
Setiap santri selalu punya cerita yang berbeda. Baik motivasi dan latar belakang ia masuk pesantren ataupun kisah perjuangan yang dilalui saat mondok.
Terkait hal itu, KH. Naspi Arsyad, Lc., Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, rupanya punya cerita unik pula.
Tentang mengapa ia kemudian menerima tawaran nyantri di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, era 1990-an silam.
Ceritanya, seorang saudara Ustadz Naspi baru saja pulang dari berkunjung ke Balikpapan, Kalimantan Timur.
Tiba di rumah orang tua di Gowa, Sulawesi Selatan, saudaranya itu langsung “nembak” dengan satu kata, yaitu, “Tanah Haram”.
“Nas (panggilan Ustadz Naspi), kamu ke Gunung Tembak ya,” kata sang kakak.
“Nama apa itu? Apa kelebihannya?” ujar Ustadz Naspi balik tanya, dalam obrolannya.
“Di sana ada Tanah Haram,” terang kakak dengan singkat.
Rupanya, meski cukup singkat, kata ajaib itu mampu menyihir rasa penasarannya dan membuat Ustadz Naspi tertarik mondok di Hidayatullah Gunung Tembak.
“Penasaran saya, katanya ‘Tanah Haram’ itu adalah tanah yang santri putra tidak boleh injak dan santri putri juga tidak boleh mendekat. Lokasinya ada di dalam pagar putri, sebelah utara masjid ar-Riyadh sekarang,” jelasnya tentang rasa penasaran tersebut.
Cerita ini terungkap saat Kyai Ketua Umum DPP Hidayatullah menerangkan tentang pentingnya kekhasan atau trademark yayasan atau pondok pesantren di hadapan peserta Inkubasi Manajemen Pesantren Unggul.
Menurutnya, di hadapan 50 peserta dari 25 yayasan pondok pesantren Hidayatullah se-Indonesia yang berkumpul di IIBS Ar-Rohmah Malang, Jawa Timur, kekhasan itu harus sejalan dengan Jati Diri Hidayatullah yang dikenal dengan Manhaj Sistematika Wahyu dalam Tarbiyah dan Dakwah.
“Satu kata, singkat dan sederhana. Tapi itulah yang membuat penasaran dan bikin saya mondok di Gunung Tembak,” lanjutnya.
“Kira-kira lalu apa keunggulan pesantren yang kita kelola hari ini?” ucap Ustadz Naspi memberi motivasi.
Menurutnya, kisah di atas bisa menjadi pelajaran. Bahwa urusan pendidikan atau mondok di pesantren bukan soal pelayanan dan fasilitas semata saja. Tetapi lebih penting adalah tentang nilai yang ditransformasikan oleh para pendidik kepada santri-santrinya.
“Ini harus jadi evaluasi pendidikan Hidayatullah sekarang dalam mendidik dan melahirkan generasi pelanjut perjuangan dakwah Islam,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan Inkubasi Manajemen Pesantren Unggul berlangsung selama tiga hari (15–17 Sept 2026). Digagas oleh Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah dengan mengusung tema “Transformasi Manajemen Pesantren Menuju Miniatur Peradaban Islam yang Unggul, Mandiri, dan Berpengaruh”.







