
BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Juweni, menegaskan bahwa makna Al Harakah Al Jihadiyah tidak boleh dipahami secara sempit maupun sekadar simbolik. Ia menyampaikan bahwa konsep tersebut merupakan identitas perjuangan organisasi yang harus dimaknai sebagai ruh gerakan, hadir dan menjiwai seluruh aktivitas kader tanpa dibatasi oleh profesi, posisi, atau berbagai ruang pengabdian dalam kehidupan.
Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Juweni dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026). Forum ini dihadiri pengurus Hidayatullah dari berbagai struktur di seluruh wilayah Jawa Timur dan menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi.
Dalam pengantar materinya, Juweni mengingatkan kembali Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah sebagai salah satu jati diri utama Hidayatullah yang membentuk arah dan karakter perjuangan organisasi.
“Al Harakah Al Jihadiyah adalah gerakan hidup. Ia menuntut kesungguhan total dalam mengamalkan Islam di seluruh lini kehidupan,” ujar Juweni.
Menurut Juweni, tantangan organisasi pada masa kini adalah pada konsistensi dalam menjaga karakter dasar. Oleh karena itu, Rakerwil ditegaskan Juweni sebagai ruang muhasabah agar seluruh aktivitas organisasi tetap berada dalam koridor jihad fii sabilillah.
Materi lanjutan disampaikan oleh anggota DMW Jawa Timur, Muhammad Syuhud, yang menegaskan bahwa jihad fii sabilillah merupakan amal puncak dalam Islam dan menjadi landasan seluruh gerak kader Hidayatullah.
Ia menyampaikan bahwa tidak ada amal lain yang memiliki keutamaan yang dipadukan dengan jihad fii sabilillah, sehingga orientasi niat menjadi aspek utama dalam setiap aktivitas kader.
“Tidak ada amal yang pahalanya dipadukan dengan jihad fii sabilillah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memastikan setiap profesi—guru, dai, pengelola lembaga, pengusaha, maupun pengurus—dijalani dengan niat jihad,” ujar Syuhud.
Dia menekankan bahwa jihad dapat tercermin dalam kesungguhan menjalankan amanah sebagai hamba (Abdullah) dan sebagai pemakmur bumi atau khalifatullah.
Dalam pandangannya, keberadaan dalam meniti jalan perjuangan adalah pilihan sadar untuk hidup dalam khidmat dakwah dan tarbiyah jangka panjang.
“Berada dalam Al Harakah Al Jihadiyah berarti siap berproses, siap berkorban, dan siap istiqamah, meski hasilnya tidak selalu instan,” kata Syuhud.
Dalam pemaparannya, Syuhud mengaitkan makna jihad dengan manhaj Sistematika Wahyu yang menjadi dasar gerakan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa perjuangan Islam dibangun secara bertahap, mengikuti pola turunnya wahyu.
Menurutnya, Wahyu Makkiyah berfungsi sebagai pondasi dan kerangka pembentukan akidah serta kepribadian, sementara Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan peradaban.
“Wahyu Makkiyah adalah pondasi dan kerangka. Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan. Ini pelajaran bahwa jihad adalah proses panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Syuhud menegaskan bahwa Hidayatullah menempatkan diri sebagai organisasi kemasyarakatan yang wasathiyah yang menghadirkan keseimbangan, hikmah, dan peran pemersatu umat.
Seperti diketahui, enam jati diri Hidayatullah adalah Sistematika Wahyu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Harakah Al Jihadiyah Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun Minal Muslimin, dan Al Wasathiyah, yang menjadi pedoman dalam gerakan dakwah dan pendidikan Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam dengan manhaj tarbiyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menekankan kepemimpinan, persatuan, dan keseimbangan.[]






