
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Musyawarah Majelis Syura selama dua hari, 21–22 Juli 2026, di Ruang Pleno Gedung Dakwah Hidayatullah Pusat, Jakarta. Forum konstitusional tertinggi organisasi tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah kebijakan strategis dalam menghadapi tantangan dakwah dan pembangunan umat ke depan.
Musyawarah Majelis Syura diikuti jajaran pimpinan Majelis Syura, Dewan Pengurus Pusat, Dewan Murobbi Pusat, Dewan Pakar, serta unsur pimpinan organisasi lainnya. Selama dua hari, peserta membahas berbagai agenda strategis, mulai dari penyampaian laporan Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Murobbi Pusat (DMP), dan Dewan Mudzakarah (DM), hingga pembahasan sejumlah isu yang menjadi pijakan pengembangan organisasi pada masa mendatang.
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam forum tersebut ialah pengembangan di Berbagai Wilayah, Khusus Kalimantan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembahasan itu diarahkan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Hidayatullah dalam bidang dakwah, pendidikan, kaderisasi, pemberdayaan umat, dan pengembangan kelembagaan di wilayah strategis nasional.
Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si., mengatakan Musyawarah Majelis Syura merupakan wadah untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus menyusun arah kebijakan organisasi secara komprehensif agar mampu menjawab dinamika zaman.
Menurutnya, berbagai keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan semakin memperkuat gerakan dakwah Hidayatullah serta menjadi pedoman dalam pengembangan organisasi di berbagai bidang pelayanan kepada umat.
Hamim menilai perkembangan Hidayatullah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang positif. Jaringan organisasi terus meluas, amal usaha bertambah, dan aktivitas dakwah berkembang di berbagai daerah. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapasitas kepemimpinan yang memadai.
“Alhamdulillah, Hidayatullah terus eksis, berkembang, dan maju. Jaringannya semakin luas, amal usahanya juga terus bertambah dan berkembang. Kondisi ini tentu menuntut sumber daya manusia yang berkualitas, sekaligus memiliki jumlah yang memadai untuk mengelola dan mengendalikan organisasi beserta seluruh jaringannya,” ujar Hamim.
Ia menegaskan satu dekade mendatang akan menjadi fase penting dalam proses regenerasi kepemimpinan Hidayatullah. Para senior diharapkan semakin berfokus melakukan pendampingan dan mentransmisikan nilai-nilai perjuangan organisasi kepada generasi penerus.
Di sisi lain, generasi muda didorong untuk menghadirkan inovasi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai perubahan sehingga mampu membawa Hidayatullah semakin maju tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.
“Intinya adalah melakukan konsolidasi agar seluruh pengurus, kader, dan jamaah tetap solid, sekaligus menyiapkan generasi penerus yang berkualitas,” katanya.
Menurut Hamim, proses regenerasi kepemimpinan telah berjalan dan akan terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan kader sehingga semakin banyak generasi muda mengambil peran strategis dalam mengembangkan dakwah dan amal usaha Hidayatullah.
Musyawarah Majelis Syura ditutup dengan komitmen seluruh peserta untuk terus memperkuat budaya musyawarah, menjaga soliditas organisasi, serta mengakselerasi berbagai program strategis guna mewujudkan Hidayatullah yang semakin maju, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan negara.







