AdvertisementAdvertisement

Berhenti Fokus pada Kompetitor: Cara Bertahan di Arena Tanpa Kehilangan Diri

Content Partner

Pertama, ia terhempas dari kompetisi alias kalah total. Kedua, ia terus ikut kompetisi walaupun tidak jadi pemenang utama. Ketiga, ia menggapai posisi sebagai pemenang utama dan siap mempertahankan kemenangannya.

Di konteks kompetisi yang positif, tentu kebanyakan orang tidak ingin terhempas dari arena kompetisi. Hampir setiap orang ingin terus ikut kompetisi. Oleh karena itu satu strategi jitu perlu ditemukan.

Secara umum manusia bertindak karena ada dorongan. Dorongan itu bisa berasal dari dirinya sendiri, orang lain, ataupun campuran keduanya. Banyak pihak percaya, semakin kuat dorongan dari dalam diri maka kualitas tindakannya akan semakin bagus.

Oleh karena itu strategi berkompetisi perlu terhubung dengan motivasi dari dalam diri. Bukan berarti motivasi dan masukan orang lain tidak penting. Bukan begitu. Akan tetapi hendaklah motivasi dari dalam diri lebih mendominasi. Semoga kekuatan strategi bersifat ajeg.

Salah satu contoh strategi tersebut adalah menetapkan tantangan baru bagi diri sendiri. Selanjutnya tantangan tersebut menjadi target dalam periode tertentu. Berbagai sumber daya dikerahkan sedemikian rupa agar target tergapai.

Apabila strategi ini konsisten dilaksanakan, semoga daya kompetitif terus terbangun. Mungkin tahta juara pertama belum tercapai. Meskipun demikian seseorang akan terus menjadi bagian dari serunya kompetisi.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, apa yang terjadi jika strategi berkompetisi lebih banyak disusun berdasarkan kondisi kompetitor? Seseorang akan kehilangan strategi terbaiknya. Karena ia bingung melihat para kompetitor dengan berbagai keunggulan-keunggulan baru mereka. Rasanya semua keunggulan itu ingin disaingi, tapi apa daya tidaklah mungkin dilakukan. Sumber daya yang tersedia sangat terbatas.

Sebaliknya dengan pengenalan diri yang mantap, baik keunggulan dan kekurangan, seseorang lebih memungkinkan untuk menyusun strategi terbaik. Step by step-nya relatif tepat. Berikutnya ia juga tahu aktivitas yang kompatibel dengan dirinya. Kenikmatan mengembangkan diri sangat mungkin dirasakan. Rasanya sedemikian menggairahkan.

Dengan pengenalan diri yang mantap juga, seseorang lebih mampu menceritakan dan memposisikan diri secara tepat. Ini memudahkan terjadinya kolaborasi. Sehingga kemungkinan sukses lebih besar.

Lebih jauh, terkait penyesuaian strategi, kebanyakan orang berpikir melakukannya berdasarkan perubahan lingkungan eksternal belaka. Padahal lebih mantap bila perubahan strategi dilakukan secara proaktif. Ada proses berpikir berkelanjutan tentang situasi dalam diri dan juga luar diri, kemudian diambil keputusan yang relevan. Sebuah kalimat merangkumnya, “Seluruh ikhtiar sukses tidak menunggu.”

Ohya, satu lagi disampaikan. Selain pada konteks pribadi, semoga tulisan ini dapat diterapkan pada konteks organisasi. Bahwa satu organisasi butuh proaktif dalam bertumbuh, agar tetap relevan dengan berbagai kompetisi yang ada.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Perkuat Halaqah sebagai Fondasi Perkaderan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Halaqah kembali ditegaskan sebagai jantung sekaligus episentrum perkaderan Hidayatullah. Penguatan peran tersebut menjadi salah satu bahasan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img