
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menekankan pentingnya penguatan pendanaan dan jaringan ekonomi sebagai salah satu penopang keberlangsungan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.
Hal itu disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional (MUNAS) Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) di Aula Lobi Lantai 2, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin (31/08/2026).
MUNAS tersebut turut dihadiri tamu undangan dari keluarga besar Hidayatullah se-Jabodetabek, jajaran pengurus pusat Hidayatullah, serta jajaran ketua Pemuda Hidayatullah. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan dukungan dan perhatian terhadap penguatan peran APHIDA dalam ekosistem gerakan Hidayatullah.
Menurut KH. Naspi, dakwah yang dapat berjalan secara rapi dan masif membutuhkan dukungan sumber daya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Karena itu, penguatan sektor ekonomi menjadi bagian penting dalam mendukung gerakan dakwah.
“Kenapa pendanaan itu sangat penting? Karena tarbiyah dan dakwah bisa berjalan secara rapi, secara masif kalau didukung dengan dua resources, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Hidayatullah juga terus membuka ruang kolaborasi dan ta’awun seluas-luasnya dengan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, kolaborasi merupakan bagian penting dalam membangun kekuatan umat.
“Kita meyakini bahwasannya tarbiyah dan dakwah yang menjadi mainstream kita hanya bisa eksis kalau kita membuka ruang kolaborasi secara harmonis,” katanya.
KH. Naspi berharap APHIDA dapat menjadi salah satu elemen strategis yang memperkuat tarbiyah dan dakwah Hidayatullah melalui jalur ekonomi.
“Harapan kita APHIDA ini menjadi salah satu instrumen daripada tarbiyah dan dakwah Hidayatullah dari jalur ekonomi,” tuturnya.
Bangun Jaringan Bisnis Berbasis Supply and Demand
Lebih lanjut, KH. Naspi mendorong APHIDA membangun jaringan bisnis antardaerah dengan memanfaatkan potensi ekonomi yang dimiliki setiap DPW Hidayatullah.
Ia menyebut konsep tersebut diarahkan pada jaringan bisnis berbasis supply and demand, sehingga potensi ekonomi di masing-masing wilayah dapat terhubung dan berkembang dalam satu ekosistem bisnis yang nyata.
“Kita harapkan APHIDA bisa membackup organisasi, mensupport organisasi dalam program ini. Bagaimana potensi setiap DPW Hidayatullah itu bisa dimaksimalkan dalam satu jaringan bisnis yang real,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, ia menyebut adanya rencana uji coba jaringan bisnis antara Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Sulawesi Selatan (Sulsel), dengan komoditas awal berupa sapi dan beras.
Menurutnya, pengembangan jaringan tersebut telah mendapat dukungan dari Rois ‘Am Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad.
“Kita uji coba NTB-Kaltim-Sulsel. Langkah awal, sapi dan beras. Alhamdulillah Rois ‘Am mendukung,” ujarnya.




Dorong Lahirnya Entrepreneur Muda
Selain memperkuat jaringan bisnis, KH. Naspi juga meminta APHIDA memberikan perhatian pada pembinaan generasi muda di lingkungan Hidayatullah.
Ia secara khusus mendorong APHIDA membina Pemuda Hidayatullah (Pemhida), Muslimat Hidayatullah (Mushida), dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) agar mampu melahirkan lebih banyak entrepreneur.
“Tolong APHIDA membina pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Bagaimana lahir entrepreneur dari Pemhida, dari Mushida, dan dari GMH,” tegasnya.
Ia menilai keberadaan entrepreneur dari tiga organisasi tersebut penting sebagai bagian dari penguatan sumber daya gerakan Hidayatullah ke depan.
KH. Naspi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus APHIDA periode 2020–2025 atas ikhtiar dan kontribusi yang telah diberikan.
Ia berharap kepengurusan baru yang lahir melalui MUNAS APHIDA 2026 dapat bekerja lebih enerjik, masif, dan rapi tanpa meninggalkan berbagai kebaikan yang telah dibangun oleh kepengurusan sebelumnya.
“Semoga MUNAS kali ini melahirkan pengurus APHIDA yang baru, yang lebih enerjik, lebih masif, lebih rapi, tanpa meninggalkan kebaikan-kebaikan yang telah ditorehkan oleh pengurus sebelumnya,” katanya.
KH. Naspi kemudian secara resmi membuka MUNAS APHIDA Tahun 2026 dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim. Tawakkalna ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.”
MUNAS APHIDA 2026 selanjutnya menjadi forum konsolidasi organisasi sekaligus momentum untuk merumuskan arah penguatan jaringan pengusaha Hidayatullah dalam mendukung kemandirian dan keberlanjutan gerakan dakwah.






