Beranda blog Halaman 93

Peresmian Asrama Pesantren Nurur Rahmah, Hadirkan Semangat Baru bagi Santri

0

PROBOLINGGO (Hidayatullah.or.id) — Bagi generasi muda yang haus akan ilmu dan ingin meraih masa depan gemilang, pesantren sering kali menjadi tempat untuk menempa diri. Namun, tidak semua santri memiliki akses ke fasilitas yang memadai untuk belajar dengan nyaman.

Kini, harapan baru hadir di tengah-tengah mereka. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) membuktikan komitmennya dalam mendukung pendidikan pesantren dengan meresmikan asrama santri di Pondok Pesantren Nurur Rahmah, Probolinggo.

Berlokasi di Dusun Krajan, Desa Sambirampak Lor, Kecamatan Kota Anyar, Kabupaten Probolinggo, peresmian asrama ini bukan sekadar momen formalitas.

Acara yang berlangsung khidmat dan penuh emosi ini berhasil menyentuh hati para santri hingga warga sekitar. Ada senyum haru di wajah Elmas Syabab, salah satu santri yang tak kuasa menahan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah, sekarang kami punya tempat tinggal yang nyaman untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an. Terima kasih BMH dan semua donatur yang sudah peduli pada kami,” ungkap Elmas dengan mata berkaca-kaca, 18 Syawal 1446 (17/4/2025).

Baginya, asrama ini adalah jawaban atas doa panjang para santri yang selama ini berjuang dengan keterbatasan.

Acara peresmian turut dihadiri oleh perwakilan dari aparat keamanan setempat, yakni Bapak Ahmad Yusuf dari Polsek Kotaanyar dan Bapak Sudawi dari Danramil Kotaanyar.

Kehadiran mereka bukan hanya sebagai bentuk dukungan formal, tetapi juga simbol sinergi antara lembaga zakat, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa pembangunan asrama ini adalah bagian dari upaya BMH untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan pembinaan generasi unggul.

“Dengan hadirnya asrama ini, para santri tidak hanya mendapatkan tempat tinggal yang layak, tetapi juga semangat baru dalam menuntut ilmu. Ini adalah bagian dari komitmen BMH untuk mendukung pendidikan Islam hingga pelosok,” tegas Imam.

Di era digital seperti sekarang, di mana Gen Z dan milenial kerap dihadapkan pada tantangan globalisasi, keberadaan pesantren menjadi penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral yang kokoh.

Sinergi yang Menginspirasi

Peresmian asrama ini juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga zakat dapat menghasilkan dampak besar bagi generasi muda.

Bagi para donatur yang telah berkontribusi, asrama ini adalah wujud nyata dari zakat yang produktif—bukan hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.

“Kami percaya, santri hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka yang sedang belajar di pesantren adalah bibit-bibit unggul yang kelak akan membawa perubahan positif di masyarakat,” tambah Imam.

Bagi Gen Z dan milenial yang terbiasa dengan dunia cepat dan dinamis, kisah perjuangan para santri di Pesantren Nurur Rahmah ini bisa menjadi inspirasi. Di tengah keterbatasan, mereka tetap gigih mengejar ilmu, bahkan dengan semangat yang lebih besar saat mendapatkan dukungan seperti ini.*/

Hidayatullah Hadirkan Workshop Digital Marketing, Langkah Perkuat Ekonomi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam era digital yang terus berakselerasi, kemampuan untuk menguasai teknologi menjadi kunci dalam memajukan ekonomi umat dan memperluas dakwah Islam.

Menyadari akan hal ini, Departemen Ekonomi Keumatan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Workshop Digital Marketing & Kupas Tuntas Strategi Iklan Meta.

Kegiatan ini dirancang untuk membekali kader, santri, mahasiswa, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Hidayatullah dengan keterampilan digital marketing yang relevan.

Dengan semangat membangun ekosistem bisnis berbasis syariah, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan agen perubahan yang mampu memanfaatkan peluang di ranah digital.

Ruhyadi, Ketua Departemen Ekonomi Keumatan DPP Hidayatullah, menegaskan pentingnya inisiatif ini. “Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, kita harus memastikan bahwa nilai-nilai Islam tetap menjadi landasan dalam memanfaatkan peluang digital,” katanya di Jakarta, Selasa, 23 Syawal 1446 (22/4/2025).

Ruhyadi menegaskan, pelatihan ini bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang bagaimana memberdayakan umat untuk mandiri secara ekonomi dan memperkuat dakwah melalui platform digital.

Pelatihan ini memiliki tujuan umum yang ambisius, antara lain membekali peserta dengan keterampilan digital marketing untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja dan membangun usaha mandiri.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman akan peran digital marketing dalam memajukan ekonomi umat, menyiapkan kader sebagai agen perubahan, dan membangun ekosistem digital yang mendukung produk halal serta inovasi bisnis syariah.

Secara khusus, peserta diharapkan mampu merancang strategi digital marketing yang aplikatif, memahami platform media sosial, menganalisis data kampanye, mengembangkan konten menarik, serta memahami konsep Search Engine Optimization (SEO) dan Search Engine Marketing (SEM).

Pelatihan diselenggarakan dalam tiga sesi dengan format dan lokasi yang berbeda untuk menjangkau lebih banyak peserta. Total, terdapat 100 peserta yang akan mengikuti kegiatan ini: 30 peserta untuk pelatihan offline pertama, 30 peserta untuk pelatihan offline kedua, dan 40 peserta untuk pelatihan virtual.

Workshop ini dilaksanakan dalam tiga sesi dengan jadwal dan lokasi yang berbeda untuk menjangkau lebih banyak peserta. Pelatihan offline pertama berlangsung pada 9 April 2025, pukul 08.00–17.00 WIB, di Gedung Hidayatullah Bandung, Jl. R. Edang Soewanda Jl. Pasir Leutik No.18A, Padasuka, Kec. Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40192.

Sesi offline kedua dijadwalkan pada 20 April 2025, pukul 08.00–17.00 WIB, di Gedung STIE Hidayatullah, Jl. Raya Kalimulya, RT 01/05, Kec. Cilodong, Kel. Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat.

Sementara itu, pelatihan virtual akan digelar pada 3 Mei 2025, pukul 08.00–10.30 WIB, melalui platform Zoom, dengan link yang akan dibagikan sehari sebelum acara. Ketiga sesi ini dirancang untuk memastikan aksesibilitas dan fleksibilitas bagi peserta dari berbagai latar belakang.

Narasumber pelatihan adalah Mas Untung Surapati, seorang pakar digital marketing yang akan memandu peserta dengan pendekatan interaktif.

Pelatihan menggunakan kombinasi metode presentasi interaktif, diskusi, praktik langsung, dan analisis studi kasus. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks nyata.

“Kami ingin peserta tidak hanya belajar, tetapi juga terinspirasi untuk bertindak. Digital marketing adalah alat yang sangat powerful untuk memperluas jangkauan dakwah dan bisnis syariah,” ujar Ruhyadi.

Visi Menciptakan Ekosistem Digital

Lebih jauh Ruhyadi menuturkan bahwa pelatihan ini bukan sekadar tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang visi besar Hidayatullah untuk menciptakan ekosistem digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dengan menguasai digital marketing, peserta diharapkan dapat memperkuat ekonomi umat, mempromosikan produk halal, dan menyebarkan dakwah secara lebih luas. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa teknologi dan agama dapat berjalan seiring, menciptakan dampak positif bagi masyarakat, imbuh Ruhyadi.

“Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Hidayatullah mengajak seluruh kader, santri, dan pelaku UMKM untuk bergabung dalam perjalanan transformasi digital ini. Mari wujudkan ekonomi umat yang mandiri dan dakwah yang menjangkau lebih luas melalui kekuatan teknologi,” tandasnya.*/

Silaturrahim Syawal Hidayatullah Kepri Teguhkan Peran Membangun Umat dan Peradaban

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) menggelar Silaturrahim Syawal 1446 yang digelar dengan semarak namun tetap hikmat di Balai Adat Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau Kabupaten Lingga, Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, Darmansyah Dahura, mengatakan helatan ini sekaligus ajang konsolidasi dalam rangka meneguhkan peran strategis Hidayatullah dalam pembinaan umat dan pembangunan peradaban Islam di kawasan ini.

Di tengah dinamika zaman yang sarat tantangan globalisasi dan degradasi nilai, terang Darmansyah, Hidayatullah Kepulauan Riau hadir sebagai salah satu entitas dakwah yang tidak sekadar menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi menempatkan dirinya sebagai arsitek peradaban.

“Peran Hidayatullah dalam membina umat dan membangun struktur sosial berbasis nilai-nilai Islam telah menjadikannya aktor strategis dalam upaya kolektif memperkuat fondasi spiritual dan intelektual masyarakat Kepri,” kata Darmansyah dalam keterangannya kepada media ini.

Dia menjelaskan, pembinaan umat dalam perspektif Hidayatullah bukan sekadar pengajaran formal atau penguatan ritualitas, tetapi merupakan proses pembudayaan nilai, penanaman adab, serta pembangunan watak tauhid yang integral.

Dengan jaringan lembaga pendidikan, pesantren, rumah rumah, dan majelis taklim, Hidayatullah Kepri berikhtiar membentuk manusia paripurna—insan yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga produktif dan konstruktif dalam kehidupan sosial.

Lebih dari itu, Hidayatullah memandang dakwah sebagai upaya sistemik dan berkelanjutan. Melalui gerakan mainstream dan berbagai program kaderisasi, pelatihan kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat, Hidayatullah menyadari bahwa perubahan peradaban menuntut transformasi struktural yang dimulai dari akar—yaitu individu dan komunitas.

Di sinilah letak peran strategisnya, terang Darmansyah, dimana Hidayatullah menjadi salah satu entitas penggerak perubahan dengan basis spiritualitas dan orientasi kemajuan.

“Kepri sebagai wilayah yang majemuk, terbuka, dan strategis dalam lalu lintas kebudayaan serta ekonomi, menuntut pendekatan dakwah yang adaptif dan solutif. Hidayatullah Kepri menjawab tantangan tersebut dengan merajut sinergi, bukan hanya antarsesama kader, tetapi juga bersama seluruh elemen umat baik dengan ormas Islam, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga generasi muda,” imbuh Darmansyah.

Prinsip kebersamaan dalam dakwah ini menurutnya menjadi manifestasi dari nilai kolektifitas Islam—ta’awun dan takaful—yang menjadikan umat bukan sekadar objek dakwah, melainkan subjek yang turut membangun masa depan.

“Ikhtiar dakwah yang dilakukan adalah bentuk tanggung jawab eksistensial manusia sebagai khalifah. Maka, misi Hidayatullah bukan hanya membina umat, tetapi merintis jalan peradaban, yakni lahirnya masyarakat yang adil, beradab, dan terikat pada nilai ilahiah,” jelasnya.

Di tengah derasnya arus sekularisme dan permisifisme dewasa ini, peran dakwah dan tarbiyah ini dipandang menjadi semakin urgen dalam rangka menjaga jati diri umat, sekaligus menyiapkan generasi yang tangguh secara akidah dan cakap dalam membangun masa depan wilayah ini secara bermartabat.

“Oleh karena itu, Hidayatullah Kepri, dalam spirit ini, bukan sekadar organisasi. Ia adalah gerakan nilai, wadah pembinaan, dan pilar peradaban,” tandasnya.

Hadir pada kesempatan tersebut mewakili Bupati Lingga, Tenaga Ahli Bupati Lingga Abdullah, S.Th.I yang sekaligus membuka kegiatan Silaturahmi Syawal Temu Kader Hidayatullah se-Kepulauan Riau

Kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, diikuti oleh sekitar 80 peserta dari 7 Kabupaten Kota di Kepulauan Riau.

Acara tersebut juga dihadiri oleh tokoh-tokoh lainnya di antaranya Dewan Murobbi Pusat KH Nasfi Arsjad, Lc, Ketua DPD Hidayatullah Lingga Muh. Hamka Syaifudin, S.Pd dan ketua Yayasan sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Lingga.

Kehadiran para tokoh dan peserta ini menjadi penyemangat tersendiri bagi para kader dalam mempererat ukhuwah dan membangun sinergi dakwah di wilayah Kepulauan Riau.

Acara ini dirangkai juga dengan tabligh akbar di Masjid Al Muawwanah sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Hidayatullah Lingga*/

Rakornas DMU 2025 Sinergi Data dan Teknologi Menjemput Lompatan Kaderisasi Melalui Halaqah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hari masih gelap ketika puluhan layar menyala serempak di penjuru Nusantara. Pukul 06.00 WIB, nada dering konferensi daring menandai dimulainya Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sukses Daurah Marhalah Ula, Senin pagi, 22 Syawal 1446 (21/4/2025).

Forum tahunan ini tak sekadar merumuskan agenda kaderisasi Hidayatullah, tetapi juga menyalakan kembali bara semangat para pendidik dan dai di lapangan.

Di ruang digital itulah, Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Muhammad Shaleh Usman, M.I.Kom, tampil memberi penjabaran strategis. Dengan suara tenang, ia mengawali paparannya:

“Teknis pelaksanaan DMU telah kita jalankan ajeg selama beberapa tahun terakhir dan, alhamdulillah, hasil pemantauan menunjukkan prosesnya berjalan baik. Namun, inti DMU bukan berhenti di seremoni; ruh-nya terletak pada halaqah pasca-pelaksanaan,” ujarnya, menatap antusias wajah-wajah muda di layar monitor.

Tahun ini, terobosan penting diambil: Pembukaan DMU nasional ditiadakan, diganti sentralisasi di masing‑masing wilayah.

“Mulai sekarang, perkaderan wilayah menjadi nakhoda utama, berkoordinasi erat dengan Departemen Kepesantrenan serta Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah,” tutur sang Kadep, seraya menegaskan bahwa pola ini membuat pembinaan lebih kontekstual, hemat logistik, dan terukur dampaknya.

Perubahan strategi membawa tantangan baru: pendataan terpadu. Ustadz Shaleh mengingatkan bahwa setiap nama, latar belakang, dan progres kader harus tercatat rapi agar tindak lanjut berjalan progresif.

“Koordinasi pendataan adalah ruh pelayanan. Tanpa peta yang jelas, langkah kita riskan tersesat,” tegasnya, mengajak seluruh lini memanfaatkan teknologi cloud dan dashboard bersama untuk memantau perjalanan kader hingga tuntas.

Rakornas berakhir, tetapi gaungnya masih menggema. Di ujung layar, peserta menutup pertemuan dengan takbir dan janji: menjadikan halaqah bukan sekadar agenda rutin, melainkan rumah ruhani tempat aqidah dan akhlak bertumbuh seumur hidup.

Selebihnya, sejarah akan mencatat bagaimana para pejuang DMU 2025 menambatkan harapan di hati generasi berikutnya—bukan lewat slogan, tetapi melalui pengabdian nyata di tiap lingkar belajar. Karena di situlah peradaban dibangun: satu halaqah, satu jiwa, satu langkah istiqomah, menuju Indonesia yang lebih beradab.

Direktur PUZ Kaji Modernitas dan Urgensi Ma’rifatullah dalam Kehidupan Muslim

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Tujuan utama seorang hamba adalah mengenal Allah dengan baik (ḥaqq al-maʿrifah). Ini adalah ilmu yang paling utama, paling tinggi, dan paling mulia.

Demikian disampaikan Direktur Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Hidayatullah sekaligus Anggota Komisi Fatwa MUI Balikpapan Ust. H. Muhammad Dinul Haq, Lc., saat kajian rutin malam di Masjid Ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ahad, 21 Syawal 1446 H (20/4/2025).

Kajian yang dibawakan mengangkat pokok bahasan dari kitab Fiqhul Asma’ul Husna karya Syaikh Abdurrazaq Al-Badar, sebuah karya yang menyelami dimensi spiritualitas Islam melalui pengenalan terhadap nama-nama Allah yang agung.

Dalam pemaparannya, Dinul Haq menggarisbawahi bahwa inti dari kehidupan seorang Muslim tidak lain adalah mencapai kualitas pengenalan terhadap Allah—ma’rifatullah—secara hakiki.

Menurutnya, hanya dengan mengenal Allah secara mendalam, hati seorang hamba akan memperoleh kehidupan yang sejati. Hal ini merupakan fondasi teologis yang mendasari segala bentuk amal ibadah dalam Islam.

“Orang-orang berlomba-lomba dalam kebaikan karena mereka tahu, hanya dengan mengenal Allah, hati seorang hamba akan hidup,” terangnya.

Keyakinan itu melahirkan implikasi bahwa hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang berlandaskan pada kedekatan dan pengenalan terhadap Sang Pencipta.

Dalam kerangka ini, Ustadz Dinul Haq menegakan, pengenalan terhadap Asmaul Husna adalah jalan spiritual menuju hidup yang bermakna.

Ustaz Dinul Haq juga menyinggung dampak kehidupan modern yang tidak jarang menjauhkan manusia dari makna keberadaan dirinya karena tumbuhnya rasa bangga dan sombong atas berbagai keunggulan yang dicapai seolah atas kuasa dirinya belaka.

“Kehidupan modern sering kali membuat manusia lupa akan hakikat penciptaan mereka. Banyak orang menjalani hidup seperti hewan ternak—bergerak tanpa arah, makan tanpa rasa syukur, dan mati tanpa makna,” imbuhnya.

Ia pun menyampaikan sebuah seruan untuk kembali meninjau ulang cara pandang manusia terhadap eksistensinya.

“Yang sangat mengherankan,” ujarnya dengan nada prihatin, “adalah kondisi manusia yang berlalu zaman dan habis umurnya, sementara hatinya tidak merasakan nikmat hidup mengenal Allah SWT dan dekat dengan-Nya.”

Dalam kondisi seperti ini, manusia akhirnya mengalami kematian spiritual bahkan sebelum kematian fisikal menjemputnya.

“Hidup mereka lemah, tidak ada pegangan. Kalau mati, hanya kebinasaan yang menanti. Dan pada hari kebangkitan, mereka hanya bertemu penyesalan dan kerugian.”

Ia menekankan tentang urgensi kesadaran spiritual di tengah dinamika dunia modern yang sarat dengan distraksi material.

“Hukuman paling berat di dunia ini adalah Allah Ta’ala mengunci lisan seseorang dari mengingat nama-nama-Nya yang mulia,” terangnya.

Kajian ini ditutup dengan ajakan reflektif untuk mencintai Allah, menjadikan ibadah sebagai kebutuhan jiwa, dan merasa diawasi oleh-Nya sebagai bentuk penjagaan spiritual yang hakiki.

“Ketika kita mencintai Allah, beribadah kepada-Nya, dan merasa terjaga karena dekat dengan-Nya, barulah hati kita benar-benar hidup,” katanya.*/

DMU Super Strategis Lahirkan Generasi Cerdas Berkualitas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di era digital yang terus bergerak cepat, upaya mencerdaskan generasi muda menjadi kunci penting membangun peradaban. Daurah Marhalah Ula (DMU), sebuah program strategis Hidayatullah, hadir sebagai jawaban untuk melahirkan pemimpin masa depan yang Qurrota A’yun—penyejuk mata dan hati.

Senin pagi, 22 Syawal 1446 H (21/4/2025), langit masih gelap saat puluhan peserta dari berbagai penjuru Tanah Air mulai memadati layar perangkat mereka. Pukul 06:00 WIB,

Rakornas Sukses Daurah Marhalah Ula (DMU) dibuka secara online oleh Kabid Tarbiyah, Ust. Abu A’la Abdullah.

Dengan nada penuh kehangatan, beliau memberikan arahan tentang pentingnya sektor perkaderan dalam tubuh Hidayatullah, ormas yang menjadikan kaderisasi sebagai jantung perjuangannya.

“Kita ditunjuk menjadi pelaksana tugas di sektor paling inti ini,” ujar Ust. Abu A’la.

“Karena Hidayatullah adalah ormas berbasis kader. Sistematika Wahyu adalah metode kita untuk ber-Islam dengan baik—sesuai sunnah, sekaligus progresif merespon perkembangan zaman.”

Beliau menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi markas perjuangan. Di sanalah anak-anak bangsa diasah untuk menjadi cahaya peradaban.

DMU, program yang menyasar pelajar SMA ini, menjadi salah satu wasilah istiqomah dalam mencetak SDM berkualitas—kader-kader muda yang siap memimpin dengan nilai-nilai Islam.

“Kita ingin melahirkan generasi Qurrota A’yun,” tambahnya. “Anak-anak yang tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki integritas tinggi, visioner, dan mampu memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.”

Acara tersebut menghadirkan semangat baru bagi para peserta. Mereka diajak melihat lebih jauh makna kepemimpinan—bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab besar untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. DMU bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan investasi besar untuk masa depan umat dan bangsa.

Rakornas ini memberi energi optimisme terasa mengalir di antara peserta. Harapan besar terpatri di hati mereka bahwa melalui DMU, lahir generasi baru yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam iman, tangguh dalam karakter, dan visioner dalam berpikir. Anak-anak bangsa ini kelak akan menjadi garda terdepan dalam menegakkan nilai-nilai peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Bagaimana kita bisa tidak berharap besar pada mereka? Mereka adalah bibit-bibit unggul yang sedang dirawat hari ini, untuk mekar menjadi bunga-bunga indah di masa depan.*/

Mengingat dan Mewarisi Semangat Juang Ustadz Abdul Mannan

0

Ust. Dr. Abdul Mannan, MM bagi saya bukan saja senior yang progresif. Tetapi juga kader yang dekat dengan perjalanan kelembagaan saya.

Empat tahun lamanya (2009-2013) saya mendampingi beliau, menjadi pengasuh dan dosen di STIE Hidayatullah Depok, serta teman diskusi dalam memajukan mentalitas kader.

Kedekatan itu membuatku sering berjalan bersama Ust. Mannan. Setiap ada forum yang sifatnya seminar, workshop, atau bahkan diskusi, beliau selalu mengajakku ikut serta.

“Kita berangkat jam 6. Kamu nanti tunggu di perempatan. Pakai sepatu, baju batik lengan panjang,” itu kalimat yang sering beliau tekankan kalau mengajak saya.

Pesannya jelas, jangan terlambat, jangan salah kostum. Namun, lebih dari sekadar disiplin waktu dan penampilan, Ust. Mannan adalah sosok yang mengajarkan arti kesederhanaan, keteguhan hati, dan pentingnya silaturahmi dalam setiap langkah dakwah.

Pernah dalam satu kesempatan, Ust. Mannan meminta saya berangkat ke Kampus Hidayatullah Gunung Tembak dengan membawa kamera dan segala perlengkapan pendukung untuk melakukan wawancara dengan para tokoh senior Hidayatullah. Mulai dari KH. Abdurrahman Muhammad, KH. Muhammad Hasyim Harjo Suprapto (HS), dan ustadz lainnya.

Ketika kembali ke Depok, beliau melihat hasil wawancara itu, wajahnya tersenyum. Insya Allah. Karena semua senior lembaga itu optimis perjalanan 50 tahun Hidayatullah ke-2 akan semakin baik. Tentu saja itu sangat mungkin, kalau kita tidak melupakan perjalanan dan perjuangan mereka yang telah berdedikasi luar biasa untuk dakwah dan tarbiyah melalui Hidayatullah ini.

Jangan Inferior

Salah satu diksi yang begitu beliau ucapkan adalah superior dan inferior.

“Mengapa (ada kader) inferior, karena tidak memahami manhaj. Hanya latah saja. Tak paham substansi manhaj. Mengapa dulu bukan sarjana tapi punya semangat pergerakan, karena paham manhaj,” argumennya dalam acara Dialog Peradaban bertajuk “Envisioning Pelaku Peradaban” yang diselenggarakan PP Syabab Hidayatullah bekerjasama dengan Elkindy Institute dan DPW Hidayatullah Jabodebek di Kota Depok, Jawa Barat pada April 2019.

Kelebihan Ust. Dr. Mannan, dari setiap narasi yang beliau angkat, basisnya adalah pengalaman dan kiprah dakwah itu sendiri.

Kita bisa memerhatikan dengan seksama, kisah yang paling berkesan tentang Ust. Mannan. Yakni pada masa awal mula perjalanannya di dunia dakwah. Saat itu, pada tahun 1988, ia ditugaskan oleh Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, untuk membuka cabang di Makkah Al-Mukarramah.

“Disuruh buka cabang Hidayatullah di Makkah. Saya pikir ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya,” katanya suatu kali. Namun, karena prinsip sami’na wa atho’na, ia tetap berangkat meskipun tanpa uang tiket.

Dari Balikpapan, ia menuju Jakarta, tempat ia sempat terdampar karena keterbatasan. Namun, takdir Allah menunjukkan kuasanya. Seorang penjual koran yang tak pernah ia kenal memberikan bantuan untuk tiket ke Makkah.

Di Makkah, Abdul Mannan sempat bingung harus tinggal di mana. Tak ada kenalan, tak ada bekal yang cukup. Namun, pertemuan tak terduga dengan keluarga Abdul Karim Loebis di bawah Ka’bah menjadi titik balik.

Dalam diskusi panjang lebar, ia menyampaikan visi besar Hidayatullah untuk membangun dakwah di Jakarta. Pertemuan itu kemudian berlanjut dengan dukungan dari tokoh-tokoh seperti Bang Imad (penggagas Bank Muamalat) dan Prof. Akmal Taher. Dari sinilah, cikal bakal dakwah Hidayatullah di Jakarta dimulai, termasuk lokasi bersejarah di Cipinang Cempedak, bekas gudang mobil BIN, yang menjadi markas pertama gerakan dakwah.

Tekad Baja

Dalam masa-masa sulit itu, kesederhanaan menjadi fondasi utama perjuangan Ust. Mannan. Ia berkeliling dari rumah ke rumah menggunakan sepeda pancal karena tidak memiliki kendaraan pribadi. “Karena, makan pun susah apalagi motor. Ndak ada motor. Tapi semangat itu saya yakin bahwa Allah akan membantu,” katanya mengenang masa-masa awal itu. Keyakinan inilah yang membuatnya tetap teguh dan istiqomah, bahkan ketika tantangan datang bertubi-tubi.

Bagi Ust. Mannan, silaturahmi bukan hanya sekadar alat untuk menjalin hubungan, tetapi juga strategi untuk membangun sinergi.

“Panjang lebar, akhirnya saya sampaikan keperluan dan kebutuhan kalau kami akan membuka (Hidayatullah) di Jakarta. Semuanya menyambut dengan gembira dan senang hati,” ceritanya. Visi besar yang disampaikan dengan keyakinan dan ketulusan ternyata mampu menggerakkan banyak orang untuk berkontribusi.

Kini, ketika saya melihat perjalanan Hidayatullah yang semakin berkembang, saya ingat pesan Ust. Mannan: “Kalau ini kita rawat, maka ini akan jadi warisan bagi generasi berikutnya.”

Ya, perjalanan ini bukan hanya soal apa yang sudah dicapai, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan itu terus dipertahankan. Karena tanpa kesadaran untuk merawat idealisme, kita bisa kehilangan orientasi. Dan itulah yang menjadi penguat bagi kita semua.

Jadi, mari kita renungkan bersama. Apakah kita sudah cukup bersyukur atas perjuangan para pendahulu kita? Apakah kita masih menjaga api ukhuwah dan semangat dakwah yang telah mereka nyalakan?

Jika tidak, maka kita sedang berada di ambang kelesuan. Namun, jika kita tetap istiqomah, insya Allah, langkah-langkah kecil kita hari ini akan menjadi jejak besar bagi generasi mendatang.

Memahami Visi

Kalau kita perhatikan dengan cermat, ada ungkapan Ust. Dr. Abdul Mannan yang begitu mendalam. Itu terjadi saat pertama kali bertemu wakif yang kini menjadi Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Mekkah.

“Saya sampaikan misi dan visi besar Hidayatullah membangun peradaban di Jakarta. Semuanya menyambut dengan gembira dan senang hati.”

“Saya sampaikan misi dan visi,” artinya, Ust. Dr. Abdul Mannan adalah kader yang mengerti mengapa ia ada di Hidayatullah.

Lalu lebih lanjut, mengapa beliau memilih konsisten dalam dakwah dan tarbiyah di Hidayatullah. Dengan kecerdasan dan jaringan yang beliau miliki, bukan sedikit tawaran untuk jaminan ekonomi beliau secara mandiri. Namun, faktanya, hingga akhir hayat, Ust. Dr. Abdul Mannan tetap di perjuangan dakwah melalui Hidayatullah.

Ini adalah keteladanan nilai dan moral yang sangat tinggi bagi siapapun kader Hidayatullah kedepan.

Dalam dunia bisnis (Yanto Ramli dan Dwi Kartini, “Manajemen Strategik dan Bisnis”), perusahaan yang menerapkan langkah dan manajemen strategis sesuai visi dan misi mampu menggapai tingkat pengembalian keuangan sebesar 30% lebih tinggi daripada perusahan yang tidak memiliki visi dan misi.

Dalam konteks perjalanan kekaderan Ust. Dr. Abdul Mannan kita dapat ambil hikmah bahwa ketika seorang kader memahami visi dan misi ia akan melihat jalan terang perjalanan dakwah ini. Kemudian, hal itu memberikan dasar dari semua pemikiran, perencanaan, tindakan dan evaluasi strategis.

Oleh karena itu wajar jika kita mengenal Ust. Dr. Abdul Mannan sebagai sosok yang energinya selalu menggelegar. Karena beliau punya dan mengerti arah, memiliki titik fokus, dan mampu memberikan rasa harapan bersama kepada seluruh kader.

Jika ke depan kita bertanya, seperti apa kader yang Hidayatullah perlukan, salah satunya profil Ust. Dr. Abdul Mannan perlu kita hadirkan kepada generasi mendatang. Tentu saja juga dengan kader-kader senior masa lalu yang istiqomah di jalan dakwah ini.

Hidayatullah sudah sangat membutuhkan sosok pendahulu yang dapat diakses oleh anak-anak masa datang untuk menemani mereka kala di kelas, masjid, bahkan kala hendak tidur. Mereka bisa membaca itu dalam keseharian. Inilah salah satu alasan, mengapa artikel ini saya siapkan untuk mengenang Ust. Dr. Abdul Mannan, tepat pada waktu beliau wafat 4 tahun silam, 20 April 2021.*

*) Imam Nawawi, penulis Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Energi Ramadhan sebagai Amunisi Spiritual dalam Menghadapi Ujian Hidup

0

HIDUP adalah perjalanan penuh makna, sebuah siklus yang dimulai dan berakhir pada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 28:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu dahulu dalam keadaan mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali, lalu kepada-Nya kamu dikembalikan?” (QS. Al-Baqarah: 28)

Ayat ini menggambarkan perjalanan eksistensi manusia: dari ketiadaan, diberi kehidupan, menghadapi kematian, dihidupkan kembali, dan akhirnya kembali kepada Allah untuk menghadapi hisab. Siklus ini mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanyalah episode singkat, namun penuh dengan ujian dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa usia umatnya rata-rata berkisar antara 60 hingga 70 tahun, sebagaimana sabdanya: “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit yang melampauinya” (HR. Ibnu Majah).

Jika dikonversi ke waktu akhirat, sebagaimana merujuk pada Surah Al-Ma’arij ayat 4—“Malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”—usia manusia setara dengan kurang dari dua menit.

Itulah mengapa kehidupan yang singkat ini menuntut manusia untuk memanfaatkannya secara optimal, terutama dalam menghadapi berbagai ujian.

Realitas yang Tak Terelakkan

Allah SWT menegaskan bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari cobaan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-156, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Ayat ini menegaskan bahwa ujian berupa ketakutan, kemiskinan, kehilangan, dan kesulitan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa surga tidak diraih tanpa pengorbanan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kemalangan dan kesengsaraan, serta diguncang hingga Rasul dan orang-orang beriman bersamanya berkata, ‘Kapan pertolongan Allah datang?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Sabda Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa ujian adalah tanda kasih sayang Allah: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka ia diuji” (HR. Bukhari). Ujian ini bukan sekadar tantangan, melainkan sarana untuk mengasah ketahanan spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sumber Kekuatan Spiritual

Manusia, dengan segala kelemahannya, sering kali terpuruk dalam menghadapi ujian. Kelemahan ini, menurut para mufassir, terletak pada kecenderungan terhadap hawa nafsu, ketakutan, dan kesulitan dalam menjaga ketaatan.

Di sinilah Ramadhan hadir sebagai anugerah Ilahi, sebuah madrasah spiritual yang menghapus dosa dan memperkuat iman. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

Puasa Ramadhan yang dilakukan dengan keimanan (tashdiq bi al-qalb, pembenaran hati; iqrar bi al-lisan, pengakuan lisan; dan amal bi al-arkan, perbuatan anggota tubuh) serta ihtisab (tekad kuat untuk beribadah demi pahala Allah) akan menghasilkan energi spiritual yang luar biasa.

Energi ini tercermin dalam semangat ibadah, kesadaran akan kehadiran Allah, dan determinasi untuk menghadapi tantangan hidup.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan untuk mengendalikan nafsu, memperkuat disiplin, dan meningkatkan ketakwaan.

Orang yang menjalani Ramadhan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan akan merasakan ringannya ibadah, bahkan di tengah kesibukan ibadah tambahan seperti tarawih, tadarus, dan sedekah.

Mereka menghargai setiap detik Ramadhan sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah, sehingga mampu meraih gelar takwa—tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.

Solidaritas dalam Menghadapi Ujian

Hidup secara individu rentan membuat manusia terseret oleh arus masalah yang tak pernah reda. Rasulullah SAW mengibaratkan seorang yang terpisah dari jamaah seperti kambing yang mudah diterkam serigala:

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak melaksanakan shalat berjamaah, kecuali setan telah menguasai mereka. Maka tetaplah berjamaah, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian.” (HR. Abu Dawud).

Allah SWT juga menegaskan kecintaan-Nya terhadap mereka yang berjuang secara terorganisir:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka adalah bangunan yang kokoh.” (QS. As-Saff: 4)

Berjamaah tidak hanya memperkuat solidaritas, tetapi juga menjadi amunisi tak terbatas dalam menghadapi ujian. Jamaah memberikan dukungan emosional, spiritual, dan praktis, sehingga setiap individu merasa diperkuat dalam menjalani perjuangan hidup.

Ramadhan sebagai Modal Perjuangan

Energi Ramadhan adalah kekuatan spiritual yang lahir dari keimanan, ketakwaan, dan solidaritas jamaah. Ia menjadi amunisi utama untuk menghadapi ujian hidup, mengatasi kelemahan manusiawi, dan meraih keberkahan dunia-akhirat.

Dengan menjalani Ramadhan secara penuh kesadaran dan keikhlasan, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pengampunan dosa, tetapi juga ketahanan jiwa untuk menaklukkan tantangan.

Mari jadikan Ramadhan sebagai titik tolok untuk memperkuat iman, mempererat jamaah, dan meraih kemenangan sejati dalam perjuangan hidup menuju ridha Allah SWT.[]

*) Ust. Drs. Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah

Syawalan Hidayatullah Tekankan Kontinuitas Semangat Ibadah Selepas Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan agenda nasional bertajuk Syawalan Pengurus Hidayatullah Se-Indonesia pada Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus dari berbagai wilayah di Indonesia secara virtual melalui Zoom Meeting, dengan mengusung tema “Mengokohkan Komitmen Kepemimpinan dalam Organisasi.”

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., hadir sebagai pemateri utama. Ia menyampaikan pesan tentang pentingnya kontinuitas semangat ibadah dan perjuangan selepas Ramadhan. “Jadilah engkau insan robbani sepanjang masa, jangan hanya di bulan Ramadhan saja,” tegasnya.

KH Nashirul Haq mengingatkan agar spirit Ramadhan tidak dikhianati setelah Syawal, seperti wanita yang memintal benang lalu mengurainya kembali.

Menurutnya, Syawal harus menjadi momentum peningkatan iman, ilmu, dan amal. Ia juga menekankan bahwa keistiqomahan tidak bisa dipertahankan sendiri, melainkan harus dirawat dalam kebersamaan bersama orang-orang shalih dan struktur organisasi yang kokoh.

“Ber-Hidayatullah itu berat bagi mereka yang tidak memiliki idealisme dan militansi,” ujarnya. Karena itu, pemimpin di setiap level organisasi harus menguatkan visi dan misi berdasarkan manhaj nabawi.

Mengacu pada QS. Ali Imran ayat 103, beliau menekankan pentingnya berpegang teguh pada kebenaran dalam bingkai jamaah dan kepemimpinan. “Ahlussunnah wal Jamaah bukan hanya konsep, tetapi praktik nyata dalam menjalankan Islam secara kolektif dan terorganisir,” jelasnya.

KH. Nashirul Haq juga mengurai sistematika wahyu sebagai fondasi pergerakan Hidayatullah: dimulai dari pembentukan aqidah (Al-‘Alaq), pemahaman ber-Qur’an (Al-Qalam), penguatan ibadah (Al-Muzzammil), dan baru kemudian dakwah (Al-Muddatstsir) hingga terbangun peradaban islam (Al-Fatihah). “Inilah urutan dakwah profetik yang harus dijaga,” katanya.

Dalam konteks kepemimpinan, KH Nashirul menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus memiliki kekuatan mental dan spiritual, keyakinan terhadap ayat-ayat Allah, serta integritas tinggi.

Kepemimpinan yang efektif, tegasnya, harus mampu membangun kepercayaan jamaah melalui konsistensi, transparansi, dan keteladanan. “Top leader harus menjadi role model bagi para bawahannya, serta bisa mendelegasikan pekerjaan teknis dengan efektif,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa organisasi memerlukan pemimpin yang kompeten dan mampu meningkatkan kapabilitasnya. Program-program strategis membutuhkan standardisasi dan pelibatan anggota melalui musyawarah yang bermakna.

Konsolidasi di dalam organisasi menjadi sorotan penting dalam syawalan ini. KH. Nashirul Haq menekankan tiga aspe yaitu Konsolidasi Jati Diri yang mencakup pengokohkan idealisme perjuangan berdasarkan sistematika wahyu dan imamah jamaah, Konsolidasi Organisasi untuk membangun jaringan yang luas, menyiapkan SDM berkualitas, dan melakukan standardisasi seluruh lini, dan Konsolidasi Wawasan untuk memperluas pengetahuan seputar dinamika organisasi, konteks Nusantara dan global, serta memahami karakter zaman.

Ia juga menyampaikan peringatan atas fenomena perpecahan umat yang menjadi sumber kelemahan, sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi bahwa kelak umat Islam akan dikerumuni oleh musuh seperti makanan dikerumuni, bukan karena jumlah mereka sedikit, tetapi karena kehilangan soliditas dan bingkai jamaah, seperti buih di lautan.

“Pemimpin harus terus melakukan evaluasi dan muhasabah secara rutin, fokus mencari solusi, bukan sibuk menyalahkan,” ujarnya.

Dalam penutupnya, KH. Nashirul Haq menyerukan kepada seluruh pengurus untuk mengoptimalkan mujahadah, menuntaskan amanah, dan terus melahirkan kader-kader berkualitas yang mampu membangun komunitas Islami, menyelenggarakan pendidikan dan dakwah secara profetik dan profesional, serta menjalin kerjasama strategis dengan elemen umat dan bangsa.*/

Spirit Syawal, Hidayatullah Teguh Meniti Jalan Ahlussunnah dan Perjuangkan Soliditas Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Hidayatullah sebagai organisasi keislaman yang berpijak pada nilai-nilai ahlussunnah waljamaah menegaskan komitmennya untuk tetap berada di garis terdepan dalam memperjuangkan kebenaran dan solidaritas umat.

Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, mencetuskan sebuah spirit baru “Optimalkan Mujahadah, Tuntaskan Amanah” yang disampaikan dalam acara Silaturrahim Syawal Bersama DPW Hidayatullah se-Indonesia secara daring, Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Tagline ini jelas dia sebagai cerminan semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas besar dengan penuh kesungguhan di tengah keterbatasan waktu. “Karena pekerjaan rumah kita masih sangat banyak sementara waktu sangat singkat,” tegasnya.

Munas VI Hidayatullah rencananya akan digelar pada bulan November mendatang, yang akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Hidayatullah, dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan ketaatan pada regulasi organisasi.

Berbeda dengan dinamika organisasi politik yang kerap diwarnai dengan pendaftaran calon dan kompetisi, terang Nashirul, Hidayatullah tetap selalu dalam jalan musyawarah yang inklusif. “Kita berbeda dengan organisasi politik, ada pendaftaran calon, Hidayatullah semuanya melalui musyawarah,” ungkap Nashirul.

Dia menjelaskan, prinsip musyawarah mufakat ini adalah kearifan kolektif yang menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi individu, sekaligus menegaskan identitas Hidayatullah sebagai organisasi yang berpijak pada prinsip syura.

Teguh Pada Kebenaran dan Menjaga Persatuan

Pada penyampaiannya dalam acara Silaturrahim Syawal ini, Nashirul menegaskan pentingnya menjaga komitmen kepemimpinan yang berakar pada Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…”

Ayat ini, menurut Nashirul, menyandingkan dua perintah utama yakni berpegang teguh kepada kebenaran Islam—dalam istilah Hidayatullah dikenal sebagai manhaj rabbani dan manhaj nabawi—dan bergerak bersama dalam kebersamaan tanpa tercerai-berai.

“Ayat ini mendorong kita untuk berjamaah, bergerak bersama dalam kebaikan, dan inilah yang kemudian menjadi jatidiri Hidayatullah, ahlussunnah waljamaah,” jelasnya.

Dalam konteks gerakan Hidayatullah, ayat ini menjadi landasan ideologis yang kuat. Nashirul menjelaskan, manhaj rabbani menegaskan komitmen untuk menjalankan Islam secara murni berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, sementara manhaj nabawi merujuk pada cara Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan dakwah dengan hikmah, keteladanan, dan kesabaran.

Prinsip berjamaah, sebagaimana ditekankan dalam ayat ini, menjadi perekat yang memastikan Hidayatullah tetap solid dan terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

“Ahlussunnah adalah orang yang konsisten di jalan Allah dan konsisten dalam jamaah kaum muslimin,” tambah Nashirul, seraya menegaskan bahwa Hidayatullah berupaya menjadi teladan terbaik dalam mewujudkan semangat ini.

Spirit Ali Imran 103 juga mengingatkan pada kisah awal perjuangan Rasulullah SAW di Makkah. Meski jumlah pengikutnya sedikit, kekuatan mereka terletak pada keimanan yang kokoh dan solidaritas yang tak tergoyahkan.

Hidayatullah, dengan semangat yang sama, bertekad untuk menjaga manhaj gerakan dan soliditas kepemimpinan sebagai dua pilar utama. “Inilah sesungguhnya menjadi kekuatan Islam, ada manhaj gerakan, ada soliditas dalam kepemimpinan, jika keduanya terjaga maka Hidayatullah akan terjaga, eksis, dan maju. Ini sunnatullah,” tegas Nashirul.

Prinsip ini, menurut Nashirul, menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari jumlah, melainkan dari kualitas keimanan dan kekompakan.

Kunci Kekuatan Organisasi

Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Nashirul memaparkan sejumlah kunci strategis yang harus dipegang teguh oleh seluruh elemen Hidayatullah. Pertama, menguatkan visi dan misi. “Kita harus tahu visi misi kita, sehingga kita tahu kita mau ngapain dan sadar ngapain kita di sini,” katanya.

Visi besar Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam yang unggul, yang diwujudkan melalui Sistematika Wahyu sebagai metodologi perjuangan yang menggairahkan. Pendekatan ini menekankan pentingnya integritas antara ucapan dan perbuatan, transparansi, serta amanah dalam setiap langkah.

Kedua, kepemimpinan syura yang inklusif. Hidayatullah menjunjung tinggi musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan, memastikan setiap anggota merasa dilibatkan dan didengar. “Sehingga semua merasa diperankan, dilibatkan, dan kita sebagai leader hadir mendengarkan,” ujar Nashirul.

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat rasa memiliki terhadap organisasi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai demokrasi Islam yang berlandaskan keadilan dan kebersamaan.

Ketiga, membangun budaya organisasi yang kokoh. Ini membutuhkan keteladanan dari pemimpin, pembiasaan nilai-nilai positif, serta keterbukaan terhadap inovasi dan kolaborasi.

Di era modern yang penuh tantangan, kata Nashirul, Hidayatullah dituntut untuk terus bersinergi dan menghasilkan terobosan dalam berkhidmat kepada umat. Selain itu, delegasi tugas yang berbasis pada skala prioritas dan peningkatan kompetensi menjadi elemen penting untuk menjaga dinamika organisasi.

Terakhir, Nashirul menegaskan pentingnya konsolidasi jatidiri dan organisasi. Hidayatullah harus terus berjuang dengan manhaj rabbani dan manhaj nabawi, serta menjalankan perjuangan secara jama’i (bersama-sama).

Dengan pendekatan metodologis seperti ini, dia menekankan, Hidayatullah tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.*/