AdvertisementAdvertisement

Buka Rakerwil Banten, Syaefullah Hamid Tekankan Kemandirian dan Kontribusi Sosial Bagi Masyarakat

Content Partner

TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hukum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menegaskan bahwa sebagai organisasi kemasyarakatan Islam, Hidayatullah dituntut untuk semakin mandiri dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Demikian hal itu disampaikan saat ia secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Banten yang berlangsung di Yayasan Al-Firdaus, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah, Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu, 19 Syaban 1447(7/2/2026).

Syaefullah menyampaikan bahwa Rakerwil merupakan momentum strategis untuk melakukan konsolidasi jati diri organisasi sekaligus mendorong transformasi yang terarah. Ia menekankan pentingnya penataan ulang orientasi organisasi agar Hidayatullah di wilayah Banten dapat tumbuh sebagai gerakan yang mandiri dan memiliki pengaruh yang lebih luas.

Syaefullah mengawali arahannya dengan menempatkan Rakerwil sebagai forum penting dalam merespons perubahan zaman. Menurutnya, dinamika sosial, pendidikan, dan kebangsaan berjalan dengan cepat, sehingga organisasi dituntut untuk memperkuat fondasi nilai serta menyiapkan langkah-langkah transformasi yang terukur dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa Hidayatullah saat ini berada dalam fase penting sejarah organisasi, ditandai dengan semakin berkurangnya para pendiri dan perintis yang selama ini menjadi rujukan langsung dalam menjaga nilai dan arah perjuangan. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut kesadaran bersama seluruh kader untuk memastikan kesinambungan nilai ideologis dan sistem organisasi.

Dalam konteks tersebut, Syaefullah menyinggung Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah Tahun 2025 lalu sebagai penanda penting dalam perjalanan organisasi. Ia menjelaskan bahwa Munas tersebut menjadi forum nasional pertama yang tidak lagi dihadiri oleh para pendiri Hidayatullah.

“Pada Munas 2025, tidak ada lagi pendiri yang membersamai forum. Bahkan, bisa jadi pada 2030 nanti, itu merupakan Munas terakhir yang masih diikuti para senior yang pernah dididik langsung oleh almarhum Ustadz Abdullah Said,” katanya.

Dalam pada itu, ia menegaskan pentingnya penguatan sistem organisasi yang tidak bertumpu pada figur tertentu, melainkan pada nilai, struktur, dan mekanisme kaderisasi yang kokoh. Menurut Syaefullah, akselerasi organisasi menjadi kebutuhan agar Hidayatullah tetap mampu menjalankan peran sosial, pendidikan, dan kebangsaan secara berkelanjutan.

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam, Syaefullah menekankan bahwa kemandirian merupakan prasyarat utama untuk dapat berkontribusi secara nyata. Ia menyampaikan bahwa kemandirian organisasi harus diwujudkan dalam kapasitas riil, bukan sekadar konsep normatif.

“Untuk bisa berkontribusi, kita harus memiliki sesuatu yang bisa kita berikan. Karena, faqidusy sya’i laa yu’thihi, orang yang tidak memiliki apa-apa tidak mungkin memberi apa-apa kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

Dalam kerangka tersebut, Syaefullah mengaitkan kemandirian organisasi dengan visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam. Ia menyatakan bahwa visi tersebut menuntut kerja organisasi yang terstruktur, sistematis, dan konsisten, serta ditopang oleh desain besar nilai jati diri dan penguatan struktur di seluruh tingkatan organisasi.

Ia menekankan agar Rakerwil tidak berhenti pada penyusunan program kerja, tetapi menghasilkan langkah-langkah konkret dalam penguatan tata kelola organisasi. Menurutnya, konsolidasi nilai dan struktur merupakan fondasi utama dalam mewujudkan visi jangka panjang organisasi.

Dalam bidang pendidikan, Syaefullah menyampaikan evaluasi terhadap kondisi lembaga pendidikan Hidayatullah. Ia menyebutkan bahwa meskipun terdapat perkembangan positif di sejumlah lembaga, secara umum masih terdapat tantangan dalam aspek daya saing, baik di tingkat nasional maupun global.

Ia mengaitkan tantangan tersebut dengan sejumlah data yang menunjukkan bahwa capaian literasi, numerasi, dan sains pelajar Indonesia khususnya Hidayatullah masih berada di bawah rata-rata. Data tersebut, menurutnya, menjadi pengingat akan pentingnya penguatan mutu pendidikan secara serius dan sistemik tanpa menegasikan nilai nilai inti dari kultur pendidikan Hidayatullah sejak awal.

Pada saat yang sama, Syaefullah menekankan pentingnya implementasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai ciri khas pendidikan Hidayatullah.

“Kurikulum Pendidikan Integral Berbasis Tauhid diharapkan betul-betul diimplementasikan, sehingga mampu melahirkan pendidikan unggul di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Menutup sambutannya, Syaefullah menegaskan bahwa Rakerwil Hidayatullah Provinsi Banten diharapkan menjadi ruang konsolidasi nilai, penguatan struktur organisasi, dan perumusan langkah strategis agar Hidayatullah mampu menjaga warisan pendiri sekaligus bertransformasi menjadi organisasi yang mandiri dan siap memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

BAZNAS dan IMS Gelar Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan bagi Kelompok Rentan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) menyelenggarakan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img