AdvertisementAdvertisement

Jika Ramadhan itu Pembelajaran, Bagaimana Refleksinya?

Content Partner

SERING terdengar pernyataan bahwa Ramadhan itu madrasah, atau lebih tepatnya suatu proses pembelajaran. Outputnya takwa. Outcomenya terjadi peningkatan kualitas diri dan kepekaan sosial.

Proses pembelajarannya bersifat menyeluruh. Tidak hanya ruhiyah, jasadiyah dan aqliyah juga terlibat. Ini selaras dengan output dan outcome-nya.

Proses, output, dan outcome Ramadhan sudah banyak dibahas. Berbagai pihak berkontribusi dalam pembahasannya. Ulama menyusun kitab. Cendekiawan menyusun artikel dan panduan teknis. Sementara para murid melakukan murajaah (mengulang-ulang) dan mudzakarah (diskusi).

Seiring perkembangan ilmu pendidikan yang melengkapi inspirasi Qur’ani, satu topik seputar pembelajaran insan di Ramadhan perlu dibahas: Refleksi diri.

Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 68-82 menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihimassalam. Sebagaimana diketahui, Allah ta’ala memerintahkan Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khidir. Saat keduanya bertemu, Nabi Musa sudah diingatkan Nabi Khidir, “Engkau tidak akan sabar mengikuti dan belajar kepadaku.”

Akan tetapi Nabi Musa bersikukuh. Nabi Khidir pun setuju dengan satu syarat: Tidak ada pertanyaan sebelum penjelasan diberikan.

Maka perjalanan dan pembelajaran berlangsung. Tiga kali Nabi Musa memprotes Nabi Khidir. Di protes pertama dan kedua, Nabi Khidir masih menoleransi. Akan tetapi di protes yang ketiga, Nabi Khidir tegas. Pembelajaran dihentikan.

Nabi Khidir lalu menjelaskan tiga hal yang diprotes Nabi Musa. Nabi Khidir juga menyampaikan keterangan bahwa semua yang dilakukannya atas perintah Allah ta’ala. Akhirnya perpisahan tidak terelakkan.

Penjelasan Nabi Khidir inilah inspirasi, hendaklah setiap insan melakukan refleksi di tiap akhir proses pembelajaran ataupun perjalanan. Tekniknya bisa beraneka macam, sesuai situasi dan kondisi. Syaratnya teknik yang digunakan membuat nyaman serta efektif.

Salah satu teknis yang sedang mendapat banyak perhatian adalah metakognisi. Secara pengertian, metakognisi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir tentang pemikiran diri sendiri yang melibatkan kesadaran, kontrol, dan regulasi atas proses kognitif yang dilakukan.

Dalam praktiknya ada sejumlah pertanyaan yang memandu seseorang untuk memperdalam dirinya, terutama apa saja yang telah dilakukan. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya satu, tapi beberapa poin dan bersifat mendalam. Agar tergali semua hal-hal yang berada di dalam diri.

Di tahap awal semisal di usia kanak-kanak, metakognisi perlu diajarkan. Demikian pula di usia remaja. Adapun di usia dewasa, seseorang dianjurkan untuk melakukan proses metakognisi mandiri.

Sebagai panduan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat dimulai dari mudah lanjut ke sulit dengan basis taksonomi Bloom. Alternatif lain yang lebih mudah adalah 5W+1H. Jika dirasa masih sulit, pertanyaan-pertanyaan bisa didasarkan pada emosi saja. Misalkan, “Apakah saya senang melakukan ini? Apa yang membuat saya senang? Lalu adakah yang membuat saya sedih kaitannya dengan ini?”

Proses metakognisi seputar Ramadhan memiliki waktu emas, yakni saat i’tikaf. Di saat tersebut setiap orang fokus dengan dirinya. Eksplorasi sangat dimungkinkan. Di sisi lain waktu perbaikan masih tersisa. Sebenarnya tidak hanya seputar Ramadhan saja yang bisa dieksplorasi dari dalam diri. Tentang perjalanan hidup satu tahun ke belakang dan ke depan juga bisa dijadikan fokus.

Oleh karena itu i’tikaf dianjurkan kepada setiap muslim. Tua, muda, muslim, dan muslimah diharapkan mengondisikan diri. Bisa sepanjang hari, tapi memungkinkan juga i’tikaf dilakukan malam hari saja. Dalam konteks keluarga, suami dan istri disilakan bermusyawarah agar seluruh anggota keluarga bisa i’tikaf, minimal semalam saja.

Dengan demikian semoga pembelajaran Ramadhan dapat memberikan makna yang selaksa.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Terima Hibah Rumah untuk Pusat Dakwah di Mamberamo Raya

PAPUA (Hidayatullah.or.id) -- Pada momen spesial Ramadhan ini, Hidayatullah Kabupaten Mamberamo Raya menerima hibah sebuah rumah yang direncanakan menjadi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img