
Kabar duka datang dari Balikpapan. Ustadzah Ummi Latifah, Pembimbing Muslimat Hidayatullah Balikpapan sekaligus istri KH Anwari Hambali, telah berpulang pada Rabu, 27 Rabiul Awwal 1448 H, bertepatan dengan 9 September 2026.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan lingkungan dakwah yang selama bertahun-tahun menjadi ruang pengabdiannya.
Almarhumah mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, bertepatan dengan berkumandangnya azan Zuhur. Jenazahnya kemudian dimakamkan pada Rabu malam di TPU Gunung Tembak 1, Teritip, Balikpapan.
Namun, kepergian seorang hamba bukan berarti berakhirnya seluruh jejak pengabdian. Ada amal, keteladanan, dan nilai-nilai kebaikan yang terus hidup melalui orang-orang yang pernah disentuh oleh perjuangannya.
Nama Ummi Latifah tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang dakwah Hidayatullah. Dalam sebuah profil Hidayatullah.com pada 2020, ia dikenang sebagai daiyah senior yang telah berkecimpung dalam dunia dakwah setidaknya selama 25 tahun.
Dakwah baginya bukan sekadar perjalanan menemui masyarakat. Dakwah adalah jalan pengabdian yang dijalani dengan kesungguhan. Ia mengajar dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya di berbagai wilayah Balikpapan, bahkan ketika harus membawa serta anak-anaknya.
Setia Meniti Jalan Dakwah
Perjalanan dakwah itu berlangsung bersamaan dengan perannya sebagai ibu dan pendamping seorang dai.
Ummi Latifah dan Anwari Hambali menikah pada 1985, tidak lama setelah diperkenalkan oleh seorang penghubung dalam sebuah pengajian di Probolinggo.
Ketika sang suami harus berdakwah ke berbagai daerah, ia menjalani tanggung jawab keluarga di rumah. Ketika anak-anak telah dewasa, ia bahkan kerap mengikuti suaminya berdakwah ke berbagai daerah.
Prinsip yang dipegangnya begitu kuat: suami dan istri harus saling mendukung dan saling menopang dalam menjalankan amanah.
Di sinilah dakwah menemukan makna yang lebih luas. Ia tidak selalu hadir di atas mimbar atau di hadapan banyak orang. Terkadang, dakwah tumbuh dalam kesabaran seorang ibu, dalam kesetiaan seorang istri, dalam pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, serta dalam keteguhan menjaga keluarga agar tetap berada di jalan Allah.
Keluarga sebagai Ladang Pengabdian
Keluarga menjadi salah satu ruang penting dari pengabdian Ummi Latifah.
Dari sembilan putra-putri mereka, lima masih hidup dan empat telah lebih dahulu berpulang. Pada 2017, keluarga tersebut dicatat sebagai keluarga yang menempatkan pendidikan agama dan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan anak-anak.
Empat dari lima anak yang masih hidup saat itu tengah menghafal Al-Qur’an di sejumlah pesantren, sementara seorang lainnya mengabdikan diri sebagai guru pesantren.
Apa yang ditanamkan dalam keluarga pada akhirnya menjadi bagian dari warisan yang paling berharga. Sebab, seorang ibu tidak hanya membesarkan anak untuk menjadi dewasa, tetapi juga menanamkan nilai yang diharapkan terus hidup dalam diri mereka.
Dari sini kita dapat belajar bahwa rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Rumah adalah madrasah pertama. Di sanalah karakter dibentuk, kecintaan kepada Al-Qur’an ditanamkan, dan semangat pengabdian kepada agama diwariskan.
Sosok Pendidik
Di lingkungan Hidayatullah, pengabdian Ummi Latifah juga hadir melalui pendidikan.
Ia pernah diamanahi selama enam tahun sebagai pembimbing asrama putri di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak.
Ia kemudian dipercaya dalam kepengurusan Muslimat Hidayatullah sebagai anggota Majelis Penasehat Pusat (MPP) dan Ketua Majelis Murabbiyah.
Pesan yang pernah ia sampaikan kepada kader Muslimat memperlihatkan orientasi hidupnya untuk berjuang dan berkorban dengan harta, tenaga, dan pikiran untuk Islam melalui lembaga dakwah.
Keteladanan seperti ini mengingatkan kita bahwa usia dan waktu adalah amanah. Keduanya akan menjadi berarti ketika digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi agama, keluarga, dan umat.
Seseorang mungkin tidak selamanya berada di tengah-tengah kita. Namun, ilmu yang diajarkan, anak yang dididik, kader yang dibina, dan nilai yang ditanamkan dapat terus menjadi amal yang mengalir.
Warisan yang Harus Dijaga
Kini sosok itu telah tiada.
Namun, yang ditinggalkan Ummi Latifah bukan hanya kenangan personal, melainkan sebuah teladan tentang bagaimana dakwah, keluarga, pendidikan, dan pengabdian dapat dirajut dalam satu perjalanan hidup.
Model kepengasuhan yang ia dan Kiai Anwari jalankan juga merupakan warisan penting yang layak terus dikaji dan dikembangkan.
Sebab, pada akhirnya, ukuran sebuah pengabdian bukan hanya berapa lama seseorang hadir, melainkan seberapa jauh nilai yang ia tanam terus hidup setelah dirinya pergi.
Kepergian Ummi Latifah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan adalah perjalanan menanam. Setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan menemukan jalannya untuk tumbuh, meskipun orang yang menanamnya telah kembali menghadap Allah.
Dalam pengertian itulah, kepergian Ummi Latifah bukan sekadar kehilangan seorang daiyah dan ibu bagi keluarganya, tetapi juga kehilangan seorang pendidik yang jejaknya telah berakar pada manusia-manusia yang pernah ia dampingi.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kebaikannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keteguhan, serta mampu melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan.
Dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup dapat mengambil pelajaran: bahwa sebaik-baik kehidupan adalah kehidupan yang meninggalkan jejak kebaikan, dan sebaik-baik warisan adalah nilai yang terus hidup setelah kita tiada.

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).






