
SERANG (Hidayatullah.or.id) — Sarasehan Halaqah Wustho Kader Hidayatullah Banten digelar di Yayasan Fatahillah, Serang, pada Selasa, 26 Rabi’ul Awal 1448 (08/09/2026). Forum pembinaan kader tersebut menghadirkan Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Provinsi Banten, Dr. Ahmad Suja’i, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.
Dalam forum tersebut, Ahmad Suja’i membagikan sejumlah gagasan yang diperolehnya dari Diklat Murabbi Wustha Nasional yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Materi yang disampaikan berorientasi pada penguatan identitas organisasi, desain kaderisasi, pengembangan dakwah, serta pembacaan posisi Hidayatullah dalam dinamika sosial dan kebangsaan.
Ahmad Suja’i menekankan bahwa pembinaan halaqah adalag sebagai bagian dari proses mempersiapkan kader menghadapi agenda dakwah jangka panjang.
Salah satu pokok bahasan adalah Grand Desain Hidayatullah untuk 50 tahun kedua, terutama bagi kader yang saat ini berusia di bawah 50 tahun. Ahmad Suja’i menekankan spirit dari Gunung Tembak ini sebagai kerangka jangka panjang untuk menyiapkan kapasitas kader dalam menghadapi perubahan zaman.
Ahmad Suja’i juga mengajak peserta melakukan analisis terhadap potensi kader memasuki ruang dakwah melalui jalur politik, sembari menekankan pentingnya penguatan jati diri Hidayatullah. Menurutnya, ekspansi peran kader perlu tetap bertumpu pada fondasi nilai dan identitas organisasi.
Dalam konteks manhaj, ia membahas Sistematika Wahyu (SW) dan kemungkinan penggunaan istilah Manhaj Nubuwah untuk membaca perkembangan zaman. Konsep tersebut, menurutnya, perlu dimassifkan melalui berbagai ruang publik seperti seminar terbuka dan kuliah umum.
Pembahasan juga mencakup perspektif Hidayatullah mengenai Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahmad Suja’i menyampaikan bahwa dalam perspektif Hidayatullah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dipahami sebagai konsep dan dasar syariat, bukan sekadar firqah atau kelompok.
Ia turut menguraikan perspektif al-wasathiyah Hidayatullah dalam konteks Indonesia. Indonesia, terangnya, ditempatkan sebagai daarul dakwah dan al-dar al-murakkabah yang mencerminkan masyarakat majemuk sehingga menuntut adanya semangat membangun dan merawat harmoni bangsa.
Materi lainnya menyentuh konsep imamah jama’ah serta Ahlul Halli wal Aqdi dalam perspektif wasathiyah Hidayatullah. Dalam catatan materi, Pancasila ditempatkan sebagai bagian dari panduan kehidupan Islami yang dirumuskan oleh para tokoh Indonesia dengan latar belakang aktivisme Islam.
Di bagian akhir, Ahmad Suja’i menekankan posisi murabbi dalam proses kaderisasi. Tugas utama murabbi dirumuskan dalam tiga orientasi, yakni manhajisasi atau ideologisasi, spiritualisasi, dan kulturalisasi.
Sarasehan tersebut menjadi ruang konsolidasi pemikiran bagi kader Hidayatullah Banten untuk memahami arah pembinaan sekaligus menerjemahkan gagasan organisasi ke dalam kerja dakwah.






