AdvertisementAdvertisement

Menjadikan Triwulan Pertama sebagai Tolok Ukur Disiplin Strategi Organisasi

Content Partner

MARET 2026 baru saja berlalu. Ini berarti triwulan pertama telah usai. Bagi sebagian orang, berlalunya Maret terasa biasa. Akan tetapi bagi orang dengan kepekaan manajemen waktu, momen ini terasa penting. Mengapa? Mari mencari jawabannya dengan menelaah tiga pendekatan.

Brian P Moran dan Michael Lennington, dalam 12 Weeks A Year, menyampaikan pentingnya memadatkan perencanaan aktivitas dua belas bulan ke dalam dua belas pekan pertama. Agar akselerasi terjadi. Hal ini didasarkan pada kebiasaan manusia untuk menunda perencanaan yang telah dibuat. Dalam benak kebanyakan manusia, Desember masih jauh.

Seiring penundaan yang terus-menerus dilakukan, perencanaan akhirnya menemui salah satu dari dua situasi: Dilupakan atau dikerjakan asal-asalan. Dilupakan karena aktivitas lain datang dan lebih menyita energi. Dikerjakan asal-asalan karena sudah dekat dengan akhir tahun, sementara sumber daya sudah sangat terbatas.

Dua belas pekan pertama sama dengan tiga bulan pertama. Jatuhnya di penghabisan bulan Maret.

Sekarang marilah menengok pendekatan Bulletproof Problem Solving yang digagas Charles Conn dan Robert McLean. Ada tujuh tahapan dalam menelaah masalah hingga merumuskan solusinya. Apabila kerja di tiap tahapan ini diestimasi butuh 1,5 pekan, maka total waktu yang diperlukan kurang lebih sebelas pekan atau tiga bulan. Dengan demikian di bulan keempat, solusi terhadap suatu masalah diharapkan telah bisa diaplikasikan. Lagi-lagi penghabisan Maret menjadi semacam deadline.

Pendekatan ketiga juga penting dan lebih luas penggunaannya, yakni durasi pendampingan pasca pelatihan. Kisarannya 1-6 bulan. Reratanya 3 bulan.

Apabila sebuah keterampilan baru dilatihkan di Januari, maka diharapkan hasil keterampilan itu sudah dikuasai secara utuh setelah tiga bulan, yakni penghabisan Maret.

Sekarang, marilah bertanya pada organisasi masing-masing, seberapa jauh capaian hingga Maret lalu?

Apabila masih jauh dari target, maka diharapkan pilihannya hanya satu: Kejar target. Hal ini dikarenakan sumber daya yang tersedia relatif melimpah. Apabila waktu kejar target diundurkan lagi, sumber daya akan semakin menipis.

Jangan biarkan distraksi terlalu menyita fokus, terutama distraksi dari eksternal. Bukan berarti lingkungan eksternal tidak perlu diperhatikan. Akan tetapi proporsionalitas respon sangat penting untuk dijadikan pertimbangan. Sehingga sumber daya yang dimiliki masih dapat didistribusikan secara efektif dan efisien.

Jauh lebih baik apabila proaktivitas dikedepankan. Lingkungan internal disiapkan untuk terus beradaptasi dengan lingkungan eksternal. Sumber daya yang dimiliki diinventarisir dengan akurat, sementara lingkungan eksternal ditelaah terus-menerus, selanjutnya keduanya didekatkan secara periodik. Sehingga respon dapat diambil secara cepat dan tepat.

Dengan keseluruhan proses ini, semoga aktivitas yang berkualitas dapat terus berlanjut. Bahkan pengembangan-pengembangan dapat terwujud walaupun tantangan yang dihadapi sedemikian rumit.

Krisis Global Mutakhir sebagai Ujian Agilitas Organisasi

Krisis global mutakhir yang berpusat di Timur Tengah, diterima atau tidak, menyita begitu banyak perhatian. Hal ini dikarekan potensi dampaknya yang sistemik. Manusia di berbagai level, dari individu hingga negara, diperkirakan akan merasakan banyak kesulitan apabila krisis global tidak segera berakhir.

Dapat dikatakan krisis global mutakhir merupakan ujian organisasi, seberapa agile organisasi mengatasi tantangan yang ada. Sebagaimana telah disampaikan, apabila disiplin dan proaktif telah melekat pada organisasi, semoga kelincahan terbangun. Sehingga organisasi tidak sekedar bertahan, bahkan berkembang seiring terlihatnya peluang-peluang pengembangan.

Perlu kiranya diulang bahwa disiplin organisasi yang mendasar adalah disiplin mencapai target perencanaan tahunan. Sementara proaktivitas organisasi mencakup inventarisasi sumber daya internal dan juga telaah situasi eksternal secara intensif. Ketiga perilaku ini diharapkan berkelindan membentuk karakter organisasi yang lincah.

Apabila nanti krisis global telah berlalu, semoga disiplin dan proaktif tetap melekat. Situasi yang nyaman tidak membuai. Kapanpun dalam situasi dan kondisi apapun, kelincahan terus melekat pada organisasi.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Konsultan Hodam Ingatkan Kegelisahan Penting yang Harus Ada Pada Setiap Orangtua Masa Kini

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -- Ustadz Hodam Wijaya, S.Pd.I, M.Pd., mengingatkan bahwa kegelisahan utama orangtua seharusnya tidak hanya bertumpu pada capaian...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img