AdvertisementAdvertisement

Merespon Berita Al-Qur’an tentang Ramadhan, Termasuk Golongan Manakah Kita?

Content Partner

TIDAK terasa kita sudah di bulan Sya’ban. Berarti kurang dari satu bulan lagi kita kedatangan tamu agung bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan bulan Rajab dan Sya’ban bagaikan atletik yang hampir mencapai garis finish.

Sehingga segala energi dan potensi dikerahkan secara optimal agar bisa mengungguli peserta lainnya untuk menjadi juara. Petani mendekati masa panen. Pebisnis mendekati tahun buku.

Maka langkah yang dilakukan uswah hasanah kita meningkatkan grafik keimanan dengan memperbanyak puasa, tartilul Quran, infaq, mudawamatul wirid, mempersiapkan finansial, agar pisik dan mental memiliki kesiapan untuk memasuki Madrasah Ramadhan Mubarak 1445 H.

اللهمّ بارِك لنا في رجب وشعبان وبلّغنا رمضان واغفر لنا ذنوبنا برحمتك ياارحم الراحمين

Ya Allah berkahilah pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. Dan ampunilah segala dosa kami. Dengan rahmat-MU wahai Yang paling Penyayang diantara para penyayang.

Sambutan Kita

Jika menatap realitas lingkungan sosial umat kita, sungguh miris rasanya. Seakan-akan umat ini tidak merasa akan kedatangan tamu. Berita yang menghiasi dunia maya dan dunia nyata lebih banyak menyuguhkan info Pilpres 2024 dan kegaduhan serta penyakit moral yang menggurita di negeri ini.

Sudah saatnya kita bermuhasabah dan bermujahadah, termasuk golongan manakah kita dalam merespon berita Al-Quran, diantaranya bulan Ramadhan 1445?

Dalam Al Qur’an surah Shad ayat 29, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Alquran diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan penuh berkah supaya mereka mendadabburi ayat-ayat-Nya dan agar mendapat pelajaran dari Alquran.

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS. Sad (38): 29).

Berkah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu (tsubutul khoiril Ilahiy fisy sya-i). Dalam mengarungi dinamika, flutuasi dan pasang surut kebaikan, bisa mengambil keindahan-keindahannya. Dinamika yang sangat dinamis dimaknai sebagai romantika kehidupan.

Pada Kitab Al-Hikam Hikmah ke-24, Mushannif berkata :

لا تستغرِب وُقوع الأكْدار ما دُمْتَ فِى هَذِه الدّار. فإنها
ما أبْرزت إلا ما هو مستحِق وصفها وَواجِب نعتها

“Jangan merasa aneh dengan kesulitan-kesulitan yang ada selama kamu berada di dunia. Karena dunia tidak diciptakan kecuali dengan sifat dan gambaran yang menjadi haknya. ”

Inilah dunia. Di sini tidak ada kesenangan yang sejati. Di sini pula tidak ada kesedihan yang abadi. Senang dan sedih datang silih berganti. Susah dan gembira dipergilirkan dan dipergulirkan. Untuk bisa senang pun, di sini ongkosnya mahal: menguras pikiran dan tenaga. Dan itu pun tidaklah pasti.

Oleh karena itu, jangan terlalu larut dalam kesedihan, kebingungan dan nestapa. Jangan pula kaget dengan semua itu.

Inilah dunia yang dibuat dan diciptakan dengan karakter dan sifat seperti itu. Jalani saja semuanya sembari menatap pandangan ke depan, kepada keadaan setelah ini, Akhirat. Di sana, semuanya serba pasti dan sejati. Kebahagiannya sejati, sebagaimana juga kesengsaraannya. Galau dengan sesuatu yang semu hanya akan membuat kita melalaikan kesenangan yang abadi.

Kata imam Ali bin Abi Thalib krw: “Kalian mencari dua hal, yaitu ketenangan dan kesenangan. Kalian tidak akan mendapatkan keduanya kecuali nanti di surga.”

Tiga Golongan Manusia Dalam Merespon Berita Al-Quran

Ibnu Qayyin al-Jauzi menerangkan bahwa apabila kita hendak memetik manfaat maksimal dari Alquran, maka pahami dan renungkanlah (tadabbur). Atas dasar inilah, penulis hendak mendatabburi QS. Al-Fathir [35] : 32.

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ 

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna “orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami” adalah umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, makna ayat di atas adalah Allah mewariskan Alquran kepada umat Nabi Muhammad, umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran 110 dan QS. al-Baqarah 143.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pula :

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُم ۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Namun, di antara umat Nabi Muhammad itu, dalam hal mengamalkan Alquran, terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, dzalimun linafsih

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan golongan pertama, yakni orang yang menganiaya diri sendiri (dzalimun linafsi) sebagai orang yang melalaikan sebagian dari kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan mengerjakan sebagian hal-hal yang dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, al-Maraghi mengatakan bahwa golongan pertama ini amal buruknya lebih berat dari pada amal baiknya. Oleh Imam al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin, disebut sebagai golongan yang rugi besar.

Disebut merugi lantaran dunia yang menjadi ladang untuk kehidupan yang lebih kekal (di akhirat) justru dimanfaatkan untuk melanggar aturan Allah SWT, menuruti hawa nafsu, berbuat dosa pada Allah dan enggan bertaubat.

Sementara itu, Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, sehubungan dengan firman-Nya: “Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri”, adalah orang-orang yang menerima catatan amal perbuatannya dari arah kirinya. Meskipun demikian, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kelompok ini masuk surga karena syafaat Nabi Muhammad SAW.

Hal ini juga senada dengan sebuah hadis. Dalam Kitab Shahih Muslim pada bab Iman, terdapat sebuah hadis. Nabi bersabda: “Akan keluar dari surga orang yang mengucap ‘laa ilaaha illaa Allah’ dan di hatinya ada sebutir kebaikan.

Terkait syafaat, dalam kitab Misykah al-Masabih, Imam al-Tabrizi menukil sebuah hadis dari Imam Bukhari seperti ini;

Dari ‘Imran bin Husain, berkata: Rasūlullah bersabda: “Akan keluar suatu kaum dari neraka berkat syafaat Muhammad, kemudian mereka akan masuk ke dalam surga, dan dinamakan aljahannamiyyūn. Pada riawayat yang lain, dikatakan ‘akan keluar suatu kaum dari golongan umatku dari neraka, sebab syafaatku, mereka dinamakan aljahannamiyyun”. (HR. Bukhari).

Kedua, muqtashid

Yaitu golongan pertengahan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa golongan ini adalah mereka yang melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang di larang dalam agama-Nya.

Namun, golongan ini tidak mementingkan ibadah-ibadah sunnah. Secara bersamaan, ia juga mengerjakan pekerjaan yang hukumnya makruh.

Imam al-Qurtubi memberikan penjelasan tentang golongan kedua ini sebagai orang yang tibangan amal baik dan buruknya seimbang. Dan di akhirat nanti, golongan ini akan dihisab dengan hisab yang ringan.

Ketiga, saabiqun bi al-khairaat

Yaitu orang yang bersegara dalam mengerjakan amal shalih. Inilah golongan paling tinggi dan mulia disisi-Nya. Tentu saja, golongan ini masuk surga dengan tanpa hisab.

Sebab, mereka tidak hanya sekedar taat dan istiqomah mengerjakan segala kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, melainkan juga rajin dan tekun mengerjakan hal-hal yang disunnahkan. Hal-hal yang makruh dan syubhat juga dijauhi kelompok ini. Sehingga, jika dihisab, maka amal kebaikannya lebih berat daripada amal tercela.

Dalam QS. al-Waqiah, golongan ketiga ini diistilahkan dengan ‘al-muqarrabun’. Nasib golongan ini di akhirat sebagaimana firman-Nya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ

“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 10)

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ

“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),”. (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 11)

فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

“berada dalam surga kenikmatan,” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 12)..

Merujuk hadits qudsi, seseorang yang aktif menjalankan ibadah wajib dalam rangka taqarrub ilallah dan diiringi aktif menjalankan ibadah nafilah untuk membangun mahabbah secara timbal-balik dengan Allah Swt. Sehingga penglihatannya, pendengarannya, langkah-langkahnya merupakan jelmaan dari kehendak dan langkah-Nya. Inilah tingkatan ibadah tertinggi (ihsan). Masya Allah.

Maka, menyongsong bulan Ramadhan, sudah melakukan persiapan sejak bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, Ramadhan bulan memanen, meminjam istilah Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Dalam perspektif tasawuf, seseorang yang semula pasif kemudian aktif beribadah dia pada level nurul hidayah, seseorang yang aktif secara lahiriyah kemudian meningkat menjadi orang yang ikhlas berada pada level nurul ‘inayah, dan seseorang yang ikhlas naik pada level ma’rifat disebut nurul wishal.

Justru efek berlomba-lomba dalam kebaikan, disamping berefek dalam kehidupan dunia yang penuh berkah, juga mendapatkankan surga. Begitulah pengampunan dan bentuk rasa syukur-Nya kepada hamba yang bersegera merespon seruan-Nya.

Dan itulah makna keutamaan yang besar yang disinggung pada penghujung ayat 32. Dan berhak mendapatkan karunia Allah yang dijelaskan pada ayat berikutnya:

جَنَّٰتُ عَدۡنٍ يَدۡخُلُونَهَا يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤۡلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ

“(Mereka akan mendapat) Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Fatir 35: Ayat 33)

وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri,” (QS. Fatir 35: Ayat 34).

Mengakhiri uraian ini, penulis mengajak pada diri penulis sendiri dan umat Islam secara keseluruhan untuk merenungi QS. al-Fathir ayat 32; pada golongan mana kita saat ini?

Jika masih dalam golongan pertama, maka segeralah bertaubat.

Sementara yang merasa berada pada tingkatan muqtashid, tetap harus selalu berusaha meraih golongan pertama. Diantara ciri utama golongan pertama adalah menjadikan amal shalih sebagai kebutuhan utama.[]

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Terus Meneguhkan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar dalam Kehidupan

DAKWAH amar ma'ruf nahi munkar merupakan salah satu prinsip dasar dalam Islam yang menekankan pentingnya mengajak kepada kebaikan serta...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img