
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah menuju Madinah adalah salah satu drama sejarah paling menegangkan sekaligus monumental dalam peradaban manusia. Ia bukan sekadar kisah pelarian dari kepungan musuh, melainkan sebuah mahakarya strategi, pengorbanan tanpa batas, dan manifestasi tertinggi dari tawakal kepada Allah ﷻ.
Peristiwa besar inilah yang kemudian dijadikan titik awal penanggalan Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Hijrah menjadi simbol lahirnya peradaban Islam yang baru: kuat, mandiri, dan berdaulat.
Jam Nol di Kota Mekkah
Semua bermula ketika para pembesar Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Sebanyak sebelas tokoh Quraisy, mulai dari Abu Jahl, Abu Lahab hingga Umayyah bin Khalaf, merancang sebuah konspirasi besar: membunuh Nabi Muhammad ﷺ secara serentak agar keluarga beliau tidak mampu menuntut balas.
Eksekusi direncanakan tepat setelah tengah malam, sebuah momentum yang dapat disebut sebagai Sa’atus Shifri atau “Jam Nol”.
Namun, Allah ﷻ adalah sebaik-baik Pembuat rencana. Melalui Malaikat Jibril as, Rasulullah ﷺ diberitahu tentang makar tersebut.
Pada malam yang menegangkan itu, Rasulullah ﷺ meminta Ali bin Abi Thalib ra untuk tidur di ranjang beliau dengan mengenakan mantel hijau Hadramaut milik beliau. Sebuah tugas yang sangat berbahaya, tetapi diterima Ali ra dengan penuh kepatuhan.
Kemudian, mukjizat Allah pun terjadi. Rasulullah ﷺ keluar dari rumah melewati kepungan para algojo Quraisy. Beliau menggenggam segenggam pasir sambil membaca firman Allah:
“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dan di belakang mereka sekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
(QS. Yasin: 9)
Pasir itu ditaburkan ke arah mereka hingga Allah menutup penglihatan mereka. Para pengepung tidak menyadari bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan rumah. Ketika pagi tiba, mereka hanya mendapati Ali ra berada di atas tempat tidur beliau.
Air Mata di Gua Tsur
Rasulullah ﷺ tidak langsung menuju Madinah. Beliau memahami bahwa kaum Quraisy pasti mengejar ke arah utara. Karena itu, beliau mengambil jalur yang tidak biasa: bergerak ke arah selatan menuju Gunung Tsur.
Perjalanan itu amat berat. Telapak kaki Rasulullah ﷺ terluka akibat bebatuan yang tajam. Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dengan penuh cinta dan hormat menggendong Rasulullah ﷺ hingga tiba di Gua Tsur.
Sebelum Rasulullah ﷺ masuk ke dalam gua, Abu Bakar terlebih dahulu membersihkannya dan menutup lubang-lubang yang dikhawatirkan menjadi sarang hewan berbisa. Ketika kainnya habis, ia menutupi dua lubang yang tersisa dengan kedua kakinya sendiri.
Saat Rasulullah ﷺ tertidur di pangkuannya, seekor hewan berbisa menyengat kaki Abu Bakar. Rasa sakit yang luar biasa tidak membuatnya bergerak karena ia khawatir membangunkan Rasulullah ﷺ.
Air mata Abu Bakar menetes hingga mengenai wajah Rasulullah ﷺ.
Beliau pun terbangun dan bertanya,
“Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”
Abu Bakar menjawab,
“Aku tersengat, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”
Rasulullah ﷺ kemudian meludahi bagian yang tersengat, dan seketika rasa sakit itu hilang dengan izin Allah.
Strategi, Intelijen, dan Pengorbanan Keluarga
Selama tiga hari Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, strategi logistik dan intelijen dijalankan dengan sangat rapi.
Abdullah bin Abu Bakar bertugas mengumpulkan informasi dari Mekkah pada siang hari, lalu menyampaikannya ke Gua Tsur pada malam hari.
Sementara itu, Asma binti Abu Bakar mengantarkan makanan kepada mereka. Karena tidak menemukan tali untuk mengikat bekal, Asma membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian. Karena pengorbanan itu, Rasulullah ﷺ memberinya gelar mulia:
Dzatun Nithaqain, yaitu Pemilik Dua Ikat Pinggang.
Di sisi lain, Quraisy mengadakan sayembara besar. Siapa pun yang dapat menangkap Muhammad ﷺ, hidup ataupun mati, akan memperoleh hadiah seratus ekor unta.
Bahkan para pencari jejak sempat berdiri tepat di depan mulut Gua Tsur.
Abu Bakar berkata dengan rasa cemas,
“Wahai Rasulullah, sekiranya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.”
Dengan penuh keyakinan Rasulullah ﷺ menjawab,
“Jangan bersedih wahai Abu Bakar. Bagaimana prasangkamu terhadap dua orang yang Allah menjadi yang ketiganya?”
(HR. Bukhari)
Maka, Allah menjaga keduanya dan para pengejar itu pun kembali tanpa menemukan apa yang mereka cari.
Menembus Jalur Ekstrem Menuju Madinah
Setelah tiga hari berlalu, perjalanan menuju Madinah pun dimulai.
Rasulullah ﷺ menyewa Abdullah bin Uraiqith, seorang ahli navigasi yang profesional dan terpercaya meskipun belum memeluk Islam.
Rute yang ditempuh bukan jalur perdagangan biasa. Mereka memilih jalur pesisir Laut Merah yang sepi dan jarang dilalui manusia, melewati Usfan, Qudaid, Al-Kharrar, Al-Arj hingga Ri’m.
Di sepanjang perjalanan, pertolongan Allah terus menyertai. Abu Buraidah yang awalnya berniat memburu Rasulullah ﷺ justru masuk Islam dan menjadi pengawal beliau. Demikian pula Az-Zubair bin Al-Awwam yang memberikan pakaian putih kepada rombongan Rasulullah ﷺ.
Fajar Baru di Kota Madinah
Pada hari Senin, 8 Rabiulawal tahun pertama Hijriah atau bertepatan dengan 23 September 622 M, Rasulullah ﷺ tiba di Quba, sebuah desa di pinggiran Madinah.
Kaum muslimin yang telah lama menanti menyambut beliau dengan penuh suka cita. Di tempat itu Rasulullah ﷺ tinggal selama empat hari dan membangun Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun di atas dasar takwa.
Pada hari Jumat, beliau menuju Madinah dan singgah di perkampungan Bani Salim bin Auf. Di Lembah Ranuna, Rasulullah ﷺ memimpin salat Jumat pertama dalam sejarah Islam dengan sekitar seratus jamaah.
Ketika unta beliau memasuki Madinah, kegembiraan membuncah di seluruh penjuru kota. Yatsrib yang dahulu dikenal sebagai kota yang penuh konflik dan wabah, kini berubah menjadi Madinatur Rasul, Kota Sang Rasul.
Kaum wanita dan anak-anak Anshar menyambut beliau dengan syair yang masyhur:
أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلهِ دَاعٍ
أيها المبعوث فينا جئت بالأمر المطاع
“Telah terbit bulan purnama atas kami dari bukit Tsaniyatul Wada’.
Wajiblah kami bersyukur selama ada yang menyeru kepada Allah.
Wahai Rasul yang diutus kepada kami, engkau datang membawa perintah yang ditaati.”
Kemudian Rasulullah ﷺ memanjatkan doa:
“Ya Allah, tumbuhkanlah kecintaan Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Mekkah, bahkan lebih dari itu. Berkahilah takarannya dan jauhkanlah ia dari wabah penyakit.”
(HR. Bukhari)
Hikmah Hijrah untuk Kita
Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan mentalitas dan cara hidup.
Kisah hijrah mengajarkan bahwa sebuah perjuangan membutuhkan perencanaan yang matang, strategi yang tepat, kerja sama yang kuat, keterlibatan generasi muda, serta tawakal yang sempurna kepada Allah ﷻ.
Maka, pada setiap momentum hijrah, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hati kita berhijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan? Sudahkah kita berpindah dari gelapnya jahiliyah modern menuju cahaya Islam?
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berhijrah menuju kebaikan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Khoirul Anam, S.Sos.I / penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre






