AdvertisementAdvertisement

Gen-Z Diajak Membangun Tradisi Ketelitian Berpikir di Tengah Arus Informasi Cepat

Content Partner

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pegiat literasi Hidayatullah, Imam Nawawi, mengetengahkan konsep “tartil” sebagai inti pembahasan saat menyampaikan materi dalam forum Daurah Marhalah Ula (DMU) mahasiswa semester dua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 8 Dzulqaidah 1447 (25/4/26).

Dalam forum pembinaan yang dipesertai Gen Z (Generasi Z) tersebut, ia membawakan dua tema utama, yakni Surah Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir, dengan penekanan pada metode beragama yang progresif serta berpijak pada perjalanan hidup Nabi Muhammad.

Di hadapan peserta, Nawawi menegaskan bahwa ajaran spiritual dalam Islam memiliki relevansi luas untuk membangun pola pikir rasional dan bertanggung jawab di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat.

Ia menjelaskan bahwa Surah Al-Muzzammil selama ini acapkali dipahami sebatas ajakan memperkuat ibadah malam dan memperbanyak interaksi spiritual melalui pembacaan Al-Qur’an.

Namun, menurutnya, terdapat pesan metodologis yang lebih dalam, khususnya pada penggalan ayat “warattilil qur’ana tartila”, yang selama ini dipahami sebagai perintah membaca Al-Qur’an secara perlahan, teratur, dan penuh ketelitian.

Nawawi menilai prinsip tersebut dapat diterapkan lebih luas dalam membaca persoalan sosial, akademik, hingga dinamika kehidupan sehari-hari.

Tartil bisa kita jadikan basis dalam membangun framework memandang kehidupan manusia dalam berbagai dimensi, termasuk kehidupan sehari-hari,” ujar Nawawi.

Nawawi menambahkan bahwa kebiasaan membaca dengan tenang dan mendalam seharusnya melatih seseorang untuk tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan terhadap suatu persoalan.

Menurutnya, banyak konflik sosial, kesalahan keputusan, hingga disinformasi berkembang karena masyarakat terbiasa merespons sesuatu secara instan.

Fenomena melihat potongan informasi lalu membangun kesimpulan besar dinilai sebagai gejala serius di era digital. Dalam konteks tersebut, Nawawi menilai prinsip tartil dapat menjadi pendekatan intelektual untuk membedakan fakta, opini, prasangka, dan informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menekankan bahwa generasi masa kini terutama mereka yang berstatus mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih besar sebagai kelompok akademik yang diharapkan mampu memproduksi gagasan berbasis ketelitian. Kecepatan mengakses informasi, kata dia, tidak otomatis melahirkan kedalaman berpikir. Mahasiswa justru dituntut memiliki kemampuan membaca realitas secara utuh sebelum menentukan sikap.

Tartil mengajarkan ketenangan, ketelitian, dan kedalaman. Tidak tergesa-gesa dalam membaca ayat, juga tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan atas realitas kehidupan,” katanya.

Nawawi menilai pendekatan tersebut juga membentuk disiplin dalam bertindak. Seseorang yang terbiasa memahami persoalan secara utuh dinilai tidak mudah terpancing emosi, tekanan sosial, maupun arus opini publik. Keputusan yang diambil menjadi lebih terukur karena dibangun melalui proses berpikir yang matang.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cakap secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan ketepatan sikap di tengah kompleksitas zaman. Dari cara membaca yang benar, menurutnya, lahir pola pikir yang jernih, dan dari pola pikir yang jernih lahir tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Reporter: Rahmat Julianto
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Menuntaskan Akar Kejahatan Seksual di Lingkungan Akademik Secara Menyeluruh

MESKI waktu telah menggulung isu kejahatan seksual di FHUI, kita tetap penting memandangnya sebagai pelajaran. Langkah ini penting agar...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img