AdvertisementAdvertisement

Perang Iran dalam Tinjauan Iqra’ Bismirabbik

Content Partner

PERANG antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran yang terus berlangsung hingga detik ini (5/4/26) tidak cukup kita tinjau dalam analisa konvensional semata, entah itu dari pandangan militer, politik atau pun teknologi. Dunia perlu menggunakan satu analisa yang berdasarkan nilai-nilai Qur’an, terutama pada ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq: Iqra’ Bismirabbik. Ini adalah ayat yang pertama Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini akan mengingatkan manusia akan nilai mendasar dalam menjalani kehidupan ini.

Ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran, dua fakta kita bisa temukan. Pertama, memang dalam banyak kasus menunjukkan kecenderungan seperti itu. Israel dan Amerika Seriat banyak menyerang dan agresif secara militer. Utamanya jika ada hal yang mereka anggap strategis. Negara kawasan Teluk yang Israel nilai penting diserang, selekas mungkin akan dikirim rudal.

Kedua, Amerika Serikat sedang menghadapi tekanan domestik yang serius karena gaya kepemimpinan sang presiden, yaitu Trump. Warga Amerika Serikat sendiri sampai delapan juta orang turun ke jalan dengan seruan demonstrasi “No Kings”. Ini jelas maknanya sebagai sebuah fakta. Baahwa ada ketegangan tinggi ntara kebijakan negara dan aspirasi publik.

Berdasarkan secuil fakta itu, kita bisa memandang bahwa Perang Iran, bukan semata hal yang sifatnya normal dalam konteks konflik atau perang. Lebih dalam kalau kita gunakan Iqra’ Bismirabbik sebagai cara memandang, konflik ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga mencerminkan kecenderungan moral manusia.

Bisa kita sebut ini adalah tentang watak manusia yang cenderung serakah, bodoh, dan merusak. Kita tidak perlu menudingkan telunjuk ke negara mana, tapi ini penting untuk kita suarakan agar perang Iran segera usai dan dunia kembali dalam harmoni.

Makna “No Kings”

Ketika warga Amerika Serikat berdemonstrasi dan mengangkat tema “No Kings” apa yang bisa kita tangkap? Rasionalitas manusia secara umum bisa menilai bahwa keputusan Amerika Serikat membantu Israel menyerang Iran adalah irasional dan tidak manusiawi.

Keputusan itu tetap berjalan hanya karena ada watak raja yang mengendalikan dan mengambil keputusan. Watak raja dalam banyak pengalaman sejarah, sering menjalankan kekuasaan tanpa kontrol. Akibatnya sang raja cenderung otoriter, korup dan fasis.

Dalam tinjauan Iqra’ Bismirabbik (Bacalah dengan nama Tuhanmu) seorang manusia, apalagi dia menjadi pemimpin tertinggi, idealnya memutuskan apapun berdasarkan nilai-nilai amanah, bukan amarah. Ini orientasi penting yang harus dipahami seorang pemimpin. Tanpa orientasi ini, keputusan mudah bergeser dari amanah menjadi kepentingan.

Bismirabbik (dengan nama Tuhanmu) menjadi satu pesan kunci bahwa manusia akan bisa adil, bijak dan berakhlak dalam hal apapun, terutama mengambil keputusan kalau landasannya adalah rabb (Tuhan). Karena ketika manusia tidak menyadari itu, maka dia akan membaca, menganalisa dan mengambil keputusan dengan nama yang lain, tentu saja itu adalah keserakahan, kebodohan dan kehancuran.

Mari perhatikan fakta bahwa sebanyak 165 orang dan sebagian besar anak-anak tewas dalam serangan rudal Tomahawk Amerika Serikat. Serangan itu menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, karena kesalahan penargetan tentara Amerika Serikat. Dalam kata yang lain ada ketidakcermatan. Apa nama lain dari ketidakcermatan sebuah tindakan?

Suara Kunci

Perang ini akan sulit berhenti kalau pemimpin Israel dan Amerika Serikat masih menggunakan cara berpikir lama, yang cenderung agresif, merendahkan pandangan yang berbeda dan merasa hanya kepentingannya yang layak dunia pahami.

Mengapa sulit berhenti, tidak lain karena Iran sebagai negara Islam, memiliki kemampuan yang relatif sama bahkan lebih unggul dari militer dan cara berpikir pemimpin Israel maupun Amerika Serikat.

Sisi lain keberadaan selat Hormuz memberi keuntungan strategis bagi Iran sepanjang perang berlangsung. Dan itu memberikan dampak kerugian secara serius bagi banyak negara yang menggantungkan penarikan minyak dari kawasan tersebut.

Bagi Iran perang ini adalah tentang eksistensi. Maka sejauh mana Israel dan Amerika Serikat ingin berperang, sepanjang itu Iran akan memberikan respons yang memadai.

Langkah yang harus pemimpin negara-negara Islam lakukan adalah melihat perang ini dengan kerangka berpikir Iqra’ Bismirabbik.

Tuhan telah menciptakan manusia ini dengan kelemahan dalam segala hal. Maka siapapun yang membaca dunia ini dengan selain nama Allah SWT, ia akan cenderung arogan, otoriter dan destruktif.

Ini suara kunci yang harus kita gemakan. Kalaupun suara kunci ini kita anggap akan diabaikan, suara warga Amerika Serikat sudah senapas, berhenti menggunakan cara berpikir raja, yang mental itu sudah tidak lagi dunia butuhkan saat ini. Tanpa perubahan cara membaca realitas, konflik seperti ini akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Sekarang mari kita berpikir lebih dalam. Secara empiris seluruh manusia punya keyakinan yang berbeda, tapi secara fakta, semua manusia itu tercipta dari sperma dan ovum. Iqra’ Bismirabbik menegaskan akan eksistensi manusia seperti itu. Manusia itu hanya ciptaan Allah, bahan penciptaannya segumpal darah (min ‘Alaq). Manusia itu tidak tahu (maa lam ya’lam).

Dengan penjelasan yang segamblang itu, apakah pantas manusia merasa lebih baik atas manusia yang lain. Kemudian merasa punya hak menyerang, membunuh dan merendahkan manusia yang lain seenak pertunya?.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Konsultan Hodam Ingatkan Kegelisahan Penting yang Harus Ada Pada Setiap Orangtua Masa Kini

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -- Ustadz Hodam Wijaya, S.Pd.I, M.Pd., mengingatkan bahwa kegelisahan utama orangtua seharusnya tidak hanya bertumpu pada capaian...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img