
Dalam rangkaian persidangan kasus korupsi Chromebook Kemdikbudristek RI dengan terdakwa Nadiem Anwar Makarim (NAM), ada satu sidang yang menghadirkan saksi ahli dari pihak terdakwa, tepatnya tanggal 21 April 2026. Saksi ahli tersebut adalah Ina Liem (IL). Di jagad maya, nama IL dikenal sebagai ahli sekaligus konsultan pendidikan dan karier.
Akan tetapi nama besar Ina Liem di jagad maya tidak membuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) kehilangan taji di ruang sidang. Dengan amat tajam, JPU mengajukan sejumlah pertanyaan kepada IL. JPU mempertanyakan otoritas IL sebagai ahli independen. Dapat disaksikan oleh pemirsa, IL perlu upaya keras untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan JPU.
Terlepas penilaian pemirsa terhadap jalannya sidang tersebut, khususnya tanya jawab yang tajam antara JPU dengan IL, muncul satu pelajaran penting bagi para ahli dan juga pendidik, yakni akuntabilitas. Bahwa setiap pernyataan atau jawaban yang diberikan butuh basis argumentasi, tidak bisa asal. Runtutan nalar dan basis data diperlukan. Tanpa kesemua itu, pernyataan atau jawaban akan sangat lemah. Kapabilitas akhirnya diragukan.
Apabila kapabilitas sudah diragukan, sulit bagi seorang ahli dan pendidik untuk memiliki standing point. Otoritasnya bisa dicopot secara de facto. Ini bisa diibaratkan seperti pipi tertampar, namun tangan yang menampar tidak terlihat.
Oleh karena itu setiap ahli dan pendidik didorong untuk akuntabel. Apapun yang menjadi sikap atau pendiriannya itu dibangun di atas serangkaian proses pengambilan kesimpulan yang berstandar ilmiah. Sehingga banyak pihak akan menerima bahkan mendukung sikap atau pendirian yang diyakini.
Satu disclaimer dibutuhkan di sini, yakni dukungan banyak pihak bukan ukuran utama untuk menentukan benar-salah suatu sikap atau pendirian. Hal ini dikarenakan benar-salah juga banyak dipengaruhi oleh konteks sosiobudaya setempat. Meskipun demikian dukungan banyak pihak, walaupun perlahan dan bertahap, menunjukkan keselarasan satu sikap atau pendirian dengan kesadaran umum masyarakat.
Bahwa masyarakat mengakui ada sisi benar dari sikap atau pendirian yang sampai kepada mereka, bahkan sesuai dengan situasi mereka. Sehingga mereka merasa wajib untuk mendukung sikap atau pendirian tersebut. Tidak sekedar moral, dukungannya juga bersifat material.
Lebih jauh, akuntabilitas memiliki keterikatan erat dengan integritas. Dalam bahasa keseharian integritas lebih dikenal dengan kejujuran. Aspeknya cukup luas, mencakup perkataan dan perbuatan bahkan visi masa depan.
Seseorang dengan integritas yang kuat dimungkinkan untuk memiliki akuntabilitas kuat juga. Ia tidak sulit mengumpulkan berbagai data dan fakta, menganalisis, lalu menyimpulkan. Kemudian kesimpulannya disampaikan kepada publik.
Ia kokoh menghadapi publik. Kepada pihak yang pro, ia menguatkan. Sedangkan kepada pihak yang kontra, ia menjelaskan lebih dalam.

Nalar rumit tidak terlalu diperlukan untuk seseorang menjadi akuntabel, bila integritas sudah menginternal pada dirinya. Ia juga tidak perlu mengolah kata sedemikian rumit. Bahkan ia bisa menjelaskan dalam model percakapan harian. Siapapun bisa lebih mudah memahami.
Sebaliknya akuntabilitas semakin sulit digapai saat integritas belum hadir. Akhirnya seseorang dengan situasi seperti ini akan menyampaikan nalar yang dibungkus kata-kata indah. Sehingga terlihat seakan-akan nalarnya kokoh. Padahal inkonsistensi dapat dilacak dengan mudah.
Sehubungan dengan itu semua, semoga para ahli dan pendidik bersepakat bahwa integritas merupakan dasar sangat penting. Di atasnya banyak hal dapat dibangun dengan kuat sekaligus indah. Selanjutnya berbagai inspirasi sangat mungkin untuk terpancar dari sana.
Ahli dan pendidik disilakan bertanya kepada diri sendiri, sudahkah selama ini selaras antara perkataan dan perbuatan? Bahkan sudahkah visi masa depan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini selama ini? Semoga jawabannya, sudah.
Kabar gembiranya integritas (kejujuran) itu memiliki pertalian erat dengan keimanan. Semakin jujur seseorang, kemungkinan semakin baik keimanannya. Motivasinya bukan lagi hal-hal kasat mata. Justru perkara ghaib jauh lebih penting baginya. Wajar jika Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 69 menempatkan orang-orang jujur bersama para nabi di surga nanti.
Uraian ini pula, semoga memberikan informasi kepada pengelola pendidikan. Bahwa integritas itu akar dari akuntabilitas pendidik. Maka integritas butuh untuk terus dikuatkan, baik dengan bimbingan ataupun apresiasi.
Apalagi pendidikan merupakan aktivitas berbasis manusia. Kognitif bukan segalanya di konteks pendidikan. Sentuhan manusiawi jauh lebih diperlukan. Apalagi sentuhan manusiawi itu berbalut keimanan. Insya Allah kebaikan duniawi-ukhrawi hanya menunggu waktu, dan berlaku kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Wallah a’lam.
FU’AD FAHRUDIN






