AdvertisementAdvertisement

Ketika Ustadz Hamim Thohari Tak Kuasa Menahan Tangis

Content Partner

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Warisan paling berharga di Hidayatullah adalah kepemimpinan, yaitu imamah jamaah. Demikian tegas disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari di hadapan ribuan Muslimat yang memadati Aula Masjid Nurul Mukhlisin, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jum’at, 10 Jumadil Awal 1445 (24/11/2023).

Dalam taushiyah Shubuh yang digelar di sela acara Silaturahim Nasional (Silatnas) beberapa waktu lalu, Ustadz Hamim, sapaan akrabnya, lalu menceritakan masa transisi setelah Pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said meninggal dunia.

“Jadi banyak yang meragukan. Apakah Hidayatullah ini akan berlanjut? Ataukah akan berakhir ketika pendirinya meninggal?” ucapnya menceritakan desas-desus yang beredar di sebagian kalangan waktu itu.

Alhamdulillah, lanjutnya, ternyata ormas yang kini sudah berusia lebih lima puluh tahun tersebut malah terus tumbuh dan berkembang sepeninggal Allahuyarham Ustadz Abdullah Said.

Hal itu diakui, setelah izin Allah, karena Hidayatullah punya konsep perjuangan dan kepemimpinan yang jelas.

“Ada manhaj Sistematika Wahyu dan warisan berharga berupa imamah jamaah,” terangnya singkat.

Selanjutnya, para pengunjung Silatnas di arena putri tersebut mendapat sejumlah nasihat yang cukup menggetarkan jiwa.

Pantauan Media Silatnas Hidayatullah di masjid khusus putri itu, ustadz yang juga sosok perintis Majalah Suara Hidayatullah tersebut sampai tak kuasa menahan derai air matanya saat menyebut bahwa usia Hidayatullah benar-benar telah menapak masa emas atau separuh abad lamanya.

“Pekan lalu di Jakarta rencananya ada Musyawarah Majelis Syura (MMS) atau forum musyawarah tertinggi di Hidayatullah. Saya menemukan catatan yang luar biasa. Baru kali ini dalam sejarah Hidayatullah tidak satupun anggota Majelis Penasihat Hidayatullah bisa datang,” lanjutnya bercerita dengan suara tertahan.

Ustadz Hamim mengaku, saat itu dirinya hanya bisa menangis. Ia sadar, ayat-ayat Allah bahwa Allah mempergilirkan manusia itu sangat jelas.

“Satu per satu orang tua kita sudah meninggalkan kita. Padahal masih ada masa depan yang harus diwujudkan,” sambungnya lagi.

“Ini adalah masa yang menentukan. Hidayatullah ini milik kita semua. Kita semua yang menentukan, jangan hanya sebagai pengikut saja,” tutup Ustadz Hamim.* (Azzah/Media Silatnas Hidayatullah/MCU)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pemuda Hidayatullah Masuki Usia 24 Tahun, Teguhkan Relevansi Gerakan Ditengah Tantangan Zaman

KUALA LUMPUR (Hidayatullah.or.id) -- Pemuda Hidayatullah tengah memperingati hari jadinya yang kini berusia 24 tahun yang berdiri pada tanggal...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img