
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Konsultan Pendidikan dan Tenaga Ahli Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Abdul Munir, berbagi inspirasi dalam rangkaian acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RMH) yang bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Sabtu, 29 Syawal 1447 (18/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Munir membedah fenomena keretakan hubungan dalam keluarga serta tantangan destruksi kognitif pada generasi muda akibat paparan media digital yang tidak terkendali.
Abdul Munir menyoroti realitas empiris mengenai minimnya keterbukaan antara anak dan orang tua. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat fakta yang memprihatinkan bahwa sebagian besar anak enggan berbagi perasaan atau masalah dengan orang tua mereka.
“Pernah nggak anak cerita masalahnya ke orang tua. Ada 25 persen berani cerita, 75 persen gak berani cerita, hubungan anak dan orang tua menjadi retak halus,” katanya, seraya menekankan kondisi ini menyebabkan anak-anak mengalihkan pencarian solusi atas permasalahan mereka ke ranah digital atau lingkaran pertemanan.
Lebih lanjut, keterputusan koneksi ini berdampak pada pergeseran otoritas sumber belajar. Saat mengalami kesulitan, anak-anak kini lebih cenderung mencari jawaban di YouTube atau internet dibandingkan bertanya kepada guru atau orang tua mereka. Fenomena ini diperparah dengan munculnya ancaman serius bagi perkembangan otak anak.
“Media sosial mengakibatkan brainroot pada anak, menjadi salah satu masalah yang serius pada anak menjadi pembusukan otak konsentrasi dan nalar anak”,” katanya. Kondisi ini, terang Munir melanjutkan, sering kali diperumit dengan adanya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat memicu depresi berat bahkan tindakan fatal seperti bunuh diri.
Menanggapi krisis tersebut, Abdul Munir menekankan perlunya reorientasi fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.

Pesantren, imbuh dia, harus mampu melakukan inovasi agar pengajaran agama tidak berlangsung monoton atau tradisional, melainkan interaktif dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini. “Sekolah maju karena keberanian berinovasi,” tekannya.
Disamping itu, dengan mengadopsi teknologi dalam metode dakwah dan membangun jiwa wirausaha sejak dini, pesantren dapat menjadi benteng yang kuat dalam menjaga nalar dan karakter santri.
Abdul Munir mengajak seluruh pengelola lembaga pendidikan dan orang tua untuk kembali menghadirkan keberadaan yang bermakna bagi anak.
Dia menegaskan, penyelamatan generasi dari ancaman pembusukan otak digital harus dimulai dari pemulihan komunikasi di tingkat keluarga dan inovasi berkelanjutan dalam institusi pendidikan.
“Hal ini penting agar potensi besar jamaah dan santri yang ada dapat bertransformasi menjadi kekuatan produktif bagi umat,” tegasnya.






