
TANAH BUMBU (hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Selatan sukses melangsungkan kegiatan Lailatul Ijtima yang berlokasi di kampung binaan muallaf pedalaman Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (04/07/2026) ini mengusung tema besar “Bina Muallaf Pedalaman dan Silaturahmi Kader”.
Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan, Ustadz M. Irsyad Istoyo, menjelaskan bahwa agenda ini menjadi momentum penting untuk terus memperkuat ukhuwah dan soliditas para penggerak dakwah di Kalimantan Selatan.
“Kami ingin memperkuat semangat berhalaqoh dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) pada seluruh kader penggerak. Inilah yang menjadi ruh kita di Hidayatullah. Pembeda para kader Hidayatullah adalah halaqah dan GNH, yang menjadi sumber energi utama dalam menjalankan tugas dakwah,” ujar Ustadz Irsyad.
Jalan Dakwah dan Konsekuensi Pengorbanan
Acara yang berlangsung khidmat di kawasan pedalaman ini turut dihadiri secara daring oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., selaku narasumber. Di awal pemaparannya, Kiai Naspi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kerja keras dan semangat juang para kader, khususnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pedalaman Kalimantan Selatan.
Beliau mengingatkan bahwa berada di jalan dakwah bukanlah pilihan yang sederhana karena sarat dengan pengorbanan, mulai dari waktu, tenaga, biaya, hingga kemewahan dunia.
Menurut Kiai Naspi, mengurus agama Allah sering kali menjauhkan seseorang dari zona nyaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jalan dakwah tidak menawarkan kemapanan duniawi, melainkan sebuah perjuangan panjang menjaga agama Allah yang serupa dengan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabat 14 abad yang lalu.
“Secara historis dan faktual, kesulitan itu melekat pada mereka yang bersungguh-sungguh dalam jalan dakwah. Bahkan, para penggerak dakwah ‘dilarang’ mendambakan kenyamanan dalam memperjuangkan agama Allah SWT,” tegasnya.
Hiburan dan Janji Allah bagi Penggerak Dakwah
Meski penuh tantangan dan jauh dari pusat kota, Kiai Naspi menekankan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mengurus agama-Nya. Hal ini menjadi hiburan sekaligus penguat bagi para pejuang dakwah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 7:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Melalui ayat tersebut, Allah memberikan garansi bahwa memilih jalan dakwah bukanlah pilihan yang keliru. Di balik setiap jerih payah, ada kemudahan dan keberkahan hidup yang telah disiapkan.
“Orang yang bersabar dalam jalan dakwah akan memperoleh banyak kebahagiaan. Terkadang hiburan dari Allah itu melampaui hitungan matematika manusia; berupa rezeki yang tidak disangka-sangka hingga kemudahan dalam segala urusan,” lanjut Kiai Naspi.
Saling Mendukung Melalui Ar-Rafiiqush-Shaalih
Selain kemudahan hidup, bentuk hiburan lain yang Allah berikan di medan dakwah adalah kehadiran ar-rafiiqush-shaalih atau sahabat seperjuangan yang shaleh. Kehadiran lingkungan yang saling mendukung dan menguatkan inilah yang dahulu juga menyertai dakwah Rasulullah SAW.
Di akhir tausiyahnya, Kiai Naspi berpesan agar sesama pejuang dakwah tidak boleh saling mendzalimi. Sebaliknya, antar-kader harus saling menopang, mendoakan, dan membahagiakan satu sama lain.
“Setiap pejuang harus tampil membahagiakan dan menggembirakan, sehingga orang lain merasa senang dan tenang saat bertemu,” pungkasnya menutup lingkaran Lailatul Ijtima malam itu.






