
Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menegaskan bahwa cita-cita melahirkan kader dan pemimpin yang berpengaruh tidak akan terwujud tanpa penguatan sistem halaqah yang ditopang oleh tradisi membaca dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Ustadz Ghofar dalam suasana Lailatul Ijtima (Mabit) atau Halaqoh Kubro yang digelar DPW dan DMW Hidayatullah DKI Jakarta di Masjid Baitul Karim, Jumat malam (12/6/2026). Kegiatan itu mengangkat tema “Berpengaruh tanpa Berhalaqah, Hanyalah Mimpi.”
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini menegaskan bahwa halaqah tidak boleh dipahami sekadar kegiatan formal saja. Menurutnya, halaqah sebagai pusat pembinaan, pertemuan dan penguatan ide, serta ruang transformasi ilmu, serta nilai-nilai perjuangan.
Ghofar mengungkapkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Padahal saat itu, kata dia, masyarakat Arab berada dalam kondisi jahiliyah dan Rasulullah sendiri dikenal sebagai seorang ummi atau buta huruf.“Suatu perintah yang sepertinya tidak pas kala itu,”ujar Dosen STIS Hidayatullah ini.
Karena itu, Ghofar menekankan perlunya. Menurutnya, membaca menjadi sumber yang menghidupkan halaqah. Tanpa bahan bacaan dan tradisi belajar, halaqah hanya akan menjadi pertemuan rutin yang kehilangan ruh dan daya transformasinya. “Kalau halaqah ingin hidup dan melahirkan pengaruh, maka harus diawali dengan proses iqra, dengan membaca,”tegasnya.
Ustadz Ghofar lantas mencontohkan sosok pendiri Hidayatullah, Allahuyarham, KH Abdullah Said yang dikenal sebagai kutu buku sejak muda, ia memiliki tradisi membaca yang sangat kuat. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang nantinya melahirkan berbagai gagasan dan langkah besar dalam perjalanan Hidayatullah.
“Beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Bahkan ketika bepergian ke berbagai daerah, oleh-oleh yang dibawa pulang bukan pakaian atau barang lainnya, tetapi buku,” tuturnya.
Ghofar mengatakan banyak gagasan besar Abdullah Said lahir dari hasil membaca. Dari proses itu pula banyak inspirasi yang berkembang dan dipraktekkan oleh beliau. Semua diawali dari interaksi yang intens dengan literasi, sejarah Islam, serta pemikiran para tokoh.
Di hadapan peserta Lailatul Ijtima itu, Ghofar menyoroti rendahnya budaya literasi di Indonesia. Padahal, sambung beliau, hampir semua tokoh besar dunia memiliki satu kesamaan, yakni kebiasaan membaca.
“Pemimpin-pemimpin besar dunia memiliki karakter yang sama, yaitu membaca. Bahkan tokoh-tokoh yang sukses dalam bidang ekonomi dan teknologi tetap menyediakan waktu khusus untuk membaca dan memperbarui wawasan mereka,” ungkapnya.
Lebih jauh, Ghofar berharap agar halaqah menjadi ruang dialog yang hidup, bukan sekedar tempat menyampaikan materi secara satu arah. Menurutnya, peserta halaqah perlu datang dengan bekal bacaan, pemikiran, dan hasil pengamatan terhadap berbagai persoalan umat maupun perkembangan masyarakat.
“Halaqah harus jadi tempat bertemunya gagasan. Di sana ada diskusi, inspirasi, evaluasi, dan lahir langkah-langkah nyata. Kalau datang tanpa bekal bacaan, maka halaqah sulit berkembang dan tidak menarik,”sambungnya.
Bagi Ustadz Ghofar makna halaqah adalah episentrum peradaban. Memiliki fungsi strategis dalam pembinaan, memperkuat moralitas, integritas, spiritualitas, serta kepemimpinan kader. Melalui halaqah, hubungan antara murabbi dan mutarabbi dapat terbangun secara lebih dekat sehingga pembinaan berjalan efektif.
“Halaqah adalah mesin kaderisasi. Di sana ada komitmen yang terkoneksi, menjadi kekuatan organisasi, dan menjadi fondasi kepemimpinan,” katanya.
Ghofar juga mendorong agar sistem halaqah semakin diperkuat dan menjadi budaya organisasi yang menjangkau seluruh tingkatan kepengurusan. Ia menilai, keberhasilan dakwah dan pembangunan peradaban sangat bergantung pada kuatnya jaringan pembinaan kader yang berkesinambungan.
“Pengaruh tidak lahir begitu saja. Pengaruh lahir dari proses panjang pembinaan, penguatan ilmu, dan penguatan ruhiyah,”tegasnya.
Selain sebagai sarana kaderisasi, Ghofar menilai halaqah juga dapat menjadi ruang penyelesaian berbagai persoalan kehidupan anggota, mulai dari masalah keluarga, pendidikan anak, hingga tantangan sosial yang dihadapi sehari-hari.
Dengan demikian, halaqah bukan hanya instrumen organisasi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pendampingan yang mampu memperkuat ketahanan individu, keluarga, dan jamaah secara keseluruhan.






