Beranda blog Halaman 79

Sekolah Dai Hidayatullah Bogor Gelar Wisuda dan Penugasan Angkatan ke-10

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor, menggelar acara wisuda dan penugasan lulusan angkatan ke-10 yang digelar dalam suasana khidmat di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Selasa, 5 Muharram 1447 (1/7/2025).

Kepala Sekolah Dai Ciomas Bogor, Ust. Saepudin Abdullah, Lc., menegaskan bahwa wisuda dan penugasan ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan lahirnya kembali 20 kader dakwah muda yang telah memilih hidup bukan untuk dunia, tetapi untuk agama Islam.

“Hari ini kita tidak sekadar menyaksikan wisuda dan penugasan dai. Hari ini kita menyaksikan lahirnya kembali 20 kader dai muda, yang telah mengikhlaskan hidupnya bukan untuk harta, bukan untuk dunia, tetapi untuk agama Islam yang kita cinta,” ujar Saepudin.

Para wisudawan datang dari berbagai pelosok Indonesia, dari Batam hingga Bintan, dari Kalimantan hingga Papua Barat, dari sudut NTB hingga Bengkulu.

“Mereka datang ke Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas bukan karena dipaksa, tapi karena Allah telah menanamkan rasa cinta pada dakwah ke dalam hati mereka,” katanya.

Selama satu tahun pendidikan, para dai muda ini menempuh jalan sunyi yang jauh dari kenyamanan. Saepudin menggambarkan perjuangan mereka.

“Satu tahun ini mereka jalani bukan dengan duduk nyaman di ruang ber-AC, tapi dengan air mata dalam tahajud, keringat dalam muraja’ah, dan ketekunan dalam keterbatasan. Mereka bangun sebelum fajar, menyambut malam dengan Qur’an di tangan,” katanya.

Pembelajaran yang mereka tempuh tidak hanya mencakup ilmu-ilmu agama seperti fiqih, hadits, dan dakwah, namun juga hafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab dari nol.

“Mereka belajar bukan sekadar agar tahu, tetapi agar bisa mengajak manusia kembali kepada Rabb-nya. Mereka tidak mengejar ijazah, tapi ridha Allah dan keberkahan ilmu,” kata Saepudin menegaskan.

Langkah mereka mungkin tak disorot media, namun misi mereka jelas yakni membawa cahaya ke tempat yang gelap, membangunkan hati yang tertidur, dan menegakkan kembali nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

“Dunia mungkin belum mengenal nama mereka. Namun insyaAllah, mereka dikenal oleh malaikat-malaikat yang mencatat amal para penyeru kebaikan,” ucap Saepudin.

Puncak sambutan Saepudin ditutup dengan ungkapan syukur kepada para mitra, donatur, dan muhsinin yang memungkinkan pendidikan di Sekolah Dai tetap gratis bagi para mahasiswa.

“Karena Anda, mereka bisa belajar tanpa dibebani biaya apapun. Karena Anda, Sekolah Dai ini bisa terus berjalan mencetak kader dai,” ungkapnya.

Iktisamu Qadlawi Prayitno, salah satu wisudawan, mengaku kaget saat mendengar pembacaan SK dimana ia ditugaskan ke Papua.

Namun, pria berdarah Flores-Jawa ini mengaku siap tugas di mana saja. “Mau susah mau senang, harus selalu siap. Karena ada Allah yang jaga,” katanya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Pertimbangan Ust. H. Hamim Thohari, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA beserta jajaran, Ketua Dewan Mudzakarah Ust. Muhammad Fathul Adhim, dan Ketua PosDai Abdul Muin.

Perwakilan mitra juga tampak hadir, seperti Supendi (Laznas BMH), Eddy Yusuf (Bamuis BNI), Sugeng Prayitno (Majelis Telkomsel Taqwa), Juni Hadi (ZIS Indosat), dan Ni Masjitoh Tri Siswandewi (Yayasan Mazarina Hidanati).*/

Menyulam AI dalam Pendidikan, Jaringan Sekolah Integral Hidayatullah Mantapkan Transformasi Digital

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan menjadi fokus utama pelatihan daring yang digelar jaringan Sekolah Integral Hidayatullah se-Indonesia pada Sabtu, 3 Muharam 1447 (28/6/2025).

Kegiatan ini diikuti 70 guru dari berbagai daerah dan menghadirkan tiga narasumber kompeten. Tujuan pelatihan ini untuk membekali para pendidik dengan kemampuan memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan mutu pembelajaran di era digital.

Pelatihan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB itu bertajuk “Integrasi Artificial Intelligent dalam Pendidikan”, dan merupakan bagian dari rangkaian Semarak Musyawarah Nasional Hidayatullah menuju Munas Oktober 2025.

CEO Hidayatullah Institute, Muzakkir, Ph.D., membuka sesi dengan penekanan pada peran AI sebagai alat bantu kreatif guru.

“AI dapat membantu guru memangkas waktu beban administrasi yang selama ini sering menjadi momok,” ungkapnya.

Muzakkir menjelaskan bahwa AI memungkinkan guru lebih fokus pada esensi pengajaran dan pengembangan karakter siswa.

Muzakkir memperkenalkan konsep AI TPACK (Artificial Intelligent Technological Pedagogical Content Knowledge) sebagai evolusi dari pedagogi tradisional.

Dengan pendekatan konsep ini, guru diharapkan tidak hanya memahami pedagogy dan andragogy, tetapi juga melangkah menuju heutagogy dan cybergogy.

Meski begitu, Muzakkir menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan posisi guru sebagai pusat pembelajaran.

“Peran guru sebagai penanam nilai-nilai tauhid tidak akan tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” tegasnya.

Sesi kedua diisi oleh Coach Ahmad Dzulfikar, pakar Transformasi Digital dari Google for Education.

Ia memperkenalkan Google Workspace for Education sebagai platform gratis yang menawarkan penyimpanan hingga 200 TB untuk mendukung proses belajar mengajar.

“Google berkomitmen memajukan pendidikan melalui teknologi,” jelas Coach Dzul.

Ia juga mendemonstrasikan secara langsung penggunaan perangkat AI seperti Gemini, NotebookLM, dan Google VEO 3.

Peserta pelatihan diberi kesempatan untuk merasakan manfaat praktis dari teknologi tersebut, dari pemrosesan materi hingga produksi konten edukatif.

Pada sesi ketiga, Galih Taufik Nuzuly, Program Manager dari Eudeka, menekankan pentingnya roadmap dalam digitalisasi sekolah.

Menurut Galih, ada tiga komponen utama yang perlu dipersiapkan yaitu hardware, software, dan brainware.

“Guru sebagai brainware harus menjadi subjek dalam perubahan ini, bukan objek,” ujarnya.

Galih menyatakan kesiapan Eudeka untuk mendampingi sekolah-sekolah Hidayatullah dalam proses transformasi digital yang terencana dan tepat sasaran.

Ketua panitia pelatihan, Darwiwin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tema besar Munas Hidayatullah 2025, yakni “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045.”

Menurutnya, kolaborasi dengan Google dan Eudeka adalah bentuk konkret sinergi tersebut. “Kami bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kualitas pendidikan,” jelas Darwiwin.

Darwiwing pun mengapresiasi antusisme peserta dalam mengikuti rangkaian pelatihan ini yang menurutnya mencerminkan kesiapan para guru di lingkungan Hidayatullah dalam menyambut perubahan.

“Pelatihan ini menjadi titik tolak untuk pemanfaatan AI yang lebih sistematis dan substansial dalam proses pendidikan nasional,” pungkasnya.

Sakonas Pramuka Hidayatullah Akan Gelar Perkemahan Nasional ISCH III

0
Peserta Jambore Wilayah (Jamwil) Pramuka Hidayatullah Jatim ke-3 mengikuti kegiatan jelajah alam di lokasi bumi perkemahan Coban Rondo, Kota Batu, Rabu, 5 Oktober 2022 (Foto: Ahmad Fazeri/ Hidayatullah.or.id)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Satuan Komunitas Tingkat Nasional Pramuka Hidayatullah (Pinsakonas) akan menggelar Perkemahan Nasional Pramuka Islam III Hidayatullah/ The 3rd National Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH III) di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan Timur, Kalimantan Timur.

Kegiatan nasional ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, Kamis–Ahad, 27–30 Shafar 1447 H (21–24 Agustus 2025), bertepatan dengan momentum HUT ke-80 Kemerdekaan RI dan menjelang Musyawarah Nasional VI Hidayatullah di Jakarta, Oktober 2025.

ISCH III mengusung tema besar: “Sakonas Pramuka Hidayatullah Siap Melahirkan Kader-kader Pemimpin Berkualitas untuk Indonesia Emas 2045.”

Sebagai ketua panitia, Pinsakonas Pramuka Hidayatullah menunjuk Kak H. Abdul Malik Najamuddin. Ia akan didampingi oleh Kak Sukman sebagai Sekretaris dan Kak Hamimal Mustofa Rizki sebagai Bendahara.

Target 4.000 Peserta

Dalam pertemuan perdana panitia, H. Abdul Malik menyampaikan bahwa kegiatan ini menargetkan partisipasi dari seluruh Indonesia.

“Targetnya 4.000 orang (dari seluruh Indonesia),” ujarnya.

Ketua Pinsakonas Pramuka Hidayatullah, Kak Syarif Dion Al-Fatih menambahkan bahwa ISCH III akan diikuti oleh santri dari berbagai jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Dia menjelaskn, ISCH III tak sekadar perkemahan. Ia merupakan bagian dari pembinaan strategis untuk mencetak pemimpin masa depan yang berakhlak, berwawasan, dan siap membangun peradaban.

“(Pesertanya) kader-kader muda Hidayatullah dari jenjang (Madrasah) Ibtidaiyah, Tsanawiyah, (hingga) Aliyah untuk hadir di sini (Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak),” ungkapnya dalam kegiatan sosialisasi di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Ahad (22/6/2025).

Struktur dan Rincian Peserta

Sekretaris panitia ISCH III, Kak Sukman, merinci bahwa peserta terdiri dari anggota Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah golongan Penggalang dan Penegak.

“Setiap daerah berhak mengirimkan peserta yang dikelompokkan menjadi 1 Regu putra dan 1 Regu putri yang masing-masing regu beranggotakan 10 anggota Sako Hidayatullah,” jelasnya dalam rilis kepada Media Center @Ummulqurahidayatullah, Selasa (24/6/2025).

Ia menegaskan bahwa peserta ISCH III merupakan kader pilihan dari cabang, daerah, dan wilayah.

“Mereka dipandang sebagai kader yang sangat berharga dan berpotensi untuk membina diri, membekali diri serta selalu memotivasi diri agar menunjukkan perannya dalam mempersiapkan diri untuk menegakkan Islam dan pembangunan bangsa dan negara,” tambahnya.

Persiapan Tuan Rumah

Sebagai tuan rumah, pengurus Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak telah menyatakan kesiapannya. Struktur panitia pun sebagian besar berasal dari internal kampus tersebut.

“Siap menjadi tuan rumah?” seru Kak Dion saat menyapa jamaah Masjid Ar-Riyadh.
“Siap!” jawab hadirin dengan semangat, menandai antusiasme mereka terhadap kegiatan besar ini.

Kolaborasi untuk Generasi Qurani, Pesan Wali Kota Ternate Saat Wisuda Tahfidz Hidayatullah

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si, menghadiri sekaligus mewisuda para hafiz dan hafidzah Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Hidayatullah Ternate dan Tidore Kepulauan dalam acara yang digelar di Masjid Raya Al-Munawwar, Ahad, 4 Muharam 1447 (29/6/2025).

Wisuda ini melibatkan lulusan hafalan 30, 20, dan 10 juz Al-Qur’an, menandai kesinambungan upaya mencetak generasi Qurani di Maluku Utara.

Acara ini turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, S.Ag, M.Pd.I, Forkopimda Maluku Utara, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta orang tua para wisudawan.

Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan bahwa wisuda Tahfidzul Qur’an telah menjadi tradisi tahunan, dengan pelaksanaan di berbagai tempat seperti pondok pesantren, ruang terbuka, dan Dhuafa Center. Namun, tahun ini acara dilangsungkan secara khusus di Masjid Raya Al-Munawwar.

“Hampir setiap tahun Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Hidayatullah meluluskan para Hafiz dan Hafidzah, baik itu 30 Juz, 20 Juz, dan 10 Juz. Ini adalah sumber daya Qurani yang patut diapresiasi, khususnya kepada para orang tua yang tetap membimbing anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur’an,” ujar Wali Kota Tauhid.

Ia juga menggarisbawahi komitmen Pemerintah Kota Ternate terhadap pendidikan Al-Qur’an sejak dini.

Sekitar seminggu sebelumnya, Pemkot telah menggelar wisuda Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), yang merupakan program berkelanjutan sejak masa kepemimpinan Almarhum H. Burhan Abdurahman. Ijazah BTQ bahkan telah dijadikan syarat wajib masuk SMP di Kota Ternate.

“BTQ ini sudah berlangsung cukup lama. Anak-anak yang akan masuk ke jenjang SMP wajib memiliki ijazah BTQ sebagai dasar literasi Qurani mereka,” jelasnya.

Lebih jauh, Wali Kota menyoroti keterlibatan Kota Ternate dalam kegiatan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Hadits (STQH), baik tingkat nasional maupun internasional. Keikutsertaan itu menegaskan kontribusi Ternate dalam melahirkan talenta unggul di bidang keislaman.

Pemerintah Kota Ternate juga mengajak Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Hidayatullah untuk menjalin kolaborasi dalam mendukung agenda pembangunan daerah, terutama pada aspek pembinaan generasi muda.

“Dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), kami telah memasukkan program pembinaan generasi muda Qurani. Ke depan, kemampuan dasar BTQ harus menjadi fondasi kehidupan anak-anak kita, sebagai filter dari dampak negatif zaman,” ungkap Wali Kota.

Sebagai penutup, Wali Kota menyampaikan apresiasi dan doa bagi para wisudawan.

“Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati. Semoga mereka terus menjadi penjaga dan penghidup Al-Qur’an. Insya Allah, bumi Maluku Utara, khususnya Kota Ternate, akan menjadi basis pembumian nilai-nilai Al-Qur’an,” tutupnya.

Bupati Apresiasi Hidayatullah Pelopori Pengembangan Tompobulu

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Bupati Maros, Dr. Chaidir Syam, meresmikan Masjid Hilal Burhanuddin, dua ruang kelas baru, serta wahana edukatif fly fox di kawasan Wadi Barakah, Pondok Pesantren Ummul Qura Hidayatullah, Tompobulu.

Peresmian tersebut berlangsung selama dua hari dalam rangkaian acara Muharram Fest 1446 H sekaligus menggaungkan semarak pesan pesan kebaikan menyambut Munas VI Hidayatullah, Kamis–Jumat, 1-2 Muharam 1447 (26–27/6/2025).

“Saya berterima kasih dan apresiasi kepada Hidayatullah karena telah mempelopori dan merintis pengembangan Tompobulu,” ujar Chaidir di hadapan para tokoh dan undangan.

Acara turut dihadiri oleh Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Al Bayan, Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si.

Hadir pula jajaran pimpinan seperti Ust. H. Abdul Majid, M.A., dan Ust. Ahkam Sumadiana, M.A., serta Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah, Ust. Suwito Fatah, M.M., bersama sejumlah pejabat pemerintah daerah.

Chaidir Syam menegaskan bahwa Hidayatullah adalah elemen pertama yang hadir dan berkontribusi besar dalam memajukan Tompobulu.

“Hidayatullah paling dahulu mengembangkan pendidikan melalui pesantren dan kini mendukung kebijakan Pemda yang menetapkan Tompobulu sebagai kawasan wisata dengan pengembangan kawasan agrowisata spiritualnya, Wadi Barakah,” katanya.

Bupati dua periode ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga dakwah-pendidikan.

Bupati memastikan program-program Hidayatullah melalui Wadi Barakah dan pesantren di Pucak akan terus berkembang, khususnya dengan dukungan pembangunan infrastruktur oleh Pemprov Sulsel dan Pemda Maros.

“Gubernur mengalokasikan Rp 20 miliar untuk mengaktifkan kembali Kebun Raya Pucak dan kami di Pemda Maros akan lanjutkan pembangunan jalan dengan anggaran Rp 20 miliar,” ungkapnya.

Rencana pembangunan jalan tersebut akan menghubungkan langsung Tompobulu dengan kawasan wisata Malino, Kabupaten Gowa.

“Tahun depan kita targetkan tembus Malino sehingga melalui Tompobulu cukup satu jam saja (selama ini Makassar–Malino butuh 3 jam perjalanan),” tegas Chaidir.

Bupati juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung sektor pendidikan dan wisata berbasis nilai.

“Jika dua unit kelas yang telah dibangun (bantuan Pemda Maros) belum cukup, kami tunggu surat (permohonan) untuk tambahan kelas lagi kalau begitu,” tambahnya.

Dukungan pemerintah sebelumnya juga telah diwujudkan melalui pembangunan tanggul bronjong dan penataan sungai di kawasan Wadi Barakah, difasilitasi Dinas Pekerjaan Umum saat dipimpin Wakil Bupati Maros saat ini.

Direktur Wadi Barakah, Muaz Yahya, menegaskan bahwa seluruh pengembangan program Wadi Barakah dirancang untuk sejalan dengan kebijakan daerah.

“Terima kasih atas dukungan semua pihak. Wadi Barakah bukan tempat wisata umumnya tapi menekankan tarbiyah dan dakwah dalam program-programnya,” ujarnya.

Dengan sinergi antara lembaga keagamaan dan pemerintah daerah, dia berharap Tompobulu kian meneguhkan identitasnya sebagai kawasan unggulan pendidikan, dakwah, dan agrowisata spiritual berbasis komunitas.

Longmarch Muharram 1447 Hidayatullah Gaungkan Semangat Hijriyah dan Kesadaran Lingkungan

Foto kolase aksi Longmarch Muharram 1447, Sabtu, 2 Muharram (28/6/2025) dari Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak ke Ma’had Tahfidzul Qur’an Ahlus Shuffah Gunung Binjai, Balikpapan [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam semarak Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak kembali memulai langkah awal tahun dengan aksi Longmarch Muharram.

Digelar pada Sabtu pagi, 2 Muharram 1447 (28/6/2025), kegiatan ini menyatukan ratusan santri, kader, guru, hingga tokoh masyarakat dalam sebuah perjalanan reflektif yang dimulai pukul 06.20 WITA dan berakhir menjelang zuhur.

Bukan sekadar barisan kaki yang melintasi perbukitan dan jalanan dari Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak ke Markaz Tahfidzhul Quran Ahlus Shuffah Gunung Binjai, Longmarch Muharram kali ini membawa tema besar: “Meneguhkan Iman, Menyatukan Ukhuwah, Menyempurnakan Sehat Jiwa dan Raga”, yang menyiratkan integrasi antara nilai-nilai spiritualitas, solidaritas sosial, dan kesadaran ekologis.

Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Abul A’la Maududi, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah kampanye hidup sehat sekaligus ajakan membangun kesadaran lingkungan.

“Selain melatih fisik, Longmarch Muharram ini juga sebuah langkah langkah reflektif bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan kita punya tanggung jawab menjaga harmoni dengannya,” ujarnya.

Gema Semarak Munas VI Hidayatullah

Sebagaimana dilaporkan laman resmi Ummul Qura Hidayatullah, suasana kegiatan sangat meriah dan semarak.

Sejumlah peserta bahkan berasal dari masyarakat sekitar dan para alumni, termasuk tokoh senior Pak Umar Guli berusia 80 tahun, yang turut berjalan kaki menelusuri sepanjang 5,7 kilo meter rute longmarch bersama generasi muda.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Gema Semarak Munas VI Hidayatullah, menandai kontribusi pesantren dalam membangun peradaban Islam berbasis kesadaran kolektif.

Dalam kerangka gerakan ini, longmarch menjadi simbol perjalanan hijrah umat—bukan hanya secara spiritual, tetapi juga pergeseran sikap kolektif menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Di tengah krisis ekologis global, kegiatan semacam ini memberi pesan kuat bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil namun konsisten.

Maududi mengatakan, longmarch, yang identik dengan ketekunan, disiplin, dan kebersamaan, adalah refleksi dari prinsip hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan)—salah satu nilai penting yang diserap dari maqashid syariah kontemporer yang kini semakin relevan untuk diarusutamakan.

“Kita ingin anak-anak muda menyadari bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab sosial dan ekologis. Alam semesta bukan pelengkap hidup manusia, melainkan bagian darinya,” kata Maududi dalam keterangannya.

Dalam perspektif ekoteologi Islam, alam adalah tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah. Menjaga alam berarti merawat ciptaan-Nya, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).

Integrasi Kesalehan Ritual dan Kesalehan Ekologis

Lebih jauh, Maududi menerangkan bahwa dengan mengintegrasikan kesalehan ritual dan kesalehan ekologis, Pondok Pesantren Hidayatullah menempatkan dirinya sebagai pelopor pendidikan berwawasan lingkungan.

Longmarch ini, terang dia, bukan hanya parade tahunan, tetapi kampanye praktik hidup sehat dan cinta lingkungan yang dibumikan dalam ritme keseharian.

Dengan semangat hijrah, tegasnyam Longmarch Muharram 1447 dari Gunung Tembak adalah langkah menuju perubahan. Dari sini pesan peradaban dikumandangkan bahwa iman dan alam harus dijaga bersama, karena keduanya adalah amanah yang saling melengkapi dalam perjalanan hidup manusia.

“Momentum ini menjadi titik awal yang kian meneguhkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi benteng keimanan, tapi juga pusat penyemaian kesadaran ekologis. Dimulai dari langkah kaki, hingga ke arah lompatan budaya menjaga bumi,” tandasnya.

Sebagaimana dilaporkan, berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif digelar sepanjang Muharram sebagai bentuk pembinaan keimanan dan pembiasaan nilai-nilai kemasyarakatan yang luhur.*/

Semarak Munas 2025, Hidayatullah Jawa Timur Canangkan Gerakan Ekonomi Hijau

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah yang akan digelar pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur mengadakan pertemuan dengan seluruh Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Jawa Timur.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Sabtu, 2 Muharram 1447 (28/6/2025), dengan salah satu agenda utama yaitu peluncuran Gerakan Ekonomi Hijau.

Gerakan ini mengusung perpaduan antara aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan. Salah satu implementasinya adalah penanaman pohon berbuah di lingkungan kampus, sekolah, hingga rumah warga.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sebatas kegiatan seremonial semata.

“Munas harus disambut dengan semangat dan karya nyata. Gerakan Ekonomi Hijau bisa menjadi kebanggaan karena mengintegrasikan ekonomi dan lingkungan. Jawa Timur dikenal dengan ekonomi yang maju dan lingkungan kampus yang asri, ini harus kita tingkatkan,” ujar Amun dalam sambutannya.

Ketua Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jawa Timur, Zainal Musthofa, menambahkan bahwa seluruh kampus dan sekolah Hidayatullah di Jawa Timur akan dilibatkan secara aktif dalam gerakan ini.

“Setiap kampus harus menanam pohon berbuah di lingkungannya. Selain memperindah kampus, hasilnya juga memiliki nilai ekonomi bagi warga kampus. Santri di program full day school juga kami dorong untuk menanam pohon di rumah masing-masing,” jelasnya.

Gerakan ini juga diperluas ke masyarakat melalui program berbagi bibit pohon berbuah. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pihak, termasuk lingkungan sekitar kampus.

Moh Idris, panitia acara semarak Munas Hidayatullah Jawa Timur, mengungkapkan bahwa gerakan ini menargetkan satu juta warga sebagai penerima manfaat.

“Kami mendorong seluruh pengurus DPD menggerakkan potensi daerahnya. Berbagilah bibit pohon berbuah ke tetangga kampus atau wilayah yang membutuhkan. Santri juga kami ajak berpartisipasi,” ujarnya.

Gerakan Ekonomi Hijau secara resmi diluncurkan oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Program ini akan dijalankan secara masif di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur hingga menjelang pelaksanaan Munas ke-6 Hidayatullah pada Oktober mendatang.*

Tahun Baru 1 Muharram Momentum Teguhkan Kembali Perubahan dan Kebangkitan Umat

0

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Tahun baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah kembali hadir, bukan sekadar penanda kalender, melainkan panggilan nurani untuk merenung, menata arah, dan melangkah ke depan dengan kesadaran baru.

Di tengah derasnya arus zaman dan tantangan global, momen ini menjadi panggilan untuk hijrah.

Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah keadaan—dari kelesuan menuju gerak, dari keterpurukan menuju kebangkitan.

Bergerak, Berubah, Bangkit

Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah adalah titik balik sejarah peradaban Islam. Ia bukan pelarian, melainkan strategi.

Dari Madinah, dakwah Islam bangkit menjadi sistem politik, ekonomi, dan sosial yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Di sanalah lahir pemerintahan yang adil, masyarakat yang inklusif, dan peradaban yang mencerahkan dunia.

Hijrah adalah simbol perubahan terencana. Dan hari ini, umat Islam memerlukan hijrah serupa—bukan melintasi padang pasir, melainkan menembus sekat-sekat yang selama ini membelenggu potensi umat: ketertinggalan ekonomi, ketergantungan teknologi, kelemahan geopolitik, dan ketidakmandirian dalam membangun sistem kehidupan sendiri.

Berubah Dimulai Dari Dalam

Allah telah menetapkan sebuah hukum perubahan yang tegas dan tak berubah oleh waktu:

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubahnya” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ini adalah panggilan untuk tidak bergantung pada faktor eksternal. Perubahan bukan dimulai dari luar, melainkan dari dalam.

Tidak akan ada kemajuan tanpa usaha, tidak ada kebangkitan tanpa pergerakan. Maka 1 Muharram bukan hanya selebrasi, tapi seruan untuk bertindak.

Kita tidak bisa terus berharap peradaban Islam bangkit hanya dengan romantisme sejarah atau doa tanpa aksi. Perubahan menuntut kesadaran kritis dan ikhtiar kolektif.

Maka, marilah kita mulai dari hal yang paling dasar. Memulai dari mengubah pola pikir dari penerima menjadi pemberi, dari budaya konsumtif menjadi budaya produktif, dan merubah orientasi hidup dari individualisme menjadi perjuangan kolektif membangun umat.

Pilar-Pilar Hijrah Strategis

Hijrah Ekonomi

Kita harus keluar dari jerat sistem ekonomi kapitalistik yang menumpulkan keadilan.

Sistem keuangan Islam melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus dikelola secara profesional, akuntabel, dan berdampak luas.

Inilah fondasi ekonomi yang mandiri dan berdaya, bukan hanya secara spiritual, tapi juga struktural.

Hijrah Kepemimpinan

Umat membutuhkan pemimpin yang bukan sekadar shalih secara pribadi, tetapi juga kuat secara manajerial.

Pemimpin yang tak hanya tahu arah, tapi mampu menuntun ke sana. Pemimpin yang membangun umat, bukan memanfaatkannya.

Kepemimpinan seperti inilah yang dapat membawa umat kepada peradaban yang layak diperjuangkan.

Hijrah Sosial

Peradaban Islam bukan nostalgia, tapi visi masa depan. Ia akan hidup kembali jika nilai-nilai dasarnya ditegakkan: keadilan, ilmu, amal, akhlak, dan ukhuwah.

Maka, kita perlu memperkuat institusi pendidikan, media, teknologi, dan budaya yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dari sinilah lahir generasi yang tangguh, cerdas, dan berintegritas.

Tahun Baru, Kesadaran Baru, Langkah Baru

Tahun baru Hijriah ini bukan saatnya berhenti di ucapan “Selamat Tahun Baru 1447 H.” Ini adalah momen untuk memperbarui tekad, menata arah, dan melangkah dengan kesadaran baru.

Jika dahulu Rasulullah ﷺ berhijrah untuk menyelamatkan dan membangun peradaban, maka hari ini kita pun harus berhijrah: dari stagnasi menuju gerak, dari kemunduran menuju kejayaan.

Hijrah bukan hanya soal berpindah lokasi, tetapi soal perubahan makna dan arah hidup. Dan perubahan sejati, seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, dimulai dari dalam diri kita sendiri.

Selamat tahun baru Islam 1447 Hijriah.

Saatnya berhijrah untuk bangkit, membangun, dan menegakkan kembali peradaban Islam yang mulia.[]

*) Drs. Wahyu Rahman, penulis Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Aksi Nyata Cinta Lingkungan di Bitung Semarakkan Pesan Kebaikan Munas VI Hidayatullah

BITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyambut Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Utara menggelar aksi nyata peduli lingkungan dengan membersihkan Pantai Dodik, Kelurahan Wangurer, Kecamatan Girian, Kota Bitung.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at (27/6/2025) yang bertepatan dengan 1 Muharram 1447 Hijriah, mengusung tema “Satu Langkah Kecil untuk Pantai Bersih, Satu Langkah Besar untuk Alam.”

Aksi bersih pantai ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah bentuk kesadaran ekologis yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial.

“Kegiatan bersama hari ini bukan hanya tentang membersihkan pantai, tapi mendidik generasi muda agar mencintai dan menjaga ciptaan Allah,” ujar Samsul Arifin, Ketua DPW Hidayatullah Sulut, dalam sambutannya.

Beragam elemen masyarakat terlibat dalam kegiatan ini, menjadikannya sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor yang menginspirasi.

Hadir dalam kegiatan ini DPW Hidayatullah Sulawesi Utara, Yayasan Al-Muhtadien Hidayatullah Bitung bersama para guru dan santri dari RA Yaa Bunayya, MI, MTs, dan MA Al-Muhtadien Bitung, Kodim 1310 Santiago Bitung, Polres Kota Bitung, Pemerintah Kelurahan Wangurer, dan masyarakat sekitar Pantai Dodik.

Kegiatan ini disambut dengan apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Lurah Wangurer Sitti Mariam Lariha menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan Hidayatullah.

Pihak Kodim 1310 Santiago Bitung bahkan mendorong agar kegiatan semacam ini lebih sering digelar. Apresiasi serupa juga datang dari Polres Kota Bitung, yang melihat kegiatan ini sebagai bentuk sinergi positif antara masyarakat dan aparat.

“Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan,” ujar salah satu perwakilan Kodim yang turut serta dalam kegiatan.

Samsul Arifin menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan sarana pendidikan karakter bagi para santri.

“Kami ingin anak-anak santri memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman. Pantai ini satu-satunya yang bisa dinikmati oleh masyarakat Bitung. Sudah seharusnya dijaga agar tetap bersih dan nyaman,” jelasnya.

Samsul menjelaskan, gerakan ini menjadi semacam simbol—sebuah langkah kecil yang mencerminkan semangat besar untuk perubahan. Dalam konteks menyambut Munas VI Hidayatullah, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meneguhkan pesan-pesan kebaikan dan tanggung jawab sosial umat Islam terhadap lingkungan.

Tidak dapat disangkal bahwa kondisi ekosistem pantai di banyak daerah Indonesia mengalami tekanan akibat sampah plastik, limbah rumah tangga, dan minimnya kesadaran publik.

Oleh karena itu, inisiatif semacam ini menurutnya sangat relevan dan mendesak. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Hadis ini menjadi landasan moral bahwa merawat lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi amanah kolektif seluruh masyarakat.

Dengan melibatkan santri, aparat, dan warga, kegiatan ini telah melampaui batas simbolik dan menjadi bentuk konkret pengabdian untuk negeri. “Hidayatullah ingin menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang terpadu dengan aksi sosial memiliki kekuatan transformatif,” terangnya.

Di tengah banyaknya tantangan lingkungan, kegiatan seperti ini memberi harapan. Bahwa dari sudut-sudut Indonesia, langkah-langkah kecil bisa melahirkan dampak besar. Dan bahwa kepedulian terhadap bumi tidak pernah mengenal usia, jabatan, atau institusi.*/

Semarak Khidmat Peletakan Batu Pertama Pesantren Hidayatullah Gunungkidul

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah semangat Muharram yang penuh berkah, sebuah langkah besar telah dimulai di Tawarsari, Wonosari, Gunungkidul.

Pembangunan Pesantren Hidayatullah resmi dimulai, bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, melainkan membangun fondasi peradaban baru berbasis pendidikan Islam dan dakwah yang kokoh.

Ketua DPW Hidayatullah DIY, Abdullah Munir, menekankan bahwa pembangunan ini merupakan wujud nyata dari ikhtiar kolektif dalam memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan pembinaan masyarakat.

Ia menyampaikan harapan agar proses pembangunan dapat berjalan lancar dan segera memberi manfaat nyata bagi warga sekitar.

“Kebersamaan dan gotong royong adalah kunci utama membangun bangsa, termasuk dalam mewujudkan pondok pesantren ini. Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat,” tutur Munir dalam pernyataannya, Jumat, 1 Muharram 1447 (27/6/2025).

Momentum peletakan batu pertama berlangsung semarak dan tetap khidmat, dihadiri oleh keluarga besar para pewakaf, tokoh masyarakat setempat, pengurus Hidayatullah, dan tamu undangan yang menunjukkan antusiasme tinggi.

Momen ini menjadi simbol awal dari harapan besar yang tertanam kuat di atas tanah Gunungkidul.

Dukungan masyarakat lokal pun mengalir dengan tulus. Ridwan Heri Suryanto, Kepala Dukuh Tawarsari, menyatakan bahwa inisiatif pembangunan pesantren ini disambut hangat oleh warga.

“Kami sangat mendukung kegiatan BMH, termasuk pembangunan pesantren Hidayatullah ini. Harapan kami, kehadirannya dapat bersinergi dengan masyarakat sekitar dalam setiap kegiatan,” ungkapnya.

Suasana penuh harap itu kemudian berlanjut dalam kebersamaan yang hangat. Acara ramah tamah dan makan bersama menjadi gambaran nyata bahwa proyek ini bukan hanya dimiliki oleh segelintir pihak, melainkan oleh seluruh elemen masyarakat yang terlibat.

Misdawi Syarif, Kepala Perwakilan BMH DIY, menegaskan bahwa pembangunan pesantren ini membawa visi besar: melahirkan generasi santri yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga kuat dalam karakter dan mampu berkontribusi untuk masyarakat.

“Harapan kami, pesantren ini menjadi pusat pendidikan Islam yang fokus pada pembentukan karakter, pengembangan ilmu, dan penguatan nilai-nilai agama,” ujarnya.

Pembangunan pesantren bukanlah proyek biasa. Ia adalah investasi jangka panjang untuk kehidupan umat. Dalam konteks sosial, terang dia, pesantren berperan strategis sebagai institusi yang merawat identitas, membentuk akhlak, dan menjadi penjaga moralitas bangsa.

Maka, setiap batu yang ditata dalam pembangunan ini menyimpan nilai yang jauh lebih dalam dari sekadar material.*/