Beranda blog Halaman 8

Buka Rakernas Mushida, Naspi Arsyad Dorong Perubahan Mindset dan Kolaborasi Strategis

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, mendorong perubahan mindset, transformasi dan kolaborasi strategis saat membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) tahun 2026 yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 17 Syawal 1447 (6/4/2026). Ia menekankan pentingnya konsolidasi jati diri dan transformasi organisasi sebagai langkah strategis menuju entitas yang manhaji, profesional, dan berpengaruh.

KH Naspi Arsyad memaparkan bahwa agenda tahunan ini berlangsung di tengah dinamika global dan regional yang penuh ketidakpastian. Konflik bersenjata yang berkepanjangan, seperti perang antara Ukraina dan Rusia serta ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menimbulkan dampak multidimensi yang signifikan, mulai dari aspek sosial hingga ekonomi.

Situasi tersebut, menurutnya, memaksa setiap entitas untuk melakukan penyesuaian kebijakan domestik agar tetap relevan dengan perkembangan internasional yang fluktuatif.

Mengutip salah satu point dari dialog pimpinan ormas Islam tingkat nasional dihadirinya yang digelar Kementerian Luar Negeri beberapa waktu lalu, Naspi Arsyad menyoroti bahwa eksistensi sebuah bangsa dalam konflik modern tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer konvensional.

Dia menegaskan, keberlanjutan sebuah negara sangat bergantung pada daya tahan kolektif yang mencakup ketahanan energi, stabilitas persenjataan, hingga kekuatan cadangan devisa. Naspi menegaskan sebuah analogi yang sangat mendasar mengenai kebutuhan primer manusia di masa krisis.

“Daya tahan yang berbasis energi, persenjataan hingga cadangan devisa tiap negara sangat menentukan keberlangsungan hidup sebuah bangsa,” ujar KH Naspi Arsyad.

Ia menambahkan bahwa meskipun manusia dapat bertahan hidup tanpa kemewahan fasilitas modern seperti listrik atau kendaraan bermotor, kebutuhan terhadap aspek fundamental seperti ketersediaan pangan dan pupuk tetap menjadi hal mutlak yang tidak dapat ditawar demi kelangsungan hidup.

Sejalan dengan itu, KH Naspi Arsyad merujuk pada pemikiran analis mengenai kemampuan organisasi untuk bertahan dalam persaingan global yang kompetitif. Dia menegaskan, kunci utama keberlanjutan sebuah institusi bukan terletak pada besarnya skala organisasi atau kestabilan neraca keuangan semata, melainkan pada kapasitas inovasi yang dimiliki.

“Bagi seorang mujahid, inovasi bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan hasil dari motivasi kuat dan proses berpikir sistematis yang melibatkan Allah Ta’ala sebagai sumber inovasi tertinggi,” katanya.

Inovasi dan transformasi dipandang dia sebagai dua elemen yang memiliki hubungan simbiosis yang erat. KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa inovasi berperan sebagai katalisator atau pemicu, sementara transformasi adalah bentuk perubahan struktural yang dihasilkan secara menyeluruh dari implementasi ide-ide baru tersebut.

“Inovasi bagai katalisator, memicu kebutuhan untuk bertransformasi agar tetap kompetitif hingga menjadi unggul dan berpengaruh,” tegasnya.

Guna mencapai target tersebut, Naspi menyebutkan tiga pilar utama yang harus dikembangkan dalam tubuh Muslimat Hidayatullah, yaitu perubahan pola pikir (mindset) yang kritis, optimalisasi proses melalui eksperimentasi dan iterasi, serta perumusan strategi yang adaptif.

“Pola pikir yang berani mengambil risiko harus diimbangi dengan manajemen perubahan dan budaya organisasi yang terbuka terhadap kolaborasi,” katanya.

Naspi menyampaikan, Hidayatullah telah memvalidasi perjalanannya melalui berbagai inovasi tepat guna. Hal ini terlihat dari pemilihan format pesantren ala perkampungan Islam sejak masa awal hingga transformasi besar pada tahun 2000, saat organisasi ini beralih dari format Organisasi Sosial (Orsos) menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

KH Naspi Arsyad menutup sambutannya dengan harapan agar Rakernas ini menjadi momentum penguatan peran Muslimat Hidayatullah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Terima Hidayatullah, Ketua MUI Kalbar Dorong Kolaborasi Ormas Islam dalam Pembinaan Umat

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat, KH. Drs. Basri Har, menegaskan pentingnya penguatan pembinaan umat, khususnya di wilayah pelosok Kalimantan Barat. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Barat di ruang kerjanya di Kota Pontianak pada Senin, 17 Syawal 1447 (6/4/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangkaian kegiatan silaturahim Syawal 1447 Hijriah yang dimanfaatkan oleh pengurus Hidayatullah untuk mempererat komunikasi dan membangun sinergi dakwah dengan berbagai tokoh dan lembaga Islam di daerah.

Rombongan DPW Hidayatullah Kalimantan Barat tiba di kantor MUI dalam suasana yang berlangsung akrab. Saat rombongan datang, KH. Basri Har terlihat baru saja memarkirkan sepeda motor di halaman kantor.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Ust. Muhyidin Nur Rabbani, S.Sos.I., segera menghampiri dan menyalami beliau, diikuti oleh anggota rombongan lainnya. Tanpa melalui prosedur formal yang panjang, KH. Basri Har langsung mempersilakan para tamu memasuki ruang kerjanya untuk melanjutkan pertemuan.

Dialog dimulai dengan pengenalan rombongan oleh Muhyidin Nur Rabbani. Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan para pengurus yang hadir sekaligus menyampaikan gambaran singkat mengenai Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan tarbiyah. Ia menjelaskan bahwa aktivitas organisasi tersebut berfokus pada pembinaan umat melalui berbagai program pendidikan dan sosial.

Dalam penjelasan tersebut, Muhyidin menyampaikan bahwa keberadaan Hidayatullah di Kalimantan Barat saat ini telah menjangkau 12 kabupaten dan kota. Ia menjelaskan bahwa perkembangan organisasi di setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda. Beberapa wilayah masih berada pada tahap perintisan dengan berbagai keterbatasan, sementara di sejumlah daerah lain kegiatan organisasi telah berkembang melalui berbagai program pembinaan masyarakat.

Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pendirian rumah Qur’an, pengembangan lembaga pendidikan formal, serta pengelolaan panti asuhan. Program-program tersebut dijalankan sebagai bagian dari aktivitas dakwah dan pelayanan sosial yang diarahkan pada penguatan pembinaan umat di tingkat masyarakat.

Perluas Jangkauan Pembinaan Umat

Menanggapi penjelasan tersebut, KH. Basri Har menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya memperluas jangkauan pembinaan umat, terutama di wilayah pedalaman Kalimantan Barat. Ia menyampaikan bahwa kegiatan dakwah tidak seharusnya terfokus pada wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil agar nilai-nilai Islam dapat disampaikan secara merata.

Ia juga mengajak berbagai organisasi kemasyarakatan Islam untuk memperkuat kerja sama dalam menjalankan kegiatan dakwah. Menurutnya, kolaborasi antar lembaga memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan pembinaan umat di tengah masyarakat.

Selain membahas penguatan dakwah, KH. Basri Har juga menyinggung pentingnya menjaga kemurnian aqidah sebagai prinsip bersama yang harus dijaga oleh seluruh organisasi Islam. Ia menegaskan bahwa setiap lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa aktivitas dakwah berjalan sesuai dengan ajaran yang benar.

Dalam penjelasannya, ia mencontohkan bahwa sebelumnya pernah terjadi kasus di Pontianak yang melibatkan sebuah lembaga Islam yang dinilai keluar dari garis aqidah yang benar sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Kasus tersebut, menurutnya, kemudian berujung pada pembekuan lembaga yang bersangkutan.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana dialog tersebut ditutup dengan harapan agar kerja sama antar organisasi Islam terus diperkuat. Para peserta pertemuan juga memanjatkan doa bersama agar aktivitas dakwah dan pembinaan umat dapat berjalan dengan istiqamah serta mendapat bimbingan dari Allah SWT.

KH Naspi Arsyad Ajak Introspeksi Mengenai Peran Umat dalam Tragedi Kemanusiaan Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengajak untuk melakukan introspeksi mengenai peran umat secara sistemik dalam tragedi kemanusiaan Palestina yang sampai detik ini masih mengalami pendudukan militer zionis Israel.

Seruan ajakan itu disampaikan Naspi di hadapan massa Aksi Damai untuk Solidaritas Palestina diinisiasi oleh Majelis Ormas Islam (MOI) ini mengusung tema Berjuta Doa dan Bela untuk Syuhada & Masjidil Al Aqsha yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Ahad, 16 Syawal 1447 (5/4/2026).

Dalam penyampaiannya, KH Naspi Arsyad tidak hanya berfokus pada kecaman diplomatik, melainkan mengajak massa untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai peran umat secara sistemik dalam konflik tersebut.

Ia menyampaikan pertanyaan fundamental mengenai siapa sebenarnya yang memikul tanggung jawab atas gugurnya para syuhada di Palestina. Meskipun kekuatan militer Israel secara fisik merupakan eksekutor di lapangan, Naspi melihat adanya struktur pendanaan yang lebih kompleks di balik setiap peluru yang ditembakkan.

“Betul tangan mereka yang melatik, yang menarik pelatuk senjatanya. Tapi, kalau senjatanya tidak punya peluru, apakah mereka bisa membunuh tiga syuhada kita,” katanya, merujuk pada gugurnya tiga personel TNI di Lebanon Selatan saat menjalankan misi perdamaian PBB.

Fokus kritik Naspi bergeser pada dukungan logistik yang menyokong agresi tersebut. Ia menengarai bahwa kecanggihan teknologi persenjataan yang digunakan tidak akan berfungsi tanpa adanya pasokan dana yang terus mengalir.

KH Naspi Arsyad secara eksplisit menyebutkan peran Amerika Serikat sebagai pendukung utama, namun ia juga menyoroti kontribusi tidak langsung dari masyarakat Muslim sendiri melalui perilaku konsumsi. Ia menyayangkan banyaknya masyarakat yang masih mengunjungi dan bertransaksi di restoran atau penyedia layanan yang memberikan keuntungan bagi pihak yang berafiliasi dengan pendanaan agresi tersebut.

Naspi Arsyad mengaitkan ibadah dan doa dengan perilaku ekonomi. Ia mempertanyakan koherensi antara permohonan doa yang dipanjatkan dengan tindakan ekonomi yang justru memperkuat pihak lawan.

“Pelurunya dibeli dari umat Islam yang makan minum di restoran dan warung-warung”, tegasnya. Dia menekankan bahwa keuntungan dari transaksi-transaksi tersebut pada akhirnya dikonversi menjadi alat kekerasan yang membunuh saudara sesama Muslim.

Lebih lanjut, Naspi menyampaikan refleksi eskatologis mengenai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Ia menggugah kesadaran massa dengan membayangkan bagaimana perasaan para syuhada jika mengetahui bahwa peluru yang merenggut nyawa mereka dibiayai oleh keuntungan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh saudara mereka di dunia.

“Syuhada ini di akhirat dan kemudian mereka tahu bahwa peluru yang menembus tubuh mereka berasal dari peluru yang dibeli dari keuntungan restoran-restoran yang bapak ini membeli, ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, KH Naspi Arsyad menyerukan adanya perubahan paradigma dalam mendidik generasi muda mengenai konsep halal dan haram. Dia menegaskan bahwa larangan dalam agama tidak boleh hanya dipahami secara tekstual pada zat makanan tertentu saja, melainkan juga harus mempertimbangkan dampak moral dan politik dari setiap produk yang dikonsumsi.

Ia pun menyerukan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa haram bukan sekadar babi. Haram bukan sekadar anjing. Tapi haram dari produk-produk Israel.

Ia mengajak meneguhkan komitmen untuk menjaga integritas konsumsi dan membersihkan diri dari produk-produk yang mendukung penindasan. Hal ini dipandang Naspi sebagai bentuk pertanggungjawaban nyata bagi para syuhada dan langkah awal menuju pembebasan Masjidil Aqsha yang lebih bermartabat.

Menjadikan Triwulan Pertama sebagai Tolok Ukur Disiplin Strategi Organisasi

0

MARET 2026 baru saja berlalu. Ini berarti triwulan pertama telah usai. Bagi sebagian orang, berlalunya Maret terasa biasa. Akan tetapi bagi orang dengan kepekaan manajemen waktu, momen ini terasa penting. Mengapa? Mari mencari jawabannya dengan menelaah tiga pendekatan.

Brian P Moran dan Michael Lennington, dalam 12 Weeks A Year, menyampaikan pentingnya memadatkan perencanaan aktivitas dua belas bulan ke dalam dua belas pekan pertama. Agar akselerasi terjadi. Hal ini didasarkan pada kebiasaan manusia untuk menunda perencanaan yang telah dibuat. Dalam benak kebanyakan manusia, Desember masih jauh.

Seiring penundaan yang terus-menerus dilakukan, perencanaan akhirnya menemui salah satu dari dua situasi: Dilupakan atau dikerjakan asal-asalan. Dilupakan karena aktivitas lain datang dan lebih menyita energi. Dikerjakan asal-asalan karena sudah dekat dengan akhir tahun, sementara sumber daya sudah sangat terbatas.

Dua belas pekan pertama sama dengan tiga bulan pertama. Jatuhnya di penghabisan bulan Maret.

Sekarang marilah menengok pendekatan Bulletproof Problem Solving yang digagas Charles Conn dan Robert McLean. Ada tujuh tahapan dalam menelaah masalah hingga merumuskan solusinya. Apabila kerja di tiap tahapan ini diestimasi butuh 1,5 pekan, maka total waktu yang diperlukan kurang lebih sebelas pekan atau tiga bulan. Dengan demikian di bulan keempat, solusi terhadap suatu masalah diharapkan telah bisa diaplikasikan. Lagi-lagi penghabisan Maret menjadi semacam deadline.

Pendekatan ketiga juga penting dan lebih luas penggunaannya, yakni durasi pendampingan pasca pelatihan. Kisarannya 1-6 bulan. Reratanya 3 bulan.

Apabila sebuah keterampilan baru dilatihkan di Januari, maka diharapkan hasil keterampilan itu sudah dikuasai secara utuh setelah tiga bulan, yakni penghabisan Maret.

Sekarang, marilah bertanya pada organisasi masing-masing, seberapa jauh capaian hingga Maret lalu?

Apabila masih jauh dari target, maka diharapkan pilihannya hanya satu: Kejar target. Hal ini dikarenakan sumber daya yang tersedia relatif melimpah. Apabila waktu kejar target diundurkan lagi, sumber daya akan semakin menipis.

Jangan biarkan distraksi terlalu menyita fokus, terutama distraksi dari eksternal. Bukan berarti lingkungan eksternal tidak perlu diperhatikan. Akan tetapi proporsionalitas respon sangat penting untuk dijadikan pertimbangan. Sehingga sumber daya yang dimiliki masih dapat didistribusikan secara efektif dan efisien.

Jauh lebih baik apabila proaktivitas dikedepankan. Lingkungan internal disiapkan untuk terus beradaptasi dengan lingkungan eksternal. Sumber daya yang dimiliki diinventarisir dengan akurat, sementara lingkungan eksternal ditelaah terus-menerus, selanjutnya keduanya didekatkan secara periodik. Sehingga respon dapat diambil secara cepat dan tepat.

Dengan keseluruhan proses ini, semoga aktivitas yang berkualitas dapat terus berlanjut. Bahkan pengembangan-pengembangan dapat terwujud walaupun tantangan yang dihadapi sedemikian rumit.

Krisis Global Mutakhir sebagai Ujian Agilitas Organisasi

Krisis global mutakhir yang berpusat di Timur Tengah, diterima atau tidak, menyita begitu banyak perhatian. Hal ini dikarekan potensi dampaknya yang sistemik. Manusia di berbagai level, dari individu hingga negara, diperkirakan akan merasakan banyak kesulitan apabila krisis global tidak segera berakhir.

Dapat dikatakan krisis global mutakhir merupakan ujian organisasi, seberapa agile organisasi mengatasi tantangan yang ada. Sebagaimana telah disampaikan, apabila disiplin dan proaktif telah melekat pada organisasi, semoga kelincahan terbangun. Sehingga organisasi tidak sekedar bertahan, bahkan berkembang seiring terlihatnya peluang-peluang pengembangan.

Perlu kiranya diulang bahwa disiplin organisasi yang mendasar adalah disiplin mencapai target perencanaan tahunan. Sementara proaktivitas organisasi mencakup inventarisasi sumber daya internal dan juga telaah situasi eksternal secara intensif. Ketiga perilaku ini diharapkan berkelindan membentuk karakter organisasi yang lincah.

Apabila nanti krisis global telah berlalu, semoga disiplin dan proaktif tetap melekat. Situasi yang nyaman tidak membuai. Kapanpun dalam situasi dan kondisi apapun, kelincahan terus melekat pada organisasi.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Perang Iran dalam Tinjauan Iqra’ Bismirabbik

0

PERANG antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran yang terus berlangsung hingga detik ini (5/4/26) tidak cukup kita tinjau dalam analisa konvensional semata, entah itu dari pandangan militer, politik atau pun teknologi. Dunia perlu menggunakan satu analisa yang berdasarkan nilai-nilai Qur’an, terutama pada ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq: Iqra’ Bismirabbik. Ini adalah ayat yang pertama Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini akan mengingatkan manusia akan nilai mendasar dalam menjalani kehidupan ini.

Ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran, dua fakta kita bisa temukan. Pertama, memang dalam banyak kasus menunjukkan kecenderungan seperti itu. Israel dan Amerika Seriat banyak menyerang dan agresif secara militer. Utamanya jika ada hal yang mereka anggap strategis. Negara kawasan Teluk yang Israel nilai penting diserang, selekas mungkin akan dikirim rudal.

Kedua, Amerika Serikat sedang menghadapi tekanan domestik yang serius karena gaya kepemimpinan sang presiden, yaitu Trump. Warga Amerika Serikat sendiri sampai delapan juta orang turun ke jalan dengan seruan demonstrasi “No Kings”. Ini jelas maknanya sebagai sebuah fakta. Baahwa ada ketegangan tinggi ntara kebijakan negara dan aspirasi publik.

Berdasarkan secuil fakta itu, kita bisa memandang bahwa Perang Iran, bukan semata hal yang sifatnya normal dalam konteks konflik atau perang. Lebih dalam kalau kita gunakan Iqra’ Bismirabbik sebagai cara memandang, konflik ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga mencerminkan kecenderungan moral manusia.

Bisa kita sebut ini adalah tentang watak manusia yang cenderung serakah, bodoh, dan merusak. Kita tidak perlu menudingkan telunjuk ke negara mana, tapi ini penting untuk kita suarakan agar perang Iran segera usai dan dunia kembali dalam harmoni.

Makna “No Kings”

Ketika warga Amerika Serikat berdemonstrasi dan mengangkat tema “No Kings” apa yang bisa kita tangkap? Rasionalitas manusia secara umum bisa menilai bahwa keputusan Amerika Serikat membantu Israel menyerang Iran adalah irasional dan tidak manusiawi.

Keputusan itu tetap berjalan hanya karena ada watak raja yang mengendalikan dan mengambil keputusan. Watak raja dalam banyak pengalaman sejarah, sering menjalankan kekuasaan tanpa kontrol. Akibatnya sang raja cenderung otoriter, korup dan fasis.

Dalam tinjauan Iqra’ Bismirabbik (Bacalah dengan nama Tuhanmu) seorang manusia, apalagi dia menjadi pemimpin tertinggi, idealnya memutuskan apapun berdasarkan nilai-nilai amanah, bukan amarah. Ini orientasi penting yang harus dipahami seorang pemimpin. Tanpa orientasi ini, keputusan mudah bergeser dari amanah menjadi kepentingan.

Bismirabbik (dengan nama Tuhanmu) menjadi satu pesan kunci bahwa manusia akan bisa adil, bijak dan berakhlak dalam hal apapun, terutama mengambil keputusan kalau landasannya adalah rabb (Tuhan). Karena ketika manusia tidak menyadari itu, maka dia akan membaca, menganalisa dan mengambil keputusan dengan nama yang lain, tentu saja itu adalah keserakahan, kebodohan dan kehancuran.

Mari perhatikan fakta bahwa sebanyak 165 orang dan sebagian besar anak-anak tewas dalam serangan rudal Tomahawk Amerika Serikat. Serangan itu menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, karena kesalahan penargetan tentara Amerika Serikat. Dalam kata yang lain ada ketidakcermatan. Apa nama lain dari ketidakcermatan sebuah tindakan?

Suara Kunci

Perang ini akan sulit berhenti kalau pemimpin Israel dan Amerika Serikat masih menggunakan cara berpikir lama, yang cenderung agresif, merendahkan pandangan yang berbeda dan merasa hanya kepentingannya yang layak dunia pahami.

Mengapa sulit berhenti, tidak lain karena Iran sebagai negara Islam, memiliki kemampuan yang relatif sama bahkan lebih unggul dari militer dan cara berpikir pemimpin Israel maupun Amerika Serikat.

Sisi lain keberadaan selat Hormuz memberi keuntungan strategis bagi Iran sepanjang perang berlangsung. Dan itu memberikan dampak kerugian secara serius bagi banyak negara yang menggantungkan penarikan minyak dari kawasan tersebut.

Bagi Iran perang ini adalah tentang eksistensi. Maka sejauh mana Israel dan Amerika Serikat ingin berperang, sepanjang itu Iran akan memberikan respons yang memadai.

Langkah yang harus pemimpin negara-negara Islam lakukan adalah melihat perang ini dengan kerangka berpikir Iqra’ Bismirabbik.

Tuhan telah menciptakan manusia ini dengan kelemahan dalam segala hal. Maka siapapun yang membaca dunia ini dengan selain nama Allah SWT, ia akan cenderung arogan, otoriter dan destruktif.

Ini suara kunci yang harus kita gemakan. Kalaupun suara kunci ini kita anggap akan diabaikan, suara warga Amerika Serikat sudah senapas, berhenti menggunakan cara berpikir raja, yang mental itu sudah tidak lagi dunia butuhkan saat ini. Tanpa perubahan cara membaca realitas, konflik seperti ini akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Sekarang mari kita berpikir lebih dalam. Secara empiris seluruh manusia punya keyakinan yang berbeda, tapi secara fakta, semua manusia itu tercipta dari sperma dan ovum. Iqra’ Bismirabbik menegaskan akan eksistensi manusia seperti itu. Manusia itu hanya ciptaan Allah, bahan penciptaannya segumpal darah (min ‘Alaq). Manusia itu tidak tahu (maa lam ya’lam).

Dengan penjelasan yang segamblang itu, apakah pantas manusia merasa lebih baik atas manusia yang lain. Kemudian merasa punya hak menyerang, membunuh dan merendahkan manusia yang lain seenak pertunya?.[]

Mas Imam Nawawi

Dakwah sebagai Poros Utama bagi Setiap Program Keumatan dan Gerakan Hidayatullah

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Wahyu Rahman menyampaikan dakwah adalah platform yang menampung seluruh aspirasi, potensi, dan pengabdian para kader dalam satu gerak langkah terorganisasi. Oleh karena itu, Hidayatullah menjadikan dakwah sebagai poros utama bagi setiap programnya dalam berbagai ranah kehidupan termasuk ekonomi.

Hal itu disampaikan Wahyu Rahman saat menyampaikan taushiyah dalam acara Silaturrahim Syawal Hidayatullah Provinsi Banten yang digelar di Yayasan Al Firdaus, Pondok Pesantren Hidayatullah Kampung Jaletreng, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Ahad, 16 Syawal 1447 (5/4/2026).

Wahyu menekankan bahwa keberhasilan kolektif hanya dapat diraih melalui kepatuhan terhadap garis kepemimpinan dan komitmen yang tulus terhadap tujuan bersama. Ketaatan yang dibangun di atas kesadaran ideologis, jelasnya, diharapkan mampu menciptakan stabilitas organisasi yang tahan lama.

“Dengan menjadikan dakwah sebagai wadah perjuangan, setiap kader diharapkan memiliki orientasi yang jelas dalam memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan umat, khususnya di wilayah Banten, sehingga peran organisasi semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” katanya.

Dalam taushiyahnya, Wahyu juga menyentuh dimensi spiritualitas personal kader pasca-Ramadan. Ia mengingatkan para hadirin untuk menjaga konsistensi amal ibadah setelah berlalunya bulan suci.

Wahyu menekankan perlunya kesadaran penuh bahwa periode pelatihan spiritual Ramadan telah usai secara formal, namun implementasi nilai-nilainya harus terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus benar-benar meyakini Ramadan sejatinya sudah meninggalkan kita, namun kebaikan dan terus berbuat kebaikan serta mempererat ukhuwah antara kader harus tetap dipelihara,” katanya, seraya mengingatkan kualitas seorang kader diuji pada masa transisi setelah Ramadan.

Jika selama bulan puasa intensitas ibadah dan kepedulian sosial meningkat, maka pada bulan-bulan berikutnya, semangat tersebut harus ditransformasikan ke dalam aksi-aksi dakwah yang berkelanjutan. Transformasi ini menjadi kunci bagi keberlangsungan peradaban yang dicita-citakan oleh organisasi.

Mempererat ukhuwah pasca-Ramadan bukan sekadar rutinitas formalitas dalam acara seremonial, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga momentum kebaikan yang telah terbina agar tidak luntur oleh arus rutinitas.

Dia mendorong Silaturahmi Syawal ini juga menjadi ruang bagi pengurus wilayah untuk melakukan evaluasi dan proyeksi program kerja ke depan. Dengan berkumpulnya para penggerak dakwah dari berbagai daerah di Banten, terjadi dialog konstruktif dan pertukaran pengalaman yang dapat memperkaya strategi operasional di lapangan.

“Dengan mengedepankan prinsip ketaatan dan ukhuwah, kita berikhtiar bahwa dakwah ini menyatukan seluruh energi kita untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas. Kesinambungan antara nilai spiritualitas Ramadan dan aktivitas pada bulan Syawal diharapkan mampu membawa perubahan positif yang signifikan bagi perkembangan dakwah dan penguatan umat di masa mendatang,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, melaporkan dalam sambutannya bahwa pihaknya menggelar agenda Silaturahmi Syawal 1447 ini sebagai upaya memperkuat integrasi organisasi dan memantapkan orientasi dakwah pasca-Ramadan.

“Pertemuan tahunan ini berfungsi sebagai sarana penyelarasan visi antar-kader di wilayah Banten guna menghadapi tantangan dakwah yang semakin dinamis dan kompleks,” kata Dadan.

Dia merinci, tema yang diusung dalam pertemuan kali ini adalah Eratkan Ukhuwah, Kuatkan Dakwah Hidayatullah Banten. Tema tersebut, jelasnya, menegaskan bahwa jalinan persaudaraan yang kokoh merupakan modalitas utama dalam menjalankan misi organisasi.

Dadan menegaskan, tanpa ukhuwah yang solid, struktur organisasi akan menjadi rapuh, sehingga efektivitas gerakan dakwah di tengah masyarakat tidak akan tercapai secara optimal.

“Oleh karena itu, penguatan ikatan emosional dan spiritual antar-kader menjadi prioritas utama dalam agenda konsolidasi ini demi mewujudkan visi besar lembaga,” pungkas Dadan.

Ikhtiar Integrasi Pelestarian Alam dan Pemberdayaan Masyarakat di Sekolah Dai Hidayatullah

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Pencanangan dan Peresmian Usaha Kemandirian Pesantren Wisata Kebun Durian Premium di Sekolah Dai Bogor berlangsung dengan khidmat pada Sabtu, 16 Syawal 1447 (4/4/2026). Perhelatan ini menandai langkah strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekonomi secara harmonis dalam ekosistem pendidikan Islam.

Dalam sambutannya, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Dr. Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si, memberikan penekanan mengenai esensi menjaga tiga relasi fundamental dalam eksistensi kehidupan manusia.

Pencanangan usaha kebun durian premium ini menjadi simbol optimisme bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan dinamika ekonomi modern tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.

Ahmad Munawir memaparkan bahwa setiap individu muslim memiliki kewajiban eksistensial untuk senantiasa menjaga hubungan dengan Allah atau hablum minallah, hubungan dengan sesama manusia atau hablum minannas, serta hubungan dengan alam semesta atau hablum minal alam.

Menurut pandangan Ahmad Munawir, peran dai di masa depan harus mengalami transformasi yang signifikan agar relevan dengan tantangan zaman yang kian kompleks. Dai diharapkan tidak hanya berfokus pada penyampaian dakwah secara spiritual di mimbar, tetapi juga harus mampu berperan aktif dalam dakwah lingkungan serta mengedukasi masyarakat mengenai signifikansi menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

“Implementasi dari visi ini terefleksi melalui pengembangan unit usaha kebun durian premium yang memadukan nilai ekonomis dengan fungsi konservasi,” katanya.

Sejalan dengan perspektif tersebut, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag., menggarisbawahi pentingnya penguatan kemandirian pesantren sebagai institusi pendidikan mandiri.

Basnang Said menegaskan bahwa pesantren pada dasarnya memiliki potensi intrinsik yang sangat besar untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menggantungkan seluruh keberlangsungannya pada bantuan dari pemerintah. Walaupun demikian, Basnang memberikan penekanan bahwa proses pengajuan bantuan ke pemerintah bukanlah sebuah indikasi kelemahan institusional.

Sebaliknya, hal tersebut merupakan upaya konstitusional untuk mengambil hak pesantren, mengingat peran historis yang sangat monumental dalam perjuangan fisik maupun intelektual bagi kemerdekaan dan pembangunan bangsa Indonesia.

Secara historis, Basnang Said memaparkan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan asli Nusantara yang telah eksis sejak abad ke-14, jauh mendahului sistem sekolah modern yang baru diperkenalkan kemudian oleh penjajah Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia, terjadi pergeseran paradigma pendidikan di mana sistem sekolah formal diangkat menjadi sistem nasional, sementara pesantren sempat mengalami fase marjinalisasi dalam struktur kebijakan negara.

Namun, terangnya, realitas sosial menunjukkan bahwa pesantren tetap menjadi pilar utama dalam pemerataan akses pendidikan, terutama bagi masyarakat ekonomi lemah yang sering kali tidak terjangkau oleh institusi sekolah formal. Ketimpangan akses terhadap anggaran daerah atau APBD yang dialami pesantren dibandingkan sekolah umum di bawah Kemendikbud diakui sebagai tantangan struktural yang hingga kini masih diperjuangkan solusinya.

Berdasarkan kerangka regulasi Undang-Undang, pesantren diamanatkan untuk menjalankan tiga fungsi utama yang saling berkaitan, yakni fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Inisiatif usaha kemandirian melalui wisata kebun durian ini merupakan manifestasi konkret dari fungsi pemberdayaan tersebut.

Basnang Said juga mengingatkan bahwa dalam tradisi intelektual Islam yang murni, tidak dikenal adanya dikotomi atau pemisahan kaku antara ilmu agama dan ilmu umum. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang pesat dan menjadi fondasi kemajuan dunia justru ketika nilai-nilai agama dan rasionalitas ilmu pengetahuan terintegrasi secara utuh.

Oleh karena itu, santri masa kini didorong untuk memiliki cakrawala berpikir yang luas dan tidak membatasi peran sosial mereka hanya sebagai kiai atau ustaz di lingkungan internal saja. Para santri diharapkan mampu berkiprah secara profesional di berbagai sektor strategis, mulai dari bidang politik, ekonomi, kesehatan, militer, hingga penguasaan teknologi tinggi.

Penguatan ekonomi umat dipandang dia sebagai instrumen krusial untuk menunjang kualitas ibadah yang bersifat sosial-ekonomi seperti zakat, haji, dan sedekah. Islam tidak melarang kepemilikan kekayaan, justru kekayaan sangat dianjurkan apabila dialokasikan sepenuhnya untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Dalam kerangka ini, konsep kesederhanaan perlu diredefinisi secara tepat agar tidak disalahartikan sebagai kemiskinan. Kesederhanaan adalah sebuah sikap mental untuk tidak diperbudak oleh nafsu materialistik, melainkan menggunakan segala aset dan harta yang dimiliki untuk kepentingan umat manusia. Ke depan, pengembangan sumber daya santri memerlukan perencanaan arah yang proporsional agar mereka dapat mengisi posisi-posisi penting di berbagai lini kehidupan nasional.

Dengan semangat integrasi antara kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan dedikasi pengabdian sosial, ia berharap pesantren akan terus berdiri kokoh sebagai pilar peradaban dan kekuatan sosial yang menjadi tumpuan bagi kemajuan bangsa.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat Hidayatullah yaitu Ketua Umum KH Naspi Arsyad, Bendahara Umum Suwito Fatah, Ketua Bidang Pelayanan Ummat Shohibul Anwar, Ketua Bidang Organisasi Dudung Amadung Abdullah, dan Wakil Sekretaris Jenderal Muhammad Isnaeni. Hadir pula Ketua Yayasan Sekolah Dai Saifudin Abdullah serta jajaran.[]

Digelar pada 6-8 April di Jakarta, Rakernas Mushida Fokus Penguatan Jati Diri dan Tata Kelola

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah 2026, Saryati, S.H.I., menyampaikam bahwa Rakernas diselenggarakan untuk menyelaraskan arah gerak organisasi antara tingkat pusat dan wilayah sekaligus meningkatkan profesionalitas tata kelola kelembagaan.

Ia menjelaskan bahwa forum tersebut diarahkan untuk mendorong transformasi organisasi menuju Muslimat Hidayatullah yang profetik, profesional, dan berpengaruh. Pernyataan itu disampaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan Rakernas yang akan mempertemukan unsur pimpinan organisasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Saryati menerangkan, Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah 2026 sebagai forum strategis dalam proses konsolidasi organisasi. Melalui kegiatan ini, pengurus pusat, pengurus wilayah, serta unit-unit pendidikan yang berada dalam jaringan Muslimat Hidayatullah dipertemukan untuk menyelaraskan rencana kerja dan arah program secara nasional.

“Sinkronisasi tersebut mencakup berbagai bidang aktivitas organisasi sehingga diharapkan terbentuk kesinambungan kebijakan antara tingkat pusat dan daerah,” kata Saryati dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 16 Syawal 1447 (4/4/2026).

Rakernas tahun ini mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Muslimat Hidayatullah yang Profetik, Profesional dan Berpengaruh.”

Saryati menyebutkan, tema tersebut menggambarkan tiga fokus utama yang menjadi perhatian organisasi dalam periode kerja mendatang.

Pertama, adalah penguatan jati diri yang bersifat profetik. Upaya ini dimaksudkan untuk meneguhkan identitas Muslimat Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah yang berlandaskan nilai Al-Qur’an dan Sunnah serta visi perjuangan Hidayatullah.

Fokus kedua adalah penguatan tata kelola organisasi yang profesional. Dalam konteks ini, organisasi diarahkan untuk membangun sistem kerja yang tertib administrasi, transparan, dan terukur. Tata kelola tersebut juga diharapkan berbasis pada perencanaan strategis sehingga mampu merespons dinamika sosial dan perkembangan zaman.

Fokus ketiga berkaitan dengan penguatan dampak program. Muslimat Hidayatullah diharapkan dapat menghadirkan kegiatan yang memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pribadi, keluarga, serta kehidupan masyarakat. Saryati mengatakan, program-program organisasi dalam bidang tarbiyah, dakwah, ekonomi, dan sosial menjadi bagian dari agenda yang dibahas dalam forum Rakernas.

Pelaksanaan Rakernas dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 8 April 2026 atau bertepatan dengan 18–20 Syawal 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan di Gedung Dakwah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang berlokasi di Cipinang, Jakarta. Forum nasional ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai unsur organisasi.

Saryati menyebutkan, peserta Rakernas terdiri atas pengurus pusat Muslimat Hidayatullah, perwakilan pengurus wilayah dari 36 provinsi di Indonesia, serta kepala satuan pendidikan PAUD yang berada di lingkungan Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah.

“Kehadiran berbagai unsur tersebut dimaksudkan untuk mempertemukan berbagai pengalaman dan perspektif yang berkembang di daerah dalam satu forum perencanaan nasional,” imbuhnya.

Ia menambahkan, Rakernas menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi antarstruktur organisasi. Ia menyebutkan bahwa forum ini juga berfungsi sebagai ruang sosialisasi program sehingga agenda kerja Muslimat Hidayatullah dapat dipahami dan dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah.

“Semoga kegiatan ini dapat berlangsung lancar, sehingga program-program Muslimat Hidayatullah di bidang tarbiyah, dakwah, ekonomi, sosial, dan lainnya dapat tersosialisasi di wilayah seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ketua Umum Hidayatullah Hadiri Forum Dialog Bersama Wakil Menteri Luar Negeri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menghadiri pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, di Jakarta pada hari Kamis, 14 Syawal 1447 (2/4/2026). Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi para pimpinan organisasi kemasyarakatan tingkat nasional dan tokoh Muslim Indonesia lainnya untuk berdialog langsung dengan Wamenlu, termasuk dihadiri jajaran pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri seperti Kepala BSKLN, Direktur Timur Tengah, serta Direktur Asia Selatan dan Tengah.

Dalam penyampaiannya kepada media ini pasca pertemuan tersebut, Naspi Arsyad menekankan bahwa agenda ini merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan elemen umat dalam merespons dinamika global yang semakin kompleks.

Fokus utama pembicaraan adalah mengenai penguatan peran umat Islam dalam membangun hubungan yang konstruktif di lingkup internasional, khususnya dalam menghadapi situasi geopolitik yang saat ini berkembang secara cepat dan tidak menentu.

Naspi Arsyad berpendapat bahwa keterlibatan tokoh agama dalam ranah diplomasi merupakan hal yang sangat krusial guna memastikan bahwa aspirasi masyarakat sejalan dengan visi politik luar negeri Indonesia. Tantangan global saat ini menuntut pemikiran yang lebih mendalam, sistematis, dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan bangsa.

“Peran umat di Dunia Islam bukan sekadar urusan solidaritas emosional, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk memetakan posisi strategis Indonesia di tengah turbulensi geopolitik global. Kita dituntut untuk membangun narasi yang konstruktif dan solutif, sehingga eksistensi umat mampu menjadi elemen perekat dalam hubungan internasional yang kian tidak menentu,” ujar KH Naspi Arsyad.

Selain membahas peran global secara umum, para tokoh Muslim yang hadir juga melakukan dialog mengenai kondisi terkini di kawasan Timur Tengah. Naspi Arsyad menjelaskan bahwa aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diarahkan agar Indonesia dapat membedah situasi di kawasan tersebut melalui kacamata kepentingan nasional.

“Hal ini berarti setiap kebijakan atau pandangan yang diambil terkait isu Timur Tengah harus tetap berpijak pada kedaulatan, keamanan, dan kebutuhan strategis jangka panjang bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap konstelasi politik dan pergeseran kekuatan di Timur Tengah sangat diperlukan. Tujuannya adalah agar peran yang diberikan oleh Indonesia dapat tepat sasaran serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi perdamaian dunia.

“Transformasi yang terjadi di kawasan tersebut harus dipelajari secara saksama agar Indonesia tetap menjadi aktor yang relevan dan dihormati di panggung dunia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pertemuan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahim dan menjaga kebersamaan di antara para tokoh umat dengan jajaran birokrasi pemerintahan. Bagi Hidayatullah, terang Naspi, koordinasi seperti ini merupakan langkah positif dalam mewujudkan integrasi visi antara gerakan dakwah di akar rumput dan diplomasi kenegaraan di level elit.

Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri atas keterbukaan dalam menyerap aspirasi para tokoh Muslim Indonesia. Ia berharap hasil dari diskusi ini dapat segera diimplementasikan dalam langkah-langkah kebijakan nyata yang memperkuat posisi Indonesia di Dunia Islam sekaligus menjaga stabilitas kawasan sesuai dengan amanat konstitusi dan kepentingan nasional yang telah disepakati bersama.

“Sinergi ini diharapkan mampu membawa kemaslahatan yang lebih luas, baik untuk bangsa Indonesia maupun untuk komunitas internasional secara umum,” tandasnya.

Iqra Bismirabbik Cara Pandang Islam dalam Memahami Kehidupan

IQRA’ Bismirabbik merupakan bagian dari ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Terjemahannya adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu”.

Sebagai ayat yang memiliki dimensi filosofis yang mendalam, tentu saja ini bukan semata kalimat. Ini adalah basis yang seharusnya membentuk cara pandang Muslim dalam memahami kehidupan ini.

Sebelum mendalami Iqra’ Bismirabbik kita perlu lebih dahulu memahami apa itu cara pandang. Dalam kajian filsafat, cara pandang adalah metode berpikir kritis, radikal (mendasar), sistematis dan universal.

Dan, dalam konteks bahasan ini, cara pandang adalah kerangka dasar dalam memahami realitas.

Dalam filsafat sendiri, cara pandang terbagi ke dalam beberapa pemahaman. Mulai dari idealisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, konstruktivisme, humanisme, dan mungkin masih ada lagi lainnya.

Iqra’ Bismirabbik bisa kita jadikan sebagai cara pandang karena memang dia membentuk satu cara berpikir yang mengedepankan makna akan segala sesuatu dengan mengacu pada tuntunan wahyu.

Jadi inilah cara pandang Iqra’ Bismirabbik, yakni memahami realitas dengan berbasis wahyu.

Hidup adalah Amanah

Dalam konteks lebih jauh tentang cara pandang, mari kita coba perhatikan makna atau konsep hidup. Dalam Islam hidup adalah amanah. Mengapa dan dari mana makna itu hadir?

Iqra’ Bismirabbik memang perintah, tetapi kalau kita perhatikan, itu adalah sebuah dorongan agar umat Islam memiliki makna yang jelas dan benar tentang apapun itu dalam kehidupan dunia ini.

Hidup manusia dalam Islam, ketika kita menggunakan Iqra’ Bismirabbik sebagai cara pandang, maka itu tidak lain adalah amanah.

Artinya manusia membaca kehidupan dengan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah (bismirabbik), maka hidup tidak lagi dipandang bebas nilai, tetapi sebagai titipan (amanah).

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Dalam tafsir Al-Muyassar amanah bermakna ketentuan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ternyata amanah ini Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung. Semuanya menolak, akan tetapi manusia malah mengambilnya.

Tafsir yang lain menyebutkan amanah adalah tentang beban, tanggung jawab, kewajiban dalam ibadah, muamalat dan memakmurkan alam kepada seluruh makhluk.

Ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia sejak awal memang dibangun di atas tanggung jawab, bukan kebebasan mutlak apalagi yang basisnya adalah hawa nafsu.

Dalam kata yang lain, hidup manusia sejatinya adalah amanah. Tidak akan berhasil manusia menjadi pribadi yang bahagia dan meraih kebaikan, jika konsep dasar tentang amanah ini justru diabaikan.

Kemaslahatan

Kalau kita cermati lebih dalam, jika hidup ini adalah amanah, maka semua hal yang ada dalam bagian-bagian hidup manusia, seluruhnya amanah. Sebagai contoh, ilmu, harta dan kedudukan, semuanya adalah amanah.

Dalam cara pandang peradaban Barat, ilmu adalah kekuatan (knowledge is power). Dalam banyak kasus, paradigma tersebut berpotensi mengarah pada penggunaan ilmu tanpa batas nilai.

Maka konsekuensi dari cara pandang itu, pengetahuan yang mereka miliki cenderung digunakan secara tidak tentu arah. Perhatikan bagaimana eksploitasi alam terjadi luar biasa dan dekadensi moral yang merosot tajam.

Betapa tidak tentunya arah ilmu dalam peradaban Barat. Fritjof Capra, seorang fisikawan dan filsuf sistem, dalam pemikirannya (terutama dalam buku The Turning Point) menyoroti bahwa pola pikir Barat modern yang mekanistik, reduksionistik, dan antroposentris telah menghasilkan krisis global dan kerusakan besar pada lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis bukan semata teknis, tetapi krisis cara pandang.

Bahkan, Barat telah menjadi penyebab hadirnya krisis sistemik. Capra berpendapat bahwa kerusakan lingkungan, krisis energi, dan krisis sosial adalah satu kesatuan krisis persepsi yang berakar pada pandangan dunia Barat modern yang menganggap alam sebagai mesin, bukan sebagai sistem kehidupan yang saling terhubung.

Sedangkan Iqra’ Bismirabbik mendorong manusia dalam memandang ilmu sebagai amanah. Tidak benar dan tidak boleh kalau ilmu yang ada dalam diri seseorang digunakan sebagai sarana memuaskan hawa nafsu, menciptakan kerusakan pada diri dan orang lain, apalagi sampai jadi sebab kerusakan alam.

Oleh karena itu dalam upaya mengembalikan kesadaran umat akan peradaban Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa umat harus kembali pada cara pandang Islam, islamic worldview yang berlandaskan tauhid, Hal ini menegaskan bahwa wahyu adalah fondasi utama ilmu pengetahuan yang sumber utamanya adalah dari Allah SWT.

Dengan demikian, Iqra’ Bismirabbik bukan sekadar perintah membaca, tetapi fondasi dalam membangun cara pandang yang menuntun manusia memahami hidup sebagai amanah dan ilmu sebagai sarana kemaslahatan.[]

Mas Imam Nawawi