
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Institute menggelar Pelatihan Kepemimpinan DPD se-Indonesia Basic Batch 21 dengan mengusung tema “Kepemimpinan Manhaji: Visioner dan Progresif”. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H.
Pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah dalam menyiapkan pemimpin tingkat daerah yang memiliki kapasitas manajerial, keteguhan manhaj, serta kemampuan membaca perubahan zaman.
Dalam arahannya, Dudung menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan organisasi dakwah. Menurutnya, visi besar organisasi tidak akan terwujud apabila tidak ditopang oleh pemimpin yang visioner, manhaji, dan mampu menggerakkan sumber daya secara efektif.
“Jika pemimpinnya tidak mempunyai visi yang bagus, tidak visioner, dan tidak manhaji, maka visi itu hanya akan tercatat di tembok-tembok dan tidak bisa diwujudkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa DPD memiliki posisi strategis karena menjadi struktur organisasi yang berhadapan langsung dengan jamaah dan masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas kepemimpinan di tingkat DPD menjadi kebutuhan penting dalam memperkuat gerakan dakwah Hidayatullah di berbagai daerah.
Dudung juga menekankan perbedaan antara anggota, kader, dan leader. Anggota, kata dia, adalah mereka yang menerima visi dan misi organisasi. Sementara kader adalah mereka yang aktif mengikuti pembinaan dan memiliki kesiapan untuk bergerak, berkorban, serta menyelesaikan tantangan di lapangan.
Menurutnya, seorang kader harus memiliki sejumlah karakter utama, di antaranya kreatif, lincah, dedikatif, efektif, dan mampu menghadirkan kegiatan yang berdampak luas bagi organisasi maupun masyarakat.
“Kader itu ketika diberikan tantangan akan mencari solusi. Ciri kader adalah kreatif,” katanya.
Ia menambahkan, pelatihan ini menjadi ruang penting bagi para peserta untuk naik kelas dari kader menjadi pemimpin. Pemimpin, lanjutnya, tidak cukup hanya dilahirkan, tetapi juga harus disiapkan melalui proses pembinaan, penguatan kapasitas, dan pemahaman terhadap tantangan zaman.
Dalam konteks perubahan digital, Dudung mengingatkan bahwa pola dakwah, pengelolaan organisasi, hingga penguatan ekonomi umat harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, para pemimpin Hidayatullah perlu memahami tata kelola modern, membangun tim yang solid, mengelola konflik, serta mampu mengambil keputusan strategis.
“Pemimpin yang hebat bukan hanya hebat sendiri, tetapi mampu membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih hebat daripada dirinya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan arah Hidayatullah lima tahun ke depan sebagai organisasi yang mandiri dan berpengaruh. Kemandirian tersebut mencakup aspek keuangan, kebijakan, dan pengambilan keputusan organisasi. Sementara berpengaruh berarti Hidayatullah mampu menjadi rujukan, inspirasi, dan mitra strategis bagi masyarakat maupun pemerintah.
Dudung mendorong para peserta untuk tidak lagi hanya bergerak pada ruang-ruang kesedihan dalam membangun dukungan umat, tetapi juga menampilkan ruang-ruang kesuksesan, prestasi, dan capaian nyata lembaga.
Menurutnya, masyarakat akan semakin tertarik kepada lembaga yang mampu menunjukkan keberhasilan, prestasi santri, kemandirian ekonomi, serta kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
Pelatihan selama lima hari ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para peserta untuk memperkuat kepemimpinan, menjaga kemuliaan manhaj, memperkuat jamaah, mengembangkan amal usaha, serta mengakselerasi pencapaian visi Hidayatullah menuju organisasi yang mandiri dan berpengaruh pada 2030.
Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Dudung secara resmi membuka Pelatihan Kepemimpinan DPD Hidayatullah se-Indonesia Basic Batch 21. Ia berharap forum tersebut melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu membawa gerakan dakwah semakin kuat, relevan, dan memberi manfaat luas bagi umat.






