalah perintah memulai proses penyingkapan pengetahuan melalui bimbingan langsung Allah, bukan sekadar aktivitas kognitif berbasis literasi material.

Karena itu, iqra‘ dipahami sebagai perintah memasuki struktur epistemik baru: pengetahuan yang diinisiasi oleh Allah, bukan oleh kemampuan intelektual manusia. Dengan demikian, konsep ummiyyah Nabi tidak dapat dipahami sebagai keterbatasan kognitif, tetapi sebagai ruang epistemologis yang sengaja dikosongkan oleh Allah agar wahyu turun pada medium yang bebas dari bias, tradisi literer, maupun konstruksi intelektual pra-Islam.

Ketidakmampuan membaca justru menjadi purifikasi epistemik yang memastikan bahwa sumber pengetahuan Nabi tidak bercampur dengan produk budaya atau filsafat manusia, sehingga Al-Qur’an tampil sebagai teks ilahi yang otentik.

Kondisi ummy Nabi Muhammad juga mencegah tuduhan plagiarisme dari korpus Yahudi-Nasrani atau literatur Arab pra-Islam. Konsep ilmiah mengenai authenticity safeguard merujuk pada mekanisme penjagaan keaslian suatu sumber pengetahuan agar tetap murni, tidak terdistorsi, dan bebas dari kontaminasi unsur luar.

Dalam konteks epistemologi kenabian, hal ini terwujud melalui ketidakaksaraan Nabi sebagai filter epistemik, verifikasi malaikat Jibril, hafalan kolektif para sahabat, serta kodifikasi yang ketat. Semua ini melindungi integritas wahyu sehingga tetap otentik dan tidak bercampur dengan spekulasi rasional atau tradisi literer manusia.

Dengan kata lain, ketidakmampuan membaca justru menjadi modal epistemologis yang menjamin kemurnian wahyu. Perintah iqra’ menjadi titik balik yang mengubah keadaan ummiyy itu menjadi kapasitas kenabian berbasis wahyu.

Sementara itu, pendekatan linguistik dan hermeneutik modern memaknai iqra’ bukan hanya sebagai instruksi membaca teks, tetapi sebagai mandat epistemik: perintah untuk memulai proses menerima, menginternalisasi, memahami, mengolah, dan menyampaikan wahyu sebagai sumber otoritas pengetahuan yang baru. Dengan demikian, iqra’ menjadi simbol kelahiran sistem ilmu dalam Islam.

Penelitian-penelitian kontemporer juga menegaskan bahwa wahyu pertama bukan hanya meletakkan fondasi spiritual, tetapi juga merumuskan paradigma epistemologi Islam yang mengintegrasikan tauhid, akal, literasi, dan etika pengetahuan.

Frasa ‘bi-smī rabbika’ menegaskan bahwa seluruh produksi dan transmisi ilmu harus berlangsung dalam bingkai kesadaran ketuhanan. Sementara itu, penegasan ”alladzī ‘allama bil-qalam‘ menunjukkan bahwa teknologi dokumentasi—qalam sebagai simbol literasi—memiliki peranan penting dalam pembangunan peradaban Islam.

Karena itulah para sejarawan dan pemikir peradaban menilai bahwa wahyu pertama tidak hanya menggerakkan misi kenabian, tetapi juga memulai transformasi intelektual umat manusia. Seruan iqra’ kemudian melahirkan gerakan ilmu, inovasi, dan peradaban yang berlangsung selama berabad-abad; dari masjid menjadi pusat pembelajaran, dari rumah menjadi majelis ilmu, dan dari pena menjadi instrumen perubahan peradaban.

Dalam era digital ketika informasi melimpah tetapi kebijaksanaan menipis, pesan iqra’ tetap relevan sebagai panggilan umat untuk kembali kepada tradisi ilmu yang beradab: membaca dengan hati yang tunduk kepada Allah, berpikir dengan akal jernih, dan menyebarkan pengetahuan dengan etika dan tanggung jawab. iqra’ bukan sekadar kata kerja, tetapi misi peradaban.

Maka akan sangat aneh jika ada orang-orang beriman yang malas membaca, terlebih kader-kader Hidayatullah yang telah beberapa kali mendapat pencerahan jati diri namun kurang bersemangat dalam bidang literasi.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Bupati Sleman Harapkan Peran Lebih Besar Hidayatullah Jaga Kerukunan dan Pembangunan

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah ke-6 Daerah Istimewa Yogyakarta–Jawa Tengah Bagian Selatan menjadi momentum penting dalam memperkuat peran ormas Islam dalam pembangunan nasional. Dalam konteks keindonesiaan yang terus bergerak menuju agenda besar Indonesia Emas 2045, kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi keagamaan, dan elemen masyarakat sipil menjadi fondasi penting untuk memastikan ruang sosial yang rukun, produktif, dan inklusif.

Pada pembukaan Muswil yang digelar Sabtu, 1 Jumadil Akhir 1447 (22/11/2025) di Gedung Asrama Haji Mlati, Sleman, Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan harapannya kepada Hidayatullah sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

Pada kesempatan tersebut, Harda menyampaikan bahwa keberadaan Hidayatullah telah membantu memperkuat peran pemerintah daerah dalam pelayanan publik dan pembinaan masyarakat.

“Saya sangat bersyukur hari ini bisa bertemu dengan para pengurus Hidayatullah. Terima kasih dengan Hidayatullah, saya sebagai bupati bisa terbantu untuk mengurus Sleman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pertemuan lintas elemen sosial dan keagamaan dalam forum seperti Muswil mampu memperluas ruang kontribusi nyata bagi masyarakat. “Saya ingin, kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Sleman terus dipupuk dan dipelihara, sehingga masyarakat Sleman makin rukun, damai, dan sejahtera,” tambahnya.

Muswil Hidayatullah ke-6 ini diselenggarakan selama dua hari, 22–23 November 2025, dengan mengangkat tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut merupakan respons terhadap tantangan nasional jangka panjang yang menuntut konsolidasi peran ormas dalam pembangunan karakter bangsa, pembinaan sosial, serta penguatan kapasitas umat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan, Abdullah Munir, memaparkan bahwa Muswil menjadi ruang penting untuk memilih calon pemimpin struktural dan merumuskan arah kebijakan lima tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan dakwah dan sosial Hidayatullah sangat bergantung pada partisipasi setiap unsur organisasi.

“Untuk itu, partisipasi dari semua komponen yang ada tetap kita harapkan dalam rangka menyiapkan arah langkah gerakan dakwah lima tahun ke depan,” ujarnya.

Pada bagian lain, Munir juga menyampaikan komitmen Hidayatullah sebagai ormas Islam yang telah berkiprah lebih dari setengah abad untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam berbagai program pembangunan. Menurutnya, kebersamaan antar ormas Islam pada pembukaan Muswil mencerminkan kesadaran kolektif untuk merespons tantangan kebangsaan secara sinergis.

“Berkumpulnya antar ormas Islam di acara seremonial pembukaan Muswil ini, semoga bisa menghimpun keresahan antar anak bangsa dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045,” tuturnya.

Pembukaan Muswil turut dihadiri unsur Kementerian Agama, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (NU), Pimpinan Wilayah Dewan Dakwah Indonesia, Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah, serta Pimpinan Wilayah Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Melalui Muswil ini, kata Munir menambahkan, Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan mempertegas komitmennya sebagai bagian dari energi sosial bangsa dengan memperkuat peran dakwah, pendidikan, dan kontribusi sosial.

MUI sebagai Wadah Pemersatu Umat dan Pelayan dalam Menuntun Moral Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A., menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengangkat tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Umat”.

Kehadirannya di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025), itu menandai dukungan terhadap agenda strategis MUI dalam memperkuat posisi ulama di tengah dinamika sosial dan kebangsaan.

Di sela kegiatan pembukaan, Nashirul Haq menyampaikan harapannya agar MUI senantiasa menjadi ruang yang memperkuat solidaritas dan kohesi umat. Ia menilai bahwa tugas besar MUI tidak hanya terletak pada aspek keagamaan, tetapi juga dalam menjaga keutuhan umat di tengah beragam tantangan.

Ia kemudian menguraikan pentingnya MUI sebagai sarana kolaborasi berbagai unsur organisasi dan lembaga Islam. Menurutnya, kepemimpinan MUI harus dibangun di atas prinsip keterwakilan dan proporsionalitas yang mencerminkan keragaman umat Islam di Indonesia.

“Sebagai wadah kebersamaan para ulama, cendekiawan, dan tokoh umat dari berbagai latar belakang, kepengurusan MUI seyogianya melibatkan seluruh unsur ormas dan lembaga Islam secara proporsional,” ujar Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini.

Lebih lanjut, Nashirul Haq menekankan bahwa peran MUI sebagai khadimul ummah harus tetap menjadi pedoman utama. Ia menggarisbawahi bahwa ulama bukan hanya representasi otoritas keagamaan, tetapi juga pelayan umat yang harus hadir memberikan bimbingan moral dan nasihat kebangsaan.

“Sebagai pelayan umat (khadimul ummah), MUI hendaknya selalu hadir membimbing umat, menjaga akidah dan moral serta aktif menyampaikan nasehat dan pemikiran (taujih) yang bersifat kebangsaan,” ungkapnya.

Selain itu, Nashirul Haq menyampaikan bahwa tantangan umat di era modern semakin beragam. Masyarakat menghadapi persoalan moralitas, disrupsi informasi, gejolak sosial ekonomi, hingga problem ideologis yang memerlukan kehadiran ulama sebagai sumber pencerahan.

Dalam konteks tersebut, Nashirul menambahkan, MUI diharapkan mampu menjadi pusat gravitasi moral yang memberikan arah dan ketegasan.

Perempuan Muslim Dunia Satukan Langkah lewat Global Forum of Muslim Women

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Deklarasi berdirinya Global Forum of Muslim Women (GFMW) dengan Prof. Dr. Nahla Shabry Al-Saidi dari Mesir sebagai Ketua Umum (Ketua Umumn) dan Dr. Nurhayati Ali Assegaf dari Indonesia sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) dalam rangkaian World Peace Forum (WPF) ke-9 yang berlangsung pada 9–11 November 2025 lalu di Jakarta menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai ruang perjumpaan gagasan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Dari ibu kota negara dengan identitas kebangsaan yang berpijak pada Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, inisiatif global yang digerakkan perempuan Muslim ini tumbuh sebagai bagian dari kontribusi Indonesia terhadap tata dunia yang lebih adil dan berkeadaban.

Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Dr. Sabriati Aziz, M.Pd., menekankan bahwa pembentukan GFMW tidak boleh dipahami sebatas simbol atau pernyataan solidaritas di antara perempuan Muslim. Forum ini, menurutnya, dirancang sebagai langkah strategis untuk melahirkan kerja-kerja konkret di bidang kemanusiaan dan perdamaian lintas negara.

“GFMW kami bangun sebagai ruang kerja bersama, bukan hanya pernyataan kebersamaan. Dari forum ini, kami ingin melahirkan program nyata yang menyentuh kemanusiaan dan memperkuat perdamaian global,” ujar Sabriati dalam keterangannya, Jum’at, 30 Jumadil Awal 1447 (21/11/2025).

Sabriati menjelaskan, GFMW diproyeksikan sebagai organisasi independen yang memberi ruang luas bagi perempuan Muslim untuk berperan di bidang pendidikan, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Ia menyebut sinergi lintas negara sebagai kunci.

“Kami berharap terbangun jaringan muslimah dunia yang saling menguatkan, sehingga lahir generasi perempuan yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu mengambil peran strategis dalam peradaban Islam kontemporer,” kata pendiri Komunitas Pencinta Keluarga (Kipik) itu.

GFMW lahir melalui serangkaian pertemuan yang digelar di sela agenda WPF ke-9. Dalam dua kali pertemuan intensif, para peserta merumuskan fondasi kelembagaan forum tersebut.

Sebagai salah satu tokoh deklator, Sabriati menjelaskan, pertemuan pertama forum menghasilkan penetapan ketua dan sekretaris jenderal organisasi internasional muslimah itu. Pertemuan kedua melanjutkan pembahasan struktur organisasi yang dirancang untuk terus disempurnakan seiring perkembangan jejaring dan kebutuhan program.

Sebagai struktur awal, lanjutnya, GFMW dirancang memiliki dewan pimpinan yang mewakili lima benua: Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Susunan ini dimaksudkan untuk menjamin keterwakilan dan keseimbangan perspektif dalam menyusun agenda strategis, sekaligus memastikan bahwa isu-isu perempuan Muslim di berbagai kawasan dunia mendapatkan ruang artikulasi yang proporsional dalam forum.

Di tingkat operasional, sekretariat jenderal GFMW akan diperkuat oleh tim profesional dengan pembagian divisi tematik. Sabriati menyebutkan adanya fokus pada penelitian dan pengembangan, hubungan luar negeri, serta pelatihan internasional.

“Melalui divisi-divisi ini, kami ingin memastikan bahwa setiap program memiliki dasar pengetahuan yang kuat, jejaring yang luas, dan dampak penguatan kapasitas yang terukur bagi perempuan Muslim di berbagai negara,” jelasnya.

Sabriati juga menegaskan harapannya agar GFMW menjadi simpul jejaring global bagi perempuan Muslim yang bergerak di bidang pemberdayaan, advokasi sosial, dan dialog kemanusiaan. Dalam pandangannya, kehadiran forum ini diharapkan memperkuat nilai moderasi, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta kolaborasi lintas negara yang sangat dibutuhkan dunia modern.

“Kami ingin GFMW menjadi wajah Islam yang komunikatif, solutif, dan bersedia bekerja sama dengan berbagai pihak demi kemaslahatan bersama,” ujarnya.

Deklarasi GFMW menjadi penutup rangkaian World Peace Forum ke-9 yang diselenggarakan oleh Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, dan Muhammadiyah.

Forum internasional ini dibuka secara resmi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, dan dihadiri pimpinan tiga lembaga tinggi negara, yakni MPR RI, DPR RI, dan DPD RI, yang menunjukkan dukungan institusional Indonesia terhadap upaya dialog dan kolaborasi global.

Hidayatullah Serukan Penguatan Perlindungan Digital dan Sosial Anak di Hari Anak Sedunia

0
Imron Faizin menyapa anak punk di Jakarta (Foto: Dok. Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Imron Faizin, menyerukan agar momentum peringatan Hari Anak Sedunia setiap 20 November dijadikan refleksi bersama bagi negara, masyarakat, dan seluruh pemangku amanah untuk memperkuat perlindungan anak Indonesia, terutama di era digital yang penuh tantangan.

Imron menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab konstitusional dan moral negara yang tidak dapat ditawar. Ia mengingatkan bahwa ancaman bagi anak tidak lagi hanya di ruang fisik, tetapi juga di ruang maya yang tanpa batas.

“Negara wajib memastikan setiap anak aman dan terlindungi, termasuk di ruang digital yang kini menjadi fenomena krusial di tengah meluasnya praktik perundungan atau bullying daring,” ujar Imron di Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025).

Menurutnya, perlindungan anak di era digital harus mencakup dua aspek utama, yakni, keamanan psikologis dan literasi digital. Anak-anak perlu mendapat bimbingan dan kontrol yang proporsional agar dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai moral dan jati diri.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi atau pengawasan formal. Butuh sistem nilai dan lingkungan sosial yang menumbuhkan empati, adab, dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi,” terangnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan negara dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga kehadiran elemen sosial seperti Hidayatullah menjadi bagian penting dari upaya kolaboratif.

“Negara tentu tidak mampu menjangkau semua. Maka kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan sosial menjadi penting dalam mendukung pemerintah, meski dengan segala keterbatasan yang ada,” tegasnya.

Imron menjelaskan bahwa melalui jaringan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang tersebar di berbagai daerah, Hidayatullah terus berupaya hadir memberikan pengasuhan, perlindungan, pengembangan, dan pemulihan bagi anak-anak yang membutuhkan. Jaringan LKSA Hidayatullah selama ini berfokus pada pelayanan bagi anak yatim, piatu, terlantar, dan dari keluarga rentan dengan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas.

Dalam pandangan Imron, pelayanan sosial kepada anak tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar semata. “Anak-anak harus tumbuh dengan perasaan aman, dicintai, dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi dirinya. Itulah makna perlindungan yang sejati,” tuturnya.

Ia menambahkan, pendidikan nilai melalui pengasuhan dan keteladanan menjadi faktor penentu dalam membangun generasi yang tangguh dan berakhlak.

Imron menekankan bahwa perlindungan anak bukan hanya aspek sosial melainkan juga investasi peradaban. Sehingga, dia menegaskan, kerangka “child-centered social development” yang menempatkan anak sebagai subjek pembangunan hendaknya menjadi perspektif baru dalam pembangunan manusia Indonesia masa depan.

“Ketika anak tumbuh di lingkungan aman, baik secara fisik, sosial, maupun digital, maka masyarakat memperoleh fondasi yang kuat untuk melahirkan generasi cerdas, empatik, dan produktif,” katanya.

Selain itu, Imron memandang isu perlindungan anak di ruang digital semakin relevan dengan meningkatnya prevalensi kekerasan daring dan penyalahgunaan data anak. Apalagi berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus cyberbullying meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.

Fenomena ini menegaskan bahwa anak-anak perlu mendapatkan perlindungan hukum dan sosial yang menyeluruh, sekaligus dukungan dari lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan dalam membangun literasi digital yang beradab.

Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Imron Faizin (Foto: Billy/ Dok. Hidayatullah.or.id)

Imron juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan keluarga untuk menciptakan sistem perlindungan anak yang holistik.

“Perlindungan anak tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Pemerintah, masyarakat, dan keluarga harus bergerak bersama karena anak adalah masa depan bangsa. Melindungi anak berarti melindungi peradaban kita sendiri,” katanya.

Sebagai bagian dari gerakan dakwah sosial, Imron menjelaskan, Hidayatullah terus memperkuat peran pembinaan di tingkat akar rumput melalui program sosial dan pendidikan berbasis Al Qur’an yang menanamkan nilai Tauhid, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak, di mana pun dia berada, memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang dengan bahagia, aman, dan bermartabat,” pungkas Imron.