AdvertisementAdvertisement

Amin Mahmud: Hidayatullah Tak Bergantung pada Figur, tetapi Semangat Berjamaah

Content Partner

Ustadz H. Amin Mahmud menyampaikan tausiah pada Seminar Milad Emas 50 Tahun Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Pembimbing Hidayatullah Ummulqura Gunung Tembak Balikpapan, Ustadz H. Amin Mahmud, menegaskan bahwa Hidayatullah dibangun sebagai gerakan dakwah berjamaah yang tidak bergantung pada sosok maupun keluarga tertentu.

Pesan tersebut disampaikannya dalam peringatan Milad Emas ke-50 Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, yang berlangsung penuh khidmat dan menjadi momentum refleksi atas perjalanan lima dekade perjuangan Hidayatullah.

Dengan penuh haru, Ustadz Amin mengawali sambutannya dengan mendoakan para perintis, mujahid, dan mujahidah yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan kehidupan mereka demi tegaknya dakwah Islam.

“Semoga Allah memasukkan seluruh pejuang Hidayatullah ke dalam surga-Nya bersama generasi penerus yang akan melanjutkan cita-cita perjuangan ini.”

Ia kemudian mengenang masa-masa awal berdirinya Hidayatullah di Gunung Tembak. Saat masih berstatus sebagai pegawai negeri, dirinya hampir setiap pekan datang untuk bermalam dan ikut membangun pondasi perjuangan bersama para perintis. Menurutnya, meninggalkan kenyamanan pekerjaan bukan keputusan yang mudah, tetapi keyakinan terhadap cita-cita dakwah membuat pengorbanan itu tidak pernah disesali.

Ustadz Amin juga mengungkapkan rasa syukurnya karena kini Hidayatullah telah memiliki generasi penerus yang siap melanjutkan estafet perjuangan.

“Kami tidak lagi khawatir terhadap keberlangsungan Hidayatullah. Dulu pernah ada yang mengatakan umur Hidayatullah hanya seumur pemimpinnya. Alhamdulillah, ucapan itu terbantahkan oleh kenyataan.”

Ia menegaskan bahwa kekuatan Hidayatullah tidak bertumpu pada figur, melainkan pada semangat berjamaah dan pertolongan Allah SWT.

“Lembaga ini bukan milik pribadi, bukan milik keluarga. Hidayatullah adalah milik jamaah. Kekuatan kita bukan karena manusia, tetapi karena pertolongan Allah yang lahir dari pemahaman terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.”

Kepada para kader dan santri, Ustadz Amin berpesan agar tetap istiqamah dalam perjuangan dakwah dan tidak meninggalkannya hanya demi kepentingan dunia. Menurutnya, dakwah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan soal komitmen, keikhlasan, dan pengorbanan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adab terhadap perjuangan serta tidak meremehkan lembaga yang dibangun dengan pengorbanan para pendahulu.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Amin mengisahkan bahwa pendiri Hidayatullah datang ke Gunung Tembak tanpa membawa harta, tetapi membawa cita-cita besar, keyakinan, dan keimanan kepada Allah SWT. Nilai-nilai itulah yang, menurutnya, menjadi modal utama berkembangnya Hidayatullah hingga kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Menatap lima puluh tahun kedua perjalanan Hidayatullah, ia optimistis organisasi ini akan memberikan kontribusi yang semakin besar bagi umat, bangsa, dan negara. Bahkan, ia meyakini bukan tidak mungkin kelak lahir pemimpin-pemimpin nasional dari kader Hidayatullah.

“Dulu kita memulai dari nol. Insya Allah lima puluh tahun kedua akan jauh lebih hebat. Kita harus memiliki keyakinan dan cita-cita besar.”

Mengakhiri sambutannya, Ustadz H. Amin Mahmud mengajak seluruh keluarga besar Hidayatullah menjadikan Milad Emas sebagai titik tolak untuk memperkuat istiqamah, kesabaran, keikhlasan, serta semangat melanjutkan estafet perjuangan dakwah menuju terwujudnya cita-cita besar Hidayatullah.

Reporter: Muhammad Anzar
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Abdul Aziz Qahhar Ungkap Tiga Warisan Pemikiran Pendiri Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ustadz Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., mengajak...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img