
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengajak untuk melakukan introspeksi mengenai peran umat secara sistemik dalam tragedi kemanusiaan Palestina yang sampai detik ini masih mengalami pendudukan militer zionis Israel.
Seruan ajakan itu disampaikan Naspi di hadapan massa Aksi Damai untuk Solidaritas Palestina diinisiasi oleh Majelis Ormas Islam (MOI) ini mengusung tema Berjuta Doa dan Bela untuk Syuhada & Masjidil Al Aqsha yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Ahad, 16 Syawal 1447 (5/4/2026).
Dalam penyampaiannya, KH Naspi Arsyad tidak hanya berfokus pada kecaman diplomatik, melainkan mengajak massa untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai peran umat secara sistemik dalam konflik tersebut.
Ia menyampaikan pertanyaan fundamental mengenai siapa sebenarnya yang memikul tanggung jawab atas gugurnya para syuhada di Palestina. Meskipun kekuatan militer Israel secara fisik merupakan eksekutor di lapangan, Naspi melihat adanya struktur pendanaan yang lebih kompleks di balik setiap peluru yang ditembakkan.
“Betul tangan mereka yang melatik, yang menarik pelatuk senjatanya. Tapi, kalau senjatanya tidak punya peluru, apakah mereka bisa membunuh tiga syuhada kita,” katanya, merujuk pada gugurnya tiga personel TNI di Lebanon Selatan saat menjalankan misi perdamaian PBB.
Fokus kritik Naspi bergeser pada dukungan logistik yang menyokong agresi tersebut. Ia menengarai bahwa kecanggihan teknologi persenjataan yang digunakan tidak akan berfungsi tanpa adanya pasokan dana yang terus mengalir.
KH Naspi Arsyad secara eksplisit menyebutkan peran Amerika Serikat sebagai pendukung utama, namun ia juga menyoroti kontribusi tidak langsung dari masyarakat Muslim sendiri melalui perilaku konsumsi. Ia menyayangkan banyaknya masyarakat yang masih mengunjungi dan bertransaksi di restoran atau penyedia layanan yang memberikan keuntungan bagi pihak yang berafiliasi dengan pendanaan agresi tersebut.
Naspi Arsyad mengaitkan ibadah dan doa dengan perilaku ekonomi. Ia mempertanyakan koherensi antara permohonan doa yang dipanjatkan dengan tindakan ekonomi yang justru memperkuat pihak lawan.
“Pelurunya dibeli dari umat Islam yang makan minum di restoran dan warung-warung”, tegasnya. Dia menekankan bahwa keuntungan dari transaksi-transaksi tersebut pada akhirnya dikonversi menjadi alat kekerasan yang membunuh saudara sesama Muslim.
Lebih lanjut, Naspi menyampaikan refleksi eskatologis mengenai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Ia menggugah kesadaran massa dengan membayangkan bagaimana perasaan para syuhada jika mengetahui bahwa peluru yang merenggut nyawa mereka dibiayai oleh keuntungan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh saudara mereka di dunia.
“Syuhada ini di akhirat dan kemudian mereka tahu bahwa peluru yang menembus tubuh mereka berasal dari peluru yang dibeli dari keuntungan restoran-restoran yang bapak ini membeli, ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, KH Naspi Arsyad menyerukan adanya perubahan paradigma dalam mendidik generasi muda mengenai konsep halal dan haram. Dia menegaskan bahwa larangan dalam agama tidak boleh hanya dipahami secara tekstual pada zat makanan tertentu saja, melainkan juga harus mempertimbangkan dampak moral dan politik dari setiap produk yang dikonsumsi.
Ia pun menyerukan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa haram bukan sekadar babi. Haram bukan sekadar anjing. Tapi haram dari produk-produk Israel.
Ia mengajak meneguhkan komitmen untuk menjaga integritas konsumsi dan membersihkan diri dari produk-produk yang mendukung penindasan. Hal ini dipandang Naspi sebagai bentuk pertanggungjawaban nyata bagi para syuhada dan langkah awal menuju pembebasan Masjidil Aqsha yang lebih bermartabat.






