AdvertisementAdvertisement

Waspadai Watak Kesombongan dan Merasa Hanya Diri Kita Paling Benar

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dengan berbagai kemajuan teknologi di dalamnya amat memberikan kemudahan bagi masyarakat, namun di sini lain potensial melahirkan keretakan, ketertekanan, bahkan permusuhan yang dapat mendatangkan murka Tuhan karena menonjolnya kesombongan.

Hal itulah yang coba dibedah dalam khutbah Jum’at yang dibawakan oleh KH. Akib Junaid di Masjid Asy Syuhada, Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Makostrad), Jakarta, pada Jum’at, 9 Dzulqaidah 1445 (17/5/2024).

Dai lintas nusantara asal Sinjai, Sulawesi Selatan, ini mengupas tuntas tema murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, membuka mata kita terhadap jebakan kesombongan yang sering kali menjerumuskan manusia.

Akib mengawali khutbahnya dengan mendefinisikan ciri-ciri orang yang benar dalam keimanannya. Bagi mereka, segala peristiwa dalam kehidupan ini berada di bawah kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan-Nya tak terelakkan, tak tergoyahkan oleh kekuatan manusia.

Namun, dalam situasi ini, manusia tak jarang terlena oleh kesombongan. Kekuatan fisik, harta melimpah, dan jabatan tinggi dapat menumbuhkan benih kesombongan, membuat mereka lupa diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam firman-Nya di QS. Al-A’raf ayat 40, dengan tegas menegaskan bahwa kesombongan adalah pintu tertutup surga.

“Ciri orang yang benar dalam keimanannya dapat dikonfirmasi dari cara seseorang dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini,” katanya.

Bagi mereka yang beriman dengan kualitas iman yang benar, sudah pasti menyakini bahwa segala hal yang ada di alam raya ini tanpa terkecuali berada di dalam kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dalam pengertian, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sesuatu untuk terjadi, maka ketetapan itu pasti akan terjadi,” terangnya.

Begitu pula sebaliknya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sesuatu terjadi, meskipun dengan persiapan dan perencanaan yang matang dan dengan segenap kemampuan yang dimiliki, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki untuk terjadi, maka tidak satupun mahluk yang dapat mengubah ketetapan-Nya,

Kemantapan keyakinan itu sebagaimana sebuah ungkapan doa dan wirid yang diamalkan Abu Darda yang diajarkan Nabi kepadanya yaitu: “Ma sya-allahu kana wama lam yasya’lam yakun”, jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka dia pasti akan terjadi. Jika Allah tidak menghendaki, maka dia tidak akan mungkin terjadi.

Namun, tak jarang, situasi terkadang membuat manusia lupa diri dengan segenap kemampuan yang dimiliki berupa fisik yang kuat, harta yang melimpah serta jabatan yang melekat dalam dirinya. Dengan begitu, manusia merasa mampu untuk melakukan berbagai hal, tanpa disadari ia telah menumbuhkan benih-benih kesombongan dalam dirinya.

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu membenci orang-orang yang berlaku sombong, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya;

وَلَا يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلْجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلْخِيَاطِ

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum” (QS. Al-A’raf : 40)

Ustadz Akib menjelaskan, ayat ini secara tegas menginformsikan kepada kita, sekaligus menjadi analogi yang begitu ekstrem, bahwa betapa Allah tidak ridha kepada manusia yang dalam dirinya terdapat kesombongan, sifat takabbur, sehingga konsekuensi yang diberikan bagi pelakunya berupa azab dari-Nya.

“Menganggap diri paling suci, paling baik, seolah terbebas dari perbuatan salah adalah salah satu bentuk kesombongan yang paling dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala,” terang Akib, sambil mendaraskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah An Najm ayat 35:

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”

Manusia Makhluk Lemah

Masih dalam khutbahnya, Ustadz Akib mengingatkan bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang amat lemah dan tanpa daya. Oleh sebab itu, seorang muslim dipandu oleh agama untuk selalu rendah hati dan tidak memandang diri lebih tinggi dari orang lain.

Dia menegaskan, bahwasanya kesuksesan, kekayaan, serta amalan yang konsisten hanyalah titipan dan bukan alasan untuk sombong.

“Kesuksesan, kekayaan serta amalan yang secara konsisten dapat kita lakukan seringkali memunculkan perasaan besar diri yang membuat kita lupa akan keterlibatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap episode perjalan hidup yang seakan terjadi atas usaha dan jerih payah sendiri,” imbuhnya.

Sehingga wajar apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mentolerir sedikit pun juga sebagai wujud murkah-Nya kepada orang-orang yang memelihara perasaan sombong dalam dirinya, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran) dan sombong terhadap makhluk.

Khutbah Ustadz Akib Junaid bagaikan oase bagi jiwa yang lalai. Ia mengingatkan kita bahwa kesombongan adalah jebakan berbahaya yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia juga memberikan solusi untuk menjauhkan diri dari kesombongan dengan mengangkat kembali anjuran Rasulullah yang menyerukan umatnya untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap langkah kehidupan, menyadari kebesaran-Nya bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Ustadz Akib menggaris bawahi bahwa kesombongan tak hanya dalam bentuk merasa diri paling suci atau paling baik, tetapi juga dalam sikap sombong terhadap kebenaran dan meremehkan orang lain. Hal ini, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu diterangkan Ustadz Akib seraya menukil penjelasan ulama bahwa menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya.

Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (ybh/hidayatullah.or.id)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

STIE Hidayatullah Songsong Visi Kampus Bertaraf Internasional dengan Kekuatan Alumni

DEPOK (Hidayatullah.or.id) -- Seiring makin bertambahnya usia sebagai salah satu perguruan tinggi Hidayatullah (PTH) yang membidangi lahirnya sumber daya...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img