AdvertisementAdvertisement

Inilah Dua Keutamaan Menjalin Silaturrahim

Content Partner

BERTEMU merupakan satu momen penting yang amat dinantikan, baik itu dengan anak, istri, saudara maupun kerabat. Terlebih lagi jika pertemuan dengan orangtua tercinta.

Perjumpaan yang hangat atau silaturahim merupakan istilah dalam budaya Indonesia yang berarti menjalin hubungan sosial antarindividu, keluarga, dan komunitas.

Islam sendiri begitu menekankan para pemeluknya untuk menjalin persaudaraan melalui silaturrahim.

Selain memiliki nilai pahala yang besar, silaturahim juga setidaknya memiliki dua keutamaan penting.

Pertama, kelapangan rezeki dan umur panjang

Silaturahim bukan sekadar tradisi atau kebiasaan, tetapi merupakan ajaran yang mendalam dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwa dengan menjaga silaturahim, seseorang akan mendapatkan kelapangan rezeki dan umur yang panjang.

Hal Ini bukanlah janji kosong, melainkan anugerah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang taat. Keberkahan dalam rezeki dan umur yang panjang menjadi bagian dari balasan bagi orang yang terus menjaga hubungan baik dengan sesama.

Dengan silaturahim, pelakunya dijanjikan kelapangan rezeki serta dipanjangkan umurnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dilapangkan umurnya, maka sambunglah talil silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, indikator keimanan dan kebahagiaan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan bahwa silaturrahim merupakan ciri atau indikator keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan hari akhir.

ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, maka sambunglah silaturahim” (HR. Bukhari)

Penegasan hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama bukanlah sekadar tindakan sosial biasa, tetapi juga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hal ini juga menjadi sebuah indikator bahwa hati yang penuh iman akan selalu terbuka untuk menjaga dan mempererat tali silaturahim, sehingga menciptakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.

Memahami Hakikat Rezeki

Rezeki bukanlah semata-mata tentang harta yang melimpah, tetapi juga mencakup segala aspek kehidupan yang diberkahi oleh Allah. Hal ini termasuk dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memiliki hubungan yang baik dengan sesama, serta keberkahan dalam segala hal yang dilakukan.

Pada titik ini, dapat dikatakan bahwa rezeki yang sejati adalah ketika seseorang dapat menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan, meskipun dalam kesederhanaan.

Disnilah kita perlu masuk ke dalam ruang perenungan bahwa mengeratkan tali silaturahim bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan bagian dari membangun kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Dengan saling menghormati, mendukung, dan menyayangi satu sama lain, kita dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh kasih. Inilah yang menjadi pondasi bagi terwujudnya kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari dua dimensi penting dari silaturahim yang dipaparkan di atas, kita dapat menarik hikmah kehidupan, bahwa untuk dapat mencapai surga-Nya, salah satunya dapat ditempuh dengan menyambungkan tali silaturahim.

Prof. Buya Hamka sendiri menefinisikan kata rezeki sebagai pemperian atau karunia yang diberikan Tuhan kepada mahluk-Nya untuk dimanfaatkan dalam kehidupan.

Seperti Al Qur’an menukil, “Makanlah dari karunia Allah yang halal dan baik”. ‘Karunia’ di sini diartikan sebagai rezeki atau pemberian dari Allah kepada mahluk-Nya tanpa terkecuali.

Rezeki dan umur yang panjang sejatinya digunakan untuk mencapai ketakwaan dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangan-Nya melalui cara yang diajarkan oleh syariat Islam.

Rezeki tidak melulu tentang harta, namun bisa dalam bentuk lain, misalnya dalam bentuk jasmani yang sehat, hubungan baik antar sesama, tempat tinggal yang nyaman, kesehatan dan keturunan yang shaleh/ shalehah.

Dengan begitu, akan memungkinkan seseorang melaksanakan ibadah dengan baik dan maksimal.

Sebaliknya, memiliki kekayaan harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi namun tidak ada ketenangan jiwa. Di waktu yang sama terputus hubungan kekeluargaan dan terus merasa terancam. Maka, jika seperti ini, sesungguhnya tidak ada rezeki yang baik yang diperolehnya.

Mengeratkan tali silaurahim menjadi hal mendaar yang harus dilakukan agar kebahagian di dunia dapat diperoleh, apalagi nanti kebahagian di akhirat.

Akhinya, dalam menjalani kehidupan, mari kita selalu mengingat pentingnya menjaga silaturahim. Karena dengan setiap langkah yang kita ambil untuk mempererat hubungan dengan sesama, kita juga sedang mendekatkan diri kepada ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semoga kita semua selalu diberkahi dalam setiap langkah yang kita ambil menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.

*) Adam Sukiman At Tiniji, penulis adalah pemetik buah hikmah kehidupan. Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img