Beranda blog Halaman 8

DPP Hidayatullah: Hari Bhayangkara ke-80 Momentum Perkuat Sinergi Polri dan Elemen Bangsa untuk Indonesia Maju dan Bermartabat

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)

Jakarta (hidayatullah.or.id)– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada hari ini,  Rabu, 1 Juli 2026. Peringatan tahun ini yang mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan dan transformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai institusi yang semakin profesional, modern, dan responsif dalam melayani masyarakat.

Dari tema yang diusung Kata Kiai Naspi, mencerminkan komitmen Polri untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Atas nama keluarga besar Hidayatullah, kami mengucapkan selamat Hari Bhayangkara ke-80 kepada seluruh jajaran Polri. Semoga Polri senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam mengemban amanah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Transformasi yang terus dilakukan hendaknya semakin memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri,” ujar Kiai Naspi dalam keterangannya.

Mantan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah ini juga menegaskan bahwa harmonisasi dan kerukunan seluruh elemen bangsa yang terjalin bersama Polri merupakan modal strategis untuk mewujudkan keamanan nasional yang kondusif serta memperkuat ketahanan bangsa dan negara dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Olehnya dibutuhkan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif dari seluruh komponen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.

“Indonesia lahir dari semangat gotong royong antar generasi bangsa yang menjadi modal sosial yang sangat penting bagi perjalan bangsa ini, sehingga sinergi harmonis dengan berbagai elemen bangsa termasuk di dalamnya Polri adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan demi menjaga persatuan, memperkuat ketahanan nasional, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegas Kiai Naspi yang juga anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang telah mengabdi lebih dari setengah abad, Hidayatullah, lanjut Kiai Naspi, berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis Polri dalam berbagai bidang pengabdian kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, selama ini Hidayatullah di berbagai daerah telah menjalin kolaborasi dengan jajaran kepolisian melalui beragam program, mulai dari pembinaan keagamaan, pendidikan, pembinaan generasi muda, aksi sosial dan kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian, perkebunan, dan pengembangan usaha produktif.

“Hidayatullah selalu membuka ruang kolaborasi dengan Polri dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya. Kami meyakini bahwa penguatan keamanan harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan nilai-nilai moral di tengah masyarakat,” tutup Kiai Naspi.

Upgrading Pengurus Inti Muslimat Hidayatullah Gorontalo: Dorong Peran sebagai Pusat Perubahan Peradaban

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah didorong untuk mengambil peran yang lebih strategis sebagai penggerak perubahan peradaban melalui penguatan keluarga, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian sosial. Untuk mewujudkan peran tersebut, dibutuhkan kepemimpinan organisasi yang solid, visioner, dan memiliki kapasitas dalam mengelola gerakan secara berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Bendahara Umum Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Suwito Fatah, M.M., saat menjadi narasumber utama pada kegiatan Upgrading Pengurus Inti yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Gorontalo di Aula Al El, Kota Gorontalo, Ahad (28/6/2026).

Kegiatan bertema “Optimalisasi Peran Pengurus Inti untuk Mewujudkan Organisasi yang Maju dan Berkelanjutan” itu diikuti 16 pengurus inti yang mewakili enam Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah se-Provinsi Gorontalo.

Dalam pemaparannya, Suwito menegaskan bahwa Muslimat Hidayatullah tidak cukup berperan sebagai organisasi perempuan yang menjalankan aktivitas rutin, tetapi harus menjadi motor lahirnya perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

“Muslimat Hidayatullah tidak hanya sekadar wadah berkumpul, melainkan sebuah gerakan yang memelopori lahirnya peradaban Islam yang maju. Karena itu, pengurus inti harus memiliki kapasitas dan soliditas yang kuat,” ujarnya.

Menurut Suwito, sedikitnya terdapat empat peran strategis yang perlu menjadi fokus penguatan organisasi. Pertama, sebagai pusat pendidikan keluarga yang melahirkan generasi berakhlak melalui pembinaan keluarga sebagai madrasatul ula. Kedua, sebagai pusat dakwah perempuan yang mampu membina dan memberdayakan muslimah di berbagai lapisan masyarakat.

Selanjutnya, Muslimat Hidayatullah juga didorong menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dengan mengembangkan berbagai program produktif yang mampu memperkuat kemandirian keluarga dan organisasi. Selain itu, organisasi diharapkan hadir sebagai pusat pemberdayaan sosial yang memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Keempat peran tersebut harus berjalan secara terpadu. Ketika keluarga kuat, dakwah hidup, ekonomi mandiri, dan kepedulian sosial tumbuh, maka di situlah fondasi peradaban Islam dapat dibangun,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan di setiap tingkatan. Karena itu, proses pembinaan pengurus perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mampu melahirkan pemimpin yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan arah perjuangan organisasi.

Kegiatan upgrading ini menjadi bagian dari upaya Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Gorontalo dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan, menyamakan visi organisasi, serta meningkatkan sinergi antara pengurus wilayah dan daerah.

Melalui pembinaan yang berkesinambungan, Muslimat Hidayatullah Gorontalo diharapkan semakin optimal menjalankan perannya sebagai organisasi perempuan yang berkontribusi dalam bidang pendidikan keluarga, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan sosial sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban Islam.

Catatan Awal Pekan: Quo Vadis Pendidikan Pesantren (Hidayatullah)?

0

Sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk ke nomor saya dari seorang Ustadz yang diamanahkan sebagai ketua yayasan di sebuah Pondok Pesantren Hidayatullah yang cukup maju. Beliau bertanya tentang adanya aspirasi dari beberapa pengurus untuk membuat sekolah full day pada tingkatan pendidikan menengah. Saya menjawab secara normatif sebagai bentuk apresiasi terhadap aspirasi tersebut, sambil menjaga ketegasan arah pendidikan Hidayatullah yang lahir dan dibesarkan dari rahim Pesantren selama perjalanan 50 tahun pertama.

Pertanyaan Ustadz di atas, mengingatkan saya akan sebuah diskusi dengan seorang cendekiawan muda Hidayatullah, terhadap sebuah keinginan Yayasan yang nyaris lebih besar dari yayasan yang dipimpin oleh Ustadz yang bertanya melalui pesan whatsApp (WA). Cendekiawan muda tersebut prihatin karena yayasan Hidayatullah yang cukup besar tersebut, di tahun ajaran ini memutuskan untuk menerima siswa full day pada jenjang sekolah menengah di lokasi yang sama dengan siswa yang berasrama. Saya berusaha  menenangkan sang cendekiawan (sembari juga berusaha menenangkan diri) untuk tetap optimis dan berprasangka baik, bahwa mungkin niat yayasan tersebut adalah untuk ekspansi, memperluas layanan, sehingga full day school berkembang, boarding pun tidak terganggu (walaupun dalam hati, saya sedikit meragukan karena lokasi full day berada sama dengan lokasi boarding school).

Dua peristiwa di atas mengingatkan saya akan peristiwa 5 (lima) bulan yang lalu pada kegiatan rapat koordinasi pendidikan Hidayatullah se-Indonesia secara online yang dihadiri oleh 37 ketua departemen pendidikan dan kepesantrenan utusan masing–masing dewan pengurus wilayah Hidayatullah ditambah 8 ketua departemen pendidikan dan kepesantrenan dari kampus induk dan kampus-kampus utama Hidayatullah se-Indonesia. Salah satu peserta menanyakan pendapat tim DPP Hidayatullah bidang pendidikan tentang kondisi santri di pesantren nya yang semakin menurun, sehingga ada rencana untuk mengganti sekolah berasrama dengan sekolah full day. Saat itu tim bidang pendidikan secara kompak memotivasi ketua depdiktren tersebut untuk berupaya meningkatkan mutu pendidikan di pesantren tanpa harus menggantinya dengan sekolah full day.

Keliru Membaca Data

Peristiwa demi peristiwa ini membuat saya merenung, apa sebenarnya yang terjadi sehingga beberapa pengelola pesantren, khususnya dalam jaringan pesantren Hidayatullah, mulai kehilangan kepercayaan dirinya dengan sistem sekolah berasrama. Dari beberapa diskusi yang muncul, kebanyakan mereka terpicu dengan data yang sebenarnya tidak benar–benar akurat. Mengutip dari data.goodstats.id, beberapa peserta di dalam grup WA Hidayatullah menyebarkan informasi tentang turunnya jumlah santri dalam 4 tahun terakhir. Kalau ini dijadikan rujukan, tentu respon yang dilakukan untuk mendirikan sekolah full day perlu dipertimbangkan secara matang. 

Pertama, data ini terbantah oleh Kemenag sendiri, langsung dari Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Basnang Said, yang menyatakan turunnya angka ini, karena banyak pesantren tidak menginput data santri di EMIS (Education Management Information System) yaitu sebuah sistem pendataan pendidikan resmi di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Penulis sendiri mengecek ke beberapa Pesantren Hidayatullah yang cukup besar dengan ratusan santri di dalamnya, dan diantaranya tidak mendaftarkan santrinya dalam pusat data kemenag tersebut. Selain itu, data santri ini juga menurun, karena terdapatnya ratusan sekolah berasrama yang berada di bawah nanungan kemendikdasmen yang secara otomatis tidak terdata di EMIS Kemenag, padahal penyelenggaranya adalah Pesantren (menurut data kemendikdasmen, jumlahnya 934 sekolah).

Dua respon di atas, baik dari kementerian agama sendiri, dan juga data dari Kementerian pendidikan dasar dan menengah sejatinya memberikan informasi penting kepada penyelenggara lembaga pendidikan berbasis Pesantren, bawah sekolah berasrama tidak benar–benar ditinggalkan oleh masyarakat. Persoalan utamanya hanya pada input data. Inipun terjadi di Hidayatullah, dimana selama 5 tahun terakhir, dalam pemberitaan yang di ekspose ke media, disampaikan dalam forum forum baik formal maupun informal, bahwa Hidayatullah mengelola 352 sekolah.  Padahal setelah didata ulang, Hidayatullah telah memiliki 532 lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga jenjang SMA. Penyebabnya, karena hanya 352 sekolah itulah yang mengisi data di pusat data tarbiyah Hidayatullah, sehingga sisa yang 200an luput dari pendataan. 

Keliru Merespon Data

Penulis belakangan ini berupaya mengumpulkan data penelitian untuk mengungkap berbagai temuan tentang femonema “turunnya” jumlah peserta didik di beberapa Pesantren. Dalam beberapa kasus, angka santri yang menurun bukan serta merta karena orang tua ingin anaknya masuk di pendidikan full day. Penelitian yang dilakukan oleh Jamaluddin (2023) dan Rani et al., (2023). Mengungkap bahwa kualitas pendidikan yang dirasakan di sekolah berasrama, khususnya di pesantren, menjadi penyebab utama menurunnya minta orang tua dan santri. Banyak orang tua dan siswa memandang kurikulum Pesantren sudah usang dan tidak selaras dengan standar pendidikan modern, sehingga mengarahkan mereka untuk mencari alternatif yang menjanjikan hasil pendidikan yang lebih baik. Hal ini diaminkan oleh Taufikin & Solihuddin (2025) yang menyatakan bahwa preferensi masyarakat dalam memilih pendidikan bergeser menuju sistem pendidikan formal yang menekankan sains dan teknologi, yang dianggap menawarkan prospek karir yang lebih baik. Pergeseran ini menyebabkan penurunan minat pada sekolah asrama tradisional, khususnya pesantren, yang sering dianggap kurang selaras dengan tujuan pendidikan dan karir modern.

Dalam aspek ekonomi, terjadi dua kondisi berbeda yang juga menjadi pemicu berkurangnya jumlah santri untuk belajar di sekolah berasrama. Pada sisi Masyarakat, penurunan kemampuan ekonomi menjadi pemicu orang tua untuk mengirim anaknya ke sekolah–sekolah terdekat. Meningkatnya biaya yang terkait dengan pendidikan pesantren, termasuk biaya masuk, biaya SPP bulanan, dan biaya tambahan untuk kegiatan sekolah dan asrama, menimbulkan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga, terutama mereka yang berasal dari latar belakang berpenghasilan menengah ke bawah. Kondisi keuangan ini merupakan faktor utama yang menghambat akses ke pendidikan berbasis pesantren (Pamungkas et al., 2024 dan Sintia et al., 2025). Pada sisi Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan berasrama, beberapa pesantren menghadapi kesulitan keuangan karena ketergantungan mereka pada sumbangan masyarakat (SPP) yang tidak stabil. Ketidakstabilan keuangan ini mempengaruhi kemampuan mereka untuk mempertahankan operasional dan memberikan pendidikan berkualitas, yang menyebabkan berkurangnya pendaftaran santri bahkan mengarah pada penutupan Pesantren (Taufikin & Solihuddin, 2025).

Dari berbagai data yang diungkap oleh penelitian – penelitian yang tergolong masih sangat up to date (5 tahun terakhir), terlihat bahwa turunnya minat santri bukan disebabkan karena faktor preferensi masyarakat yang lebih mengutamakan sekolah full day daripada sekolah berasrama, tetapi karena berbagai faktor lainnya seperti mutu pendidikan pesantren, manajemen pengelolaan pesantren, hingga daya beli masyarakat terhadap pesantren yang menetapkan standar masuk di atas rata – rata. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa mengikuti tren untuk membuka full day school dan pada saat yang sama mengamputasi sekolah berasrama berbasis pesantren bukan merupakan sebuah keputusan yang bijak, bahkan cenderung sangat prematur apabila alasan dibalik pendirian full day school tersebut hanya berlandaskan pada analisa data penurunan santri. Bahkan data tersebut cenderung gagal membuktikan bahwa masyarakat mulai beralih ke full day school daripada sekolah berasrama, sebagaimana yang terlihat dari penelitian – penelitian yang dikutip pada tulisan ini. 

Manfaat sistem pendidikan berasrama di Pesantren

Tidak bisa dipungkiri, Pesantren merupakan salah satu ekosistem pendidikan yang banyak memberi manfaat bagi Bangsa ini. Sejak lima (5) abad yang lalu, Pesantren terus melahirkan generasi – generasi pemimpin yang cakap dan berkontribusi terhadap perkembangan Bangsa . Sebutlah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, dua tokoh monumental yang dimiliki Bangsa ini, yang kelak melahirkan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Mereka berdua tumbuh besar dalam sebuah pendidikan agama yaitu Pesantren. Begitu juga dengan tokoh – tokoh Bangsa saat ini seperti KH Ma’ruf Amin (Wakil Presiden RI ke 13), Din Syamsudin, dan Mahfud MD yang mengenyam pendidikan di lingkungan Pesantren. 

Banyak kelebihan yang dimiliki oleh pendidikan berasrama berbasis Pesantren yang tidak dimiliki oleh sekolah dengan sistem full day. Pesantren memberikan lingkungan yang homogen dimana penghuninya diajak untuk memiliki perspektif yang sama untuk memandang kehidupan. Perspektif pandangan hidup ini kemudian dipraktikkan dalam aktifitas sehari hari dari sejak bangun tidur hingga waktu istirahat kembali tiba. Persamaan paradigma ini mempermudah seluruh stakeholder untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi–pribadi yang taat kepada Allah dan menjunjungg tinggi nilai–nilai dalam Agama. Kelebihan berikutnya adalah sistem hidup komunal atau berjamaah. Pesantren mendidik santrinya untuk taat kepada Kyai sebagai figur pemimpin di Pesantren. Tentu saja ketaatan ini dilakukan selama Kyai menjaga prinsip – prinsip keimanan kepada Allah swt. Maka, kita akan mudah menyaksikan ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu santri taat satu komando dengan titah kyainya. Belum lagi karakter–karakter yang hanya bisa secara optimal ditumbuhkembangkan melalui pendidikan berasrama berbasis pesantren. Karakter kemandirian, kedisiplinan, bertanggung jawab, empati, kolaboratif, hingga disiplin menjadi kelebihan yang tidak bisa didapatkan secara optimal kalau sekolah diselenggarakan dengan sistem full day.

Saya teringat dengan seorang kolega yang beberapa kali dipercaya untuk menjadi kepala sekolah di sekolah–sekolah ternama di Indonesia. Terakhir, kolega tersebut dipercaya memimpin sebuah sekolah berstandar internasional ternama di Jakarta. Hebatnya, sekolah tersebut membuka layanan boarding school dengan biaya ratusan juta untuk uang masuknya. Dengan antusias, kolega tersebut berbisik memberitahukan kepada saya bahwa baru buka beberapa bulan, sudah penuh kuotanya. Saya juga teringat dengan seorang kepala sekolah yang saya baru kenal beberapa waktu tahun belakangan di Kota Bogor. Ia kerap ditugaskan oleh sebuah lembaga konsultan pendidikan internasional untuk memimpin sekolah sekolah binaan baik di Papua hingga di Kota besar seperti Jakarta dan Bogor. Di Bogor, ia memimpin sekolah berasrama yang sangat maju dan berkembang hanya dalam hitungan 5 tahun. Lulusannya sudah diterima di berbagai belahan dunia. Kini sekiolah tersebut masuk dalam 10 sekolah pertama yang ditransformasi oleh Pemerintah menjadi sekolah Garuda. Persis ketika SK nya keluar, ia mengirim informasi kepada saya, Ustadz, apakah sekolah Hidayatullah mau bertransformasi menjadi sekolah garuda? Jawaban yang saya tidak jawab secara serius, karena berbagai pertimbangan, salah satunya kesiapan sekolah – sekolah Hidayatullah untuk melejit dengan sistem berasramanya.

Bertahan dan Berkembang, atau Ditinggal

Maka pilihan bagi jaringan pengelola Pesantren Hidayatullah se Indonesia, adalah agar mempertahankan sistem pendidikan berasrama berbasis pesantren. Bukan sekedar bertahan hanya karena doktrin bahwa inilah salah satu warisan peninggalan pendiri Hidayatullah, yaitu sistem hidup berkampus, tapi karena kelebihan–kelebihan yang begitu banyak yang tidak cukup untuk diurai dalam tulisan yang terbatas ini. Dan bertahan, bukan berarti mempertahankan Pesantren dalam kondisi tata kelola yang tidak profesional dengan manajemen ala kadarnya sehingga pelan tapi pasti ditinggal oleh santri bahkan para ustadz dan kyainya. 

Hidayatullah harus meningkatkan dan mengembangkan mutu pengelolaan Pesantren dengan prinsip profetik dan profesional. Sistem hidup berkampus yang ditinggalkan oleh pendiri Hidayatullah hanya bisa dilakukan apabila warga Pesantren menjalankan prinsip hidup berIslam secara kaffah. Inilah yang perlu diletakkan sebagai azas agar Pesantren menjadi tempat yang memiliki daya tarik bagi orang tua untuk menitipkan masa depan pendidikan putra putri mereka. Ada Masjid sebagai pusat intelektual, spiritual, dan adab. Ada sekolah yang mengasah kemampuan intelektual, dan ada asrama yang meningkatkan kecerdasan sosial, emosional serta karakter-karakter seperti kepemimpinan dan kemandirian. Dengan menghidupkan tiga pilar pendidikan sekolah berasrama berbasis Pesantren ini, peserta didik tidak akan merasa jenuh untuk belajar di Pesantren. 

Seiring perkembangan teknologi digital saat ini, Pesantren juga perlu memodernisasi tata kelola pendidikan dan pelayannya secara digital. Informasi tentang progres pembelajaran siswa dapat diakses oleh orang tua siswa secara cepat, tepat dan akurat. Tidak perlu menunggu lulusan 3 hingga 6 tahun untuk mengetahui bahwa putra putri mereka memiliki jumlah hafalan sekian juz. Cukup dengan satu klik di aplikasi yang terintegrasi dengan sistem pendidikan di pesantren, mereka dapat melihat perkembangan tahfidz putra putri nya, adab mereka, kompetensi intelektual dan hal–hal penting lainnya. Pesantren harus mampu menjawab bahwa lingkungan pesantren tidak tabu terhadap perkembangan sains dan teknologi, tinggal bagaimana mengelola agar upaya menurunkan kesenjangan digital sekolah berasrama berbasis Pesantren tetap selaras dengan nilai–nilai keagamaan yang diterapkan di Pesantren. 

Pekan lalu, penulis kembali mengunjungi sebuah madrasah internasional full day yang sangat terkenal dengan prestasi dunia dalam bidang robotik. Sekolah yang berasal dari home school ini menjadi satu satunya perwakilan Indonesia dalam kejuaraan bergengsi First Global Challenge (FGC) yang digelar setiap tahun. Saat saya menemani sebuah Yayasan untuk belajar ke sini, siswa siswinya sedang mempersiapkan robot robot mereka untuk berkompetisi di Korea dalam gelaran FGC tahun ini. Saya lalu diingatkan oleh pendirinya yang sangat energik dengan mengatakan  bahwa Hidayatullah berpotensi untuk turut serta dalam kegiatan robotik tingkat dunia, karena sekolah–sekolahnya yang mayoritas berasrama sehingga siswa siswinya memiliki waktu lebih luang untuk mengasah keterampilan dalam bidang robotik. 

Pada malam rabu lalu, saya juga bertemu dengan seorang founder lembaga bimbingan yang sudah mengirim ribuan siswa siswi Indonesia melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa. Ia dengan optimis menyampaikan kepada saya bahwa Hidayatullah memiliki kesempatan sangat besar, karena sistem sekolah berasrama yang diterapkan membuat program persiapan siswa ke luar negeri bisa dilakukan secara intensif. Saya teringat dengan tujuan pendidikan Hidayatullah yang telah dirumuskan dalam konsep dasar pendidikan Hidayatullah, yaitu melahirkan insan rabbani, yang dalam definisi Imam At thabari, adalah manusia yang terasah segala aspek nya, menjadi sosok rujukan di bidang fikih, ilmu alam, urusan agama dan dunia. DImana kira- kira insan rabbani ini dilahirkan? Apakah Hidayatullah mampu melahirkan generasi rabbani ini dengan sistem pendidikan berasrama berbasis Pesantren? Haruskah Hidayatullah mentransformasi pendidikannya menjadi sistem full day school untuk melahirkan insan rabbani? 

Pesan WA dari ketua Yayasan kemudian masuk kembali di HP saya. Ia melanjutkan pertanyaannya, bagaimana kalau sekolah berasrama yang sekarang tetap kita pertahankan, lalu kita membuka sekolah full day di lokasi yang berbeda? Saya diam, tidak menjawab, sejatinya saya sedang merenung, mengapa pemikiran full day school untuk tingkatan Sekolah menengah terus hadir dalam pemikiran pengelola Pesantren? Apakah sudah tiba masanya untuk menurunkan plang papan nama Pesantren di jaringan Pendidikan Hidayatullah? Saya belum bisa menjawabnya, karena kemudian sebuah WA masuk yang terkirim dari nomor sang cendekiawan muda. Rupanya Yayasan Hidayatullah yang besar tersebut telah membuka pendaftaran sekolah full day tingkat menengah di lokasi yang sama dengan sekolah berasrama. 

Muzakkir Usman, M.Ed., Ph.D / Penulis adalah Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan

Sekolah Hebat, Membina Wali Murid untuk Mewujudkan Visi Pendidikan Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jumat, 26 Juni 2026 Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) DPP Hidayatullah menggelar pertemuan virtual bersama para kepala sekolah Zona DKI Jakarta, Banten, dan Jawa.  Kegiatan yang dihadiri ratusan kepala sekolah serta pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah tersebut membahas pentingnya pembinaan wali murid sebagai bagian dari penguatan visi pendidikan Hidayatullah.

Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) DPP, Muhammad Farhan, M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di sekolah, tetapi juga oleh keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi proses pendidikan anak.

“Sekolah yang hebat tidak hanya mendidik peserta didik, tetapi juga membina dan memberdayakan wali murid sebagai mitra utama dalam pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kehebatan sebuah sekolah tercermin dari kemampuannya membangun sinergi dengan wali murid, sehingga pendidikan anak berlangsung selaras antara sekolah dan keluarga.”

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, sekolah tidak hanya berfokus pada pembinaan peserta didik, tetapi juga memberikan perhatian kepada wali murid melalui berbagai program pembinaan, komunikasi yang intensif, serta kegiatan kolaboratif. Dengan pendekatan tersebut, orang tua diharapkan mampu menjadi mitra strategis sekolah dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Selain itu, Ketua DPP Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghaffar Hadi, menegaskan pentingnya pembinaan wali murid sebagai bagian integral dalam mewujudkan visi pendidikan yang berkualitas. Membina wai murid bukan hanya tugas sekolah tapi tugas ini ini merupakan tugas dakwah dari lembaga.

Ia menjelaskan bahwa sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga akan memperkuat efektivitas berbagai program pendidikan, baik dalam aspek akademik, karakter, maupun spiritual. Dengan demikian, tujuan pendidikan dapat dicapai secara lebih optimal dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Departemen Pembinaan Anggota DPP, Iwan Abdullah, M.S.I., menguraikan panduan teknis pembinaan wali santri yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah dan madrasah. Menurutnya, sebelum melaksanakan berbagai program pembinaan, perlu dibentuk terlebih dahulu wadah yang terstruktur dan berkelanjutan, yaitu Madrasah Wali Santri.

Menurutnya, Madrasah Wali Santri merupakan sarana strategis untuk membangun kesamaan visi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik generasi Islam yang berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia. Melalui wadah tersebut, berbagai program pembinaan dapat dilaksanakan secara sistematis, antara lain:

  • Tabligh dan penguatan nilai-nilai keislaman;
  • Program parenting untuk meningkatkan kompetensi pengasuhan;
  • Kajian bulanan sebagai sarana penguatan wawasan keagamaan dan pendidikan;
  • Halaqah Ta’lim dan Halaqah Al-Qur’an untuk meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an;
  • Program-program pembinaan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan wali santri.

Dengan hadirnya Madrasah Wali Santri, diharapkan terbangun ekosistem pendidikan yang harmonis antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui kolaborasi yang kuat tersebut, visi pendidikan Hidayatullah dalam melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, berakhlak mulia, dan berperan aktif dalam membangun peradaban Islam dapat terwujud secara lebih efektif dan berkesinambungan.

Pertemuan virtual ini menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen seluruh satuan pendidikan Hidayatullah dalam membangun kemitraan yang kokoh antara sekolah dan wali murid. Dengan sinergi yang terbangun, sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran bagi peserta didik, tetapi juga pusat pembinaan keluarga sebagai fondasi utama keberhasilan pendidikan.

LPIH Bontang Selaraskan Pengembangan Pendidikan dengan Kebutuhan Masyarakat

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Kota Bontang meneguhkan komitmen memperkuat mutu pendidikan melalui penyusunan program kerja yang terarah untuk tahun ajaran 2026. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi seluruh unsur pendidikan dalam menyelaraskan strategi peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan tata kelola lembaga, serta pengembangan sumber daya pendidik.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Perpustakaan Daerah Pemerintah Kota Bontang, Sabtu (13/6/2026), dibuka oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum Pemerintah Kota Bontang, Anwar Sadat, S.P. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

“Kami terus berkomitmen memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan pendidikan Hidayatullah. Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan merupakan bagian penting dalam melahirkan generasi yang berkarakter, berilmu, dan memiliki daya saing,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pengawas SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Dr. Titi Wurdianti, M.Pd., menekankan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan ditentukan oleh kesesuaian antara visi yang dibangun dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

“Visi sekolah harus selaras dengan kebutuhan para pemangku kepentingan sehingga dapat diwujudkan melalui program yang terukur dan menghasilkan lulusan yang sesuai dengan harapan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, penyusunan program kerja tidak hanya berorientasi pada pemenuhan target administratif, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, dan memperkuat budaya mutu di lingkungan sekolah.

Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Firdaus Darwin, mengatakan rapat kerja difokuskan pada penyusunan strategi peningkatan mutu pendidikan di seluruh satuan pendidikan Hidayatullah, mulai dari PAUD hingga SMA. Ia menilai kualitas pembelajaran harus terus ditingkatkan agar mampu menjawab tantangan pendidikan yang semakin dinamis.

“Melalui semangat ukhuwah dan kerja sama seluruh unsur lembaga, kami berharap program-program yang disusun menjadi pijakan dalam menghadirkan pendidikan yang konsisten melahirkan peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Rapat kerja diikuti jajaran Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan, pengurus organisasi, kepala satuan pendidikan, serta seluruh guru LPIH dari jenjang PAUD, MI, SMP, hingga SMA. Hadir pula Kepala Seksi Pendidikan Islam Kementerian Agama Kota Bontang Ali Musthofa, M.Pd., Pengawas Madrasah Ibtidaiyah Hairana, S.Ag., serta Pengawas Taman Kanak-kanak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang Ika Astuti, S.Pd., AUD., M.Pd.

Melalui forum tersebut, LPIH Bontang berharap seluruh program yang disusun mampu memperkuat budaya mutu, meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik, dan memperkokoh peran lembaga dalam mencetak generasi yang unggul secara akademik, berkarakter, serta memiliki komitmen keislaman yang kuat.

Sakoda Hidayatullah Kaltim Perkuat Standar Pembinaan Melalui Diklat Pembina dan Pelatih Pramuka

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — BONTANG — Satuan Komunitas Daerah (Sakoda) Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklat) Pembina dan Pelatih Sako/Pandu Hidayatullah bagi guru dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang itu resmi dibuka pada Kamis (25/6/2026) sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas kaderisasi melalui peningkatan kapasitas para pembina kepanduan.

Mengusung tema “Menjadi Pembina dan Pelatih SAKO/Pandu Hidayatullah yang Profetik dan Profesional”, diklat diarahkan untuk menyamakan standar materi, metode, dan tata kelola penyelenggaraan kepanduan di lingkungan Hidayatullah sekaligus meningkatkan kompetensi guru sebagai pembina karakter.

Ketua Sakoda Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur, Muhammad Syazili, mengatakan bahwa kepanduan di lingkungan Hidayatullah bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari sistem perkaderan yang dirancang untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan semangat pengabdian.

“Pandu Hidayatullah merupakan bagian dari proses pembinaan sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam sekaligus dijalankan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, kualitas pembina menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan kaderisasi,” ujarnya.

Menurut Syazili, Hidayatullah memandang proses kaderisasi sebagai investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi yang memiliki integritas keislaman, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

“Melalui Sako Pramuka Hidayatullah, semangat perjuangan dan pengorbanan harus terus diwariskan kepada setiap generasi. Pendidikan dan pelatihan menjadi instrumen penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut secara sistematis dan berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pembinaan kepanduan tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk membentuk pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan, disiplin, kemandirian, dan kesiapan mengabdi kepada umat serta bangsa.

“Semangat juang adalah ruh kaderisasi. Dari proses itulah lahir pembina yang mampu membentuk generasi yang tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai perjuangan,” ujarnya.

Selama pelaksanaan diklat, peserta memperoleh materi mengenai standar penyelenggaraan kegiatan Sako/Pandu Hidayatullah, metodologi pembinaan, kepemimpinan, serta penguatan peran guru sebagai pembina dan pelatih dalam proses pendidikan karakter.

Melalui pelatihan ini, Sakoda Hidayatullah Kalimantan Timur menargetkan terwujudnya penyelenggaraan kegiatan kepanduan yang memenuhi standar organisasi, meningkatnya kapasitas para pembina, serta semakin kuatnya proses kaderisasi di seluruh satuan pendidikan Hidayatullah di Kalimantan Timur.

Diklat secara resmi dibuka oleh Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Sirajuddin, dan dihadiri Ketua Pinsakonas Pramuka Hidayatullah Syarif Daryono, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Drs. Muh. Nurdin Abdul Rahman, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang KH. Jamaluddin Ibrahim, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang Firdaus Darwin, serta delegasi peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Perluas Layanan Pendidikan dan Dakwah, Hidayatullah Resmi Luncurkan Qur’an Center

0

JAKARTA (hidayatullah.or.id) — Hidayatullah kembali menegaskan komitmennya dalam bidang pendidikan dan dakwah dengan meluncurkan program Qur’an Center Hidayatullah yang diperuntukkan bagi masyarakat luas. Peluncuran program tersebut dilaksanakan di Masjid Baitul Karim, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta. Ahad (28/6/2026).

Program ini dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar Hidayatullah dalam memperluas layanan pendidikan Al-Qur’an dan dakwah, khususnya di kawasan perkotaan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan lembaga pendidikan Al-Qur’an dengan akses yang lebih mudah dan berkualitas.

Launching Quran Center Hidayatullah yang berkolaborasi dengan Masjid Baitul Karim Hidayatullah tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus masjid dan disaksikan oleh seluruh jamaah yang hadir.

Ketua Quran Center Hidayatullah, Ustadz Musthofa Zaidan, menjelaskan bahwa Quran Center Hidayatullah dihadirkan sebagai pusat pengembangan berbagai program pendidikan, pembelajaran, pembinaan, tahsin, tahfiz, serta dakwah Al-Qur’an yang terintegrasi.

“Quran Center Hidayatullah hadir untuk melayani kebutuhan umat dalam belajar Al-Qur’an secara lebih mudah, terarah, dan berkesinambungan. Kami ingin menghadirkan pembinaan Al-Qur’an yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkaasnya.

Lebih lanjut, Musthofa Zaidan yang merupakan Alumni Sekolah Dai Hidayatullah Bogor menegaskan bahwa peluncuran Quran Center merupakan bagian dari upaya Hidayatullah dalam memperluas kontribusi bagi umat melalui penguatan pendidikan berbasis Al-Qur’an. Semangat membumikan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya tumbuh di lingkungan pesantren, tetapi juga menjangkau keluarga, sekolah, masjid, serta berbagai elemen masyarakat. 

Adapun program yang ditawarkan Quran Center Hidayatullah diselenggarakan dalam bentuk layanan offline maupun online, mulai dari kelas reguler, kelas intensif, kelas privat untuk perorangan, hingga kelas keluarga. Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengakses pendidikan Al-Qur’an sesuai kebutuhan masing-masing.

Selain itu, Quran Center Hidayatullah juga menghadirkan program spesial berupa Bimbingan Metode 8 Jam bagi masyarakat yang belum mengenal huruf hijaiyah, serta program pembelajaran Bahasa Arab sebagai penunjang pemahaman Al-Qur’an secara lebih mendalam.

Kolaborasi antara Quran Center Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim Hidayatullah diharapkan menjadi awal sinergi yang semakin kuat dalam menghadirkan program-program pembinaan Al-Qur’an yang bermanfaat bagi masyarakat serta akses pembinaan Al-Qur’an yang berkualitas, sekaligus memperkuat ikhtiar membangun masyarakat yang berperadaban dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan.

Perkuat Langkah Dakwah di Tengah Umat, Hidayatullah Babel Gelar Kajian Kelembagaan

0

Pangkalpinang (hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung (Babel) menggelar Kajian Kelembagaan Jatidiri Hidayatullah di Yayasan Al-Fath Eling Jumaliah, Kota Pangkalpinang, Sabtu (27/6/2026). 

Kegiatan yang bertepatan dengan 11 Muharram 1448 H ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah Babel dalam memperkuat jati diri kader sekaligus meneguhkan langkah dakwah Hidayatullah di tengah umat.

Ketua DPW Hidayatullah Bangka Belitung, Ustadz Ismail Zalukhu, S.H.I., M.Pd dalam sambutannya menegaskan bahwa kajian kelembagaan merupakan agenda strategis dalam proses pembinaan kader yang harus diikuti oleh seluruh pemangku amanah di setiap daerah.

Ia mengatakan, penguatan kelembagaan bukan hanya bertujuan menambah wawasan organisasi, tetapi juga memastikan nilai-nilai Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi landasan Hidayatullah dalam melakukan gerakan dakwah dan tarbiyah benar-benar terinternalisasi dalam diri setiap kader sehingga menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bergerak dalam menjalankan misi dakwah.

“Kajian ini menjadi momentum untuk menyegarkan kembali komitmen perjuangan sekaligus memastikan nilai-nilai Sistematika Wahyu yang digagas  oleh pendiri Hidayatullah allahuyarham K.H. Abdullah Said terus hidup dalam setiap kader. Dengan demikian, gerakan dakwah Hidayatullah akan semakin kokoh dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ungkapnya.

Tak terlupa, Ismail juga mengapresiasi antusiasme kader yang hadir dari berbagai daerah di Bangka Belitung, di antaranya Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kota Pangkalpinang. Kehadiran mereka sekaligus menegaskan semangat kebersamaan dalam menghadirkan karya nyata bagi bangsa.

Kajian Kelembagaan yang mengusung tema “Memahami Jatidiri Hidayatullah sebagai Upaya Menjaga Spirit Perjuangan” menghadirkan K.H. Ahmad Djunaidi, S.Pd.I. sebagai pemateri. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa setiap kader dakwah harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap sejarah perjuangan Islam.

Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber inspirasi yang mampu menumbuhkan semangat, keteguhan, dan optimisme dalam mengemban amanah dakwah.

“Seorang kader pergerakan tidak boleh buta terhadap sejarah. Sudah semestinya setiap kader memiliki buku-buku sejarah di rumahnya agar ghirah perjuangan terus tumbuh dan terpelihara,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Yusuf ayat 111 yang menegaskan bahwa kisah-kisah para nabi dan orang-orang terdahulu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang berakal, menjadi petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan penting bagi kader untuk menjadikan sejarah sebagai sarana mengambil ibrah dalam melanjutkan perjuangan dakwah.

“Bangsa yang besar menghargai sejarahnya, dan gerakan dakwah yang kokoh adalah gerakan yang belajar dari perjalanan para pendahulunya. Dari sejarah itulah lahir keteguhan, arah perjuangan, dan keyakinan untuk terus melanjutkan misi dakwah hingga akhir zaman,” tegasnya.

Selain kajian kelembagaan, kegiatan juga diisi dengan berbagai agenda pembinaan serta penguatan spritual kader, seperti shalat tahajud berjamaah, tausiah subuh, rapat koordinasi, hingga olahraga bersama. 

Bukan Ujiannya yang Terlalu Besar, Mungkin “Pakaian Takwa” Kita yang Melonggar

0

Dalam perjalanan kehidupan dunia ini, dapat dipastikan setiap manusia memiliki cobaan, meski dengan jenis dan bobot yang berbeda, sebagaimana kemampuan setiap individu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Hal ini telah ditegaskan oleh-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286, yang berarti: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Sering kali kita dihampiri oleh keragu-raguan, menyampaikan beragam keluhan, menganggap badai ujian yang datang terlalu besar dan tidak adil. Padahal, Allah SWT telah memberikan jaminan mutlak dalam Al-Qur’an:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini adalah kepastian bahwa Allah tidak pernah salah mengukur pundak hamba-Nya. Jadi, jika hari ini kita merasa begitu terhimpit hingga terjebak dalam prasangka buruk (su’udzon) kepada Sang Pencipta, masalahnya bukan pada ukuran ujiannya. Jangan-jangan, “pakaian takwa” di tubuh kita yang sedang melonggar, membuat dada kita terasa sempit menahan terpaan angin cobaan.

Ketika Logika Manusia Menemui Jalan Buntu

Saat dirundung masalah, kecenderungan kita adalah sibuk mengetuk pintu-pintu manusia. Kita mencari validasi, pertolongan materi, atau sekadar sandaran yang sama-sama rapuh. Ketika semua itu gagal, kita pun merasa frustrasi.

Padahal, Allah SWT sudah menyiapkan “peta jalan” sekaligus kunci pengurai dari setiap benang kusut kehidupan. Kuncinya bukan pada seberapa keras kita protes, melainkan seberapa cepat kita merapatkan kembali kain ketakwaan yang sempat renggang.

Melalui Surah At-Talaq ayat 2-3, Allah memberikan garansi yang sangat indah bagi mereka yang memilih memperbaki hubungan dengan-Nya:

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi kunci hadirnya solusi. Allah tidak sekadar menjanjikan kemudahan, tetapi juga jalan keluar, rezeki yang tak terduga, dan kecukupan bagi siapa saja yang menjaga ketakwaannya.

Maka, ketika ujian datang, jangan terburu-buru bertanya, “Mengapa ujiannya begitu berat?” Bisa jadi pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan, “Sudahkah aku menguatkan pakaian takwaku?”

Merapikan Kembali “Pakaian” Kita

Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci kita. Sebaliknya, itu adalah ketukan lembut agar kita menyadari bahwa ada yang harus diperbaiki dari kedekatan kita dengan-Nya. Jangan fokus pada besarnya badai, tapi fokuslah pada memperkokoh jangkar takwa kita.

Semakin kuat ketakwaan seseorang, semakin kokoh pula hatinya menghadapi badai kehidupan. Bukan karena ujiannya menjadi lebih ringan, tetapi karena Allah menguatkan hati orang-orang yang senantiasa mendekat kepada-Nya.

Wallahu ‘alam bishawab

Adam Sukiman Lenggu / Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah, Inisiator Edukator Masyarakat Muda (EMAS) Jakarta

Wakaf Tanah dan Gedung Tiga Lantai Perkuat Program Dakwah Hidayatullah Banten

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten menerima wakaf berupa sebidang tanah beserta bangunan tiga lantai dari Haji Warsun untuk mendukung pengembangan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di Provinsi Banten.

Penyerahan berlangsung dalam suasana khidmat di bilangan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 12 Muharram 1448 (27/6/2026). Haji Warsun mengungkapkan rasa syukur setelah menyerahkan aset yang selama ini dimilikinya kepada lembaga. Menurutnya, keputusan tersebut memberikan ketenangan batin sekaligus menjadi ikhtiar agar manfaat harta yang diwakafkan dapat terus mengalir.

“Lega rasanya hati dan pikiran saya setelah mewakafkan ini. Semoga apa yang diserahkan hari ini bisa menjadi amal jariyah serta wasilah kebaikan yang mengalir terus-menerus untuk saya dan keluarga,” ujar Haji Warsun.

Amanah tersebut diterima langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, didampingi Sekretaris Wilayah, Muhammad Irwan. Atas nama lembaga, Dadan menyampaikan apresiasi kepada Haji Warsun dan keluarganya atas kepercayaan yang diberikan kepada Hidayatullah untuk mengelola aset wakaf tersebut.

“Kami mengucapkan jazaakumullah khairan, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Haji Warsun. Semoga wakaf ini dicatat sebagai amal jariyah terbaik dan menjadi bekal mulia kelak di akhirat,” kata Dadan.

Ia menegaskan bahwa wakaf ini amanah yang menuntut tanggung jawab dalam pengelolaannya.

Melalui pengelolaan yang bertanggung jawab, tekannya, aset wakaf diharapkan menjadi sarana yang memberi manfaat bagi aktivitas dakwah, penyelenggaraan pendidikan, dan berbagai kebutuhan umat di Banten secara berkesinambungan.

Karena itu, DPW Hidayatullah Banten berkomitmen menjaga dan mengoptimalkan pemanfaatan tanah serta bangunan tersebut agar memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Insya Allah, amanah yang besar ini akan kami jaga dan manfaatkan dengan optimal demi kemaslahatan dakwah, pendidikan, dan umat di wilayah Banten,” ujarnya.