Juni-Juli dikenal sebagai bulan-bulan sibuk persekolahan. Ujian, pembagian rapor, dan penerimaan murid baru terkumpul di dua bulan ini. Selain itu, ada lagi yang biasa diagendakan di waktu ini, yakni pelatihan. Sasarannya bisa guru, murid, bahkan walimurid.
Ada satu unsur yang kemudian terlihat jelas: Instruktur.
Sebagian instruktur sangat handal dalam mengampu pelatihan, sebagian lainnya belum. Muncullah pertanyaan, hal mendasar apa sajakah yang perlu diadakan agar terwujud instruktur handal? Berikut sedikit penjelasannya.
Sebagai persiapan satu pelatihan, biasanya diadakan training of trainer (ToT). Istilah lain yang juga dikenal cukup luas adalah bimbingan teknis (bimtek). Subtansi dan tujuan keduanya sama, yakni menyiapkan instruktur untuk mengisi pelatihan.
Dalam ToT atau bimtek, biasanya calon instruktur dibekali pengetahuan seputar materi yang akan disampaikan. Selain itu calon instruktur juga dibekali keterampilan seputar cara menyampaikan. Satu lagi, calon instruktur juga dibekali semacam protokol atau skenario dalam menyampaikan materi.
Nah, ada satu hal yang terlihat masih jarang dimiliki oleh calon instruktur, yakni penguatan materi secara mandiri. Setelah mengikuti ToT atau bimtek, baiknya calon instruktur memperkaya dirinya dengan materi-materi yang relevan. Calon instruktur tidak hanya mengandalkan materi dari ToT atau bimtek.
Hal ini dikarenakan materi yang disampaikan saat ToT atau bimtek sebatas yang akan disampaikan pada pelatihan sesungguhnya. Padahal kemampuan calon instruktur menyerap materi tidak sama. Seringnya materi tereduksi saat disampaikan ke level selanjutnya dan selanjutnya. Deviasi sangat mungkin terjadi di lapangan.
Bagaimana jika calon instruktur mendapat pengayaan materi saat ToT atau bimtek? Opsi ini tidak bebas masalah. Calon instruktur berpotensi mengalami kebingungan, mana materi pokok dan tambahan. Akhirnya sangat mungkin terjadi kesimpangsiuran pemberian materi di pelatihan sesungguhnya.
Oleh karena itu dapat dimaklumi bila ToT atau bimtek memberikan materi pokok saja. Agar kejelasan terbentuk pada benak calon instruktur. Berikutnya calon instruktur memperkaya pengetahuannya.
Dua hal berikut semoga mendorong calon instruktur untuk mau serta mampu memperkaya materi yang dimiliknya. Pertama, motivasi dari penyelenggara ToT atau bimtek. Kedua, tersedianya daftar referensi yang bisa diakses dengan mudah.
Lebih jauh, setelah memperkuat pengetahuan, calon instruktur diharapkan berlatih mempraktikkan pengetahuannya. Dalam hal ini calon instruktur diharapkan mencoba praktik setelah ToT atau bimtek usai. Selain itu, calon instruktur juga bisa mengamati praktik-praktik yang sudah ada sekaligus reviunya.
Hal ini penting agar relevansi dimiliki calon instruktur. Sebagaimana umumnya, berbagai masalah praktik sangat sering terjadi di lapangan. Dengan relevansi, calon instruktur memiliki kapasitas untuk memberikan solusi atas masalah-masalah praktik tersebut.
Sekali lagi, motivasi dan daftar referensi semoga menstimulus calon instruktur untuk memperkuat keterampilan praktiknya. Jauh lebih baik apabila ada toolset yang disediakan bagi calon instruktur. Sehingga calon instruktur bisa melatih keterampilan praktiknya sesering mungkin.
Kejelasan Menyampaikan Materi Pelatihan
Dalam pelatihan, materi butuh disampaikan secara jelas, kerangka dan sekaligus muatannya. Berbagai upaya harus dikerahkan agar peserta paham. Jangan sampai terjadi miskonsepsi pada peserta.
Persoalannya sering ditemui instruktur yang tidak jelas dalam menyampaikan materi. Kerangka, urutan, dan kontennya kacau. Akibatnya peserta salah paham sebagaimana dapat disimpulkan setelah reviu hasil belajar.
Sebagian instruktur seperti ini menutupi kekurangannya dengan retorika yang heroik. Akan tetapi tetaplah hal tersebut kurang baik. Karena titik tekan pelatihan ada pada kejelasan materi. Retorika hanya penghias.
Memang ada instruktur yang butuh dibenahi retorikanya. Akan tetapi keterampilan retorika semoga lebih mudah dipelajari ketimbang kemampuan menyerap materi. Hubungannya erat dengan kecerdasan kognitif.
Oleh karena itu, kiranya perlu disepakati bahwa kecerdasan kognitif menjadi prasyarat pertama dalam seleksi calon instruktur. Sisi lainnya berada di urutan berikutnya. Apabila memang aspek afektif perlu ditonjolkan juga dalam pelatihan, pembentukan tim instruktur yang beranggotakan multi latar belakang semoga jadi solusi.
Wallah a’lam.
FU’AD FAHRUDIN






