
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kebakaran melanda Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026) sekitar pukul 12.30 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Musibah terjadi di kompleks pesantren yang berlokasi di Jalan Abdul Syakur, Kabupaten Mamuju.
Ketua Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri (YPCM) Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Ustadz Gunawan, menjelaskan bahwa kebakaran diduga dipicu oleh gangguan arus listrik di area pos satpam. Ia menyebutkan bahwa api dengan cepat menjalar ke beberapa bangunan di lingkungan pesantren.
“Dugaan awal pemicu kebakaran adalah korsleting arus pendek di pos satpam,” ujarnya.
Menurut keterangan pengelola pesantren, warga pondok segera berupaya memadamkan api menggunakan peralatan yang tersedia sebelum bantuan datang. Sejumlah bangunan yang terdampak di antaranya lima ruang belajar tingkat TK dan SD serta sebuah kantor BMH yang berada di area kompleks pesantren.
Petugas pemadam kebakaran kemudian tiba di lokasi dan melakukan penanganan bersama personel Polresta Mamuju. Proses pemadaman juga dibantu oleh unit water cannon milik kepolisian. Api berhasil dikendalikan setelah sekitar satu jam upaya pemadaman dilakukan.
Kapolresta Mamuju, Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi, turut meninjau lokasi kejadian bersama sejumlah personel untuk melakukan pemeriksaan awal terkait sumber kebakaran.
“Dari olah TKP yang dilakukan, ditemukan indikasi kuat api berasal dari pos satpam. Di dalamnya terdapat tumpukan sakelar terminal colokan listrik,” ujarnya kepada awak media di lokasi kejadian.
Selama proses pemadaman berlangsung, warga sekitar turut membantu upaya penanganan dengan memindahkan barang-barang yang masih dapat diselamatkan dari dalam bangunan. Sebagian peralatan pendidikan berhasil diamankan, sementara sejumlah fasilitas lainnya mengalami kerusakan akibat kebakaran.
Beberapa perlengkapan belajar seperti lemari buku, meja, kursi, serta buku pelajaran siswa masih ditemukan dalam kondisi yang dapat digunakan kembali setelah peristiwa tersebut. Namun sejumlah fasilitas pendidikan lain, termasuk buku dan mushaf Al-Qur’an, dilaporkan ikut terbakar.
Bangunan yang terdampak diketahui merupakan fasilitas pendidikan yang telah digunakan sejak awal berdiri pada tahun 2009. Hingga laporan ini disusun, warga pesantren masih melakukan pembersihan sisa material bangunan yang terbakar serta menginventarisasi barang-barang yang masih dapat dimanfaatkan.






