
JAWA BARAT (hidayatullah.or.id) — Di tengah maraknya pemaknaan agama yang cenderung serba instan, umat Islam diingatkan kembali bahwa keimanan sejati membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan modal ibadah yang nyata. Hal tersebut menjadi pokok penekanan dalam khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Graha Riung, Harapan Indah, Kabupaten Bekasi. Jum’at (11/09/2026)
Mengawali khotbahnya, Kiai Naspi menyoroti pergeseran prinsip ekonomi klasik. Prinsip lama yang berbunyi “dengan modal sekecil-kecilnya untuk meraih untung sebesar-besarnya” kini mulai ditinggalkan para pelaku bisnis karena mereka menyadari bahwa investasi terbesar adalah kepercayaan jangka panjang. Prinsip baru pun lahir: “dengan modal sebesar-besarnya untuk meraih keuntungan yang jauh lebih besar”.
Kiai Naspi menjelaskan bahwa logika ini sejalan dengan prinsip spritual Islam yang telah ditegaskan sejak 14 abad lalu. Untuk meraih kemaslahatan dunia dan akhirat, diperlukan “modal” ibadah dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Pengakuan Keimanan Butuh Pembuktian
Menyitir Surah Al-Hujurat ayat 14–15, khatib mengingatkan kisah Arab Badui yang mengklaim telah beriman. Allah SWT menegaskan bahwa iman bukan sekadar ucapan syahadat di lisan, melainkan menuntut pengorbanan harta, tenaga, waktu, hingga jiwa.
”Ada kewajiban, ada konsekuensi dari iman. Ada konsekuensi dari syahadat jikalau kita ingin klaim keimanan kita diterima dan diakui oleh Allah SWT. Apa itu? Wa jaahaduu bi’amwaalihim wa anfusihim. Berkorban dengan harta, berkorban dengan tenaga, berkorban dengan waktu, bahkan berkorban dengan nyawa.” Tegas Kiai Naspi
Menghindari Sikap “Kuat Meminta, Lemah Berbuat”
Banyak umat Islam yang gigih berdoa memohon surga dan perlindungan dari neraka, namun aktivitas hariannya tidak mendukung doa tersebut. Shalat sering sekadar menggugurkan kewajiban, sedekah seadanya, dan Al-Qur’an hanya dibaca saat musibah atau bahkan sekadar jadi hiasan dinding.
Dalam ungkapan disebutkan bagaikan asap jauh dari apinya. Kita hanya kuat dalam meminta, kita hanya kuat dalam bermunajat, kita hanya kuat dalam berdoa. Tapi kemudian aktivitas harian kita tidak menjadi daya dukung bagaimana kuatnya kita meminta surga kepada Allah.
Kesungguhan Menjemput Rahmat Allah
Merujuk pada Hadis Qudsi (Anā ‘inda ẓanni ‘abdī), Allah SWT bertindak sesuai dengan prasangka, ikhtiar, dan mujahadah hamba-Nya. Jika manusia mendekat dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih melimpah.
”Saya tergantung dari prasangka hamba-Ku. Saya tergantung dari perjuangan hamba-Ku. Saya tergantung dari usaha hamba-Ku. Jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat padanya satu hasta. Jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.”
Seringkali kita meremehkan kebaikan Allah SWT yang berdasarkan upaya kita. Seringkali secara faktual, kitalah yang meminta Allah SWT aktif mendekati kita di sela-sela minimnya ibadah kita. Di sela-sela rendahnya proses pendekatan kita kepada Allah, kita yang meminta Allah untuk lebih aktif mendekati kita.
Padahal Allah SWT menegaskan: “Saya tergantung dari prasangka hamba-Ku. Saya tergantung dari usaha dan mujahadahnya.” Maka jikalau mujahadah kita, usaha kita adalah usaha dan mujahadah yang mampu meyakinkan Allah bahwa kita tidak sekadar kuat dalam bermunajat, kita tidak sekadar kuat dalam meminta dan berdoa, tapi kita juga kuat dalam praktik ibadah kita, maka Allah janjikan: “Saya akan datang lebih dari apa yang engkau berikan kepada-Ku.” Tegas Kiai Naspi
Diakhir khotbahnya, Kiai Naspi mengajak jama’ah untuk do’a bersama, memohon ampunan, kekuatan dalam beribadah, keselamatan menjelang bulan suci Ramadan, serta solidaritas dan kedamaian bagi umat Islam yang sedang tertindas di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina.






