
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nanang Noepatria, M.Pd, menyampaikan seruan kepada warga dan seluruh kader serta jaringan lembaga Hidayatullah di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan energi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, 6 Syawal (26/3/2026), menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada stabilitas pasar energi global.
Nanang menekankan bahwa eskalasi konflik di kawasan penghasil energi utama dunia berpotensi memengaruhi rantai pasok bahan bakar minyak global. Gangguan distribusi energi tersebut bahkan telah memicu lonjakan harga minyak dunia serta menimbulkan kekhawatiran terjadinya kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara.
Laporan internasional menunjukkan bahwa konflik di kawasan tersebut telah mengganggu pasokan energi global hingga sekitar 12 juta barel per hari, atau sekitar 12 persen dari total permintaan minyak dunia.
Selain itu, penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia—memperburuk tekanan terhadap pasar energi global dan mendorong harga minyak melampaui 100 dolar per barel.
Nanang menjelaskan bahwa struktur energi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap impor minyak dan bahan bakar. Data sektor energi menunjukkan bahwa kebutuhan BBM nasional pada 2025 mencapai rata-rata sekitar 232.417 kiloliter per hari, dengan hampir setengah kebutuhan tersebut dipenuhi melalui impor.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi minyak Indonesia terus meningkat, dengan penggunaan minyak mencapai sekitar 1,63 juta barel per hari pada 2024.
Berdasarkan kondisi tersebut, Nanang mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk melakukan langkah antisipatif melalui penghematan energi secara kolektif.
“Kami mengajak setiap warga dan keluarga kader Hidayatullah memastikan pemanfaatan energi di rumah benar-benar dalam mode hemat, baik listrik maupun energi lainnya. Kesadaran kolektif ini penting sebagai bagian dari tanggung jawab sosial menghadapi situasi global yang tidak menentu,” ujar Nanang.
Ia menambahkan bahwa gerakan penghematan energi tidak hanya dilakukan pada tingkat keluarga, tetapi juga di seluruh jaringan lembaga Hidayatullah di Indonesia. Ribuan Rumah Qur’an, pondok pesantren, kantor organisasi, serta lembaga pendidikan yang berada dalam jaringan Hidayatullah diminta menerapkan kebijakan serupa.
Menurut Nanang, langkah tersebut mencakup pengaturan penggunaan listrik secara efisien, pengurangan konsumsi energi yang tidak mendesak, serta penyesuaian aktivitas operasional agar lebih hemat energi.
“Semua kantor, pondok pesantren, dan ribuan Rumah Qur’an di bawah jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia diharapkan melakukan hal yang sama sebagai bentuk disiplin kolektif dalam menghadapi potensi gangguan pasokan energi,” katanya.
Seruan tersebut juga sejalan dengan rekomendasi lembaga energi internasional yang mendorong negara-negara dan masyarakat untuk mengurangi konsumsi energi, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar, serta memanfaatkan energi secara lebih rasional selama periode krisis energi global.
Melalui langkah tersebut, Hidayatullah berharap jaringan masyarakat sipil dapat berkontribusi dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tengah dinamika global yang berdampak pada sektor energi.
Nanang menegaskan bahwa disiplin penggunaan energi merupakan bagian dari upaya bersama untuk menghadapi ketidakpastian pasokan energi dunia serta menjaga ketahanan energi nasional.






