
Pemberdayaan (empowerment), secara ringkas, dapat dimaknai sebagai ikhtiar mengantarkan seseorang atau sekelompok orang untuk memiliki lebih banyak daya (power). Sehingga orang atau kelompok orang itu bisa mengelola hidupnya lebih baik. Sehingga kualitas kehidupannya diharapkan bisa meningkat.
Dalam prosesnya, pemberdayaan dapat menggunakan berbagai cara. Hal ini dikarenakan pemberdayaan bersifat kompleks. Di sisi orang yang diberdayakan, hampir selalu ada karakteristik unik yang perlu dipertimbangkan. Generalisasi hendaklah dilakukan dengan hati-hati. Karena generalisasi yang tidak pas beresiko menggagalkan pemberdayaan. Potensi berdaya pada akhirnya tidak dapat diubah menjadi daya yang efektif.
Di sisi lain ada lingkungan. Tidak bisa seseorang dipisahkan dari lingkungannya dengan alasan pemberdayaan. Bahkan lingkungan perlu dilibatkan dalam pemberdayaan. Karena pertumbuhan manusia terhubung dengan lingkungannya, sifatnya interaktif.
Sehubungan dengan hal tersebut, terbangunlah empat matriks situasional: Potensi manusia dan kualitas lingkungan sama-sama baik, potensi manusia tinggi sementara lingkungan kurang baik, potensi manusia rendah sementara lingkungan baik, dan potensi manusia dan lingkungan sama-sama rendah.

Idealnya, tentu saja, matriks kesatu, yakni potensi manusia dan kualitas lingkungan sama-sama baik. Ikhtiar pemberdayaannya relatif mudah. Cukup satu atau stimulus, potensi manusia berkemungkinan tumbuh dengan cepat.
Sementara itu matriks kedua merupakan situasi yang berat. Potensi manusia sulit tumbuh jika hanya mengandalkan pemberdayaan dari lingkungan. Dalam hal ini perbaikan lingkungan bersifat penting untuk dilakukan. Apabila lingkungan sudah terlanjur rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi, maka ada bagusnya dilakukan pemindahan manusia dari lingkungannya.
Matriks ketiga juga situasi yang berat namun masih memberikan peluang. Seseorang dengan potensi rendah semoga dapat diantarkan lebih berkualitas secara bertahap. Dalam hal ini scaffolding jadi alternatif strategi utama. Seseorang diposisikan sebagaimana mestinya lalu dipersuasi serta difasilitasi untuk meningkat lebih berkualitas. Peranan pelatih (coach), mentor, fasilitator, atau yang sejenisnya sangat urgen. Sosok ini menjadi tumpuan. Semakin baik kapasitas pelatih, semakin berpeluang seseorang yang dilatih untuk berkembang.
Matriks keempat merupakan situasi terberat. Manusia dan lingkungannya sama-sama rusak. Jika masih mungkin, lingkungannya diperbaiki sehingga memberikan dukungan terhadap tumbuhnya kapasitas manusia. Akan tetapi, saat tidak terlihat lagi ada harapan, opsi tersisa hanya satu: Manusianya dipindahkan.
Urgensi Refleksi dalam Pemberdayaan
Refleksi itu penting dalam proses pemberdayaan. Dengan refleksi, seseorang diharapkan menyadari proses yang berlangsung sekaligus dampak kepada dirinya. Dalam hal ini, pelatih dituntut mampu menyampaikan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang bertahap, dari permukaan lanjut terus ke kedalaman.
Pelatih perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang taksonomi berpikir, sehingga pertanyaan-pertanyaan reflektif bisa diajukan secara urut. Ibarat olahraga, ada pemanasan agar tidak cedera, demikian juga pertanyaan reflektif diawali dari yang sifatnya ringan. Agar perjalanan refleksi diri tidak menimbulkan momen yang tegang.
Bekal lain pelatih adalah keterampilan komunikasi interpersonal, mencakup bahasa tubuh, mimik, intonasi, hingga pilihan kata. Sehingga kenyamanan terasa. Kegiatan refleksi bersifat efektif. Kesadaran terbangun, lahirlah pemikiran dan perilaku yang semakin baik.
Peer to Peer Learning
Salah satu cara pemberdayaan yang sangat direkomendasikan adalah peer to peer learning (pembelajaran antarteman). Teman atau saudara yang usianya berdekatan dapat dilibatkan dalam proses pemberdayaan. Harapannya komunikasi keduanya lebih efektif. Karena selain cara komunikasi yang hampir mirip, tingkat pengalaman keduanya juga tidak jauh berbeda.
Satu rambu-rambu untuk digarisbawahi adalah menimpakan tanggung jawab proses pemberdayaan kepada teman yang dilibatkan tesebut. Karena tanggung jawab itu di Pundak pelatih. Teman yang dilibatkan hanya membantu.
Pemberdayaan Dimana-mana
Rumah, sekolah, tempat kerja, organisasi, dan lingkungan lainnya dapat dijadikan sebagai ekosistem pemberdayaan. Yang penting ada pihak yang bertanggung jawab. Lebih bagus lagi pihak tersebut memiliki kapasitas dalam memberdayakan. Agar memudahkan pemberdayaan. Jika tidak, permintaan kepada pihak lain untuk pemberdayaan bisa dipilih.
Dengan pemberdayaan, manusia diharapkan terus tumbuh. Dia lebih mampu mengelola hidupnya dan meningkatkan kapasitasnya. Amanah yang lebih berat mampu ditanggungnya, termasuk kepemimpinan.
Wallah a’lam.
FU’AD FAHRUDIN






