JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menggelar aksi besar-besaran di kawasan Monas-Patung Kuda, Jakarta, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Nakba—15 Mei 1948—sebuah titik awal dari penderitaan panjang bangsa Palestina akibat penjajahan Zionis Israel.
ARI-BP dengan tegas menyatakan bahwa Nakbah, yang berarti “malapetaka”, adalah tragedi sejarah saat ratusan ribu rakyat Palestina dibantai, diusir dari tanah airnya, dan hidup dalam pengungsian hingga kini.
“Nakbah yang terjadi pada tanggal 15 Mei 1948, ketika ratusan ribu rakyat Palestina dibantai oleh kaum Zionis Israel, adalah malapetaka sejarah yang tidak boleh terulang,” tegas pernyataan sikap ARI-BP.
Genosida yang kini berlangsung di Gaza dinilai sebagai penjelmaan modern dari Nakbah yang harus segera dihentikan.
Dalam seruannya, ARI-BP mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tanggal 15 Mei dijadikan peringatan global sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan.
Usulan ini disertai tuntutan konkret agar Majelis Umum PBB menerbitkan resolusi berdasarkan fatwa International Court of Justice (ICJ) dan amar International Criminal Court (ICC) untuk menghukum Israel serta menangkap Perdana Menteri Benyamin Netanyahu sebagai aktor utama kekejaman tersebut.
Aksi ini juga memuat dukungan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina.
“Menghargai pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, serta mendorong tindakan nyata untuk menghentikan kekejaman Zionis Israel yang didukung oleh Amerika Serikat terhadap rakyat Palestina,” tegas pernyataan bersama ARI-BP.
Lebih jauh, ARI-BP mendesak Indonesia untuk menggalang kekuatan diplomasi bersama negara-negara yang menjunjung keadilan dan perdamaian global, guna menghentikan genosida di Gaza.
Amerika Serikat secara khusus disorot sebagai pendukung utama rezim Zionis yang harus segera menghentikan keterlibatannya dalam aksi brutal terhadap rakyat Palestina.
Sebagai strategi tekanan non-militer, ARI-BP menyerukan penguatan gerakan boikot produk Israel dan afiliasinya.
ARI-BP mendorong seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait boikot ekonomi sebagai bentuk perlawanan terhadap pendanaan genosida dan penghancuran Gaza.
Terakhir, ARI-BP menutup aksinya dengan seruan konstitusional yang menegaskan sikap moral bangsa Indonesia yang berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan amanat konstitusi—suatu kewajiban historis dan politik yang tidak boleh diabaikan.
“Kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu melaksanakan amanat Konstitusi UUD 1945 demi mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentuk penjajahan dari muka bumi, termasuk penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina,” tukasnya.[]
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Ma’had Darul Hijrah, Ust. Drs. H. Abdul Rahman, menghadiri Wisuda Akbar ke-XI Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah, Pasuruan, Jawa Timur, pada Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Dalam momen bersejarah itu, sebanyak 229 santri putra-putri merayakan kelulusan mereka sebagai penghafal al-Qur’an, sebuah capaian monumental yang merefleksikan dedikasi tinggi dalam menjaga warisan langit.
Dalam taushiyahnya, Abdul Rahman membuka pidato dengan menekankan makna kehadiran dalam acara tersebut.
“Hadirnya kita dalam Wisuda Akbar ke-11 Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah adalah wujud penghormatan kepada anak-anak kita yang telah berusaha menjaga al-Qur’an dengan membaca dan menghapalnya sebagai wujud kecintaan mereka kepada al-Qur’an,” ujarnya.
Ia mengajak menyadari bahwa anak-anak yang menghafal al-Qur’an sedang mengisi kekosongan besar dalam realitas kehidupan umat Islam. Di tengah krisis identitas dan kegamangan arah hidup, kehadiran generasi Qur’ani, menurut Abdul Rahman, adalah kebutuhan mendesak.
“Hadirnya generasi pecinta al-Qur’an adalah kebutuhan mutlak untuk menghindarkan kita dari perjalanan hidup yang menyimpang, baik secara personal, atau secara kolektif apatah lagi secara kenegaraan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukan sekadar teks kitab suci belaka, tapi fondasi integritas sosial dan arah moral sebuah bangsa.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa institusi seperti Ma’had Darul Hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan pemantik kesadaran.
“Keberadaan Ma’had Tahfizh al-Qur’an seperti Darul Hijrah hanyalah salah satu pemantik untuk kita mau dan berkomitmen untuk hidup di bawah naungan al-Qur’an,” katanya.
Namun demikian, ia mengkritik keras sekaligus menyentil pola relasi umat Islam terhadap al-Qur’an yang masih minim dan bersifat sisa.
“Membacanya kalau ada sisa waktu, mengeluarkan hartanya untuk al-Qur’an jika ada sisanya, maka bagaimana bisa mendapatkan berita gembira dari langit jika al-Qur’an hanya mendapatkan sisa-sisa dari waktu dan harta kita,” ungkapnya, seraya menunjukkan adanya degradasi spiritual dan prioritas hidup umat yang perlu segera dikoreksi.
Ia bahkan memberi peringatan keras yang mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada sikap instrumental terhadap agama, menjadikan wahyu tunduk pada kehendak duniawi, bukan sebaliknya.
“Jika kita memberikan sisa-sisa waktu, tenaga dan harta kepada al-Qur’an, maka dikhawatirkan kita bersikap seperti Yahudi saat mereka memaksa agama yang mengikuti kemauan mereka,” terangnya.
Menggambarkan al-Qur’an sebagai indikator kecerdasan manusia, Abdul Rahman menegaskan kritik terhadap paradigma intelektual modern yang kerap mengabaikan dimensi transendental dalam memaknai kecerdasan.
“Level kecerdasan manusia dapat dinilai dari bagaimana dia memposisikan al-Qur’an. Saat dia yakin secara utuh kepada al-Qur’an, menjadikan al-Qur’an sebagai kurikulum hidupnya, maka itulah tanda kecerdasan manusia,” tukasnya.
Ia pun mengungkapkan alasan fundamental berdirinya Ma’had Darul Hijrah yang memiliki visi menempatkan al-Qur’an bukan sebagai teks suci yang dipajang, melainkan sebagai perangkat hidup, kerangka kerja, dan sumber otoritas moral.
“Salah satu alasan Darul Hijrah ini didirikan adalah untuk melahirkan generasi yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduan (guidance) hidupnya, sehingga saat dia nanti menjadi pemimpin maka dia memimpin dengan al-Qur’an, saat dia menjadi tokoh maka dia menuntun dengan al-Qur’an,” jelasnya.
Mengakhiri taushiyahnya, KH. Abdul Rahman yang juga Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) DPP Hidayatullah, menyampaikan doa yang menggugah harapan agar para wisudawan menjadi pemimpin umat yang diridhai Allah yang menempatkan al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., turut serta dalam Aksi Bela Palestina yang digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Ahad pagi, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025 M).
Aksi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP).
Dalam pernyataannya kepada wartawan, pria yang akrab disapa UNH ini menegaskan pentingnya langkah konkret yang dapat dilakukan oleh rakyat dan bangsa Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, ada empat bentuk dukungan yang dapat dimaksimalkan.
Pertama, melalui diplomasi politik dan kekuatan militer. “Diplomasi bisa dilakukan secara aktif, bahkan termasuk mengirimkan pasukan perdamaian untuk menghentikan genosida yang terjadi di Gaza,” ungkapnya.
Nashirul menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus ditindaklanjuti dengan kerja politik yang serius dan terkoordinasi secara internasional.
Kedua, menghentikan hubungan dagang dengan Israel serta memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan kepentingan Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menurutnya strategi ekonomi-politik sebagai bentuk tekanan terhadap negara penjajah.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab moral bangsa Indonesia yang berdaulat dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tegas UNH.
Ketiga, peningkatan efektivitas bantuan kemanusiaan. UNH menyarankan agar bantuan ke Gaza dikoordinasikan langsung oleh pemerintah, guna memastikan bahwa distribusi berjalan tepat sasaran. Di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur, keakuratan penyaluran bantuan menjadi penentu keberhasilan misi kemanusiaan.
Keempat, peran spiritual melalui doa dan qunut nazilah dalam setiap waktu shalat. Bagi UNH, dimensi spiritual ini merupakan penguatan batin dalam menghadapi realitas ketidakberdayaan struktural yang berlangsung lama.
“Karena kita tidak mampu lagi berbuat apa-apa selama 18 bulan hingga hari ini. Maka doa menjadi senjata terakhir yang kita punya,” tuturnya dengan nada prihatin.
Ia pun menyampaikan panggilan nurani yang mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari solidaritas bangsa Palestina. Oleh karena itu, membela Palestina juga merupakan bagian dari membayar hutang sejarah.
“Semoga kejahatan yang berlangsung hingga hari ini mendekatkan kepada kemenangan dan kemerdekaan. Karena, negara Palestina adalah yang pertama kali memberikan dukungan kepada negara Indonesia. Kita berhutang budi kepada Palestina,” imbuhnya.
UNH menegaskan bahwa aksi seperti ini bukan sekadar seremonial, tetapi memiliki makna strategis dalam membangun kesadaran kolektif dan opini internasional. “Ini adalah instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina,” ujarnya.
Desakan ARI-BP Mengenai Hari Nakba
Aksi tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pemuka lintas agama, seperti Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua Bidang Luar Negeri MUI Prof. Sudarnoto, serta Ketua Komite Pengarah ARI-BP Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin.
Dalam pernyataannya, ARI-BP mengajukan permintaan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menetapkan tanggal 15 Mei—yang dikenal sebagai Hari Nakba—sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan Internasional. Usulan ini dimaksudkan untuk memberi tekanan global terhadap pengakuan atas penderitaan rakyat Palestina sebagai tragedi besar umat manusia.
ARI-BP juga menyampaikan apresiasi terhadap Presiden Prabowo Subianto yang secara konsisten menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Namun demikian, mereka menegaskan bahwa “dukungan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata.”.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Training of Trainer (ToT) PKAUD 2025 dengan tema “Menguatkan Ketahanan Keluarga, Mengokohkan Peradaban Islam”.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Ahad, 18-20 Dzul Qa’dah 1446 H / 16-18 Mei 2025 M, bertempat di Wisma Hidayatullah Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia I No. 4, Jakarta.
Sebanyak 32 orang kader Keluarga Sakinah Hidayatullah dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Sulawesi, turut ambil bagian dalam pelatihan ini.
Mereka adalah para pegiat pendidikan keluarga yang berkomitmen memperkuat ketahanan institusi keluarga sebagai pilar utama dalam pembangunan peradaban Islam.
Menjawab Tantangan Zaman
Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan PAUD DPP Hidayatullah Drs. Endang Abdurrahman menjelaskan pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang tengah dihadapi keluarga Muslim saat ini.
Perubahan zaman yang begitu cepat—melalui derasnya arus globalisasi, maraknya penggunaan gawai dan media sosial, serta banjir informasi yang tak terbendung—menjadi tantangan serius dalam mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah (samara).
“Banyak rumah tangga yang mengalami keretakan, anak-anak kehilangan arah pengasuhan, dan peran orang tua yang melemah. Kondisi ini menjadi ancaman serius terhadap fondasi umat,” kata Endang dalam keterangannya diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Ia bahwa keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk peradaban Islam yang kokoh dan berkelanjutan.
Melalui ToT ini, jelas Endang, para peserta tidak hanya dibekali dengan materi konseptual tentang ketahanan keluarga, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola tantangan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini.
“Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelatih andal yang akan memperluas dampak dakwah dan pendidikan keluarga ke seluruh penjuru Nusantara,” katanya.
Dengan semangat kolaborasi dan ukhuwah, para peserta juga saling berbagi pengalaman dan strategi dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Diskusi-diskusi produktif, simulasi pelatihan, dan refleksi keislaman menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kader dalam kegiatan ini.
Endang menambahkan, ToT PKAUD 2025 ini menjadi bagian dari ikhtiar strategis DPP Hidayatullah untuk membangun masyarakat madani yang berakar kuat dari keluarga-keluarga yang tangguh dan visioner.*/
LOMBOK (Hidayatullah.or.id) — Di sudut tenang Pulau Lombok, pada sebuah pondok pesantren bernama Hidayatullah Mataram, Masjid Abdullah Ihsan memantulkan suara syahdu lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.
Suara itu bukan berasal dari pengeras suara, melainkan dari lisan para santri muda yang menghafal dan mengamalkan kalam Ilahi. Di tempat sederhana ini, generasi penerus bangsa sedang ditempa. Mereka tak hanya cakap dalam ilmu dunia, tetapi juga kuat memegang cahaya wahyu.
Pada hari Jum’at yang penuh berkah, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menunaikan amanah besar yaitu menyalurkan 350 mushaf Al-Qur’an kepada para santri penghafal Al-Qur’an di pesantren tersebut. Sebuah kegiatan yang tampak sederhana, namun sarat makna dan visi peradaban.
Setiap mushaf adalah permulaan mimpi baru, semangat baru, dan berkah yang terus mengalir. Ini adalah bagian dari program nasional BMH, “Tebar Sejuta Al-Qur’an,” sebuah ikhtiar strategis dan spiritual untuk membumikan Al-Qur’an ke seluruh penjuru negeri—termasuk daerah-daerah yang masih minim akses terhadap mushaf berkualitas.
Setiap mushaf yang diserahkan bukan hanya kertas dan tinta. Ini adalah doa-doa yang tersusun rapi dalam bentuk kitab suci, yang akan menyemangati para santri dalam perjalanan mereka menjadi hafidz-hafidzah masa depan.
Kebahagiaan sederhana tetapi tulus tampak dalam ekspresi Baharudin, salah satu santri penerima mushaf.
“Alhamdulillah, terima kasih kami sampaikan kepada BMH yang telah memberikan kami Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an baru ini, kami semakin berkembang dan bersemangat dalam menghafal,” ujarnya sambil tersenyum, seperti dalam keterangan diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).
Bagi para santri, Al-Qur’an adalah lebih dari sekadar buku. Ia adalah sahabat setia dalam kesunyian malam, guru abadi yang membimbing akhlak, dan bekal kehidupan yang melampaui dunia.
Kebaikan ini lahir dari sinergi antara BMH, para donatur, dan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Sebuah kolaborasi yang menghadirkan kembali makna gotong royong dalam bentuk spiritual. Setiap lembar mushaf adalah titipan cinta dari mereka yang percaya bahwa investasi terbaik adalah untuk kehidupan akhirat.
BMH membuktikan bahwa membangun bangsa tak hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tapi juga tentang menjaga warisan ilahiah—Al-Qur’an—agar tetap hidup di dada para pemuda. Lewat gerakan ini, BMH mengokohkan posisinya sebagai institusi dakwah dan pendidikan yang menyatukan iman, ilmu, dan amal.
“Setiap langkah BMH adalah upaya untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan utama bagi masyarakat luas,” ungkap Nurkholis, Kepala BMH NTB.
“Penyaluran Al-Qur’an akan terus kami lakukan, hingga sampai ke pelosok-pelosok yang membutuhkan. Ini adalah bagian dari syiar maksimal Al-Qur’an di bumi pertiwi,” tambahnya.
Program Tebar Sejuta Al-Qur’an tak berhenti di Mataram. Ia terus bergerak, menembus batas geografis dan sosial. Sebuah perjalanan panjang yang menegaskan bahwa gemuruh wahyu tak akan pernah padam, selama masih ada yang rela menghidupkannya dalam dada dan amal nyata.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam pertemuan Silaturahim Ulama Nasional bertema “Mengokohkan Peran Ulama Indonesia Dalam Perjuangan Palestina dan Baitul Maqdis”, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, menyampaikan serangkaian masukan strategis yang mencerminkan urgensi keterlibatan aktif umat Islam Indonesia, khususnya ulama dan pemerintah, dalam membela perjuangan rakyat Palestina.
Pertemuan yang digelar oleh Ikatan Ulama Muslimin Sedunia (IUMS) Indonesia ini berlangsung pada Sabtu, 9 Zulkaidah 1446 (17/5/2025), di Jakarta, dan dihadiri puluhan ulama lintas organisasi serta tokoh dari berbagai provinsi.
Dalam paparannya, Dr. Nashirul Haq menekankan bahwa peran ulama tidak boleh berhenti pada retorika moral semata.
“Peran ulama harus diarahkan untuk menyadarkan dan mengedukasi umat tentang perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Baitul Maqdis” katanya.
Ia menegaskan bahwa penyadaran kolektif umat melalui pendidikan dan dakwah adalah fondasi bagi konsolidasi sikap politik yang lebih kuat terhadap isu Palestina.
Kedua, Nashirul Haq mendorong Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk tidak mengambil posisi pasif. Ia mengusulkan keterlibatan negara dalam tiga ranah yaitu politik (siyasi), militer (‘askari), dan kemanusiaan (insani).
Dalam hal krisis Palestina, Nashirul menegaskan pentingnya langkah konkret di bidang pertahanan, seperti pengiriman pasukan perdamaian. Hal ini selaras dengan amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.
“Indonesia perlu mengirim pasukan perdamaian,” tegasnya.
Tak hanya itu, bantuan kemanusiaan yang selama ini telah dikirim juga dinilai perlu ditingkatkan, dengan pengawalan langsung dari pemerintah agar efektif, terarah, dan memiliki dampak yang nyata di lapangan.
Masukan ketiga yang disampaikan Dr. Nashirul adalah pentingnya gerakan rakyat yang terorganisir dalam bentuk doa bersama dan Aksi Akbar.
Kegiatan ini menurutnya bukan sekadar simbolik, melainkan instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina.
“Aksi besar ini sebaiknya dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo,” ujarnya, memberi penekanan pada pentingnya kehadiran simbolis kepala negara sebagai bentuk dukungan negara secara utuh.
Forum ini juga dihadiri langsung oleh Habib Dr. H. Salim Segaf Al Jufri, M.A., Wakil Presiden International Union for Muslim Scholars (Al-Ittihad Al-‘Alami li ‘Ulama al-Muslimin), yang merupakan organisasi induk dari IUMS Indonesia.
Forum silaturahim ini juga menyerukan langkah-langkah operasional yang menggabungkan kekuatan spiritual, sosial, dan politik serta menekankan posisi Indonesia yang memiliki peluang untuk memainkan peran strategis dalam percaturan diplomatik dan kemanusiaan global.[]
BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat profesionalisme dan legalitas penyembelihan sesuai kaidah syariah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Lembaga Sembelih Halal (PW LSH) Hidayatullah Jawa Timur menyelenggarakan acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) & Pelatihan Manajemen Qurban Sembelih Halal, yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Bojonegoro.
Acara pembukaan kegiatan yang digelar hari ini, Sabtu, 19 Zulkaidah 1446 (17/5/2025) dihadiri oleh unsur Pengurus Wilayah LSH Hidayatullah Jawa Timur, Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I, beserta jajarannya, serta unsur juru sembelih halal dari berbagai DPD Hidayatullah se-Jawa Timur.
Partisipasi aktif dari seluruh pengurus wilayah dan daerah ini menunjukkan keseriusan organisasi dalam menjadikan standar halal sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem perjuangan dakwah dan ekonomi umat.
Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, pakar sembelih halal sekaligus Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Pusat. Ia tidak datang sendiri, tetapi didampingi oleh Muhammad Syarif, yang juga merupakan unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah.
Kehadiran langsung para pengurus pusat LSH Hidayatullah memperkuat pesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan juga konsolidasi visi nasional dalam peneguhan standar halal berbasis syariah dan profesionalisme.
Sejalan dengan itu, H. Nanang Hanani menegaskan, bahwa pelatihan juru sembelih halal menjadi instrumen strategis. Ia tidak hanya menjamin kepatuhan terhadap hukum Islam dalam proses penyembelihan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap produk-produk halal yang berasal dari komunitas Hidayatullah.
“Standar halal bukan sekadar label, tetapi amanah syar’i yang harus dijaga dengan ilmu, akhlak, dan ketelitian teknis,” kata Nanang.
Pengukuhan Pengurus LSH Hidayatullah Wilayah Jawa Timur menandai langkah konkret menuju tata kelola kelembagaan yang lebih terstruktur.
Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I berharap semoga melalui kepengurusan resmi yang baru ini, LSH Hidayatullah Jatim dapat memainkan peran lebih besar dalam membina, mengawasi, dan mengembangkan kapasitas juru sembelih halal yang profesional dan bersertifikasi.
“Langkah ini juga merupakan respon terhadap dinamika regulasi sertifikasi halal nasional, di mana peran pelaku dan lembaga independen seperti LSH menjadi krusial,” kata Amun.
Dalam ekosistem halal nasional, sinergi antara kapasitas SDM dan legitimasi kelembagaan merupakan syarat utama agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pengelola industri halal yang berdaya saing.
Dengan demikian, Amun menambahkan, acara Bimtek dan Pengukuhan ini diharapkan tidak hanya memperkuat struktur organisasi internal, tetapi juga menegaskan posisi Hidayatullah sebagai bagian dari arsitektur besar sistem halal nasional yang berbasis pada akidah, ilmu, dan integritas.*/
TOMOHON (Hidayatullah.or.id) — Di tengah udara sejuk Tomohon Utara, sebanyak 32 santri berkumpul di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jum’at, 18 Dzulqa’dah 1446 (16/5/2025).
Mereka datang dari berbagai penjuru wilayah — Bitung, Minahasa Utara, Tomohon, hingga Bolaang Mongondow — untuk mengikuti Daurah Marhalah Ula (DMU), sebuah program pembinaan mentalitas dan spiritualitas generasi muda.
Program ini bukan sekadar ajang pelatihan, melainkan langkah awal dalam menyiapkan generasi yang tangguh untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutan pembukaan, Ustaz Nuryadin, perwakilan dari Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sulawesi Utara, menegaskan urgensi pembangunan karakter bagi pemuda Indonesia.
“Momen ini adalah langkah awal untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Hidayatullah hadir untuk membentuk karakter santri yang tangguh, berintegritas, dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Kampus Tomohon dipilih bukan tanpa alasan. Bagi jaringan Hidayatullah di wilayah timur Indonesia, tempat ini memiliki nilai historis yang kuat.
“Kampus ini menjadi saksi awal berkembangnya Hidayatullah di wilayah timur Indonesia,” kata Ustaz Murdianto, Ketua Panitia sekaligus perwakilan Departemen Perkaderan DPW Sulut.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya dibekali materi keislaman, tetapi juga dilatih kepemimpinan dan wawasan kebangsaan.
Serangkaian aktivitas fisik dan mental disusun untuk menguatkan karakter para santri, menjadikan mereka sosok yang siap tampil sebagai pemimpin bangsa masa depan.
Pendekatan yang digunakan Hidayatullah dalam program ini mencerminkan visi pendidikan yang integral. Mendidik tidak hanya berarti mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk cara berpikir dan kepribadian.
Dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045, Murdianto menjelaskan, pendekatan ini menjadi relevan dan mendesak. Negara membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
“Dan di sinilah Hidayatullah terus berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi terbaik umat,” tegas Ustaz Murdianto dalam penutupan sambutannya.
Murdianto mengatakan, harapan besar disematkan pada para peserta Marhalah Ula agar mereka menjadi bagian dari generasi emas Indonesia yang membawa perubahan positif di masa depan.
Melalui kegiatan seperti ini, Murdianto menambahkan, Hidayatullah mempertegas peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan karakter.
Di tengah berbagai tantangan zaman, pembinaan semacam ini, menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga arah perjalanan Indonesia menuju visi besarnya di tahun 2045.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA., membuka acara Training of Trainer (TOT) Nasional Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) bertajuk “Menguatkan Ketahanan Keluarga, Mengokohkan Peradaban Islam” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Jum’at (16/5/2025).
Ust. Dr. H. Nashirul Haq memulai sambutannnya dengan menyajikan refleksi Surah An-Nisa Ayat 9 dalam konteks penguatan ketahanan keluarga dan peradaban Islam.
Surah An-Nisa ayat 9 ini, terangnya, memberi peringatan terhadap tanggung jawab lintas generasi. Ayat ini menyerukan pentingnya perhatian pada nasib anak-anak yang ditinggalkan dalam keadaan lemah, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial.
Kata Ustadz Nashirul, Allah menyerukan dua sikap utama sebagai bentuk perlindungan terhadap generasi penerus yaitu taqwa (ketaatan dan kesadaran akan nilai-nilai ilahi) serta qaulan sadiidan (perkataan yang lurus, jujur, dan bernilai konstruktif).
Ayat ini, menurutnya, sarat dimensi sosiologis dan peradaban dimana ini mengimplikasikan bahwa kelangsungan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh ketangguhan anak-anak yang kelak akan mewarisi struktur sosial, budaya, dan politik umat.
“Maka, kelemahan generasi penerus adalah indikator krisis ketahanan keluarga sekaligus kerapuhan peradaban,” tegasnya.
Ia memaknai ayat ini dalam konteks kekinian untuk membaca tantangan serius yang dihadapi institusi keluarga Muslim. Krisis identitas, dekadensi moral, disorientasi pendidikan, serta tekanan sosial ekonomi yang menimpa keluarga-keluarga Muslim kontemporer menghasilkan generasi yang lemah secara integratif.
Selain itu, tantangan yang ada dapat pula menggiring anak-anak juga tumbuh dalam atmosfer yang minim keteladanan, kehilangan arah spiritual, dan teralienasi dari nilai-nilai Qur’ani.
Dia menegaskan, ketahanan keluarga bukan sekadar urusan ekonomi atau fungsi sosial domestik. Ia adalah institusi utama yang mewariskan nilai-nilai Islam, membentuk pola pikir kritis, dan membangun karakter yang kokoh.
“Penguatan ketahanan keluarga tidak bisa dilepaskan dari agenda besar peradaban Islam. Di tengah arus globalisasi dan penetrasi nilai-nilai liberal-sekuler, keluarga harus menjadi benteng pertama dan terakhir pertahanan umat,” imbuhnya.
Oleh karena itu, diperlukan kebijakan publik, kurikulum pendidikan, serta gerakan sosial berbasis komunitas yang mendukung rekonstruksi keluarga Muslim yang tangguh dan berkesadaran historis.
Ia menekankan, membiarkan generasi lemah bukan hanya pengkhianatan terhadap amanah ketuhanan, tetapi juga bentuk kezaliman struktural yang akan melemahkan fondasi umat. Ketika keluarga gagal mencetak generasi kuat, maka yang runtuh bukan hanya institusi mikro, tetapi seluruh sistem peradaban Islam itu sendiri.
Keluarga sebagai Institusi Terkecil Peradaban Islam
Lebih jauh Ustadz Nashirul menekankan bahwa keluarga adalah institusi terkecil dalam struktur peradaban Islam, namun fungsinya sangat besar dan strategis.
Di dalam keluarga Qur’ani, setiap individu Muslim dibimbing untuk berinteraksi erat dengan Al-Qur’an—melalui pembacaan (tilawah), pembelajaran (ta’allum), perenungan (tadabbur), dan penyampaian (tabligh) nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan.
Inilah rumah tangga yang tidak sekadar menjadi tempat tinggal fisik, melainkan madrasah utama pembentuk iman, akhlak, dan kecerdasan spiritual anak-anak umat.
Menurutnya, kisah pengasuhan Syekh Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram, perlu menjadi pelajaran masa kini. Sejak kecil, ibunya mendoakan dengan khusyuk agar anaknya menjadi penghafal Qur’an dan imam besar.
Demikian pula ibu Imam Syafi’i yang memperhatikan dengan cermat makanan dan pendidikan anaknya, mengarahkan dengan penuh keikhlasan agar buah hatinya tumbuh dalam keilmuan dan ketakwaan.
Begitupula Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih, dua ikon kejayaan Islam, dididik oleh keluarga yang menanamkan keyakinan kuat, visi peradaban, serta cinta jihad dan ilmu sejak usia dini.
“Keluarga Muslim juga harus menjadi benteng terhadap perang pemikiran (ghazwul fikr) yang menggerus identitas dan akhlak anak-anak,” katanya.
Ia menyebut anak-anak Gaza memberi teladan dalam ketegaran, kesabaran, dan keberanian. Itu semua bisa tertanam sejak kecil bila dididik dalam lingkungan yang kokoh dan penuh teladan.
Oleh karena itu, ia menambahkan, orang tua harus menyadari bahwa karakter anak tidak cukup diajarkan secara teori, tetapi harus dicontohkan dan dipraktikkan secara nyata dalam keseharian.*/
“(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (hujan) itu Dia menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu sekalian. Oleh karena itu, janganlah kamu sekalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu sekalian mengetahui.”
Ayat ini mengajak manusia merenungi nikmat Allah yang begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita telusuri makna ayat ini melalui tafsir As-Sa’di yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, refleksi, dan poin-poin penting yang terkandung di dalamnya.
Bukti Logis Keesaan Allah
As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini menyampaikan dalil tentang kewajiban menyembah Allah semata. Beliau menjelaskan:
“Setelah itu, Allah menyampaikan dalil tentang kewajiban menyembah-Nya semata. Karena sesungguhnya Dia adalah Tuhan kalian yang telah memelihara kalian dengan berbagai macam nikmat.”
Allah menciptakan manusia dari ketiadaan, sebagaimana Dia menciptakan generasi sebelumnya. Dia melimpahkan nikmat yang tampak, seperti kesehatan dan rezeki, serta nikmat yang tersembunyi, seperti akal dan hidayah.
“Allah menjadikan bumi untuk kalian sebagai alas tempat tinggal kalian di atasnya, sehingga kalian bisa memanfaatkannya untuk membangun rumah, bertani, bercocok tanam, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dan lain-lain dari berbagai bentuk pemanfaatan bumi.”
Bumi diciptakan sebagai hamparan yang stabil, memungkinkan manusia membangun kehidupan.
Selain itu, Allah menjadikan langit sebagai atap yang kokoh. As-Sa’di menerangkan:
“Allah juga menjadikan langit sebagai atap untuk tempat tinggal kalian, lalu Allah menyediakan di dalamnya berbagai macam manfaat yang menjadi hal penting yang kalian butuhkan, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.”
Langit, dalam tafsir ini, merujuk pada segala yang berada di atas manusia, termasuk awan. Allah menurunkan hujan dari awan, sebagaimana ditafsirkan As-Sa’di:
“Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah”, artinya, jangan kalian menjadikan makhluk lain sebagai tandingan bagi Allah.”
Makhluk lain, seperti berhala atau manusia, hanyalah ciptaan yang tidak memiliki kuasa. Mereka tidak bisa mencipta, memberi manfaat, atau mendatangkan bahaya. As-Sa’di menegaskan dalam tafsirnya:
“Dan kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Allah tidak mempunyai sekutu ataupun tandingan.”
Menyekutukan Allah adalah kebodohan besar, karena akal sehat mengakui bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta.
Kesadaran akan Nikmat dan Tauhid
Surah Al Baqarah ayat 22 ini mengajarkan bahwa setiap nikmat—bumi yang kita pijak, langit yang menaungi, hingga hujan yang menumbuhkan makanan—adalah karunia Allah.
Logika dan fitrah manusia seharusnya mendorong kita untuk hanya menyembah-Nya. Bagaimana mungkin kita mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi dalam ibadah justru menyekutukan-Nya?
Ayat ini juga menegur dengan halus namun tegas: jika kita tahu Allah tidak memiliki sekutu dalam mencipta, maka Dia juga tidak boleh disekutukan dalam ibadah.
Poin-Poin Penting Surah Al Baqarah ayat 22
1. Dalil Logis Keesaan Allah
Allah menciptakan bumi, langit, dan hujan yang menghasilkan rezeki. Tidak ada makhluk yang mampu melakukan hal serupa.
2. Larangan Syirik
Menyekutukan Allah adalah kebodohan, karena makhluk tidak memiliki kuasa apa pun.
3. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah
Pengakuan bahwa Allah satu-satunya Pencipta harus mengantar pada pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah.
4. Logika Akal
Ayat ini menggunakan akal sehat untuk membuktikan keesaan Allah dan membantah syirik.
Ayat ini menggabungkan perintah beribadah hanya kepada Allah, larangan menyembah selain-Nya, dan bukti nyata keesaan-Nya. Inilah fondasi tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.
Mari kita renungi nikmat Allah dan ikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.
Jika kita mengakui Allah sebagai satu-satunya Pencipta, maka kita wajib pula mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya kepada-Nya. Inilah dasar tauhid yang menjadi fondasi seluruh ajaran Islam.
*) Ust. Drs. Khoirul Anam,penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan