
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Naspi Arsyad mengajak seluruh kader memperkuat regenerasi kepemimpinan dan investasi sumber daya manusia (SDM) sebagai agenda strategis organisasi. Pesan itu disampaikannya saat peringatan Milad Emas ke-50 Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (5/8/2026).
Peringatan setengah abad Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak berlangsung dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan. Acara dihadiri Rais ‘Aam Hidayatullah, para pembimbing, guru, santri senior, pengurus, serta warga Kampus Hidayatullah dari berbagai generasi sebagai momentum mengenang sekaligus melanjutkan estafet perjuangan para pendiri.
Dalam sambutannya, Naspi Arsyad mengawali dengan mengajak seluruh hadirin mendoakan para pendiri Hidayatullah yang telah wafat agar seluruh amal perjuangan mereka diterima Allah SWT dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Apa yang kita nikmati hari ini adalah buah dari keikhlasan, pengorbanan, dan perjuangan mereka. Semoga seluruh amal jariyah mereka terus mengalir hingga hari kiamat,” ujarnya.
Persaudaraan Menjadi Modal Utama
Menurut Naspi, usia lima dekade merupakan nikmat besar yang patut disyukuri karena Hidayatullah mampu menjaga ukhuwah di tengah berbagai dinamika organisasi.
Ia menilai kekuatan Hidayatullah tidak hanya terletak pada perjalanan panjangnya, tetapi juga pada ikatan persaudaraan yang tetap terpelihara antarkader.
“Yang paling kita syukuri bukan hanya perjalanan lima puluh tahunnya, tetapi ikatan hati yang tetap terjaga. Dinamika tentu ada, tetapi hati kita tidak saling membelakangi,” katanya.
Rejuvenasi Kepemimpinan Jadi Prioritas
Memasuki usia emas, Naspi menegaskan bahwa Hidayatullah harus semakin serius menjalankan program rejuvenasi atau regenerasi kepemimpinan sebagai bagian dari Arah Kebijakan Strategis (AKS) organisasi.
Menurutnya, pembangunan SDM memerlukan investasi yang berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas kepemimpinan.
“Kita harus mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kualitas pengurus. Kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan manajerial, administratif, membaca peluang, dan mengembangkan sumber daya. Semua itu membutuhkan investasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, DPP Hidayatullah mulai memberikan ruang yang lebih luas kepada kader-kader muda untuk mengambil peran kepemimpinan sekaligus meningkatkan kompetensi mereka.
Dorong Lahirnya Doktor dan Profesor
Dalam bidang pengembangan SDM, Naspi mengungkapkan komitmen organisasi untuk memperkuat kualitas intelektual kader melalui program beasiswa magister dan doktor.
Bahkan, DPP Hidayatullah menargetkan lahirnya sedikitnya lima profesor dari kader Hidayatullah pada periode kepengurusan saat ini.
“Kita ingin Hidayatullah dikenal bukan hanya karena dakwahnya, tetapi juga karena gagasan, keilmuan, dan kualitas sumber daya manusianya. Untuk itu kita harus melahirkan lebih banyak doktor, profesor, pemikir, dan pemimpin masa depan,” ujarnya.
Ia juga mendorong Pemuda Hidayatullah agar aktif menghasilkan kajian, riset, dan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat sehingga kontribusi organisasi semakin dirasakan.
Organisasi Semakin Dewasa dan Bijaksana
Naspi mengibaratkan usia 50 tahun sebagai fase kedewasaan organisasi yang menuntut tiga karakter utama.
Pertama, kemampuan membaca potensi dan menghitung langkah organisasi secara lebih cermat. Kedua, kemampuan mengelola emosi secara bijaksana dalam menghadapi dinamika internal maupun eksternal. Ketiga, kedewasaan dalam mengambil keputusan yang tetap berlandaskan persaudaraan, musyawarah, dan semangat perjuangan.
Ia mengingatkan seluruh warga Hidayatullah untuk terus menjaga persatuan dan mengedepankan prasangka baik terhadap sesama kader.
“Seluruh yang bergabung di Hidayatullah datang untuk berjuang. Karena itu tugas kita adalah mempertautkan hati, menjaga persaudaraan, dan terus menguatkan perjuangan bersama,” pesannya.
Melanjutkan Estafet Perjuangan
Menutup sambutannya, Naspi mengajak seluruh keluarga besar Hidayatullah untuk terus mendoakan lima pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah—Ustadz Abdullah Said, Ustadz Nazir Hasan, Ustadz Usman Palese, Ustadz Muhammad Hasyim HS, dan Ustadz Hasan Ibrahim—serta seluruh as-sabiqunal awwalun yang telah mengabdikan hidupnya bagi dakwah.
Ia berharap generasi penerus mampu menjaga amanah perjuangan yang telah dirintis para pendahulu.
“Semoga kita tidak pernah tercatat sebagai generasi yang mengkhianati cita-cita besar para pendiri Hidayatullah. Semoga Allah meneguhkan langkah kita untuk meneruskan perjuangan ini hingga akhir hayat,” tutupnya.

Peringatan Milad Emas Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak menjadi momentum refleksi atas perjalanan lima dekade Hidayatullah sekaligus memperkuat komitmen membangun organisasi yang semakin kokoh, melahirkan kader-kader unggul, serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan peradaban.






