AdvertisementAdvertisement

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

Content Partner

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target Ramadhan dari Allah SWT, agar kita menjadi orang bertakwa bisa jadi akan sulit kita capai. Wajar jika kemudian Majalah Hidayatullah pernah mengangkat tema “Idul Fitri Jangan Ternodai” (lihat edisi Mei 2020/Ramadhan 1441 H).

Dalam kata lain, banyak orang yang lulus Ramadhan kehilangan arah dan orientasi hidup. Dan, tulisan kali ini hadir untuk kita lebih bertenaga dalam Ramadhan, utamanya untuk membangun sistem kesadaran.

Secara sederhana sistem kesadaran bisa kita maknai sebagai struktur internal dalam diri seseorang. Struktur itu kemudian mengatur cara seseorang memahami realitas, menilai benar-salah, dan mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan iman. Jadi, ia hidup apalagi dalam Ramadhan bukan sekadar tahu yang benar. Sistem kesadaran adalah cara berpikir yang terorganisir sehingga kebenaran menjadi pola tetap, bukan kebetulan.

Untuk memahami lebih lanjut ada ilustrasi yang bisa kita jadikan jembatan. Bayangkan dua orang sama-sama tahu bahwa korupsi itu salah. Yang satu tetap korupsi ketika ada kesempatan. Yang satu tidak. Bedanya bukan pada pengetahuan. Bedanya pada sistem kesadaran. Pada yang kedua, nilai kebenaran sudah terintegrasi dalam struktur batinnya. Ia otomatis aktif saat diuji.

Dalam makna yang lain, jika masalah bangsa ini adalah korupsi yang belum teratasi, sementara sebagian pejabatnya beragama Islam, maka Islam sebagai way of life belum menjelma sebagai sistem kesadaran dalam diri mereka. Dan, ini adalah tantangan tidak ringan bagi umat Islam.

Hamba dan Ramadhan

Dalam Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat ayat ke-56 Allah menegaskan bahwa tujuan manusia dihadirkan ke muka bumi ini untuk beribadah. “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Ibadah jangan kita maknai secara sempit, sebagai amalan ritual berupa shalat semata. Ibadah adalah ruang kita mendedikasikan diri untuk mendapat ridha Allah. Dan, ini adalah aspek ontologis bagi umat Islam untuk menyadari siapa sebenarnya jati dirinya, untuk apa manusia hadir dalam kehidupan dunia ini.

Nah, dalam Ramadhan kita berada pada momentum paling baik untuk menguatkan kesadaran sebagai makhluk yang harus totalitas beribadah kepada Allah SWT. Secara situasi dan kondisi Ramadhan memungkinkan siapapun untuk mudah beribadah. Dan, karena ibadah tidak bermakna sempit, maka berpikir, merenung, juga bagian dari ibadah yang penting kita lakukan. Supaya kita bisa memiliki sistem kesadaran lebih kokoh.

Kemudian interaksi dengan Al-Qur’an, Ramadhan sangat mudah kita upayakan. Namun, idealnya setiap Muslim bisa membaca Al-Qur’an sekaligus membaca ayat-ayat Allah dalam wujud alam semesta ini, sehingga kita bisa sampai pada level Ulul Albab. Ulul Albab ini adalah bentuk konkret dari Muslim yang telah kokoh dalam hal sistem kesadaran.

Punya Arah dan Komitmen

Berbicara sistem kesadaran Islam memiliki banyak figur yang bisa kita jadikan teladan. Contoh paling populer, Umar bin Khattab ra. Ketika ia memimpin umat Islam, Al-Faruq itu memilih hidup sangat sederhana. Ia bahkan memilih tidur di bawah pohon kurma. Itu bukan untuk pencitraan, tapi itu buah dari sistem kesadaran dalam dirinya yang memang Umar ingin seutuhnya meneladani Nabi Muhammad SAW.

Suatu waktu Umar memang mendapati Nabi tidur beralaskan pelepah daun kurma. Karena itu ketika bangun, pada punggung Nabi SAW terdapat bekas pelepah daun kurma itu. Menyaksikan itu Umar menangis. Namun Nabi SAW memberikan satu sistem nilai kepada Umar, bahwa tidak perlu sedih kalau akhir dari semua itu adalah ridha Allah.

Alhasil dalam memimpin Umar tidak mau kemewahan melekat pada pikirannya apalagi pada tubuhnya. Ia bahkan melarang Abdullah, putranya untuk memanfaatkan celah sekecil apapun untuk mengambil manfaat duniawi karena selama ia memimpin.

Pernah suatu hari Umar melihat unta-unta yang besar dan gemuk di dekat pasar. Umar pun menyelidiki, punya siapa itu. Ternyata itu milik putranya Abdullah. Mendengar itu, Umar langsung memanggil Abdullah, menyuruh untuk segera menjual unta-unta itu lalu ambil modalnya, selebihnya kembalikan ke Baitul Maal negara.

Mengapa Umar bisa komitmen dan konsisten dalam menegakkan nilai-nilai Islam, jawabannya adalah sistem kesadaran dalam dirinya memang telah tumbuh dan kokoh atas nilai, cahaya dan nafas Al-Qur’an.

Dalam kata yang lain, kalau hari ini masih banyak umat Islam yang enggan beribadah, malas berbuat baik, masih egois dan tidak mau mendekati Al-Qur’an untuk menjadi lebih baik keimanannya dan amal shalehnya, maka yang harus segera kita lakukan adalah membangun sistem kesadaran sebagai Muslim yang bervisi peradaban. Peluang itu sangat terbuka selama Ramadhan ini. Maka, berjuanglah!*

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Regenerasi Juru Dakwah, Hidayatullah Sumut Berangkatkan Da’i Muda ke Desa Terpencil

MEDAN (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, Syukron Khoiri Nasution, menyampaikan bahwa tujuan penugasan da’i muda...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img