RAMADHAN selalu membuat hati bergetar. Bulan penuh rahmat, penuh ampunan, penuh kesempatan untuk kembali mendekat kepada Allah. Di bulan ini, hati ditempa. Iman dipoles. Kita diajak belajar lagi menjadi manusia yang sesungguhnya.
Dan, di tengah semua itu, dzikir adalah nafas hati. Tanpa dzikir, hati kering. Dengan dzikir, hati hidup, jiwa tenang, langkah terasa ringan. Allah berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini bukan sekadar bacaan. Ia janji Allah. Siapa pun yang mengingat-Nya akan menemukan ketenangan, meski hidup penuh tantangan.
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, orang yang tidak berdzikir itu seperti jasad berjalan. Ada tubuh, ada gerak, tapi hatinya mati. Sedangkan orang yang berdzikir, ia hidup dengan cahaya.
Ibnul Qayyim menyampaikan dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, di Bab Fadhlu Dzikir:
“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika terpisah dari air?”
Tanpa dzikir, hati kita akan sesak. Dengan dzikir, hati bebas berenang dalam samudera rahmat Allah.
Cahaya Ramadhan
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan doa, bulan dzikir. Rasulullah SAW memperbanyak dzikir di bulan ini, terutama di malam-malamnya. Pada malam Lailatul Qadar, dzikir dan doa menjadi amalan utama.
Dzikir di bulan Ramadhan punya kekuatan ganda, yaitu, menghidupkan hati yang ditempa puasa, menjaga lisan dari ucapan sia-sia, dan membuka pintu rahmat dan rezeki.
Kalimat sederhana seperti Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, ringan di lisan, tapi berat di timbangan amal. Rasulullah SAW bersabda:
“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azhim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dzikir tidak terbatas di masjid. Ia bisa hadir di dapur, di pasar, di jalan, di ruang kerja. Seperti saat seorang ayah duduk di teras selepas Subuh. Bibirnya bergetar pelan: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Anak-anaknya melihat, ada kekaguman pada sosok ayah dan ada ketenangan yang menular.
Demikian pula saat ibu menyiapkan sahur. Tangannya sibuk, lisannya basah dengan istighfar. Doanya mengalir di tengah aroma masakan.
Ketika santri selepas tarawih duduk melingkar bersama teman-temannya. Dzikir malam, tahlil, shalawat, suasana hening, hati sejuk.
Atau, saat seorang pedagang kecil di pasar. Dagangannya sederhana. Sambil menunggu pembeli, ia melafalkan La ilaha illallah. Kalimat pendek berdampak luar biasa, dagangannya semakin berkah.
Dzikir itu nyata. Ia hadir di wajah ayah yang teduh, di tangan ibu yang sibuk, di suara santri yang merdu, di bibir pedagang yang sederhana.
Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumuddin di Kitab Dzikir wa Doa, menulis:
“Dzikir adalah cahaya bagi hati. Dengan dzikir, hati akan bersinar, dan dengan cahaya itu seorang hamba dapat melihat jalan menuju Allah.”
Cahaya dzikir bukan hanya menerangi diri sendiri, tapi juga memancarkan ketenangan bagi orang lain. Orang yang hatinya hidup dengan dzikir akan lebih sabar, lebih lembut, lebih mudah memaafkan.
Ramadhan adalah bulan dzikir. Bulan di mana hati bisa kembali hidup. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa dzikir. Jangan biarkan lisan kering. Basahi dengan kalimat ringan, tapi berat di timbangan amal.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berdzikir. Semoga hati kita hidup, jiwa kita tenang, dan hidup kita penuh keberkahan.[]
*) KH Akhmad Yunus, M.Pd.I.,penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DIY- Jawa Tengah bagaian selatan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen
SEBAGIAN orang mulai memikirkan dampak dari perang Iran yang tengah terjadi, terutama terhadap ekonomi global. Nama Selat Hormuz pun menjadi akrab dalam perbincangan warga. Jika jalur ini terganggu, distribusi minyak dunia ikut tersendat. Mata rantainya jelas: ancaman kenaikan harga BBM.
Tetapi fakta yang sebenarnya terjadi, jauh sebelum perang ini pecah, sudah banyak masyarakat Indonesia bekerja lebih dari 21 jam sehari dengan waktu kerja tujuh hari untuk kerja utama dan kerja tambahan.
Kompas mencatat setidaknya 22.849 pekerja kelas menengah harus menjalani dua pekerjaan sekaligus untuk menjaga kestabilan penghasilan keluarga.
Ada dosen, guru dan ASN yang rela melakukan kerja tambahan demi tambahan income. Satu dari data itu adalah Ayun (45) guru swasta di Jakarta Utara.
Ayun bekerja lebih dari 60 jam dalam sepekan, baik untuk mengajar maupun berjualan makanan. Ia mulai bekerja pada pukul 06.30 – 15.30, kemudian lanjut jualan makanan hingga pukul 22.00. Ini belum data pengangguran yang kita potret.
Artinya, bahkan dalam situasi normal pun banyak masyarakat sudah bekerja sangat keras hanya untuk menjaga dapur tetap menyala. Pada bulan Ramadhan umumnya belanja keluarga akan mengalami peningkatan. Masalahnya pemasukan tidak bertambah.
Dalam realitas seperti ini, pertanyaannya menjadi penting: bagaimana Ramadhan menjawab kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat?
Perkuat Sedekah
Namun secara makro, merujuk pada ajaran Islam, inilah saatnya kaum Muslimin—terutama yang ekonominya tidak terlalu terdampak keadaan—memperkuat semangat peduli kepada sesama melalui sedekah.
Setidak-tidaknya, segerakan untuk membayar zakat fitrah, karena semakin cepat kita lakukan, semakin banyak masyarakat yang terancam kelaparan bisa kita selamatkan. Hal ini karena zakat fitrah merupakan wujud dari konsep redistribusi ekonomi massal.
Di sisi lain, masjid dan lembaga amil zakat perlu turun memotret masalah ini, lalu menghadirkan langkah konkret sebagai tindak lanjut.
Mungkin terlihat sederhana berbagi takjil, bantuan sembako, santunan yatim dan dhuafa, atau bahkan buka puasa bersama. Tapi bagi keluarga yang terbatas secara ekonomi, itu adalah penyelamatan yang urgen.
Sisi lain, program yang kelihatan sederhana itu juga memberi jaminan terjaganya roda ekonomi masyarakat. Pedagang kecil tetap bisa jualan, dapur umum juga bisa berjalan.
Lebih jauh, anak-anak orang miskin tak kehilangan harapan selama Ramadhan. Kalau ini berhasil kita lakukan, maka umat Islam telah melakukan satu kebaikan besar, berupa empati yang menjadi kebijakan sosial tanpa perlu menunggu regulasi negara.
Oleh karena itu Islam mendorong kita untuk menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin. Dalam Ramadhan, siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.
Sebuah seruan bahwa sunnah dalam Ramadhan tak semata aktif ke masjid, tapi juga giat membantu kesulitan masyarakat. Sisi lain, Rasulullah SAW juga sangat ringan dalam sedekah, lebih ringan daripada angin yang berhembus.
Tentu itu riwayat dan keteladanan yang indah, tapi itu adalah sebuah haluan hidup yang umat Islam seharusnya mengambil sikap dan tindakan itu sebagai perilaku hari ini, terutama dalam Ramadhan.
Solidaritas
Dengan data yang semacam itu, maka Ramadhan mendidik kita untuk berekonomi secara benar. Ramadhan mendorong kita untuk memilih sikap dan tindakan nyata menerapkan ekonomi yang berdiri di atas kepedulian, kemanusiaan dan peradaban, bukan ekonomi yang berdiri di atas ego dan animus dominandi—hasrat untuk menguasai.
Oleh karena itu, Ramadhan juga harus bisa kita jadikan momentum menjawab penderitaan kolektif masyarakat. Segera menghitung zakat, bukan semata amal pribadi, karena begitu zakat kita tunaikan dampaknya akan memberi perlindungan dan jaring pengaman bagi ekonomi masyarakat dhuafa.
Jadi, Ramadhan bukan sekadar bulan menata hati, tetapi menjadikan hati sebagai basis kesadaran untuk peduli. Begitu manusia sadar, bergerak dan melakukan kebaikan atas basis hati, maka distribusi ekonomi pun ikut berubah.
Ramadhan mengajak kita berpikir dan memahami bahwa ada kalkulasi Tuhan yang akan bekerja, ketika kita tunduk dan taat kepada-Nya.[]
SERING terdengar pernyataan bahwa Ramadhan itu madrasah, atau lebih tepatnya suatu proses pembelajaran. Outputnya takwa. Outcomenya terjadi peningkatan kualitas diri dan kepekaan sosial.
Proses pembelajarannya bersifat menyeluruh. Tidak hanya ruhiyah, jasadiyah dan aqliyah juga terlibat. Ini selaras dengan output dan outcome-nya.
Proses, output, dan outcome Ramadhan sudah banyak dibahas. Berbagai pihak berkontribusi dalam pembahasannya. Ulama menyusun kitab. Cendekiawan menyusun artikel dan panduan teknis. Sementara para murid melakukan murajaah (mengulang-ulang) dan mudzakarah (diskusi).
Seiring perkembangan ilmu pendidikan yang melengkapi inspirasi Qur’ani, satu topik seputar pembelajaran insan di Ramadhan perlu dibahas: Refleksi diri.
Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 68-82 menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihimassalam. Sebagaimana diketahui, Allah ta’ala memerintahkan Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khidir. Saat keduanya bertemu, Nabi Musa sudah diingatkan Nabi Khidir, “Engkau tidak akan sabar mengikuti dan belajar kepadaku.”
Akan tetapi Nabi Musa bersikukuh. Nabi Khidir pun setuju dengan satu syarat: Tidak ada pertanyaan sebelum penjelasan diberikan.
Maka perjalanan dan pembelajaran berlangsung. Tiga kali Nabi Musa memprotes Nabi Khidir. Di protes pertama dan kedua, Nabi Khidir masih menoleransi. Akan tetapi di protes yang ketiga, Nabi Khidir tegas. Pembelajaran dihentikan.
Nabi Khidir lalu menjelaskan tiga hal yang diprotes Nabi Musa. Nabi Khidir juga menyampaikan keterangan bahwa semua yang dilakukannya atas perintah Allah ta’ala. Akhirnya perpisahan tidak terelakkan.
Penjelasan Nabi Khidir inilah inspirasi, hendaklah setiap insan melakukan refleksi di tiap akhir proses pembelajaran ataupun perjalanan. Tekniknya bisa beraneka macam, sesuai situasi dan kondisi. Syaratnya teknik yang digunakan membuat nyaman serta efektif.
Salah satu teknis yang sedang mendapat banyak perhatian adalah metakognisi. Secara pengertian, metakognisi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir tentang pemikiran diri sendiri yang melibatkan kesadaran, kontrol, dan regulasi atas proses kognitif yang dilakukan.
Dalam praktiknya ada sejumlah pertanyaan yang memandu seseorang untuk memperdalam dirinya, terutama apa saja yang telah dilakukan. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya satu, tapi beberapa poin dan bersifat mendalam. Agar tergali semua hal-hal yang berada di dalam diri.
Di tahap awal semisal di usia kanak-kanak, metakognisi perlu diajarkan. Demikian pula di usia remaja. Adapun di usia dewasa, seseorang dianjurkan untuk melakukan proses metakognisi mandiri.
Sebagai panduan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat dimulai dari mudah lanjut ke sulit dengan basis taksonomi Bloom. Alternatif lain yang lebih mudah adalah 5W+1H. Jika dirasa masih sulit, pertanyaan-pertanyaan bisa didasarkan pada emosi saja. Misalkan, “Apakah saya senang melakukan ini? Apa yang membuat saya senang? Lalu adakah yang membuat saya sedih kaitannya dengan ini?”
Proses metakognisi seputar Ramadhan memiliki waktu emas, yakni saat i’tikaf. Di saat tersebut setiap orang fokus dengan dirinya. Eksplorasi sangat dimungkinkan. Di sisi lain waktu perbaikan masih tersisa. Sebenarnya tidak hanya seputar Ramadhan saja yang bisa dieksplorasi dari dalam diri. Tentang perjalanan hidup satu tahun ke belakang dan ke depan juga bisa dijadikan fokus.
Oleh karena itu i’tikaf dianjurkan kepada setiap muslim. Tua, muda, muslim, dan muslimah diharapkan mengondisikan diri. Bisa sepanjang hari, tapi memungkinkan juga i’tikaf dilakukan malam hari saja. Dalam konteks keluarga, suami dan istri disilakan bermusyawarah agar seluruh anggota keluarga bisa i’tikaf, minimal semalam saja.
Dengan demikian semoga pembelajaran Ramadhan dapat memberikan makna yang selaksa.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Perumusan Profil Lulusan Program Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa, 14 Ramadhan 1447 (3/3/2026).
Ketua Departemen Dikti & Litbang Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., dalam pemaparannya mengatakan FGD dalam rangka melakukan analisis kebutuhan stakeholders serta menetapkan kerangka paradigmatik profil “Zuama” yang akan menjadi distingsi utama lulusan lembaga tersebut.
Penyusunan profil ini, jelasnya, merupakan bagian integral dari implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mensyaratkan kejelasan profil lulusan sebagai hulu dari seluruh aktivitas akademik.
Dalam konteks Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Saddam menekankan, program PUZ diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, memecahkan masalah prosedural, dan bertanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Saddam merumuskan “DNA Zuama”, sebagai sebuah konstruk profil yang menggabungkan kapasitas keilmuan agama yang mendalam dengan kecakapan kepemimpinan strategis. Profil yang disepakati adalah “Sarjana Pemimpin Transformatif Berakhlaq Manhaji”. Konstruk ini diturunkan ke dalam tiga domain kompetensi utama, yaitu Knowledge (pemahaman), Skills (kemampuan), dan Attitude (akhlak).
Dalam domain pengetahuan, calon pemimpin diharapkan menguasai landasan manhaj kepemimpinan imamah jamaah dan syura, serta memahami prinsip wasathiyah (keseimbangan). Aspek kepemimpinan transformasional yang mencakup Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, dan Individualized Consideration menjadi pilar penting dalam membentuk karakter lulusan.
Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si., dalam tanggapannya menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar bakat alami.
“Kepemimpinan itu bisa nurture, bisa dibentuk dan dilahirkan,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa pengalaman interaksi dan penugasan terstruktur adalah kunci utama dalam proses pembentukan tersebut.
Keseimbangan Intelektualitas dan Moralitas
Salah satu tantangan kritis yang mengemuka dalam diskusi adalah menjaga dialektika antara kapasitas keulamaan dan manajerial. Anggota Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., memberikan catatan agar penguatan aspek kepemimpinan tidak mereduksi standar keilmuan diniyah.
“Jangan sampai melemahkan kurikulum ke-ulamaannya,” ujarnya. Ia juga mendorong integrasi konsep kepemimpinan yang profetik dan profesional sebagai pengejawantahan dari misi organisasi.
Selaras dengan hal tersebut, KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar menyoroti pentingnya kecerdasan sosial dan emosional. Aziz menyatakan bahwa produk PUZ idealnya adalah pemimpin yang ulama, yang memiliki pemahaman mendalam tentang jati diri dan spiritualitas.
Poin Aziz ini didukung oleh data tracer study terhadap 66 alumni PUZ, yang menunjukkan bahwa 51,5% responden merasa telah tercapai keseimbangan antara kompetensi keulamaan dan kepemimpinan dalam implementasi di lapangan.
Proses perumusan ini dilakukan melalui sistem inkubasi selama 15 hari untuk memastikan keluaran yang komprehensif, mulai dari struktur 144 SKS, matriks CPL-MK, hingga blueprint assessment kepemimpinan. Tahapan ini akan berlanjut pada penyusunan buku ajar inti kepemimpinan pada Mei-Juni, sosialisasi kurikulum pada Juli, dan implementasi penuh yang dijadwalkan pada Agustus 2026.
Namun, transformasi ini tidak tanpa tantangan. Data menunjukkan bahwa membangun budaya spiritual, keilmuan, dan multibahasa yang konsisten baru dirasakan berhasil oleh 47% alumni. Hal ini menuntut adanya ekosistem pendidikan yang lebih integratif.
Dalam pada itu, Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., Ketua Dewan Murabbi Pusat, menegaskan pentingnya peran asrama dalam pembentukan karakter. “Perlu dibenahi kepengasuhan, bahwa akhlak itu tidak semata terbentuk di kelas tapi di asrama,” ungkapnya.
Ketua Majelis Mudzakarah, Ir Dr (cand) Abu A’la Abdullah, memberikan visi yang lebih luas dengan memproyeksikan PUZ sebagai “Lemhanas” bagi organisasi Hidayatullah, di mana kader dididik dengan budaya profesional dan kepemimpinan yang responsif.
Untuk mencapai hal tersebut, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menekankan perlunya upgrading bagi para pengasuh dan penyediaan fasilitas pendukung seperti perpustakaan yang memadai serta pelibatan narasumber eksternal.
Sebagai penutup, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menekankan bahwa keberhasilan kurikulum ini sangat bergantung pada keberpihakan lembaga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Langkah ini diharapkan dia mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teks keagamaan secara teoretis, tetapi juga mampu memimpin perubahan di tengah realitas sosial yang dinamis.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah,
Ada sebuah rahasia besar yang Allah sembunyikan di balik lipatan waktu Ramadhan. Sebuah rahasia yang sanggup meruntuhkan logika manusia tentang kasta kemuliaan. Hal ini terungkap terkait dua lelaki dari kabilah jauh di perbatasan Irak tepatnya Suku Bulai.
Mereka berdua datang ke Madinah membawa hati untuk bertauhid masuk Islam. Mereka bersahabat karib, sehidup semati, layaknya dua anak manusia yang diikat oleh sumpah setia di bawah langit yang sama.
Hingga suatu hari, genderang perang bertalu. Panggilan jihad memanggil, keduanya maju ke medan laga dengan gagah berani, lalu sahabat yang pertama gugur sebagai syuhada.
Sebuah kematian yang paling dicemburui oleh penduduk bumi dan langit karena dianggap sebagai puncak kasta tertinggi menuju surga firdaus.
Sementara lelaki kedua, ia tetap hidup setahun lamanya, menjalani sisa umur dalam kesunyian, hingga akhirnya wafat di atas pembaringan karena sakit.
Beberapa saat kemudian, Sahabat Thalhah bermimpi berdiri di depan pintu surga. Ia melihat kedua sahabat dari suku Bulai itu di sana. Lalu, sebuah suara berwibawa terdengar dari balik pintu keabadian. Malaikat memanggil lelaki yang meninggal karena sakit untuk masuk terlebih dahulu. Baru setelahnya, lelaki yang mati syahid dipanggil untuk menyusul.
Hadirin yang Dirahmati Allah
Sahabat Thalhah terjaga dari tidurnya dengan dada penuh tanda tanya. “Bagaimana mungkin?” batinnya. “Bukankah derajat syahid adalah puncak kemuliaan? Mengapa ia justru yang belakangan?”
Kisah mimpi itu pun menjalar dari satu lisan ke lisan lain, membawa keheranan yang sama di antara para sahabat. Akhirnya, teka-teki itu bermuara pada Rasulullah SAW. Beliau tersenyum tenang, lalu melontarkan pertanyaan yang membedah logika manusia:
Maka beliau bersabda: “Perkara yang mana yang membuat kalian heran?” mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, laki-laki (yang pertama meninggal) adalah orang yang paling bersemangat dalam berjihad dari yang lain, lalu dia mati syahid. Tapi mengapa orang yang lain (laki-laki yang meninggal belakangan) justru masuk surga terlebih dahulu darinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً
“Bukankah orang ini hidup setahun setelahnya?” mereka menjawab, “Ya.”
“Bukankah ia mendapatkan bulan Ramadan dan berpuasa? Ia juga telah mengerjakan shalat ini dan itu dengan beberapa sujud dalam setahun?” mereka menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bersabda:
“Sungguh, sangat jauh perbedaan antara keduanya (dalam kebajikan) bagaikan antara langit dan bumi.”
Hadirin yang Dirahmati Allah
Seorang syuhada yang mengorbankan nyawa, ternyata bisa “disalip” derajatnya oleh seorang hamba yang menggunakan satu tahun tambahannya dengan mendekap Ramadhan. Ini adalah bukti nyata dari firman Allah SWT tentang kemuliaan Ramadhan yang melampaui hitungan matematika manusia:
لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Ternyata, satu bulan Ramadhan yang dijalani dengan iman dan ihtisaban (mengharap pahala) adalah sebuah “akselerasi ruhani” yang tak tertandingi. Sebagaimana janji Baginda Nabi:
Artinya, “Barangsiapa yang ibadah malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari).
مَنْ فَطَّرَ صائمًا، كان له مِثْلُ أجْرِهِ، غَيْرَ أنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
“Siapa memberi hidangan buka puasa kepada orang yang berpuasa maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.”(HR Ahmad)
Hadirin yang Dirahmati Allah
Allah ingin menunjukkan bahwa karunia umur yang digunakan untuk bersujud, beribadah, beramal sholeh di bulan Ramadhan adalah tiket VIP yang sanggup melampaui kemuliaan mereka yang gugur di medan perang.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, ia adalah ladang di mana satu sujud bisa bernilai lebih berat dari sebilah pedang di medan perang.
Dalam satu tahun tambahan itu, ia tidak hanya sekadar hidup. Ia bukan hanya mengisi hari-harinya dengan sujud yang tulus. Ia menggunakan lisan dan waktunya untuk tilawah Al-Qur’an, bahkan mungkin hingga beberapa kali khatam.
Ia menyisihkan sebagian rezekinya yang tidak seberapa untuk infak, sedekah, dan zakat, yang di bulan Ramadhan nilainya menjadi luar biasa dahsyat. Dzikir dan munajatnya di tengah malam menembus langsung ke ‘Arsy.
Hadirin yang Dirahmati Allah
Hari ini masih diizinkan menghirup aroma tanah di bulan suci, bersujudlah sampai keningmu mati rasa. Karena satu Ramadhan yang kita jalani dengan sungguh-sungguh, sanggup melontarkanmu ke derajat yang bahkan para syuhada pun akan menoleh padamu dengan penuh rasa cemburu.
Satu tahun tambahan umur untuk bertemu Ramadhan adalah sebuah amanah. Bagi mereka yang mengerjakannya dengan penuh kesungguhan, jarak kemuliaannya dengan orang lain bisa terpaut sejauh jarak antara langit dan bumi.
Kalau hari ini kita masih bisa bersujud, masih bisa membaca al-Qur’an meski terbata-bata, masih bisa berbagi meski hanya sedikit, berdzikir, berdoa. ketahuilah: Di hadapan Allah, itu semua bisa membuat posisi kita lebih mulia daripada mereka yang kita anggap hebat, asalkan kita kerjakan dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan istiqomah di bulan suci ini.
Mari kita manfaatkan Ramadhan tahun ini dengan bersungguh-sungguh. Karena setiap sujud, setiap ayat yang dibaca, dzikir yang diwiridkan, doa yang dipanjatkan dan setiap rupiah yang disedekahkan, adalah anak tangga kita menuju kemuliaan yang abadi.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menggelar workshop pendampingan dan penyusunan proposal penelitian serta Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 14 Ramadhan 1447 (4 /3/2026), melalui pertemuan daring dan sesi tatap muka di Ruang Rapat Kampus Marina IAI Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau.
Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. M. Sidik, M.Pd.I., mengatakan program ini digelar dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas akademik dosen dalam menyiapkan proposal penelitian dan kegiatan pengabdian yang terstruktur serta siap diajukan dalam skema penelitian institusional maupun hibah eksternal.
Dr Sidik menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penguatan aktivitas akademik yang berkaitan langsung dengan pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas proposal penelitian dan PkM memiliki hubungan dengan reputasi lembaga pendidikan tinggi yang semakin ditentukan oleh produktivitas karya ilmiah.
“Dampak terhadap reputasi institusi diharapkan dari penulisan proposal penelitian dan PkM serta publikasi ilmiah,” ujar Sidik saat membuka kegiatan workshop tersebut.
Ia menjelaskan bahwa program ini menjadi agenda strategis yang dirancang untuk memperkuat kemampuan dosen dalam menyusun proposal penelitian secara sistematis. Kegiatan tersebut juga diwajibkan bagi seluruh dosen homebase IAI Hidayatullah Batam sebagai bagian dari konsolidasi akademik internal dalam meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi.
Sidik menambahkan bahwa pelaksanaan workshop secara kolektif dengan menghadirkan seluruh dosen dalam satu forum memiliki tujuan untuk memperkuat koordinasi akademik. Ia menjelaskan bahwa proses komunikasi yang berlangsung secara terpisah seringkali menimbulkan kendala ketika membahas persoalan teknis yang membutuhkan penjelasan langsung.
Oleh karena itu, terang Sidik, forum bersama dipandang lebih efektif dalam mempercepat penyelesaian berbagai hambatan yang muncul dalam penyusunan proposal penelitian dan PkM.
Upaya Peningkatan Produktivitas Akademik
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk berdiskusi secara langsung setelah sesi pemaparan materi. Sidik menyebutkan bahwa interaksi tersebut memungkinkan para dosen mengidentifikasi berbagai kendala administratif maupun substansi yang sering muncul dalam proses penyusunan proposal penelitian.
Diskusi tersebut juga berkaitan dengan upaya peningkatan produktivitas akademik dosen serta persiapan dalam pengajuan program penelitian dan pengabdian.
Ia juga menjelaskan bahwa workshop ini tidak lagi diarahkan pada pengenalan konsep dasar penyusunan proposal penelitian. Materi yang disampaikan berfokus pada pembahasan sistematika penyusunan proposal secara lebih mendalam. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk membantu peserta memahami tahapan teknis dalam menyiapkan proposal penelitian dan PkM yang sesuai dengan standar akademik.
Melalui workshop ini, jelas Sidik menambahkan, IAI Hidayatullah Batam berupaya memperkuat kualitas perencanaan penelitian serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh para dosen. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan kapasitas akademik dalam mendukung pengembangan institusi pendidikan tinggi.
Untuk memperkuat materi, panitia menghadirkan Dr. Sawaluddin, M.Pd.I., sebagai narasumber utama. Ia dikenal memiliki pengalaman dalam memperoleh hibah penelitian serta terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang berkaitan dengan pengembangan penelitian.
Dalam pemaparannya, Sawaluddin menjelaskan langkah-langkah sistematis dalam menyusun proposal penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Materi yang disampaikan Sawaluddin menitikberatkan pada struktur penulisan proposal, mulai dari perumusan latar belakang penelitian, penyusunan kerangka konseptual, hingga pengembangan rencana kegiatan dalam program pengabdian kepada masyarakat.
Sawaluddin juga memberikan pemaparan dan contoh kasus untuk membantu peserta memahami unsur-unsur yang diperlukan dalam proposal yang akan diajukan pada berbagai skema penelitian.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dan adaptabilitas lembaga dalam menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah yang diselenggarakan di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026).
KH Naspi Arsyad menggarisbawahi bahwa dakwah tidak boleh terjebak dalam pola-pola konvensional yang statis. Ia merujuk pada pemikiran pakar manajemen mengenai pentingnya kelincahan organisasi dalam merespons perubahan.
“Era sekarang itu adalah era di mana kita harus mampu relevan dengan kondisi. Profesor Rhenald Kasali pernah mengatakan saat di zaman kita sekarang ini perusahaan yang bisa bertahan bukan perusahaan yang besar tapi perusahaan yang bisa beradaptasi dengan perubahan,” tegasnya.
Salah satu poin yang diangkat dia adalah realitas objektif mengenai tingkat pengakuan masyarakat terhadap Hidayatullah. KH Naspi mengakui secara jujur bahwa meskipun secara ritual memiliki kesamaan dengan organisasi massa Islam besar lainnya, identitas spesifik Hidayatullah masih perlu diperkuat di benak publik. Ia mendorong agar setiap departemen di bawah Bidang Pelayanan Umat memiliki misi strategis untuk memperkenalkan lembaga secara lebih masif dan sistematis.
Target yang ingin dicapai adalah menjadikan Hidayatullah sebagai representasi pertama atau top of mind masyarakat saat berbicara mengenai dakwah. Naspi mengenang masa kejayaan di Balikpapan pada era 90-an di mana nama Hidayatullah identik dengan institusi pesantren.
Transformasi itu menurutnya memerlukan keterlibatan seluruh sektor, mulai dari kesehatan, sosial, hingga seni budaya melalui departemen baru (SBO) yang diharapkan mampu melakukan improvisasi kreatif.
Internalisasi Produk dan Kemandirian Ekonomi
KH Naspi Arsyad juga menyoroti pentingnya internalisasi identitas melalui penguatan produk-produk internal lembaga. Ia memandang bahwa kebanggaan kader terhadap institusi harus dibangun melalui kualitas layanan dan produk yang kompetitif secara nasional. Sebagai contoh, beliau mengapresiasi capaian Search and Rescue (SAR) Hidayatullah dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang telah mendapatkan pengakuan luas di tingkat nasional.
Lebih lanjut, ia mendorong penguatan sektor strategis seperti Lembaga Sembelih Halal (LSH) untuk menjawab kebutuhan pasar akan suplai daging halal yang representatif. Dalam perspektifnya, keberhasilan di sektor ekonomi, seperti perkebunan durian Musang King yang dikelola PosDai, bukan sekadar urusan materi, melainkan instrumen untuk meningkatkan profesionalisme dakwah.
“Kalau itu pertaniannya atau kebunnya itu memproduksi dengan nilai yang sangat tinggi, kita juga bisa me-manage Sekolah Dai itu lebih profesional dan lebih meyakinkan,” jelas KH Naspi.
Menuju Visi 2030, Hidayatullah menargetkan diri untuk menjadi lembaga yang mandiri secara ekonomi dan berpengaruh secara sosial-politik. KH Naspi menegaskan bahwa Bidang Pelayanan Umat memegang peranan vital dalam membangun aspek pengaruh tersebut. Hal ini berkaitan dengan rencana strategis lembaga yang akan bersikap lebih terbuka dalam ruang publik, termasuk memberikan ruang bagi kader untuk berkiprah di politik praktis.
Popularitas dan elektabilitas kader di masa depan sangat bergantung pada sejauh mana lembaga dikenal luas saat ini. “Hidayatullah ini akan bermain lebih ofensif, lebih terbuka. Kita akan membuka ruang seluas-luasnya bagi kader Hidayatullah yang mau terjun ke berbagai sektor kehidupan untuk menghadirkan maslahat untuk masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan popularitas institusi yang kuat, para kader diharapkan memiliki modal sosial yang cukup untuk berkontribusi dalam kebijakan pembangunan di berbagai tingkatan.
Mengakhiri arahannya, KH Naspi Arsyad mengajak seluruh peserta Rapat Koordinasi untuk melahirkan program-program kerja yang terstruktur, efektif, dan sistematis.
Beliau juga mendorong regenerasi dai muda yang memiliki kemampuan komunikasi modern, fasih dalam literasi agama, dan mampu menjangkau generasi milenial serta Gen-Z agar pesan dakwah Hidayatullah semakin menjulang di kancah nasional.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc menyampaikan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi bangsa saat ini bukan semata-mata berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, melainkan berkaitan dengan berkurangnya keberkahan yang lahir dari ketakwaan kolektif masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam tausiyah bertema Persiapan Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadhan yang berlangsung di Masjid Al Istiqomah, Kantor Pusat PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Jakarta, pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026).
Naspi Arsyad menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan fase yang memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan ibadah umat Islam. Ia menyebut periode tersebut sebagai momentum penentuan yang menuntut kesungguhan spiritual dari setiap mukmin.
“Sepuluh hari terakhir adalah pertarungan terakhir. Di sinilah totalitas seorang mukmin diuji,” ujar Naspi.
Menurutnya, fase ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT. Ia menilai bahwa sebagian umat masih memahami ibadah puasa sebatas menahan lapar dan haus, padahal tujuan puasa jauh melampaui dimensi fisik tersebut.
Naspi Arsyad menjelaskan bahwa puasa pada hakikatnya merupakan latihan spiritual yang membentuk ketakwaan melalui pengendalian diri serta peningkatan kualitas ibadah. Dalam konteks ini, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan.
Ia menyinggung bahwa masih terdapat individu yang menjalankan ibadah puasa, namun tidak diiringi dengan aktivitas spiritual seperti tadarus Al-Qur’an atau memperdalam pemahaman terhadap kitab suci. Hal tersebut menurutnya menunjukkan bahwa pemaknaan ibadah puasa belum sepenuhnya menyentuh dimensi spiritual yang lebih mendalam.
“Puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi momentum membangun kedekatan dengan Allah,” tegasnya.
Naspi Arsyad juga menguraikan dua dimensi peran manusia selama menjalani ibadah Ramadhan. Ia menyebut dimensi pertama berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba yang bertugas memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dan ketaatan.
Dimensi kedua, menurutnya, berkaitan dengan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab mengelola hubungan sosial dengan sesama makhluk. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara kedua peran tersebut menjadi fondasi terciptanya kehidupan yang penuh keberkahan.
Lebih lanjut, Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah menjelang berakhirnya Ramadhan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan manusia untuk mengevaluasi amal perbuatan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam konteks ibadah Al-Qur’an, ia juga menyampaikan bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai durasi waktu yang diperlukan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Ia merujuk pada penjelasan dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani yang menyatakan bahwa tidak terdapat batasan waktu tertentu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an.
Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah kesungguhan dan kualitas interaksi seseorang dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan.
“Yang terpenting adalah semangat, kesungguhan, dan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an,” ungkapnya.
Naspi Arsyad juga menyampaikan harapan agar Ramadhan tidak dipahami sekadar sebagai tradisi tahunan yang dijalankan secara rutin, melainkan sebagai momentum pembentukan karakter keimanan yang berdampak pada kehidupan sosial.
Ia menegaskan bahwa keberkahan dalam kehidupan masyarakat sangat berkaitan dengan tingkat ketakwaan yang dimiliki secara kolektif. Dalam pandangannya, ketakwaan yang terbangun secara bersama-sama akan melahirkan kehidupan sosial yang lebih harmonis dan penuh keberkahan.
Menutup tausiyahnya, Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah seperti qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, doa, dan istighfar. Ia menyampaikan bahwa periode tersebut merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus meraih derajat ketakwaan yang dijanjikan Allah SWT.
SAYYIDAH Aisyah Radhiyallahu ‘anha, sosok yang paling dekat dengan sumber wahyu, menunjukkan kelasnya sebagai ibu para pendidik yang cerdas. Beliau tidak mau menebak amalan dengan spekulasi, melainkan melakukan thalab (pencarian) ilmu langsung kepada Rasulullah sekaligus suami tercintanya tentang sebuah amalan.
Beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?”
Ini merupakan metodologi talaqqi santri sejati. Siti Aisyah mengajarkan bahwa menghadapi momentum besar memerlukan target yang jelas dan persiapan yang presisi. Tidak sekadar begadang menatap langit, melainkan membekali diri dengan ‘senjata’ doa yang paling disukai Allah SWT.
Jawaban Rasulullah SAW mungkin mematahkan ekspektasi logis manusia yang mengira akan diberikan instruksi ritual yang panjang dan rumit. Alih-alih meresepkan wirid yang harus dibaca ribuan kali, Rasulullah menginstruksikan satu formula komprehensif yang singkat tetapi menembus langit:
“Beliau bersabda: Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku.”
Secara morfologi dalam ilmu Shorof, diksi ‘Afuww berpijak pada sighat mubalaghah yang mengindikasikan intensitas dan kesempurnaan makna yang melampaui batas normal. Akar kata ini bukan sekadar mengandung arti memaafkan, melainkan proses “penghapusan” yang bersifat absolut dan regresif.
Dalam tinjauan linguistik, ia menyerupai angin yang menyapu jejak kaki di atas padang pasir hingga permukaan tanah kembali rata dan murni. Sebuah tindakan teologis Allah tidak hanya menahan sanksi, tetapi melenyapkan eksistensi dosa tersebut dari lembaran memori kosmis dan catatan malaikat Rakib-Atid.
Konsekuensi dari sifat superlatif ini adalah terjadinya restorasi spiritual yang total bagi seorang hamba, seolah-olah noktah hitam kemaksiatannya tidak pernah mewujud dalam sejarah hidupnya. Berbeda dengan Maghfirah yang bermakna “menutupi” dosa namun catatannya tetap ada, ‘Afuww bekerja layaknya proses pemutihan (anulir) yang mencabut akar penyesalan hingga tak bersisa.
Di hadapan Sang Maha Pemaaf, hamba tersebut berdiri dengan kesucian yang utuh, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menghantui, karena ampunan ini telah meruntuhkan seluruh dinding penghalang antara hamba dengan Rahmat-Nya yang tak bertepi.
Struktur doa yang diajarkan Rasulullah kepada Sayyidah Aisyah ini sebagai sebuah “Konstruksi Diplomasi Langit” yang sangat elegan. Doa ini bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah metode pendekatan (wasilah) yang memadukan pengakuan asmaul husna dengan psikologi penghambaan.
Doa ini menggunakan metode tawassul yang paling tinggi, yaitu menyebut nama dan sifat Allah yang relevan dengan hajat. Allah mencintai sifat pemaaf Allah mencintai hamba yang bertaubat. Dengan menyebut “Tuhibbul ‘Afwa”, seolah-olah kita sedang mengetuk pintu kemurahan-Nya melalui “kecintaan” Rabb. Merayu Allah dengan sesuatu yang Allah cintai dari diri-Nya sendiri.
Metodologi doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah etika penghambaan yang sangat presisi. Di saat kebanyakan manusia terjebak dalam pragmatisme spiritual yang datang kepada Sang Pencipta hanya dengan daftar keinginan yang egois dan mendikte.
Rasulullah justru mengajarkan seni doa sebagai diplomasi langit yang berbasis pada adab. Beliau mengarahkan untuk tidak langsung “menodong” dengan permintaan personal, melainkan memulai dengan Tahmid dan pengakuan tulus atas sifat-sifat Allah. Inilah bentuk penundukan ego, seorang hamba menyadari posisi aslinya sebagai peminta yang fakir di hadapan Dzat yang Maha Kaya, sehingga doa tidak lagi terasa seperti transaksi bisnis, melainkan sebuah pengabdian yang utuh.
Metodologi doa ini mengajarkan bahwa inti dari doa bukanlah pada tercapainya hajat duniawi semata, melainkan pada proses pengakuan otoritas Allah di atas segala ambisi manusiawi. Ketika pujian telah mendahului permintaan, maka permintaan tersebut tidak lagi lahir dari nafsu, melainkan dari kesadaran bahwa hanya atas izin dan kemurahan Allah segala sesuatu yang mustahil dapat menjadi nyata.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat fondasi sosial dan ketahanan nasional melalui unit terkecil masyarakat, Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersinergo dengan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyelenggarakan acara daring bertajuk “Kajian Ramadhan Keluarga” pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026). Acara ini menghadirkan pegiat literasi Hidayatullah, Imam Nawawi, yang memberikan bedah mendalam mengenai urgensi mengembalikan keluarga pada basis nilai-nilai teologis dan psikologis yang benar.
Dalam paparannya, Imam Nawawi menyoroti tantangan keluarga modern yang kerap terjebak dalam ego sektoral dan haus kekuasaan (animus dominandi). Ia mencatat bahwa tren perceraian di Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai angka yang memprihatinkan, yakni lebih dari 400.000 kasus, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat. Menurutnya, fenomena ini tidak lepas dari kegagalan individu dalam meletakkan Tuhan sebagai visi utama dalam berumah tangga.
“Seorang keluarga, ayah dan ibu, yang mampu menjadikan Tuhan itu sebagai visi, sebagai orientasi dalam kehidupannya, itu pasti akan memiliki sebuah regulasi emosi yang baik,” ujar Imam Nawawi menekankan pentingnya aspek transendental dalam hubungan suami-istri.
Dia mengkritik kecenderungan masyarakat modern yang terlalu mengadopsi definisi manusia dari pemikir Eropa masa Renaisans yang melihat manusia sebagai makhluk egoistik. Hal ini, menurutnya, memicu perebutan kekuasaan bahkan dalam lingkup domestik.
“Ternyata dalam relasi suami istri, haus kekuasaan itu terjadi. Buktinya adalah penutupan akses itu,” tambah Imam yang menghubungkan dengan materi yang dibawakan konsultan Yayasan Lentera Anak, Reza Indragiri Amriel sebelumnya.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa sebuah peradaban besar tidak akan pernah muncul tanpa komitmen kuat terhadap nilai-nilai fundamental yang berakar dari keluarga.
Dia merujuk pada Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran, sebagai manifestasi betapa krusialnya peran keluarga dalam menentukan masa depan bangsa. Tanpa basis nilai yang kokoh, kebijakan birokrasi maupun tata kelola pemerintahan pun akan rapuh karena aktor-aktor di dalamnya tumbuh dalam kultur sosial yang jauh dari integritas nilai.
Terkait dengan visi Indonesia Emas 2045, Imam Nawawi menegaskan bahwa pembenahan pola pengasuhan adalah langkah yang tidak bisa ditunda. Anak yang didengar, dihargai, dan diperhatikan akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana di ruang publik. Ia mengibaratkan kesiapan mental dan wawasan sebelum menikah seperti penyediaan pelampung dalam sebuah pelayaran.
“Ibarat kata kalau kita naik feri nyeberang, pelampung sudah ada sehingga kalau terjadi goncangan ombak besar semua bisa selamat, dipastikan selamat,” jelasnya memberi analogi tentang pentingnya edukasi pra-nikah agar pasangan siap menghadapi gejolak rumah tangga tanpa harus berujung pada perpisahan yang traumatis.
Imam juga memberikan refleksi mengenai relasi orang tua dan anak. Seringkali, konflik tragis terjadi akibat kegagalan orang tua dalam memahami psikologi anak dan terjebak pada aspek emosional semata. Dia mengambil teladan dari Rasulullah SAW yang mampu menjaga kekhusyukan ibadah tanpa mengabaikan kasih sayang kepada cucunya.
“Ini menunjukkan bahwa kita sebagai orang tua yang sudah punya pengalaman pendidikan, punya pengalaman keagamaan, seharusnya mampu ketika bertemu dengan anak-anak itu dengan psikologi anak,” tuturnya.
Keluarga, dalam pandangan Imam, bukan sekadar entitas biologis, melainkan ikatan akidah. Mengutip kisah Nabi Nuh dan putranya, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, definisi keluarga melampaui batas golongan darah.
Jika ikatan akidah telah terputus, maka esensi kekeluargaan itu pun hilang di mata Tuhan. Oleh karena itu, membangun keluarga berarti membangun ketaatan kolektif kepada Allah SWT.
Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah ini mengajak untuk menjadikan keluarga sebagai prioritas utama dan warisan (legacy) tertinggi. Meskipun seseorang tidak memiliki jabatan politis seperti presiden atau wakil presiden, kontribusi mereka dalam membenahi keluarga secara langsung akan ikut membenahi wajah peradaban bangsa.
“Manusia itu lahir di dalam keluarga. Inspirasi dari Al Quran dan Nabi mengingatkan baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Itu maknanya adalah bukan kita nyaman di dalam rumah tidak mau bersosialisasi, tetapi dari rumah itulah pancaran nilai-nilai kebaikan itu bisa dipendarkan,” pungkasnya.