AdvertisementAdvertisement

Tazkiyatun Nafs Terpadu di Ramadhan

Content Partner

DALAM buku Tradisi-tradisi Intelektual Islam, Annemarie Schimmel memuji tasawuf Al-Ghazali. Dia menulis, “Bahwa tasawuf Al-Ghazali bukan hanya berkisar pada laku ritual, tapi juga melibatkan akal pikiran. Ini selaras dengan Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190-194.”

Jika perkataan Schimmel dikonfirmasikan pada kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, maka didapati bahwa memang benar Al-Ghazali memberikan ruang yang besar untuk akal dalam bertasawuf. Bab awal di kitab Ihya Ulumuddin berisi kajian seputar ilmu. Di kajian tersebut dapat ditemukan pentingnya berpikir dalam bingkai keimanan. Sementara, masih menurut kajian tersebut, berpikir dalam bingkai keimanan akan melahirkan keluasan berpikir. Karena orientasinya kepada Allah ta’ala, Maha Besar dan Maha Luas.

Perihal berpikir dalam hubungannya dengan tasawuf kiranya penting untuk disegarkan kembali. Karena masih ada kalangan yang memahami tasawuf sebagai kumpulan laku ritual penyucian jiwa. Aktivitas berpikir dipinggirkan, dianggap bertentangan dengan laku ritual.

Di sisi lain ada kalangan yang begitu kuat mentradisikan berpikir hingga tidak sadar mengabaikan laku ritual penyucian jiwa. Ibadah-ibadah nawafil kurang diperhatikan. Buruknya lagi, semoga tidak sengaja, muncul anggapan bahwa laku ritual penyucian jiwa indikator kejumudan.

Menyegarkan pemikiran Al-Ghazali ini semoga memperkuat inspirasi dalam mengantarkan seorang muslim kepada kualitas diri yang sejati. Sebagaimana disampaikan oleh Buya Ahmad dalam Tafsir Sinar, orang besar sejati berpusat pada akhlaknya. Apa yang disampaikan Buya Ahmad ini bagian dari tafsirnya terhadap Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4, “Sesunggunya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung.”

Menariknya sebelum mendapatkan gelar pemilik akhlak yang agung, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dituntun terlebih dahulu oleh Allah ta’ala untuk ber-iqra’ bismi rabbik. Dapat ditarik cepat sebuah kesimpulan, fondasi utama akhlak adalah menggunakan akal dalam naungan keimanan. Setelah itu proses iqra’ bismi rabbik dirawat dengan laku ritual penyucian jiwa semisal shalat, dzikir, dan puasa.

Lebih jauh, didapati bahwa laku ritual penyucian jiwa lebih berkualitas jika akal digunakan. Dalam hal shalat, misalkan, kualitasnya semakin bagus apabila isi bacaan dipahami serta dihayati. Berbeda apabila seseorang tidak paham dengan apa yang dibaca, shalat mungkin berakhir sebagai sekedar rutinitas.

Dengan demikian ilmu dan amal bertemu dalam satu muara. Inilah salah satu maksud dari ‘shiratal mustaqim (jalan yang lurus)’. Ada ilmu yang kokoh, di saat bersamaan ada amal yang kuat. Lahirlah muslim yang berkualitas secara utuh dan terpadu.

Peluang Ramadhan

Ramadhan memberikan ruang berpikir dan beramal yang lebar. Momen turunnya Al-Qur’an semoga menjadi penyemangat membaca sekaligus memahami Al-Qur’an. Tentu jadi tantangan tersendiri dalam memahami keseluruhan Al-Qur’an. Maka bolehlah sebagian ilmu dari Al-Qur’an mendapat perhatian untuk dilanjutkan setelah Ramadhan.

Di sisi lain tadarus dikuatkan. Satu juz dalam sehari merupakan target yang cukup baik. Apabila ada target yang lebih tinggi, tentu jauh lebih baik. Hal terpentingnya pada menikmati tadarus Al-Qur’an.

Dengan kedua aktivitas utama tersebut, memahami dan tadarus Al-Qur’an, pikiran dan jiwa mendapatkan makanannya. Keduanya bersambung baik. Keduanya akhirnya benar-benar sinergi dalam kebaikan. Kebaikannya tidak remeh temeh, tapi sangat berkualitas dan dampaknya luas.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ramadhan Saatnya Tangan di Atas

SALAH satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah mengantar dan mengkondisikan orang-orang beriman untuk dermawan atau mudah berbagi. Baik dengan sedekah,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img