Beranda blog Halaman 98

Bukber dengan Pejuang Keluarga, Ojek Online, Masyarakat Dhuafa dan Guru Ngaji

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pusat Gedung Dakwah DPP Hidayatullah di Jakarta Timur, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar kegiatan “Bahagia Berbuka Puasa” dengan total penerima manfaat 700 orang, Ahad, 16 Ramadhan 1446 (16/3/2025). Mereka terdiri dari ojek online, masyarakat dhuafa dan guru ngaji.

Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Syamsuddin, menjelaskan ini adalah wujud kepedulian umat melalui zakat, infak dan sedekah.

“Program ini berlangsung dengan baik berkat kepedulian umat kepada sesama. Mereka yang memiliki harta menyiapkan diri berzakat, infak dan sedekah melalui BMH, sehingga kebahagiaan hadir dimana-mana. Kali ini BMH juga didukung oleh Paragoncorp,” katanya.

Momen yang penuh kebahagiaan itu juga menghadirkan tokoh literasi nasional, Kang Maman, penulis 60 buku.

“Man, kalau kamu bisa Iqra’ kamu tidak akan pernah lapar, Man,” begitu Kang Maman memberikan semangat kepada semua yang hadir di awal paparannya dengan mengutipkan pesan sang ayah kepadanya kala masih berusia 3 tahun.

Sukiman, seorang guru ngaji mengaku bahwa apa yang BMH ikhtiarkan adalah langkah mulia.

“Program ini adalah kemuliaan dan kebahagiaan. Mulia karena Ramadan dan bahagia karena ada solidaritas. Kami guru ngaji juga punya program ojol mengaji bagi teman-teman ojek online. Dan, BMH menyatukan kami semua di sini dalam kebahagiaan luar biasa,” ungkapnya.

Melalui tagline Ramadan Bahagia dengan Berbagi BMH berkomitmen melanjutkan kebaikan ini hingga Ramadan tuntas.*/

Buka Puasa Bersama 600 Santri, Bunda Aisyah Berikan Motivasi dan Zakat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sore hari itu menjadi hari penuh kebahagiaan bagi 600 santri di Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Senin, 17 Ramadhan 1446 (17/3/2025). Mereka berkumpul dalam acara buka puasa bersama yang dipenuhi dengan semangat dan inspirasi dari Bunda Aisyah, pengawas Vanila Hijab.

Di hadapan para santri, Bunda Aisyah menyampaikan pesan berharga. “Dalam hidup, kita harus memiliki semangat yang diperjuangkan untuk menjadi orang yang bermanfaat. Cita-cita bisa dicapai dengan usaha dan doa, serta menerima apa yang Allah takdirkan untuk kita,” ujarnya.

Selain memberi motivasi, Bunda Aisyah juga menyumbangkan zakat mal senilai 25 juta rupiah dari keluarganya, sebagai bentuk kepedulian kepada para santri. “Semoga apa yang kami berikan ini bisa bermanfaat untuk kalian,” tambahnya.

Tak hanya Bunda Aisyah, acara ini juga dihadiri oleh Ibu Novita Yunus, pengusaha batik sukses Indonesia, yang turut memberikan inspirasi.

“Hidup harus terus tumbuh, memberi arti, peduli, dan berbagi kepada sesama,” ujarnya singkat namun penuh makna.

Sebagai kejutan, Bunda Aisyah membawa seluruh menu buka puasa yang lengkap dengan es krim dan es kelapa muda. Para santri, terutama Faisal dari kelas 9 SMP, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan mereka.

“Terima kasih, semoga Bunda Aisyah, Bunda Novita, dan BMH selalu diberkahi kebaikan,” katanya penuh semangat.

Buka puasa bersama ini tidak hanya memberi makan fisik, tetapi juga memberi energi positif dan semangat baru bagi para santri untuk terus berjuang mencapai cita-cita mereka.[]

Alumni SMP-SMA Luqman Al Hakim Surabaya Raih Juara 1 Musabaqah Tahfidz di Serbia

BEOGRAD (Hidayatullah.or.id) — Kabar membanggakan datang dari Pesantren Hidayatullah Surabaya. Muhammad Faizun, alumni SMP-SMA Luqman Al Hakim Program Takhassus asal Bima, sukses mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan meraih Juara 1 dalam ajang Musabaqah Tahfidz Internasional di Beograd, Republik Serbia, Eropa Tenggara, pada Jum’at waktu setempat, 14 Ramadhan 1446 (14/3/2025).

Helatan ini digelar oleh Islamska Zajednica U Srbiji – Mešihat Islamske, badan keagamaan dan administratif tertinggi komunitas Islam di Serbia.

Prestasi ini menjadi bukti kualitas pendidikan berbasis Al-Qur’an yang diterapkan di Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Keberhasilan Muhammad Faizun tidak hanya menginspirasi para santri di pesantren tersebut, tetapi juga menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi dalam bidang keagamaan.

Kepala Sekolah SMA Luqman Al Hakim, Ustadz Santoso, S.Si., menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian luar biasa ini.

“Alhamdulillah, ini adalah prestasi yang sangat membanggakan dan menjadi dorongan besar bagi seluruh santri serta tenaga pendidik,” kata Santoso, dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 17 Ramadhan 1446 (17/3/2025).

Menurutnya, keberhasilan Muhammad Faizun membuktikan bahwa dengan ketekunan, bimbingan yang intensif, dan doa yang tulus, santri dapat berkompetisi dan meraih kemenangan di tingkat internasional.

“Kami akan terus berkomitmen membina generasi Qur’ani yang memiliki hafalan kuat, akhlak mulia, serta wawasan luas,” ujar Santoso.

Lebih jauh Santoso menyampaikan Pesantren Hidayatullah Surabaya melalui SMP-SMA Luqman Al Hakim Program Takhassus bertekad untuk terus mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang unggul, tidak hanya dalam hafalan tetapi juga dalam kepemimpinan dan pemahaman agama yang mendalam.

Dengan sistem pendidikan berbasis tauhid, bimbingan dari asatidz yang kompeten, serta lingkungan yang kondusif, pesantren ini berupaya memberikan kontribusi nyata dalam melahirkan generasi unggul bagi umat dan bangsa.

Santoso menerangkan, keberhasilan Muhammad Faizun menjadi bukti bahwa santri-santri Indonesia mampu bersaing di tingkat global dan membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

“Semoga prestasi ini menjadi awal dari pencapaian gemilang lainnya bagi para santri Indonesia di masa depan,” tandasnya.[]

Majelis Rakyat Papua Barat Silaturrahim ke Pesantren Hidayatullah Manokwari

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) mengunjungi Pesantren Hidayatullah Manokwari pada Senin, 17 Ramadhan 1446 (17/3/2025) dalam rangka anjangsana silaturahim sekaligus membagikan sembako sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak pesantren.

Ketua MRPB, Judson Fernandus Waprak, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan moral yang dilakukan secara pribadi oleh anggota MRPB, bukan melalui lembaga pemerintah atau organisasi tertentu.

“Kita hadir di sini sebagai bentuk kepedulian kepada anak-anak kita, terutama yang tidak memiliki orang tua. Kita ingin mereka merasa memiliki keluarga dan mendapatkan perhatian dari masyarakat,” ujarnya.

Judson juga menekankan pentingnya membangun toleransi antarumat beragama di Papua Barat. Ia menyoroti bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

“Toleransi hidup beragama di Papua harus terus dijaga. Kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi pada dasarnya kita satu, yaitu sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab kepada Tuhan dan kepada sesama,” tambahnya.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah, Ahmad Taufik, menyambut baik inisiatif dari MRPB. Ia menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa kebersamaan serta memperkuat hubungan antarumat beragama di Papua Barat.

“Kami berterima kasih atas kunjungan dan perhatian yang diberikan kepada anak-anak kami di pesantren ini. Semoga kebaikan yang diberikan menjadi amal yang berkah bagi semua,” kata Ahmad Taufik.

Di akhir kegiatan, MRPB dan pihak pesantren sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama dalam membangun generasi muda Papua yang beriman, berpendidikan, serta memiliki jiwa toleransi yang tinggi.

Acara ini diakhiri dengan penyerahan sembako dari Ketua MRPB, Judson Fernandus Waprak kepada Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Andai, Ahamd Taufik dan foto bersama dengan anggota MRPB yang hadir serta para santri.[]

Pusat Dakwah Hidayatullah Gelar Kajian Nuzulul Qur’an dan Bukber Ojek Online

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta menggelar acara kajian Malam Nuzulul Qur’an dan buka bersama (bukber) bersama dengan ratusan ojek online (ojol) di Masjid Baitul Karim, Jalan Cipinang Cempedak I, Otista Raya, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Ahad, 16 Ramadhan 1446 (16/3/2025).

Acara ini juga dirangkai dengan pemberian bingkisan lebaran bagi ojek online yang menjadi binaan dan mitra Rumah Qur’an Hidayatullah se-Jakarta Raya. Kegiatan ini turut didukung oleh Laznas BMH, Paragon, HiGive Indonesia, LPH Hidayatullah, PosDai, BTH, Task, HiTrave, dan lain lain.

Berikut video live streamingnya melalui channel tvHid atau dapat ditonton di tautan ini atau klik di sini.

Keadilan Sosial dan Kepemimpinan, Refleksi dari Al-Qur’an dan Sejarah Islam

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Kemakmuran Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar Kajian Ramadhan Pekanan yang kali ini mengangkat tema “Ramadhan: Keadilan Sosial dan Kepemimpinan: Refleksi dari Al-Qur’an dan Sejarah Islam” dengan menghadirkan narasumber Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Pusat Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, Ahad, 16 Ramadhan 1446 (16/3/2025).

Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar membuka pemaparannya dengan menjelaskan kembali makna salam “Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuh” yang mengandung pesan keadilan, keselamatan, rahmah, dan keberkahan.

Beliau menjelaskan, keadilan adalah prinsip yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing. Dalam Islam, keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak dan tidak bertindak zalim kepada siapa pun.

Keadilan dibutuhkan di suatu negara akan tetapi untuk mencapai keadilan yang diinginkan tidaklah mudah. Tantangan ini, menurutnya, membutuhkan wadah yang jelas untuk menggali solusi dan menginspirasi tindakan nyata.

Lebih jauh, beliau menjelaskan dua maksud Allah SWT menempatkan manusia di dunia: “Manusia sebagai hamba Allah SWT” dan “Manusia sebagai khalifah.” Sebagai hamba, manusia memiliki dua dimensi utama: “Tauhid” dan “Ibadah.” Tauhid menjadi akar keyakinan, sementara ibadah adalah wujud pengabdian.

Namun, beliau menegaskan, peran manusia tak berhenti di ranah pribadi. Sebagai khalifah, manusia ditunjuk untuk memimpin dan mengelola bumi. Beliau menegaskan betapa pentingnya peran manusia sehingga Allah SWT, menunjuk manusia untuk menjadi pemimpin di bumi (khalifah fil ardh).

Beliau menyoroti tiga tema besar yaitu soal keadilan, soal kepemimpinan, tata cara dalam mengatur masyarakat. Keadilan menjadi benang merah yang mengikat semuanya. Beliau memberikan contoh konkret dalam dua ranah: ekonomi dan hukum.

Dalam ekonomi, riba adalah sumber dari kerusakan ekonomi dan juga kejahatan dalam ekonomi, jadi sudah sepatutnya kita menghilangkan kebiasaan riba, katanya. Riba, sebagai bentuk ketidakadilan, merusak tatanan sosial dan ekonomi.

Sebaliknya, infaq itu tidak harus memiliki banyak harta, akan tetapi kita rela mengeluarkan sebagian harta kita untuk orang lain, lanjutnya.

Ironisnya, beliau menyentil sikap modern dimana di zaman sekarang, jangankan infaq, tebar senyum saja masih ogah-ogahan, padahal itu adalah infaq yang paling rendah dasarnya.

Beliau menegaskan bahwa keadilan bukan monopoli umat Islam saja tapi untuk semua umat. Keadilan harus ada dimana saja, sebab prinsip keadilan dalam Islam bersifat universal, melampaui batas identitas, dan menjadi panggilan bagi setiap individu untuk berkontribusi pada tatanan yang lebih harmonis.

Ia lantas memberi contoh dengan mengangkat kisah Umar bin Abdul Aziz, khalifah Umayyah kedelapan yang memerintah pada 717–720 M. Umar dianggap telah melakukan reformasi yang signifikan terhadap pemerintahan pusat Umayyah, dengan menjadikannya jauh lebih efisien dan egaliter.

Di bawah kepemimpinannya, 20 negara Arab makmur, ditopang oleh karakter mulia seorang Umar yang tidak ingin melihat orang lain susah, usaha yang kuat untuk mengubah masalah, dan rasa kasih sayang yang besar. Beliau menegaskan, sosok Umar bin Abdul Aziz menjadi cermin bahwa keadilan bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan dengan niat dan tindakan.

(Laporan naskah oleh Asawira Kusuma dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

HiGive dan NTI Lakukan Coaching Pengembangan Diri untuk Warga Binaan Rutan Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Sebuah inisiatif penuh makna digelar di Rumah Tahanan (Rutan) Depok ketika HiGive Indonesia, mitra kerja Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Republik Indonesia, berkolaborasi dengan PT Neural Technologies Indonesia (NTI) untuk menyelenggarakan sesi coaching pengembangan diri bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), pada Selasa, 12 Ramadhan 1446 (12/3/2025).

Kegiatan ini sebuah upaya terstruktur untuk membawa perubahan psikologis dan sosial bagi narapidana, baik yang baru memasuki dunia baru di balik jeruji maupun mereka yang bersiap kembali ke masyarakat.

NTI, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi, pelatihan, dan konsultasi manajemen, memiliki pengalaman dalam memberikan layanan coaching untuk meningkatkan produktivitas dan etos kerja sumber daya manusia di berbagai instansi dan perusahaan mitra.

Salah satu aktivitasnya NTI adalah memberikan layanan coaching untuk para perusahaan mitra untuk meningkatkan produktivitas dan etos kerja SDM mitra instansi atau perusahaan. Kali ini, keahlian tersebut diarahkan untuk misi kemanusiaan yang lebih luas.

Pelatihan di Rutan Depok ini merupakan kunjungan kedua HiGive di bulan Ramadhan 2025. Jika kunjungan pertama lebih bersifat eksploratif, kali ini HiGive menggandeng NTI untuk memberikan coaching yang dirancang khusus bagi WBP.

Direktur HiGive Indonesia, Imron Faizin, menyampaikan pelatihan ini bertujuan untuk memberi rasa tenang dan bahagia kepada para warga binaan atau narapidana yang baru masuk atau menemukan dunia baru. Selain itu bagi warga binaan yang mau keluar akan mengetahui dan memiliki rencana lebih positif saat keluar nanti.

Sebanyak 20 WBP dari latar belakang kasus yang beragam mengikuti sesi ini. NTI mengerahkan empat pelatih profesional, dipimpin oleh Eko Budiyanto, untuk memandu proses coaching.

Suasana pelaksanaan berlangsung dinamis, seru dan penuh canda tawa, berkat pendekatan yang melibatkan berbagai permainan interaktif. Namun, di balik tawa itu, ada momen haru yang mendalam. Tidak sedikit dari mereka menangis mengingat dosa-dosa masa lalu.

Eko Budiyanto, sebagai koordinator tim pelatih, menjelaskan filosofi di balik pendekatan ini. “Coaching ini diberikan kepada warga binaan pemasyarakatan, jika mereka baru masuk tentunya agar mereka tidak stres sehingga menjalani kehidupan di penjara dengan riang dan suka cita,” ujarnya.

Dia menambahkan, rasa bahagia merupakan bentuk syukur telah diberikan nikmat untuk belajar menjadi diri lebih baik. Bagi narapidana yang mendekati masa bebas, coaching ini menjadi jembatan menuju kehidupan baru.

“Mereka diharapkan akan memiliki rencana hidup lebih baik lagi sehingga tidak masuk lagi ke dalam,” harap Eko, menegaskan dimensi preventif dari program ini.

Respon positif juga datang dari pihak Rutan Depok. Abimanyu, perwakilan petugas yang mendampingi kegiatan, menyampaikan apresiasi mendalam.

Ia sekaligus menyuarakan harapan akan keberlanjutan kolaborasi antara HiGive, NTI, dan Rutan Depok. “Semoga kegiatan positif ini tidak cukup sekali ini, namun bisa dapat rutin dilakukan,” ungkapnya.

Sehari sebelumnya, pada Senin, 11 Maret 2025, HiGive telah melakukan kunjungan ke Rutan Depok untuk membahas program kerjasama sekaligus menindaklanjuti pertemuan sepekan sebelumnya dengan pihak Rutan.

Konsistensi ini menunjukkan komitmen HiGive sebagai mitra strategis Dirjenpas Kemenimipas dalam mendukung rehabilitasi dan reintegrasi sosial narapidana. Kegiatan ini bagian dari visi lebih besar untuk mengubah paradigma pemasyarakatan dari sekadar hukuman menjadi proses transformasi.

Imron menerangkan, dengan pendekatan coaching yang mengedepankan kebahagiaan dan perencanaan hidup, HiGive dan rekan kolaborasi membuktikan bahwa bahkan di balik dinding penjara, harapan untuk menjadi lebih baik tetap dapat dirajut.

Di tengah suasana Ramadhan yang penuh refleksi, inisiatif ini menjadi simbol nyata dari upaya membawa cahaya bagi mereka yang tengah menempuh perjalanan penebusan.[]

Silaturahim HiGive ke Dirjenpas Kemenimipas Buka Jalan Kolaborasi Pembinaan Narapidana

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -– Sebuah langkah progresif dalam upaya pembinaan dan pendampingan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) atau narapidana terwujud melalui kunjungan silaturahim yang dilakukan oleh Direktur HiGive Indonesia, Imron Faizin, bersama KH Hasan Makarim, seorang ulama yang dikenal sebagai pembimbing rohani warga binaan, ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas).

Bertempat di Jalan Veteran No. 11, Jakarta Pusat, kunjungan yang berlangsung pada Selasa, 11 Ramadhan 1446 (11/3/2025) ini menandai komitmen awal kerja sama strategis antara organisasi nirlaba HiGive dengan salah satu direktorat di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Republik Indonesia.

Agenda silaturahim tersebut bertujuan untuk menjalin kolaborasi dalam bidang pembinaan dan pendampingan WBP, sebuah misi yang dianggap krusial dalam sistem pemasyarakatan modern.

Dalam kunjungan ini, delegasi HiGive diterima oleh dua pejabat Dirjenpas di waktu dan tempat terpisah.

Pertemuan pertama, HiGive diterima Penanggung Jawab (Pj) Bidang Kerja Sama & Hubungan Antar Lembaga Dirjenpas, Tunggadewi Ratu Wardhani yang didampingi oleh Innaka Mutiara Sarwoasih yang merupakan Analis Perjanjian Kerja Sama Dirjenpas.

Diskusi dalam sesi ini berfokus pada ruang lingkup program dan langkah konkret menuju penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS).

Tunggadewi Ratu Wardhani menyambut baik inisiatif HiGive dan menegaskan pentingnya sinergi dengan pihak eksternal dalam mendukung tugas pemasyarakatan.

“Tentunya aktivitas pembinaan dan pendampingan untuk WBP tidak sanggup dilakukan oleh kami sendiri. Sehingga dengan hadirnya HiGive dengan program yang akan dilakukan sangat membantu kami. Semoga kegiatan ini dapat segera direalisasikan,” ujarnya.

Setelahnya, Imron Faizin dan KH Hasan Makarim melanjutkan pertemuan dengan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama pada Direktorat Teknologi Informasi dan Kerja Sama Dirjenpas, Sigit Budiyanto, di lantai 4 gedung Kemenimipas.

Dialog ini tidak hanya menyoroti program yang telah berjalan, tetapi juga membuka wacana baru tentang pendampingan di Balai Pemasyarakatan (Bapas), tempat para WBP yang telah bebas melaporkan diri dan melanjutkan proses reintegrasi sosial.

Dalam kesempatan tersebut, Sigit Budiyanto mengajukan gagasan sekaligus tantangan kepada HiGive untuk membentuk komunitas atau gerakan pendampingan bagi WBP pasca-pembebasan.

“Ngomong-ngomong masalah pembinaan, bagaimana kalau kita bikin komunitas, terutama bagi mereka yang sudah keluar. Mereka yang sudah keluar harus melapor dan berkoordinasi dengan Bapas,” katanya.

Menurut Sigit, di Bapas-lah sebenarnya polesan atau pendampingan lebih lanjut sangat diharapkan. Hal ini karena mereka sudah berbaur dengan masyarakat dimana selalu ada kondisi yang rentan bagi warga binaan yang baru keluar sehingga butuh perhatian yang lebih ekstra,” katanya.

Usulan Sigit ini sebagai upaya mendukung visi jangka panjang untuk memperkuat proses transisi WBP dari lingkungan terkontrol di lapas menuju kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan.

Salah satu poin penting yang muncul dalam pembahasan adalah program “Ideasi Bisnis” untuk WBP. Konsep ini melibatkan pelatihan dan pendampingan berbasis keterampilan hidup (lifeskills) yang disesuaikan dengan minat dan bakat narapidana.

Lebih jauh, mereka akan dibekali pengetahuan tentang manajemen bisnis, pemasaran, hingga pengembangan usaha. Program ini dirancang tidak hanya berhenti saat WBP masih berada di dalam rutan atau lapas, tetapi juga berlanjut setelah mereka bebas, sebagai upaya menciptakan keberlanjutan ekonomi dan sosial.

Imron Faizin menegaskan komitmen HiGive dalam mendukung visi tersebut. Tidak hanya di dalam Lapas atau Rutan, program-program HiGive nantinya akan berlanjut ketika mereka sudah keluar.

“Tujuannya adalah agar mereka para mantan napi ini dapat hidup dengan normal dan memperoleh penghasilan yang baik dan halal,” ungkapnya.

Imron menambahkan bahwa program tersebut mencakup coaching untuk menggali minat dan bakat, pelatihan keterampilan, digital marketing, manajemen bisnis, dan berbagai aspek lain yang relevan dengan dunia usaha. “Insya Allah semua materi ini akan diberikan,” tegasnya.

Namun, Imron juga menyadari bahwa misi ini tidak dapat diwujudkan secara mandiri oleh HiGive. Kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kompetensi spesifik menjadi prasyarat keberhasilan.

Dalam waktu dekat, penandatanganan PKS antara HiGive dan Dirjenpas akan segera dilaksanakan, menandai langkah formal menuju implementasi program-program tersebut.

Dia menambahkan, kunjungan ini selain meneguhkan silaturahim bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan, juga cerminan semangat sinergi untuk mewujudkan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan berkelanjutan.

Keluarga Pilar Kecil Menuju Peradaban Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H.M. Tasyrif Amin, M.Pd.I., menguraikan visi Islam sebagai rahmatan lil alamin—rahmat bagi seluruh alam. Ia memulai dengan menegaskan bahwa sifat universal Islam ini mencerminkan tujuan kasih sayang.

“Islam memiliki tujuan kasih sayang,” katanya, dalam kajian pekanan Ramadhan 1446 H bertajuk “Membangun Peradaban Berbasis Keluarga” di Masjid Ummul Quraa, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok pada Sabtu, 15 Ramadhan 1446 (15/3/2025).

Dalam kajian pekanan Ramadhan 1446 H bertajuk “Membangun Peradaban Berbasis Keluarga” di Masjid Ummul Quraa, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pada 15 Ramadhan 1446 (15/3/2025).

Dari cakupan luas ini, Ustadz Tasyrif memperkecil lingkupnya yaitu Islam sebagai ajaran unggul atas seluruh agama dan ideologi, membawa risalah rahmatan lil alamin, yang kemudian diwujudkan dalam organisasi seperti Hidayatullah—berbasis spirit zaman Nabi—dan akhirnya pada ranah terkecil namun fundamental yaitu keluarga yang berlandaskan iman kepada Allah Ta’ala.

“Islam yang besar berawal dari sebuah pilar yang sederhana dan kecil, yaitu keluarga. Jadi beragama ini idealnya berjamaah, tidak sendiri-sendiri, karena dalam hidup ini selalu dibutuhkan pemimpin,” katanya.

Kepemimpinan menurutnya menjadi esensial, bahkan dalam skala kecil. Ia mengutip hadits Abu Dawud bahwa jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.

Keluarga, sebagai komunitas terkecil, berfungsi sebagai “transformasi dan penegak syariat,” yang menyelamatkan anggotanya dari api neraka melalui kepemimpinan yang teguh.

Tasyrif lalu beralih pada pendidikan anak usia dini, khususnya dalam menanamkan aqidah dan akhlak.

Ia menjelaskan, pada usia dini anak hanya bisa merekam (melihat), merasa dan mendengar, disinilah peran orang tua adalah mengajarkan yang baik kepada anak. Karena akal anak belum sempurna, orang tua harus menjadi figur teladan yang mengajarkan kebaikan melalui cerita singkat hingga pengajaran agama.

“Rekaman yang paling kuat adalah rekaman usia dini sebelum SD,” katanya. Sehingga, apa yang diterima anak dari orang tua menentukan pertumbuhannya.

Lebih jauh, ia menyatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dibuat-buat yang timbul tanpa pertimbangan dan apa adanya, dia muncul secara otomatis karena sudah tertanam sejak kecil dalam kecil.

“Persoalannya sekarang jarang adanya keluarga yang mendidik kebaikan anak itu sejak keci,” katanya, sambil mengingatkan di sinilah peran sinergi antara keluarga dan lembaga penddikan menjadi sangat penting.

Pentingnya pendidikan akhlak juga tercermin dalam pernyataan Ustadz Tasyrif yang menekankan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibingkai oleh akhlak Islam sehingga ia memberikan maslahat yang luas bagi kehidupan.

Ia melanjutkan, Nabi menyuruh pada anak umur 7 tahun untuk shalat yang diiringi dengan pandai membaca Quran dan menyuruh memukul anak itu pada umur 10 tahun jika belum mau shalat.

“Jangan pendekatan pendidikan itu hanya sayang dan santun, tapi harus dengan sayang dan tegas. Harus seimbang antara lembut dan tegas,” katanya.

Keseimbangan ini menurutnya sangat vital, karena jika anak itu diberi hanya kasih sayang dan kelembutan saja maka dia akan lahir menjadi anak yang manja. Namun jika sebaliknya, maka dia akan lahir menjadi anak yang bandel.

“Tidak ada pemimpin besar yang lahir dari pendidikan manja, mereka lahir dari bimbingan yang seimbang yang mengkombinasikan antara kelembutan dan ketegasan,” terangnya.

Dalam kepengasuhan, ia menganjurkan kombinasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Karena itu, dia menegaskan, etika dan akhlak itu tidak bisa dibuat-buat. Akhlak senantiasa tercermin dalam perilaku secara habit dan spontanitas.

Ia pun mengkritik pendidikan karakter di Indonesia yang terfokus pada aspek kognitif belaka, padahal aspek afektif—adab dan akhlak—harus diutamakan untuk mewujudkan rahmatan lil alamin.

Menjawab pertanyaan peserta tentang anak yang tetap bandel meski dididik seimbang, ia menjawab, “Boleh jadi karena penerapan kepengasuhan yang tidak seimbang antara ketegasan dan kelembutan,” seraya menegaskan kembali pentingnya keseimbangan.

Dengan demikian, tegasnya, keluarga bukan sekadar unit sosial, tetapi fondasi peradaban Islam yang universal. Melalui pendidikan seimbang yang mengintegrasikan kasih sayang dan ketegasan, akhlak mulia dapat tertanam sejak dini, menjadi tonggak bagi generasi yang mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.*/

(Laporan naskah dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)

Ramadhan dan Nuzulul Qur’an, Meneguhkan Peran Dai sebagai Pelita Bangsa

MALAM Nuzulul Qur’an, yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, bukan sekadar peristiwa sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Lebih dari itu, ia adalah momentum refleksi ruhani yang mengajak umat Islam untuk kembali meneguhkan komitmen menerangi kehidupan dengan cahaya Al-Qur’an.

Di tengah bulan suci Ramadhan, yang menawarkan 1001 keutamaan, peringatan ini menjadi pengingat akan perjalanan agung kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Dalam hal ini Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Nuzulul Qur’an menjadi panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an sebagai sumber pencerahan, terutama di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185), adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan linnaas—petunjuk bagi manusia. Kehadiran Al-Qur’an pertama kali pada malam 17 Ramadhan tahun 610 Masehi, ketika Malaikat Jibril menyampaikan Surah Al-Alaq ayat 1-5 kepada Rasulullah, menandai awal revolusi literasi dan spiritual yang mengubah dunia dari kegelapan menuju cahaya.

Peristiwa ini tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi abadi bagi bangsa Indonesia untuk terus menjadikan Al-Qur’an sebagai lentera dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam suasana Ramadhan yang penuh kepekaan spiritual semacam ini, kita diajak merenungkan bagaimana cahaya Al-Qur’an dapat terus bersinar, bahkan hingga pelosok negeri yang paling terpencil.

Pengabdian Menerangi Negeri

Di balik peringatan Nuzulul Qur’an, ada peran luar biasa para dai yang sering terlupakan. Mereka adalah para pejuang cahaya yang mengabdikan hidupnya di tempat-tempat terpencil, terluar, dan rentan—daerah yang kerap jauh dari sorotan publik dan akses kemajuan.

Di desa-desa terisolasi, pulau-pulau kecil, hingga wilayah perbatasan, para dai ini menjadi pelita yang menerangi jiwa umat dengan Al-Qur’an. Mereka mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an kepada anak-anak, menyampaikan hikmah kepada masyarakat, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang luhur dan murni.

Dalam keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan logistik, dan tantangan geografis, mereka tetap teguh menjalankan amanah dakwah ini, seolah meneladani kesabaran Rasulullah saat menerima wahyu pertama di tengah kegelapan Gua Hira.

Peran para dai ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan spiritual umat sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di tengah gempuran informasi digital yang tak jarang membawa disorientasi nilai, para dai di daerah terpencil menjadi penjaga moral dan identitas keislaman. Mereka mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang sederhana namun mendalam seperti melalui metode Grand MBA, mereka membawa pesan Al-Qur’an tentang kepedulian, keadilan, kasih sayang, dan kebersamaan—nilai-nilai yang sangat relevan untuk memperkuat harmoni sosial di Indonesia yang beragam.

Namun, perjuangan para dai ini tidaklah mudah. Banyak dari mereka hidup dalam kondisi serba terbatas, baik dari segi ekonomi maupun akses pendidikan dan pelatihan. Mereka bekerja tanpa pamrih, mengandalkan semangat pengabdian semata.

Maka, di sinilah peringatan Nuzulul Qur’an di bulan Ramadhan menjadi pengingat bagi kita semua—termasuk negara—untuk lebih peduli pada nasib para dai. Jika Al-Qur’an adalah cahaya, maka para dai adalah pembawa obor yang menyalakan harapan di tengah kegelapan.

Pengakuan Negara

Negara, sebagai entitas yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat, diharap hendaknya hadir menyapa dan mendukung para dai dengan kebijakan yang nyata, seperti peningkatan akses pendidikan, pelatihan dakwah, dan dukungan ekonomi.

Harapan ini selaras dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Pembukaan Sidang Tanwir dan Resepsi Milad ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu, 4 Desember 2024.

Dalam pidatonya, Presiden Indonesia ke-8 ini menegaskan bahwa para ustaz, guru, dan ulama adalah pendidik bangsa yang menjadi panutan rakyat dan masyarakat. Penyampaian presiden ini mencerminkan pengakuan atas peran strategis para pendidik agama—termasuk para dai—dalam membentuk karakter bangsa.

Prabowo, yang dikenal dengan visinya untuk membangun Indonesia yang maju dan berkeadilan, tampak memahami bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kekuatan spiritual dan intelektual yang bersumber dari Al-Qur’an.

Momen Nuzulul Qur’an di Ramadhan ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk meneguhkan kembali komitmen menerangi Indonesia dengan cahaya Al-Qur’an. Para dai di daerah terpencil adalah ujung tombak dari misi mulia ini, dan negara harus menjadi mitra mereka dalam mewujudkan visi tersebut.

Dukungan nyata dari pemerintah—seperti yang tersirat dalam pernyataan Presiden Prabowo—dapat menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya sampai di kota-kota besar, tetapi juga di setiap sudut negeri, dari Sabang sampai Merauke.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang makmur secara material, tetapi juga kaya akan nilai-nilai ruhani dengan akar spiritual Islam kental yang menjadikannya teladan bagi dunia.

Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai titik balik untuk menghargai perjuangan para dai dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan.

Semoga negara terus hadir menyapa mereka dengan kebijakan yang mendukung, sehingga peran luar biasa para pendidik umat ini dapat terus bersinar, sebagaimana cahaya Al-Qur’an yang tak pernah padam.[]

*) Ust. Abdul Muin, S.Pd.I., penulis Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat