
DALAM perhelatan di dunia ini, jabatan sering kali menjadi seperti piala yang diperebutkan dengan peluh dan pengorbanan. Secara manusiawi, egoisme memang senang ketika diakui, haus saat dihormati, dan merasa kuat ketika memegang kendali, meski hanya dalam lingkup terkecil seperti menduduki kursi Ketua RT. Namun, bagi seorang Muslim, jabatan bukanlah destinasi kebanggaan, melainkan beban dan ujian.
Islam datang dengan peringatan yang menggetarkan nurani. Rasulullah SAW mengajarkan orang beriman sebuah etika kepemimpinan yang kontras dengan hiruk-pikuk duniawi. Beliau bersabda:
“Janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka jabatan itu akan diserahkan sepenuhnya kepadamu (tanpa pertolongan Allah). Tetapi jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan karena memintanya, maka engkau akan ditolong dalam melaksanakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Bahkan, dalam ketegasan beliau, orang-orang yang terlalu berambisi mengejar kedudukan diingatkan dengan metafora “lemparan pasir”sebuah simbol bahwa ambisi pada jabatan adalah kerendahan, bukan kemuliaan.
Amanah bukan sekadar jabatan tapi amanah adalah ukuran iman. Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa para nabi memperkenalkan diri mereka dengan kalimat yang sama: “Sesungguhnya aku adalah rasul yang terpercaya bagi kalian.” (QS. Asy-Syu’ara: 107, 125, 143, 162, 178).
Seolah Allah ingin mengajarkan satu hal mendasar: sebelum memegang jabatan, sebelum visi besar, sebelum perubahan peradaban yang pertama adalah memiliki sifat amanah. Tidak mungkin para rasul bisa diterima risalah dakwahnya oleh umat jika tidak memiliki karakter amanah. Demikian juga menjadi pejabat sukses di level apapun juga sangat memerlukan karakter amanah.
Rasulullah ﷺ bahkan menjadikan amanah sebagai parameter keimanan. Salah satu sifat Rasulullah adalah amanah. Dalam khutbah-khutbahnya beliau sering mengingatkan:
“Tidak ada iman (yang sempurna) bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad)
Artinya jelasnya amanah bukan kebanggaan di tengah masyarakat, aksesioris untuk menaikkan status sosial. Amanah menjadi indikator kesempurnaan iman. Jika seorang pemegang amanah tidak memiliki iman ( tidak percaya Allah, pahala dan dosa, surga dan neraka) maka kemungkinan besar akan mengkhianati amanahnya dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dengan jabatannya.
Al-Qur’an memuji orang-orang beriman sebagai orang yang menjaga amanah dan janji-janji sebagaimana dalam (QS. Al-Mu’minun: 8) dan (QS. Al-Ma‘arij: 32)
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
Artinya, “Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janji-janji mereka.”
Apalagi bagi mereka yang sudah diambil sumpah janjinya saat mendapatkan amanah/tugas dengan diangkat kitab suci di atas kepalanya, mengucapkan janji yang dipersaksikan oleh banyak orang. Tentu Allah dan malaikat juga mempersaksikan untuk meminta pertanggung jawabannya bukan di akhir tahun atau akhir periode tapi nanti hari kiamat.
Allah memperingatkan dengan keras agar tidak mengkhianati amanah
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan (jangan pula) kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Bahkan pengkhianatan terhadap amanah disebut sebagai salah satu tanda kemunafikan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ancaman Allah terhadap orang-orang munafik luar biasa.
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (akan ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 145)
Di sinilah harga sebuah amanah menjadi begitu mahal. Ia bisa mengangkat derajat seseorang, atau justru menjatuhkannya ke lapisan terdalam kehinaan. Maka iman harus menjadi bekal pertama dalam menerima amanah, iman yang bisa menuntun dan menyelamatkan dari khianat dalam amanah.
Amanah dan Ilmu
Namun ada satu hal yang sering terlupakan: amanah tidak cukup hanya dengan niat baik dan semangat yang menyala-nyala. Amanah membutuhkan ilmu, pengetahuan dan skill yang memadai.
Mendapatkan amanah apapun, sebagai presiden, gubernur, direktur, gubernur, bupati, guru, pegawai dan pekerja apa saja ataupun level menjadi kepala rumah tangga memerlukan ilmu. Khususnya tentang manajerial dan leadership untuk menjadi pemimpin dan menunaikan amanah dengan baik.
Imam Bukhari dalam Shahih-nya membuat satu bab khusus: “Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”
Itulah sebabnya wahyu pertama bukan “berbuatlah”, bukan “bergeraklah”, bukan “shalatlah” tetapi Iqra’ bacalah. Membaca adalah perintah revolusioner yang menjadi fondasi peradaban dan modal berkemajuan. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses membangun kesadaran tauhid, idealisme, meluaskan wawasan pengetahuan, menggali gagasan, ide, inspirasi dan tanggung jawab keimanan.
Allah SWT berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra: 36)
Salah satu kunci mendapatkan ilmu adalah dengan membaca. Pemimpin atau pemegang amanah yang tidak membaca buku akan dikalahkan oleh realitas. Mereka mudah menyerah, mengeluh dan sering kali menyalahkan orang lain untuk menutupi ketidakmampuannya dalam mengatasi masalah.
Menunaikan amanah bukan sekadar soal niat baik atau ledakan semangat yang menyala sesaat; ia adalah bangunan yang berdiri di atas fondasi iman dan diperkokoh dengan pilar ilmu. Tanpa ilmu, semangat hanya akan menjadi api yang membakar tanpa arah, dan tanpa inspirasi serta insight, amanah akan terasa sebagai beban yang menjemukan, bukan pengabdian yang menghidupkan.
Sebagai seorang mukmin yang profesional, harus menyadari bahwa kecintaan kepada Allah menuntut untuk memberikan kualitas terbaik (ihsan) dalam setiap tanggung jawab. Ilmu memandu bekerja dengan benar, sementara wawasan (insight) membantu menembus kerumitan zaman. Jangan biarkan amanah yang diemban layu karena kedangkalan cara berpikir; siramilah ia dengan cahaya literasi dan hikmah, agar setiap tugas ditunaikan menjadi saksi keimanan yang nyata di hadapan-Nya.[]
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah






