
KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Arahan Pengurus Harian DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Widodo, S.Ag., M.Si., menjadi benang merah pembahasan Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah Kabupaten Kudus.
Ia menegaskan bahwa ketahanan organisasi dan keberlanjutan gerakan hanya dapat dicapai oleh entitas yang mampu menjaga prinsip dasar perjuangan sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.
Kerangka tersebut, menurutnya, relevan bagi organisasi dakwah yang berkhidmat di tengah masyarakat Indonesia yang terus berubah secara sosial, budaya, dan struktural.
Musda Hidayatullah Kabupaten Kudus digelar di Aula Utama Hidayatullah Kudus pada Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025). Forum ini menjadi ruang konsolidasi strategis untuk menentukan arah kepemimpinan dan prioritas gerakan lima tahun ke depan.
Musda dihadiri Dewan Pengurus Daerah, unsur Dewan Pengurus Cabang, organisasi otonom, Pemuda, dan Mushida sebagai representasi struktur serta basis gerakan Hidayatullah di tingkat lokal.
Widodo hadir sebagai pendamping Musda gabungan pengurus cabang Hidayatullah Kudus. Dalam arahannya, ia mendorong penguatan khidmat sosial melalui dakwah dan tarbiyah yang berkesinambungan. Ia menekankan pentingnya konsistensi pelayanan umat sebagai wujud kontribusi nyata gerakan Islam dalam konteks keindonesiaan.

Widodo juga mengingatkan agar organisasi tidak terjebak pada stagnasi pemikiran, termasuk narasi yang dikenal sebagai teori kuda mati. Ia menilai pelabelan tersebut tidak tepat secara analitis karena menggambarkan organisasi yang kehilangan daya hidup dan berhenti melakukan pembaruan. Menurutnya, karakter tersebut tidak mencerminkan kondisi Hidayatullah.
“Hidayatullah justru menunjukkan fakta sebaliknya. Kaderisasi terus berlangsung, nilai inti terjaga, dan strategi dakwah mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas,” ujar Widodo dalam forum tersebut.
Ia menambahkan, keberlanjutan organisasi ideologis tidak ditentukan oleh popularitas jangka pendek, melainkan oleh kesinambungan nilai, sistem kaderisasi, dan kemampuan membaca konteks zaman.
Dalam kerangka itu, Bendahara Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah ini menegaskan bahwa Hidayatullah bergerak secara konsisten membangun manusia dan jejaring sosial sebagai fondasi dakwah jangka panjang.
Musda ini diikuti unsur pimpinan cabang dari Jati, Kaliwungu, Gebog, Bae, dan Jekulo. Cabang Jekulo ditunjuk untuk menyampaikan pandangan umum cabang, yang menyoroti pentingnya penguatan kaderisasi serta soliditas struktur di tingkat basis sebagai prasyarat keberlanjutan organisasi.
Selain pandangan cabang, forum juga mendengarkan pandangan umum dari satu unit dan satu Muslimat Hidayatullah (Mushida). Keduanya menegaskan urgensi sinergi lintas unit serta penguatan peran perempuan sebagai bagian integral dari keberlanjutan gerakan dakwah dan sosial Hidayatullah.
Secara kolektif, pandangan umum Musda menempatkan lima tahun ke depan sebagai fase krusial konsolidasi dan transformasi. Prioritas diarahkan pada penguatan tarbiyah dan kaderisasi, pembenahan tata kelola organisasi yang profesional dan transparan, penguatan kemandirian ekonomi umat, peningkatan mutu pendidikan dan literasi, serta penguatan peran sosial-kemanusiaan sebagai wujud kehadiran organisasi di tengah masyarakat.
Forum Musda juga menerima laporan pertanggungjawaban pengurus DPD Hidayatullah Kudus periode 2020–2025 dengan penilaian sangat baik. Secara aklamasi, Musda menetapkan Ustadz Achmad Machbub untuk melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kudus.
Dalam sambutan perdananya, Achmad menyatakan komitmen melanjutkan program keumatan yang telah berjalan, menyempurnakan agenda yang belum optimal, serta menjadikan kaderisasi dakwah sebagai poros utama gerak organisasi lima tahun ke depan.






