Beranda blog Halaman 99

Ramadhan dan Nuzulul Qur’an, Meneguhkan Peran Dai sebagai Pelita Bangsa

MALAM Nuzulul Qur’an, yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, bukan sekadar peristiwa sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Lebih dari itu, ia adalah momentum refleksi ruhani yang mengajak umat Islam untuk kembali meneguhkan komitmen menerangi kehidupan dengan cahaya Al-Qur’an.

Di tengah bulan suci Ramadhan, yang menawarkan 1001 keutamaan, peringatan ini menjadi pengingat akan perjalanan agung kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Dalam hal ini Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Nuzulul Qur’an menjadi panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an sebagai sumber pencerahan, terutama di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185), adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan linnaas—petunjuk bagi manusia. Kehadiran Al-Qur’an pertama kali pada malam 17 Ramadhan tahun 610 Masehi, ketika Malaikat Jibril menyampaikan Surah Al-Alaq ayat 1-5 kepada Rasulullah, menandai awal revolusi literasi dan spiritual yang mengubah dunia dari kegelapan menuju cahaya.

Peristiwa ini tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi abadi bagi bangsa Indonesia untuk terus menjadikan Al-Qur’an sebagai lentera dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam suasana Ramadhan yang penuh kepekaan spiritual semacam ini, kita diajak merenungkan bagaimana cahaya Al-Qur’an dapat terus bersinar, bahkan hingga pelosok negeri yang paling terpencil.

Pengabdian Menerangi Negeri

Di balik peringatan Nuzulul Qur’an, ada peran luar biasa para dai yang sering terlupakan. Mereka adalah para pejuang cahaya yang mengabdikan hidupnya di tempat-tempat terpencil, terluar, dan rentan—daerah yang kerap jauh dari sorotan publik dan akses kemajuan.

Di desa-desa terisolasi, pulau-pulau kecil, hingga wilayah perbatasan, para dai ini menjadi pelita yang menerangi jiwa umat dengan Al-Qur’an. Mereka mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an kepada anak-anak, menyampaikan hikmah kepada masyarakat, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang luhur dan murni.

Dalam keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan logistik, dan tantangan geografis, mereka tetap teguh menjalankan amanah dakwah ini, seolah meneladani kesabaran Rasulullah saat menerima wahyu pertama di tengah kegelapan Gua Hira.

Peran para dai ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan spiritual umat sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di tengah gempuran informasi digital yang tak jarang membawa disorientasi nilai, para dai di daerah terpencil menjadi penjaga moral dan identitas keislaman. Mereka mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang sederhana namun mendalam seperti melalui metode Grand MBA, mereka membawa pesan Al-Qur’an tentang kepedulian, keadilan, kasih sayang, dan kebersamaan—nilai-nilai yang sangat relevan untuk memperkuat harmoni sosial di Indonesia yang beragam.

Namun, perjuangan para dai ini tidaklah mudah. Banyak dari mereka hidup dalam kondisi serba terbatas, baik dari segi ekonomi maupun akses pendidikan dan pelatihan. Mereka bekerja tanpa pamrih, mengandalkan semangat pengabdian semata.

Maka, di sinilah peringatan Nuzulul Qur’an di bulan Ramadhan menjadi pengingat bagi kita semua—termasuk negara—untuk lebih peduli pada nasib para dai. Jika Al-Qur’an adalah cahaya, maka para dai adalah pembawa obor yang menyalakan harapan di tengah kegelapan.

Pengakuan Negara

Negara, sebagai entitas yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat, diharap hendaknya hadir menyapa dan mendukung para dai dengan kebijakan yang nyata, seperti peningkatan akses pendidikan, pelatihan dakwah, dan dukungan ekonomi.

Harapan ini selaras dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Pembukaan Sidang Tanwir dan Resepsi Milad ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu, 4 Desember 2024.

Dalam pidatonya, Presiden Indonesia ke-8 ini menegaskan bahwa para ustaz, guru, dan ulama adalah pendidik bangsa yang menjadi panutan rakyat dan masyarakat. Penyampaian presiden ini mencerminkan pengakuan atas peran strategis para pendidik agama—termasuk para dai—dalam membentuk karakter bangsa.

Prabowo, yang dikenal dengan visinya untuk membangun Indonesia yang maju dan berkeadilan, tampak memahami bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kekuatan spiritual dan intelektual yang bersumber dari Al-Qur’an.

Momen Nuzulul Qur’an di Ramadhan ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk meneguhkan kembali komitmen menerangi Indonesia dengan cahaya Al-Qur’an. Para dai di daerah terpencil adalah ujung tombak dari misi mulia ini, dan negara harus menjadi mitra mereka dalam mewujudkan visi tersebut.

Dukungan nyata dari pemerintah—seperti yang tersirat dalam pernyataan Presiden Prabowo—dapat menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya sampai di kota-kota besar, tetapi juga di setiap sudut negeri, dari Sabang sampai Merauke.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang makmur secara material, tetapi juga kaya akan nilai-nilai ruhani dengan akar spiritual Islam kental yang menjadikannya teladan bagi dunia.

Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai titik balik untuk menghargai perjuangan para dai dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan.

Semoga negara terus hadir menyapa mereka dengan kebijakan yang mendukung, sehingga peran luar biasa para pendidik umat ini dapat terus bersinar, sebagaimana cahaya Al-Qur’an yang tak pernah padam.[]

*) Ust. Abdul Muin, S.Pd.I., penulis Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat

Ramadhan Berkah, Kisah Kebahagiaan di Kampung Baskara dan Bubutan

0

DI TENGAH hiruk-pikuk kota Surabaya yang sibuk, ada sebuah cerita hangat tentang kebersamaan, kepedulian, dan kebahagiaan yang terus menyebar.

Cerita ini datang dari Kampung Baskara di Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur dan Kampung Bubutan, tempat keluarga dhuafa mengisi Ramadhan dengan senyum penuh harapan berkat bantuan zakat maal dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Halimah, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Baskara, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika menerima bingkisan kebutuhan pokok dari program Dapur Ramadhan BMH.

Matanya berbinar saat ia berkata, “Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu kami dalam menjalani Ramadhan. Sekarang, kami bisa lebih fokus beribadah tanpa harus khawatir memikirkan kebutuhan sehari-hari.”

Bagi Halimah dan keluarganya, Ramadhan tahun ini terasa lebih istimewa.

Bukan hanya karena bulan suci ini membawa keberkahan spiritual, tetapi juga karena kehangatan yang mereka rasakan dari sesama manusia.

Setiap butir beras, setiap kemasan minyak goreng, dan setiap barang kebutuhan yang diterima adalah bukti bahwa masih banyak orang yang peduli.

Bulan Berbagi untuk Semua

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa penyaluran zakat maal ini adalah wujud nyata dari semangat kebersamaan di bulan Ramadhan.

“Ramadhan adalah bulan berbagi. Melalui zakat maal, kami ingin memastikan bahwa keluarga dhuafa juga bisa merasakan kebahagiaan dan keberkahan bulan suci ini dengan lebih tenang dan nyaman,” ujarnya dengan nada penuh optimisme, seperti dalam keterangan diterima media ini, Sabtu, 15 Ramadhan 1446 (15/3/2025).

Program Dapur Ramadhan BMH tidak hanya memberikan bantuan fisik. Walakin juga menyentuh hati para penerima manfaat.

Setiap paket sembako yang disalurkan adalah bentuk doa dan harapan agar keluarga dhuafa dapat menjalani ibadah puasa dengan hati yang lapang dan penuh syukur.

Kisah Halimah dan keluarga dhuafa lainnya adalah pengingat bagi kita semua bahwa berbagi itu indah.

Setiap rupiah zakat maal yang dikelola BMH adalah amanah dari masyarakat yang kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Dengan semangat gotong royong, program ini berhasil menciptakan dampak positif yang nyata.

“Saat kita berbagi, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan dalam diri kita sendiri,” tambah Imam Muslim.

Ia mengajak lebih banyak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam program serupa, sehingga kebaikan ini dapat menjangkau lebih banyak keluarga dhuafa di seluruh penjuru negeri.

Cerita tentang Halimah dan keluarga dhuafa di Kampung Baskara dan Bubutan adalah contoh nyata bagaimana kepedulian dan kebersamaan dapat mengubah hidup seseorang.

Ramadhan adalah momen spesial untuk saling berbagi, saling mendukung, dan bersama-sama merasakan keberkahan.*/

Refleksi Nuzulul Qur’an, Menerangi Indonesia dengan Cahaya Al Qur’an

0

PERINGATAN malam Nuzulul Qur’an yang jatuh pada 17 Ramadhan, atau pada tahun Masehi ini bertepatan dengan 17 Maret 2025, bukan sekadar peristiwa seremonial dalam kalender keagamaan umat Islam.

Ini adalah momentum sakral yang mengajak kita merenung kembali peran Al-Qur’an sebagai cahaya petunjuk dalam kehidupan, khususnya di Indonesia, sebuah negeri dengan keberagaman budaya dan agama yang kaya.

Dalam suasana bulan suci Ramadhan, yang penuh dengan rahmat dan ampunan, peringatan ini menjadi titik pijak untuk meneguhkan kembali komitmen menerangi Indonesia dengan nilai-nilai Al-Qur’an, melahirkan insan takwa pengabdi Tuhan, dan mengantarkan manusia menjadi pemakmur bumi yang bertanggung jawab.

Ramadhan, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil (QS. Al-Baqarah: 185).

Peristiwa turunnya Al-Qur’an kali pertama pada malam 17 Ramadhan, ini menjadi simbol bahwa wahyu Ilahi adalah lentera yang menerangi kegelapan jiwa dan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, di mana tantangan modernitas, polarisasi sosial, dan degradasi moral kian nyata, cahaya Al-Qur’an menawarkan solusi holistik.

Al Qur’an bukan hanya pedoman spiritual, tetapi juga panduan etis dan sosial yang mampu menyatukan keragaman menuju tujuan mulia: negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur—sebuah negeri yang baik lagi penuh ampunan.

Pada 19 April 2022, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam sambutannya pada peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, mengajak umat Islam menjadikan momentum ini untuk memperkuat kebersamaan dalam keragaman. Pesan ini relevan dan mendalam, mengingat Indonesia adalah mozaik budaya yang kompleks.

Jokowi menegaskan bahwa kebersamaan adalah prasyarat untuk mewujudkan visi negeri yang harmoni dan sejahtera. Pesan ini selaras dengan semangat Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 13:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Ayat ini menegaskan bahwa keragaman adalah anugerah yang harus dikelola dengan kebijaksanaan, bukan dijadikan sumber konflik.

Refleksi atas Nuzulul Qur’an dalam bingkai Ramadhan mengajak kita memahami bahwa tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah membentuk insan takwa.

Takwa, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imran: 102, adalah sikap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.

Dalam kerangka yang lebih luas, takwa tidak hanya berhenti pada ranah individu, tetapi juga bermuara pada tanggung jawab kolektif sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30).

Ramadhan, dengan ibadah shiyam, qiyam, zakat, dan tarawih, menjadi “madrasah” yang melatih jiwa insan bertakwa untuk disiplin, empati, dan solidaritas—nilai-nilai yang esensial bagi pemakmur bumi.

Namun, tantangan untuk mewujudkan visi ini tidaklah ringan. Indonesia menghadapi dilema antara kemajuan material dan krisis spiritual. Ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, serta maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi bukti bahwa cahaya Al-Qur’an belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan berbangsa.

Di sinilah peringatan Nuzulul Qur’an menjadi panggilan untuk introspeksi: sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman nyata, bukan hanya bacaan ritual?

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Mengajarkan di sini tidak sekadar berbagi teks, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilainya dalam tindakan nyata.

Peringatan Nuzulul Qur’an 2025 kali ini hendaknya menjadi titik balik untuk mengintegrasikan ajaran Al-Qur’an dalam berbagai aspek kehidupan nasional, mulai dari pendidikan, hukum, lingkungan, hingga kebijakan publik.

Pendidikan berbasis Al-Qur’an, misalnya, dapat menanamkan nilai integritas dan keadilan sejak dini. Sistem hukum yang mencerminkan rahmatan lil ‘alamin dapat menjadi solusi atas ketidakadilan sosial.

Sementara itu, kebijakan publik yang berlandaskan prinsip keberkahan dan keberlanjutan dapat menjawab krisis lingkungan yang kian parah.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi negeri yang makmur secara material, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan moral.

Islam dan Indonesia adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Identitas keislaman telah menjadi bagian dari napas sejarah bangsa, dari perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan nasional.

Oleh karena itu, alih alih dicurigai, Islam termasuk berbagai terminologi di dalamnya seperti dakwah, jihad, syariah, atau khalifah—hendaknya dipahami dan diarahkan untuk satu tujuan bersama: kemajuan umat, bangsa, dan negara.

Peringatan Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadhan ini adalah panggilan untuk menyalakan kembali lentera Al-Qur’an di hati setiap anak bangsa. Dalam cahaya itu, kita temukan jalan menuju Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.[]

*) Suhardi Sukiman, penulis Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta dan Pengasuh Rumah Qur’an (RQ) Global Jayakarta

Kebahagiaan Ramadhan di Pesantren Hidayatullah Nabire Papua Tengah

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan selalu membawa keberkahan dan kebahagiaan, terutama bagi mereka yang menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan. Suasana di Pesantren Hidayatullah Nabire, Papua Tengah, terasa berbeda pada hari itu, Kamis (13/3/2025) atau bertepatan dengan malam ke-14 Ramadhan.

Hari itu, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Nabire mengadakan program Buka Puasa Bersama, menghadirkan kebahagiaan bagi para santri dan jamaah sekitar pesantren.

Biasanya, mereka hanya berbuka dengan takjil sederhana dan minuman seadanya. Namun, malam itu, kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka saat menerima nasi kotak berisi menu lengkap.

Hidangan yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka, ini adalah sajian istimewa yang membawa kehangatan tersendiri.

Di antara deretan santri yang duduk rapi, Haikal, seorang santri putra, menyampaikan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada BMH dan para donatur yang telah memberikan buka puasa ini. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu dengan pahala yang melimpah. Aamiin,” ucapnya dengan penuh haru.

Sementara itu, Sahriadi, Kepala BMH Papua Tengah, berharap bahwa program ini akan semakin meningkatkan semangat para santri dalam menjalani puasa dan mengikuti program pembelajaran mereka.

“Semoga dengan adanya program ini, anak-anak semakin semangat dalam berpuasa dan menjalankan program-program yang telah ditargetkan,” ujarnya.

Tak hanya para santri yang merasakan kebahagiaan, beberapa jamaah yang tinggal di sekitar pesantren juga turut bergabung dalam momen berbuka puasa ini. Mereka merasakan nikmatnya kebersamaan dan kehangatan yang hadir dalam setiap suapan.

Malam itu, doa-doa mengalir bersama rasa syukur. Buka puasa bukan hanya sekadar menikmati makanan, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan dan mempererat ukhuwah.

“Semoga setiap kebaikan yang dilakukan di bulan suci ini diterima sebagai amal saleh di sisi Allah SWT,” tutup Sahriadi.[]

Iftar Ramadhan Kampus IKTJ PKP Jakarta Gandeng Baitul Wakaf ‘Sajikan’ Literasi Wakaf

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta (IKTJ) menggelar acara buka puasa bersama (iftar) yang dirangkai dengan kegiatan literasi wakaf yang meggandeng Baitul Wakaf.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan IKTJ PKP Drs H. Sukesti Martono, MM, Ketua I IKTJ PKP Drs. H Endang Abutarya, Rektor IKTJ Prof. Dr. Dewi Susanna, Wakil Rektor Dwi Agustina, dosen, dan alumni, Kamis, 13 Ramadhan 1446 (13/3/2025).

Acara yang berlokasi di aula lantai delapan Kampus IKTJ PKP Jalan Raya PKP, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, ini dimulai dengan sambutan dari Ketua Yayasan dan Rektor IKTJ.

Dalam sambutan, pihak IKTJ sangat antusias dan mendukung gerakan wakaf menjadi bagian untuk dikembangkan dalam bagian kampus.

“Wakaf menjadi instrumen alternatif yang luar biasa untuk bisa menguatkan pendidikan. Saya kedepan, Insya Allah, kami siap bermitra dan berkolaborasi untuk kembangkan wakaf,” tutur Rektor IKTJ Prof. Dr. Dewi Susanna dalam sambutannya.

Acara ini berlangsung sebagai kelanjutan MoU yang telah berjalan, antara Baitul Wakaf dengan Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta pada awal Januari lalu.

Sementara itu yang diundang sebagai narsum pada acara literasi wakaf adalah Iri Arief Rohman selaku Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Rama Wijaya selaku Direktur Baitul Wakaf.

Dalam pemaparannya, Arief menyampaikan peran streategis nazhir dalam pengembangan WakafWakaf dan bagaimana penting mengembangkan Wakaf produktif.

“Diantara semua pihak yang terkait dengan wakaf yang memegang peran kunci kesuksesan wakaf adalah nazhir. Maka, BWI melakukan peran strategis pembinaan untuk para nazhir wakaf,” tutur Arief

Peran lain dari BWI, dia melanjutkan, adalah bagaimana turut menjadi bagian dalam pengembangan wakaf produktif, diantara pendekatan yang selama ini dilakukan adalah pendekatan kolaborasi.

“BWI menerbitkan platform kolaborasi market place yang menyatukan semua potensi wakaf nasional,” kata Arief.

Arief menyebutkan, diantara yang telah berjalan adalah bagaimana Baitul Wakaf selaku pemilik asset berkolaborasi dengan Yayasan BWI, Wakaf MES dan LK BWI dalam project pisang cavendish di Klaten.

Semantara itu, Rama menyampaikan antusiasmennya terhadap partisipasi civitas akademik Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta dan alumni terhadap acara literasi wakaf.

“Alhamdulillah, kedepan wakaf akan menjadi primadona jika yang terlibat adalah gerakan anak anak muda seperti hari ini. Peran strstegis wakaf telah mampu mewujudkan mercusuar proyek keumatan, seperti Universitas Al Azhar di Mesir,” tutur Rama.

Pada sesi ini, Rama menyampaikan peran strategis anak muda yang bisa menjadi bagian dalam pengembangan wakaf.

“Peran strategis anak muda untuk mengembangkan wakaf, bisa kita mulai bersama dengan menjalan tiga hal yaitu akselerator, influencer, dan sebagai inisiator. Semoga kolaborasi kita bisa membangun wakaf yang lebih hebat,” tutur Rama.

Acara ini diakhiri dengan buka puasa bersama dan ramah tamah dengan para civitas akademika kampus IKTJ yang sepakat membangun gerakan wakaf.[]

Al-Qur’an adalah Sumber Literasi Terbaik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi mengatakan Al-Qur’an adalah sebagai sumber literasi terbaik. Demikian hal itu disampaikan dalam acara daring bertajuk “Ramadhan Saat Indah Membangun Cara Berpikir Qur’ani”, Jum’at pagi, 14 Ramadhan 1446 (14/3/25).

Imam menegaskan, bulan Ramadan menjadi momen yang tepat untuk merenungkan bagaimana cara kita menikmati Al-Qur’an.

“Al-Qur’an sebagai sumber literasi terbaik,” cetus Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah periode 2020-2023 ini.

Literasi, kebaikan, dan kesadaran diri adalah pilar penting dalam membangun individu dan masyarakat yang berpikir kritis serta bertindak konstruktif.

Imam menjelaskan, sumber literasi terbaik adalah Al-Qur’an mengundang kita untuk mendefinisikan ulang literasi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan secara bijaksana.

Al-Qur’an, dengan 6.236 ayatnya, tidak hanya menawarkan narasi spiritual, tetapi juga dorongan untuk berpikir kritis. Misalnya, dalam Surah Al-Baqarah (2:164), manusia diajak merenungkan tanda-tanda alam—rotasi bumi, pergantian siang dan malam, serta keajaiban ekosistem—sebagai bukti kebesaran Allah.

“Ini adalah panggilan untuk intelektualisme, bukan dogma buta,” tegasnya, dalam acara yang dipandu Muhaimin Abu Kayyis itu.

Dalam kehidupan modern, data UNESCO (2024) menunjukkan bahwa tingkat literasi global telah mencapai 87%, namun literasi fungsional—kemampuan memahami dan memecahkan masalah—masih tertinggal, terutama di negara berkembang.

Al-Qur’an, dengan pendekatannya yang mengintegrasikan akal dan hati, tegas Imam, dapat menjadi solusi untuk mengisi celah ini, jauh melampaui sekadar buku teks.

Dia juga merespon seorang peserta yang bertanya tentang bagaimana merawat aktifisme kebaikan yang dilakukan agar konsisten meskipun sedikit dan tanpa apresiasi dari orang lain.

“Melakukan kebaikan secara konsisten itu tidak mudah, oleh karena itu motivasinya harus karena Allah,” jawabnya, yang menyinggung tantangan psikologis dan sosial dalam menjaga integritas moral.

Dia menjelaskan, konsistensi dalam perilaku prososial menurun ketika motivasi bersumber dari validasi eksternal—seperti pujian atau penghargaan—dibandingkan dengan motivasi intrinsik yang lebih tahan lama.

Dalam kerangka Islam, motivasi “karena Allah” menawarkan landasan yang kokoh, karena ia tidak bergantung pada fluktuasi opini manusia atau imbalan material. Ini relevan di era media sosial, di mana 4,9 miliar pengguna aktif sering kali terjebak dalam “performative goodness”—kebaikan yang dipamerkan demi likes dan retweet, bukan nilai sejati.

Dengan menjadikan Allah sebagai tujuan, seseorang dapat melepaskan diri dari jebakan ini dan membangun konsistensi yang autentik.

“Kita harus fokus pada apa kata Al-Qur’an, bukan kata manusia,” katanya, yang menawarkan kritik tajam terhadap dinamika sosial kontemporer. Kata-kata manusia, sebagaimana diingatkan, rentan terhadap kesalahan dan bias.

Riset dari Pew Research Center mengungkap bahwa 62% informasi yang beredar di platform seperti X mengandung distorsi atau manipulasi narasi, sering kali untuk memicu emosi ketimbang logika.

Sebaliknya, Al-Qur’an menawarkan kerangka berpikir yang sistematis—lihat Surah Ar-Rahman (55:1-4) yang menggarisbawahi penciptaan manusia dengan kemampuan berbicara dan berpikir sebagai anugerah ilahi.

Fokus pada Al-Qur’an bukan berarti menolak diskursus manusia sama sekali, tetapi memosisikan wahyu sebagai filter untuk menyaring kebisingan informasi.

Ini penting di tengah banjir konten digital yang, menurut Global Web Index (2025), mencapai 2,5 kuintiliun byte data baru setiap hari berdasarkan laporan tren digital tahunan—sebagian besar penuh dengan opini yang kontradiktif dan minim substansi.

Terakhir, Imam juga menyerukan agar “jangan terbawa ilusi, bangun budaya baca” sebagai panggilan untuk aksi. Ilusi di sini dapat diartikan sebagai persepsi keliru yang lahir dari konsumsi informasi pasif tanpa refleksi.

Data dari World Literacy Foundation (2024) menunjukkan bahwa hanya 34% populasi global secara rutin membaca untuk memperluas wawasan, sementara sisanya terpaku pada hiburan atau berita sensasional.

Budaya baca yang berorientasi pada sumber seperti Al-Qur’an dapat menjadi antidot, karena ia tidak hanya menyediakan teks, tetapi juga metode—tadabur, yaitu perenungan mendalam.

Di Indonesia sendiri, survei Perpusnas (2023) mencatat minat baca masih rendah di angka 63,9 menit per minggu, jauh tertinggal dibandingkan negara maju seperti Jepang (300 menit).

Mengintegrasikan Al-Qur’an dalam budaya baca bukan sekadar soal agama, tetapi juga strategi intelektual untuk melawan kemalasan berpikir.

Al-Qur’an sebagai sumber literasi menawarkan kedalaman yang tak tertandingi, motivasi ilahi memberikan ketahanan, fokus pada wahyu melindungi dari bias manusia, dan budaya baca menjadi senjata melawan ilusi. Di tengah krisis informasi dan degradasi nilai saat ini, pendekatan ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak.[]

Hidayatullah Buka Puasa Bersama Wakil Gubernur Papua Barat Daya

0

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Ruang kerja kantor Wakil Gubernur Papua Barat Daya terasa lebih khidmat pada Rabu, 12 Ramadhan 1446 (12/3/2025) sore jelang petang itu.

Para kyai dan ustaz berkumpul dalam sebuah acara buka puasa bersama dan doa bersama yang dibersamai langsung oleh Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau, S.Pd.I., MM.

Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi juga munajat kepada Allah agar ruang kerja pemerintahan selalu diberkahi dengan kesejukan dan kenyamanan, sehingga para pemimpin dapat lebih fokus dalam melayani masyarakat.

Istighosah dipimpin oleh KH. Abdurrahim, Lc., alumni Universitas al-Ahgaff Yaman, yang mengajak semua yang hadir untuk memohon keberkahan.

Doa kemudian dipimpin oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Papua Barat Daya, KH. Kisman Rahayaan, mengiringi harapan agar setiap amanah kepemimpinan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Sebelum waktu berbuka tiba, Ust. Muhammad Sanusi, Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, menyampaikan tausiyah yang mengingatkan bahwa jabatan, harta, dan segala kenikmatan dunia adalah ujian dari Allah.

Ramadan menjadi momentum penting untuk membentuk pribadi muttaqin, yang memahami bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Acara diakhiri dengan dzikir berjamaah menjelang berbuka yang dipandu oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua Barat Daya, Ust. H. Muhammad Sultan, S.Pd.I.

Dalam kebersamaan ini, elemen umat dan ormas Islam terus berperan menghadirkan nilai-nilai kebaikan, menguatkan spiritualitas, dan memastikan Ramadan menjadi bulan penuh keberkahan bagi seluruh umat, termasuk para pemimpin yang mengemban amanah besar bagi masyarakat.[]

Zakat Ceria! Siswa TK Ya Bunayya Antusias Tunaikan Zakat Fitrah Lewat BMH

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh keceriaan menyelimuti TK Ya Bunayya, Jl. Kejawan Putih Tambak VI No.1, Surabaya. Dalam program Zakat Ceria Goes to School, siswa-siswi di sekolah ini dengan semangat menunaikan zakat fitrah mereka melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Kegiatan ini bertujuan mengenalkan konsep zakat sejak dini serta menanamkan nilai kepedulian sosial. Kepala TK Ya Bunayya, Ustazah Fatimah, menyambut baik kolaborasi ini.

“Kami bersyukur bisa bekerja sama dengan BMH. Program ini memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak untuk belajar berbagi dan memahami zakat sebagai bagian dari ibadah,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Jum’at, 14 Ramadhan 1446 (14/3/2025).

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menjelaskan bahwa Zakat Ceria Goes to School merupakan bagian dari upaya BMH dalam edukasi zakat dan menumbuhkan karakter berbagi sejak dini.

“Dengan program ini, anak-anak tidak hanya mengenal zakat sebagai kewajiban, tetapi juga merasakan kebahagiaan berbagi. Kami berharap program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak sekolah,” ungkapnya.

Wajah ceria para siswa yang menyerahkan zakat fitrah mereka menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.

Melalui dukungan berbagai pihak, program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk turut serta dalam gerakan kebaikan di bulan suci Ramadhan.[]

[KHUTBAH JUM’AT] Mengikis Kesombongan dan Membangun Kerendahan Hati di Bulan Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang masih memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci Ramadhan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, serta seluruh umatnya yang istiqamah dalam ketaatan hingga hari akhir.

Hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba yang dirahmati dan mendapatkan ampunan dari-Nya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjerumus dalam perangkap kesombongan, merasa lebih baik daripada yang lain, merasa lebih mulia karena harta, jabatan, ilmu, atau bahkan karena ibadah yang dilakukan. Padahal, kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ: «لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر» فقال رجل: إنّ الرجلَ يحب أن يكون ثوبه حسنا، ونَعله حسنة؟ قال: «إنّ الله جميلٌ يحب الجمالَ، الكِبر: بَطَرُ الحق وغَمْطُ الناس

Dari Abdullah bin Mas’ud -raḍiyallāhu ‘anhu- dari Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi.” Seorang lelaki bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” [Hadis sahih] – [Diriwayatkan oleh Muslim]

Kesombongan adalah penyakit hati yang sering kali tidak disadari. Ia bagai virus yang merusak amal ibadah kita, termasuk puasa di bulan Ramadan.

Kesombongan membuat seseorang merasa lebih tinggi, lebih hebat, dan lebih berhak daripada orang lain. Padahal, hakikatnya kita semua adalah hamba Allah yang sama-sama lemah dan membutuhkan rahmat-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang Allah berikan sebagai sarana untuk menyucikan hati kita dari sifat-sifat buruk, termasuk kesombongan. Dalam Islam, penyucian jiwa ini disebut dengan Tazkiyatun Nafs.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik.

Lebih dari itu, puasa adalah sarana untuk mencapai martabat takwa, yaitu derajat tertinggi yang dicari oleh setiap hamba Allah.

Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri bukan hanya dari hal-hal yang bersifat materi, tetapi juga dari sifat-sifat buruk yang merusak hati dan jiwa.

Melalui rasa lapar dan haus yang kita rasakan saat berpuasa, kita diajarkan untuk menundukkan hawa nafsu yang sering kali menjadi sumber dari segala keburukan. Rasa lapar dan dahaga ini mengingatkan kita akan kelemahan dan ketergantungan kita sebagai hamba Allah.

Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercelas seperti tamak (serakah), rakus, riya’ (pamer), dan sombong.

Dengan demikian, puasa tidak hanya membersihkan tubuh dari makanan dan minuman yang haram, tetapi juga membersihkan jiwa dari noda-noda dosa dan penyakit hati. Puasa adalah proses tazkiyatun nafs yang mengarahkan kita pada ketakwaan dan kedekatan dengan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk keburukan, termasuk kesombongan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Ada tiga tahapan penyucian jiwa dalam Islam, yaitu, Pertama, Takhalli, mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela seperti sombong, ujub, dan iri hati.

Kedua, Tahalli, mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji seperti tawadhu’, sabar, dan syukur. Dan, Ketiga, Tajalli, mencapai tingkatan spiritual tertinggi di mana seseorang hanya berorientasi kepada Allah.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melatih diri dalam proses ini. Orang yang sombong cenderung sulit menerima kebenaran dan enggan mengakui kesalahan.

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan bulan yang penuh berkah ini untuk memperbaiki hati dan membangun karakter yang lebih baik.

Lalu, bagaimana langkah mengikis kesombongan? Untuk mengikis kesombongan dalam diri, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:

Pertama, mengakui kebenaran. Kebenaran bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang kita anggap sebagai musuh sekalipun. Menerima kebenaran adalah tanda kerendahan hati.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 18:

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat”

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar, dijelaskan bahwa ayat ini merujuk kepada orang-orang yang memiliki kecerdasan dan hati yang bersih. Mereka mendengarkan berbagai perkataan, memilah mana yang baik dan buruk, lalu mengikuti yang terbaik, yaitu yang paling bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus bersikap terbuka terhadap ilmu dan nasihat, tidak menutup diri hanya karena perbedaan sumber atau orang yang menyampaikan. Ini adalah sifat rendah hati yang berlawanan dengan kesombongan, di mana seseorang menolak kebenaran hanya karena merasa lebih tinggi dari yang lain.

Orang-orang yang memiliki sifat ini disebut sebagai hamba yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan sebagai ulul albab—yakni mereka yang memiliki akal sehat, hati yang jernih, dan mampu membedakan kebaikan dari keburukan.

Dengan demikian, ayat ini menjadi pengingat bahwa kita harus selalu bersikap rendah hati, siap menerima kebenaran dari siapa pun, dan senantiasa mencari ilmu yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Kedua, tidak membandingkan diri dengan orang lain. Ukuran kemuliaan seseorang bukanlah harta, jabatan, atau penampilan, tetapi ketakwaannya kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa amal hati adalah inti dari keimanan dan merupakan tonggak utama dalam agama.

Amal hati mencakup berbagai aspek penting seperti mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, serta bersabar terhadap segala ketetapan-Nya.

Selain itu, seorang mukmin juga harus memiliki rasa takut akan azab Allah sekaligus penuh harapan terhadap rahmat-Nya.

Konsep ini menunjukkan bahwa keimanan bukan hanya sekadar amalan lahiriah, tetapi harus berakar dalam hati. Jika hati dipenuhi dengan keikhlasan dan ketakwaan, maka seluruh amal perbuatan seseorang akan berkualitas dan diterima oleh Allah.

Sebaliknya, jika hati diliputi oleh kesombongan dan keangkuhan, maka sulit bagi seseorang untuk meraih keridhaan-Nya.

Langkah Ketiga, meningkatkan ibadah dan dzikir dengan memperbanyak dzikir, shalat sunnah, dan tadarus Al-Qur’an, apalagi di bulan suci Ramadhan, kita akan semakin dekat dengan Allah dan menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41-42:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya dalam berbagai bentuk, seperti tahlil, tahmid, tasbih, takbir, dan bacaan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah.

Dzikir ini tidak hanya dianjurkan dalam kondisi tertentu, tetapi hendaknya dilakukan secara terus-menerus dalam segala situasi, baik di waktu pagi dan sore, setelah shalat lima waktu, maupun dalam keadaan khusus lainnya, apalagi dibulan suci Ramadhan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Silaturrahim Hidayatullah ke Wagub Papua Barat Daya Perkuat Dakwah dan Kerja Sama Umat

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Di bawah langit Papua Barat Daya yang terbentang luas, sebuah pertemuan penuh makna terukir di Kantor Gubernur di Remu Utara, Distrik Sorong, Kota Sorong, Rabu, 12 Ramadhan 1446 (12/3/2025).

Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua Barat Daya, M. Sanusi, bersama rombongan dan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH), melangkah masuk dalam agenda silaturrahim yang menjembatani idealisme keagamaan dan kebijakan publik.

Mereka disambut oleh Wakil Gubernur, K.H. Ahmad Nausrau, S.Pd.I, MM, didampingi staf ahli dan tokoh masyarakat, dalam suasana yang hangat sekaligus visioner.

Kunjungan ini menjadi simpul pengikat silaturrahim yang mempererat kerja sama Hidayatullah dengan pemerintah, khususnya dalam mengangkat program dakwah, pendidikan, dan inisiatif sosial lainnya.

Dalam pertemuan itu, zakat—pilar ketiga Islam yang mengandung dimensi spiritual dan sosial—menjadi salah satu fokus utama. Zakat, sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an (At-Taubah: 103), bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi instrumen pemberdayaan yang mengalirkan harta dari yang mampu kepada yang membutuhkan, menciptakan keseimbangan dalam tatanan masyarakat.

M. Sanusi, yang juga Kepala BMH Papua Barat Daya, memperkenalkan peran BMH sebagai lembaga resmi yang mengelola zakat, infak, dan sedekah, dengan izin operasional dari BMH Pusat dan Kementerian Agama Provinsi Papua Barat.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan dan imbauan kepada masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi seperti BMH. Dengan begitu, dana yang terkumpul dapat dikelola dengan baik dan tepat sasaran untuk kemaslahatan umat,” ujar Sanusi, menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Sanusi menegaskan bahwa dana zakat yang dikelola BMH dapat disalurkan kepada delapan asnaf—seperti fakir, miskin, amil, hingga muallaf—sebagaimana diatur dalam syariat.

Lebih dari itu, zakat menjadi jembatan untuk mendanai program dakwah dan pendidikan, dua pilar yang diyakini Hidayatullah sebagai fondasi peradaban. Dengan dukungan pemerintah, gerakan ini bisa meluas, mengubah zakat dari kewajiban individu menjadi kekuatan kolektif yang memberdayakan.

Wakil Gubernur K.H. Ahmad Nausrau menyambut baik gagasan tersebut. “Kami mendukung penuh program-program keumatan yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat Papua Barat Daya,” katanya, menegaskan bahwa sinergi dengan ormas termasuk dengan lembaga zakat adalah langkah strategis.

Ia memahami bahwa zakat, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi solusi konkret untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan akses pendidikan, dan memperkuat dakwah di pelosok Papua Barat Daya.*/