AdvertisementAdvertisement

Abdul Aziz Qahhar Ungkap Tiga Warisan Pemikiran Pendiri Hidayatullah

Content Partner

Foto: Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, menyampaikan materi dalam Seminar Milad Emas 50 Tahun Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan. Seminar tersebut mengangkat refleksi atas perjalanan dakwah Hidayatullah sekaligus menegaskan arah perjuangan menuju masa depan peradaban Islam. (Foto: SKRsyakur / Hidayatullah.or.id )


BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ustadz Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., mengajak seluruh kader kembali memahami jati diri Hidayatullah melalui tiga warisan pemikiran yang ditinggalkan pendirinya, Ustadz Abdullah Said. Ketiga warisan tersebut ialah Sistematika Wahyu, Imamah Jamaah, dan Lembaga Perjuangan yang diwujudkan melalui sistem berkampus sebagai miniatur peradaban.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Milad Emas 50 Tahun Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan di Kampus Hidayatullah Ummulqura Balikpapan, Rabu (5/8/2026).

“Kalau bukan karena manhaj Sistematika Wahyu, Hidayatullah tidak perlu ada. Cukup memperpanjang barisan Islam,” tegasnya.

Sistematika Wahyu sebagai Manhaj

Mengawali pemaparannya, Abdul Aziz mengenang Ustadz Abdullah Said sebagai sosok yang multitalenta, visioner, orator, pemimpin, sekaligus manajer yang memiliki kemampuan membangun arah perjuangan.

“Beliau adalah sosok yang multitalenta, visioner, orator, memiliki kapasitas kepemimpinan yang luar biasa, sekaligus seorang manajer. Saat itu kami hanya mengikuti dengan sami’na wa atha’na. Belum tentu semua memahami secara intelektual apa itu Hidayatullah, tetapi kami percaya kepada arah perjuangan beliau,” ujarnya.

Menurutnya, setelah wafatnya Ustadz Abdullah Said pada 1998, Hidayatullah menghadapi tantangan besar untuk merumuskan kembali nilai-nilai yang menjadi alasan keberadaan sekaligus arah perjuangan organisasi.

“Inilah tantangan kita, merumuskan apa yang menyebabkan Hidayatullah ada dan apa nilai-nilai perjuangannya. Itulah pekerjaan besar yang segera kita kerjakan setelah beliau wafat,” katanya.

Warisan pertama yang dijelaskan adalah Sistematika Wahyu sebagai manhaj perjuangan. Ia menerangkan, Hidayatullah berdiri pada 1973, sedangkan konsep Sistematika Wahyu mulai dirumuskan sekitar 1976 setelah Ustadz Abdullah Said mendalami Tafsir Sinar yang disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu.

Dari kajian tersebut lahir keyakinan bahwa dakwah dan proses pembinaan harus mengikuti tahapan pendidikan Rasulullah ﷺ sejak turunnya wahyu pertama.

Menurut Abdul Aziz, penekanan terhadap Surah Al-‘Alaq begitu kuat disampaikan Ustadz Abdullah Said sehingga para aktivis Hidayatullah di Makassar kala itu dikenal dengan sebutan “mabuk Al-‘Alaq”.

Imamah Jamaah

Warisan kedua adalah Imamah Jamaah, yakni konsep kepemimpinan yang mengatur garis komando dalam kehidupan organisasi sehari-hari.

Abdul Aziz menjelaskan, ketika estafet kepemimpinan beralih kepada Ustadz Abdurrahman Muhammad, beliau menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki kharisma maupun kemampuan orasi seperti pendahulunya. Karena itu, kepemimpinan yang dijalankan berlandaskan prinsip syura.

Sejak saat itu dibentuk Dewan Eksekutif, Dewan Syura, dan Majelis Syariah sebagai implementasi sistem kepemimpinan kolektif dalam menjalankan amanah organisasi.

Gerakan Jihad

Warisan ketiga adalah Lembaga Perjuangan, atau dalam jati diri Hidayatullah dikenal sebagai Al-Harakah Al-Jihadiyah Al-Islamiyah.

Abdul Aziz menjelaskan bahwa Ustadz Abdullah Said memaknai perjuangan Islam sebagai totalitas pengorbanan, berlandaskan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 111 tentang Allah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga.

Semangat tersebut diwujudkan dalam komitmen hidup beliau untuk menyerahkan seluruh diri dan hartanya bagi perjuangan Islam.

“Saya ingin totalitas dalam perjuangan Islam. Seluruh diri saya dan seluruh harta saya untuk perjuangan. Kalau besok saya meninggal, seandainya istri dan anak-anak saya ingin meninggalkan Hidayatullah, mereka hanya boleh membawa apa yang melekat di badan mereka,” tuturnya mengutip komitmen Ustadz Abdullah Said.

Menurutnya, ruh perjuangan itu kemudian diwujudkan dalam Sistem Berkampus, yakni kampus sebagai miniatur peradaban yang dahulu dikenal dengan istilah Darul Hijrah. Kampus tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai markaz dakwah dan pusat perkaderan.

Karena itu, ia mengingatkan agar kampus-kampus Hidayatullah tidak sekadar dikenal karena fasilitas atau kualitas bangunannya.

“Kalau ada kampus Hidayatullah yang gedungnya megah, gaji gurunya besar, tetapi guru-gurunya tidak mengerti jati diri Hidayatullah, itu sama dengan barang rongsokan,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan kaderisasi sangat bergantung pada pemahaman para guru terhadap jati diri Hidayatullah. Oleh sebab itu, seluruh guru Hidayatullah perlu mengikuti pembinaan melalui marhalah agar mampu melahirkan kader-kader yang memahami manhaj dan nilai-nilai perjuangan.

Menutup pemaparannya, Abdul Aziz mengutip pesan visioner Ustadz Abdullah Said tentang cita-cita membangun peradaban Islam.

“Kalau nanti di akhirat Allah bertanya, ‘Mana negara Islam yang kamu bangun?’ Saya mungkin hanya bisa menjawab, ‘Saya hanya mampu membangun kampus.'”

Bagi Ustadz Abdullah Said, kampus bukan sekadar kumpulan bangunan atau institusi pendidikan, melainkan pusat dakwah, pusat perkaderan, dan miniatur peradaban yang menjadi tempat lahirnya generasi penerus perjuangan Islam.

Reporter: Itha
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Tafakkur: Menjaga Akal di Tengah Banjir Informasi

Dalam kitab Al-Mursyid Al-Amin, Imam Al-Ghazali rahimahullah menyampaikan pengertian tentang tafakkur (berpikir), "Menghadirkan dua pengetahuan yang jelas (makrifat) untuk...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img