
LUWU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar, M.Si., menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan perjuangan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan pembinaan kepada sekitar 50 kader tingkat Ula dan Wustha se-Luwu Raya dan Ajatappareng dalam Temu Kader di Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Kabupaten Luwu Utara, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi kader untuk memperkuat pemahaman mengenai jati diri Hidayatullah, kepemimpinan, kehidupan berjamaah, serta kesinambungan pembinaan dalam perjuangan dakwah Islam. Abdul Aziz hadir didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Shaleh, S.S., M.I.Kom.
Dalam arahannya, Abdul Aziz menekankan bahwa kepemimpinan merupakan unsur fundamental dalam kehidupan berjamaah. Ia mengutip perkataan yang dinisbatkan kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, “Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan.”
Menurutnya, konsep Imamah Jamaah bukanlah gagasan baru, melainkan bagian dari nilai perjuangan Islam yang telah terbangun sejak turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. Karena itu, perjuangan Islam harus dijalankan secara sistematis, berkelanjutan, dan ditopang oleh proses pembinaan kader yang kuat.
“Tidak ada Sistematika Wahyu tanpa perjuangan. Tidak ada harakah tanpa tarbiyah, dan tidak ada Islam tanpa ilmu,” tegas Abdul Aziz.
Ia menjelaskan, perjuangan Islam harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni tarbiyah, dakwah, dan perjuangan di jalan Allah. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam membentuk kader yang memiliki pemahaman keislaman yang kokoh, kesiapan berjuang, serta komitmen terhadap kepemimpinan dan kehidupan berjamaah.
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Shaleh, mengingatkan pentingnya memperkuat pemahaman kader terhadap jati diri Hidayatullah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ia menegaskan bahwa prinsip jama’atun minal muslimin harus mendorong kader membangun komunikasi yang baik dengan berbagai komponen umat Islam tanpa mengabaikan prinsip-prinsip akidah.
“Ketika berinteraksi dengan harakah lain, jangan bangun komunikasi hitam putih. Bangun kebersamaan dengan harakah lain, bangun komunikasi yang baik,” pesannya.
Meski demikian, Muhammad Shaleh menegaskan bahwa keterbukaan dalam membangun ukhuwah memiliki batas pada persoalan prinsip keislaman.
“Kecuali dalam hal prinsip, maka kita tentu tidak boleh berbaur, seperti dalam hal penegakan akidah,” lanjutnya.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk mengimplementasikan nilai Imamah Jamaah dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap taat, disiplin, dan responsif terhadap setiap keputusan serta agenda organisasi.
Temu Kader ini diharapkan semakin memperkuat konsolidasi kader Hidayatullah di wilayah Luwu Raya dan Ajatappareng sehingga mampu melahirkan kader yang kokoh dalam akidah, solid dalam berjamaah, dan istiqamah dalam mengemban amanah dakwah Islam.






