
KARIMUN (hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana (S-1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Angkatan VII Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Nasional Tanjungbalai Karimun, Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 33 wisudawan dan wisudawati dikukuhkan dalam prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.
Ketua STIT Mumtaz Karimun, Dr. H. Sumarno, M.Pd mengatakan wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan titik awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat. Karena itu, tema wisuda tahun ini, “Dari Batas Negeri, STIT Mumtaz Bersinergi”, dipilih sebagai penegasan bahwa perguruan tinggi harus mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak demi menjawab kebutuhan pembangunan daerah.
“Sinergi harus menjadi kekuatan bersama. Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, lembaga sosial, dan masyarakat menjadi kunci agar ilmu yang dimiliki para lulusan benar-benar memberi manfaat,” kata Sumarno.
Sementara itu, Wakil Bupati Karimun Rocky Marciano Bawole,S.Sos, M.M menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada civitas akademik STIT Mumtaz Karimun atas konsistensi mencetak lulusan yang berkualitas, cerdas, dan berdaya saing.
“Kelulusan ini adalah bukti nyata dedikasi Bapak dan Ibu dosen serta pengelola kampus dalam mendidik putra-putri daerah,” tutur Rocky.
Kepada para wisudawan, ia mengingatkan hari ini bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal menerapkan ilmu yang didapat.
“Kabupaten Karimun terus berbenah dan sangat membutuhkan pemikiran serta inovasi dari kalian. Jangan berhenti belajar, terus asah keterampilan, dan jadilah agen perubahan yang membawa kemajuan bagi daerah, bangsa, dan negara,” pesannya.
Momen sakral tersebut pula dihadiri Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H Naspi Arsyad, Lc yang menyampaikan orasi ilmiah berisi pesan reflektif bagi para lulusan, kisah perjalanan hidupnya, hingga pesan moral untuk senantiasa mengenang jasa orang tua.
“Tema Dari Batas Negeri, STIT Mumtaz Bersinergi bukan sekadar slogan, tetapi bersinergi merupakan keharusan bagi alumni STIT Mumtaz dan para kader Hidayatullah dimanapun dan kapanpun berada sehingga dapat memberi manfaat serta bermakna luas di tengah masyarakat,” jelasnya.
Dari tema sinergi tersebut, K.H. Naspi Arsyad kemudian menyampaikan sebuah renungan bahwa tidak selamanya perhitungan dalam hidup dilakukan dengan logika dan akal semata, karena ada kalanya manusia harus menyerahkan perhitungan tersebut kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Ia menceritakan, sepulangnya menempuh pendidikan di Timur Tengah, tidak sedikit pihak yang melontarkan pertanyaan kepadanya lantaran melihat gaji yang diterima saat itu tidak sebanding dengan pengeluaran hidup sehari-hari. Menanggapi hal tersebut, K.H. Naspi Arsyad menyampaikan bahwa kebanyakan manusia terbiasa menggunakan logika untuk berhitung, padahal ada perhitungan yang tidak bisa dijangkau oleh akal semata dan hanya bisa dipahami melalui keyakinan serta keikhlasan menjalani jalan dakwah dan pendidikan.
Ia menuturkan bahwa dari kesadaran tersebutlah tumbuh keyakinan bahwa perjuangan mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah tidak bisa semata diukur dengan kalkulasi materi, melainkan harus dilandasi keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan jalan. Kisah inilah yang kemudian ia kaitkan dengan sejarah awal berdirinya Hidayatullah, yang bermula dari sebuah pesantren sederhana yang didirikan oleh para pendahulu, hingga tumbuh menjadi jaringan lembaga pendidikan dan dakwah di berbagai daerah, termasuk STIT Mumtaz Karimun.
Di sela-sela orasi, Ketua Umum Hidayatullah juga memperkenalkan filosofi Is-Al, yaitu Issengngi Alemu, sebuah ungkapan dalam bahasa Bugis yang bermakna “Ketahuilah Dirimu, Tahu Diri, Sadar Diri”. Ia menekankan bahwa filosofi ini penting dihayati oleh para wisudawan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan setelah menyandang gelar sarjana. Menurutnya, seseorang yang mengenal dan menyadari dirinya dengan baik akan lebih mampu menempatkan diri secara tepat di tengah masyarakat, memahami peran dan tanggung jawabnya, serta tidak semata bersandar pada logika perhitungan duniawi sebagaimana renungan yang telah disampaikannya.
Di penghujung orasinya, K.H. Naspi Arsyad turut berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar tidak pernah melupakan jasa dan pengorbanan orang tua. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana tidak terlepas dari doa dan dukungan orang tua selama ini, sehingga sudah sepatutnya para lulusan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus berbakti dan berkarya di tengah masyarakat.
Orasi ilmiah tersebut disampaikan di hadapan 33 wisudawan dan wisudawati Angkatan VII STIT Mumtaz Karimun. Turut hadir menyaksikan Wakil Bupati Karimun Rocky Marciano Bawole, Sekretaris Daerah Kabupaten Karimun Dr. Sularno, S.Sos., M.Si., Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun Datuk Wira Setia Utama Dr. Muhammad Firmansyah, M.Si., Ketua Badan Pembina Yayasan Hidayatullah Batam Dr. Khairul Amri, S.E., M.Pd., jajaran Forkopimda, civitas akademik STIT Mumtaz dan tamu undangan lainnya.






